Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Comments Posted By tobadreams

Displaying 1 To 1 Of 1 Comments


Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Sisi Gelap Gerilya Padri

Ini topik yang selalu aktual, dan selalu menimbulkan pro-kontra yang sengit.

Setuju, memang ada bagian yang sengaja disamarkan dan bahkan direduksi, dalam penulisan sejarah seputar pembantaian maha mengerikan yang dilakukan Tentara Padri di Tano Batak.

Ada ketakutan yang tak beralasan, jika fakta sejarah tersebut diungkap apa adanya, akan meniumbulkan dendam di kalangan orang Batak. Dendam tersebut tidak hanya tertuju kepada suku Minang, tapi bisa juga antar kelompok di dalam masyarakat Batak sendiri, dengan alasan yang beragam.

Pembantain yang dilakukan oleh Tentara Padri adalah pemusnahan etnis. Diperkirakan tak kurang dari 50 % etnis Batak dihabisi nyawanya dalam massacre yang sungguh brutal itu.

Apakah etnis Batak harus menaruh dendam terhadap suku Minang ? Tidak! Karena suku Minang sendiri juga sangat menderita di bawah penindasan segelintir pengikut Islam mazhab Hambali itu. Atas nama pemurnian agama, menyembunyikan ambisi dan nafsu-nafsu primitif di balik jubah putih mereka, Tentara Padri menjagal para bangsawan kerajaan Pagaruyung dan memperkosa istri-istri mereka.

Kejahatan lain yang dilakukan Tentara Padri di Minangkabau adalah menghapuskan secara paksa sistem ninik-mamak dan nagari, yang untungnya kini telah dipulihkan kembali.

Kebrutalan Tentara Padri meninggalkan sebuah catatan hitam yang akan selalu menghantui kesadaran etnis Batak dan Minangkabau, sampai kelak peristiwa sejarah tersebut berhasil didokumentasikan secara akurat dan obyektif, serta dipublikasikan.

Pelajaran terpenting dari peristiwa mengerikan itu bagi etnis Batak dan Minangkabau, juga bagi seluruh umat manusia, berhati-hatilah dengan siapapun yang menggunakan kedok agama untuk memprovokasi orang-orang melakukan kekerasan. Pelajaran ini masih berlaku sampai detik ini, masih sangat aktual, karena masih saja lahir di dunia ini orang-orang yang merasa diberikan perintah oleh Tuhan untuk membunuh sesama manusia.Bahkan saat melakukan tindakan yang bertentangan dengan perintah Tuhan pun, mereka menyalahgunakan nama Tuhan.

Sekadar saran, untuk menyembuhkan luka sejarah yang masih terus menganga seperti lubang hitam di antara kedua etnis bertetangga itu, ada baiknya kalau etnis Batak dan Minangkabau mendirikan prasasti atau tugu peringatan tragedi maha mengerikan itu.Mungkin sangat tepat lokasinya di daerah Bonjol.

Yang terakhir, para ahli sejarah perlu memeriksa lagi catatan sejarah Tuanku Imam Bonjol, dengan satu pertanyaan : apakah dia bertanggung jawab atas pemusnahan etnis di Tano Batak ? Kalau ya, gelar kepahlawanan Iman Bonjol harus dicopot!

Comment Posted By tobadreams On 22.11.2007 @ 05:16

«« Kembali ke halaman statistik