Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Comments Posted By makmur Tambunan

Displaying 1 To 1 Of 1 Comments


Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Serah Terima Jabatan Eselon IV Kanwil Depagsu

Horas... Tulang,,,,,,,,,

Menanggapi pidato Joey Bangun di Berastagi mengatakan sbb;

Budayawan Karo seperti Masri Singarimbun, Henry Guntur Tarigan bahkan sampai Roberto Bangun pernah mempersoalkan ini pada Moderamen GBKP. Tapi nama GBKP sepertinya sudah merakyat dan kalau diganti menjadi GKP (Gereja Karo Protestan) sudah ada pula yang memakainya yaitu Gereja Kristen Pasundan (GKP).
Jadi tidak ada kata mufakat untuk itu. Biarlah Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) hanya sekedar nama yang lama yang sudah merakyat tapi sama sekali tidak mencampuradukkan keterkaitan Batak dalam eksistensi masyarakat Karo pada GBKP. Dan hampir semua jemaat GBKP mengakui hal ini.
Tanah Karo yang subur itu telah menyeret masyarakatnya pada pola kolegalitas. Superior etnik pun secara tidak langsung muncul. Contohnya, di masa dulu sekitar tahun 1960an ke bawah masih ada sebutan, " lit Tebandu?". Suatu sebutan untuk orang Batak (baca : Toba) sebagai aron yang menunggui ladang. Hal ini menyiratkan saat itu Karo adalah tuan tanah sedangkan orang Toba adalah pekerja tanah yang digaji. Kita bisa bayangkan perekonomian Karo dibanding Toba ketika itu. Saat ini era diatas 1960an muncul lagi istilah, "Lit Jawandu?". Sebutan ini kembali lahir untuk menunjukkan orang Jawa sebagai pekerja yang mengolah tanah orang Karo. Hal ini pula yang secara tidak langsung disebut Superior Etnik
.......................
Kembali ke persoalan Batak. Di masa modern ini kita masih terkukung dengan warisan kolonialisme yang membutakan kita pada peradaban tempo dulu. Sebagai contoh orang Karo merasa mereka masih menyimpan kemurnian budayanya. Berbeda dengan Simalungun atau Pak-pak yang budayanya terintimidasi dengan budaya Toba. Sehingga kadang mereka tidak menolak kalau dikatakan Batak. Bahkan katakanlah Mandailing, mereka sudah bersatu dengan etnis yang disebut Tapanuli.
Jadi kekecewaan masyarakat Karo bisa dikatakan sudah memuncak. Apa sebab? Imbasnya pada kata Batak ini. Misalnya saja, jika ada orang Batak bikin ulah maka secara langsung Karo akan kena getahnya. Karena sudah ada kesimpulan Karo merupakan bagian dari Batak. Malah jika ada orang Karo yang berhasil di bidangnya, orang Batak memonopoli kalau hal ini adalah keberhasilan Batak. Hal ini sangat merugikan Karo. Sehingga jika ada orang Batak yang berhasil di bidangnya, orang Karo tidak terlalu bangga dan malah adem ayem saja. Toh itukan Batak bukan Karo. Akhirnya orang Indonesia dengan mudah mengatakan kalau Sumatera Utara adalah orang Batak.
Monopoli Batak ini terlihat di harian Waspada yang suatu hari yang mengatakan kalau Guru Patimpus Sembiring Pelawi pendiri kota Medan adalah keturunan Raja Batak. Penulisnya dengan mudah mencoreng-moreng silsilah tanpa mengikutkan orang Karo sebagai penyimpulnya. Jangan-jangan Pa Garamata (Kiras Bangun), pahlawan nasional dari Karo nantinya akan dikatakan dari Batak.
......................
ini hanya potongannya saja,

Sebenarnya sub dari suku Batak itu dikategorikan berapa suku? apakah didalamnya tidak termasuk Batak Karo?

Seperti yang dijelaskan diatas karo bukanlah orang batak,
jadi selama ini karo merasa dirugikan karena tercaplok dalam suku batak seperti uraian diatas,

Tolong masukannya, agar kami muda/mudi ini mengerti dan tau historisnya,

Mauliate........ Horas
Makmur Tbn

Comment Posted By makmur Tambunan On 29.04.2008 @ 14:43

«« Kembali ke halaman statistik