Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Comments Posted By fahrizal

Displaying 1 To 1 Of 1 Comments


Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Saat ini Bangsa kita Memiliki Musuh Bersama Bernama Korupsi dan Pengangguran

SEMINAR NASIONAL REINTERPRETASI HARI KEBANGKITAN NASIONAL

Nasionalisme Indonesia yang tumbuh pada kurun waktu 1905 hingga Indonesia Merdeka dapat disebut seperti mosaik, dimana masing-masing daerah memiliki pergerakan nasionalnya sendiri-sendiri dan tidak saling lepas dari ranah kebangsaan Indonesia--walaupun masih bersifat kedaerahan. Hal ini sekaligus menjadi prasyarat bahwa nasionalisme (paham kebangsaan) telah muncul dalam diri masyarakat Indonesia. Bisa jadi, kesadaran dan paham kebangsaan itu tumbuh sebagai dampak tekanan yang dilakukan oleh kaum kritis dan terdidik (Kahin, 1952) atau juga oleh kaum pemuda (Anderson, 1972), atau pula karena adanya keinginan untuk mengganti elit yang telah menjadi kaki tangan kolonial (Audrey Kahin, 1985).
Kecuali itu, munculnya Nasionalisme Indonesia pada periode itu juga disebabkan oleh beberapa hal seperti munculnya figur kritis dan terdidik yang mendapatkan kepercayaan dari masyarakat, situasi politik internasional seperti takluknya Rusia ditangan Jepang (1905) dan berdirinya pemerintahan nasionalis Tiongkok (1911), praktek monopoli perdagangan kaum China yang memaksa kaum priyayi melakukan pemboikotan untuk melindungi pedagang pribumi serta masuknya pengaruh luar yang dibawa oleh agamawan.

Hari kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang diperingati setiap tanggal 20 Mei 1908--lahirnya Boedi Oetomo--dimaknai sebagai tonggak awal tumbuhnya kesadaran nasional (national consciousness) menuju nation state Indonesia merdeka, menyisakan sejumlah pergulatan seperti benarkah pada tanggal tersebut permulaan tumbuhnya kesadaran nasional di Indonesia?, apakah Boedi Oetomo (BO) dapat dijadikan sebagai representasi terhadap pembentukan kesadaran nasional? Bukankah BO adalah organisasi yang bertujuan memajukan kebudayaan orang Jawa dan Madura? Masihkah nilai-nilai kebangkitan Nasional relevan bagi generasi muda Indonesia sekarang?

Belakangan muncul gugatan bahwa 20 Mei sebagai tonggak lahirnya kebangkitan nasional adalah sesuatu yang ahistoris. Asumsi ini berdasar pada lahirnya Syarikat Islam yang muncul lebih awal dan memiliki massa yang lebih besar. Kecuali itu, hampir disetiap daerah bermunculan gagasan, pemikiran dan aktivitas terhadap nasionalisme Indonesia. Oleh sebab itu, hari kebangkitan nasional (Harkitnas) adalah sesuatu yang tidak dapat ditetapkan tanggalnya.

Oleh karena itu, reinterpretasi dan reaktualisasi kebangkitan nasional dapat dimaknai sebagai upaya mencari dan menemukan kerangka baru dalam kancah ke-Indonesia-an yang dinamis. Atas dasar itu pula, Nasionalisme Indonesia dapat terjaga. Untuk itu Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial (PUSSIS) UNIMED berniat menyelenggarakan SEMINAR NASIONAL yang mengambil tema "REINTERPRETASI DAN REAKTUALISASI NILAI HARI KEBANGKITAN NASIONAL BAGI GENERASI MUDA" disamping itu juga seminar nasional ini akan diikuti dengan Wisata Sejarah ke Prapat (Danau Toba) tempat dimana presiden pertama Soekarno dibuang.

Hari/tanggal : Kamis-Minggu/22-23 Mei 2008, dan Wisata Sejarah pada tanggal 24-25 Mei 2008
Waktu : 09.00 WIB s/d Selesai
Tempat : Universitas Negeri Medan (UNIMED)

Penyelenggara
Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (PUSSIS)
CP: Yopi (085270729834)
Fahrizal (081396029769)
Email: pussis4unimed@gmail.com

Comment Posted By fahrizal On 17.03.2008 @ 15:41

«« Kembali ke halaman statistik