Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Comments Posted By bony Silitonga

Displaying 1 To 7 Of 7 Comments


Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Peranan Perempuan dalam Adat dan Budaya Batak Diseminarkan

oleh karena itu saran amang di paragraf2 akhir sangat setujui, dan saya mau ikut serta. tidak banyak yang bisa saya berikan kecuali tenaga saya.

teruntuk Amang M. Hutauruk.
terima kasih amang atas komentnya,tapi saya bukan bermaksud untuk menampilkan diri sebagai pembela perempuan Batak. saya hanya ingin menyampaikan pandangan saya bahwa ada penelitian yang menunjukkan hal tersebut. dan saya tidak bertujuan untuk membubarkan DNT. DNT menurut saya merupakan struktur masyarakat yang wah!!!akan tetapi kedahsyatannya sangat terasa di saat masyarakat tersebut masih berada dalam tahap kehidupan yang sama.
saat ini kondisi berbeda, sekiranya perlulah dilakukan beberapa penyesuaian. saya hanya menyampaikan bahwa ada pandangan seperti itu terhadap adat atau kebiasaan kita. jadi bukan maksud saya untuk tampil ataupun hal lainnya.

Mauliate
bony Silitonga

Comment Posted By Bony Silitonga On 29.04.2008 @ 01:24

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

HORAS!!!

terkejut saya ketika mengetahui bahwa saya mendapatkan teman-teman bercerita di bagian ini.

terima kasih Amang S. Tambunan.
saya sangat senang membaca empat paragraf terakhir Amang. sungguh saya sangat setuju bahwa "menjadi orang Batak itu adalah melakukan dua hal sekaligus yaitu bermarga dan terikat sistem nilai dalihan na tolu". Kedua hal tersebut adalah salah sekian hal yang menunjukkan identitas kesukubangsaan kita, yaitu Batak. Dan hal tersebut tanpa disadari (karena masih ada yang belum mengetahuinya) dapat menjadi modal sosial bagi kita, Orang-orang Batak. Akan tetapi Amang, di kehidupan rantau terutama di kota-kota besar, contoh Jakarta, kedua hal tersebut memang amat terlihat dalam acara adat saja. Dalam kehidupan sehari-hari hal tersebut belum terlalu terlihat. kalau saya melihatnya karena faktor letak tempat tinggal yang berjauhan.

Comment Posted By Bony Silitonga On 29.04.2008 @ 01:24

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

HORAS!!!

terkejut saya ketika mengetahui bahwa saya mendapatkan teman-teman bercerita di bagian ini.

terima kasih Amang S. Tambunan.
saya sangat senang membaca empat paragraf terakhir Amang. sungguh saya sangat setuju bahwa "menjadi orang Batak itu adalah melakukan dua hal sekaligus yaitu bermarga dan terikat sistem nilai dalihan na tolu". Kedua hal tersebut adalah salah sekian hal yang menunjukkan identitas kesukubangsaan kita, yaitu Batak. Dan hal tersebut tanpa disadari (karena masih ada yang belum mengetahuinya) dapat menjadi modal sosial bagi kita, Orang-orang Batak. Akan tetapi Amang, di kehidupan rantau terutama di kota-kota besar, contoh Jakarta, kedua hal tersebut memang amat terlihat dalam acara adat saja. Dalam kehidupan sehari-hari hal tersebut belum terlalu terlihat. kalau saya melihatnya karena faktor letak tempat tinggal yang berjauhan.

oleh karena itu saran amang di paragraf2 akhir sangat setujui, dan saya mau ikut serta. tidak banyak yang bisa saya berikan kecuali tenaga saya.

teruntuk Amang M. Hutauruk.
terima kasih amang atas komentnya,tapi saya bukan bermaksud untuk menampilkan diri sebagai pembela perempuan Batak. saya hanya ingin menyampaikan pandangan saya bahwa ada penelitian yang menunjukkan hal tersebut. dan saya tidak bertujuan untuk membubarkan DNT. DNT menurut saya merupakan struktur masyarakat yang wah!!!akan tetapi kedahsyatannya sangat terasa di saat masyarakat tersebut masih berada dalam tahap kehidupan yang sama.
saat ini kondisi berbeda, sekiranya perlulah dilakukan beberapa penyesuaian. saya hanya menyampaikan bahwa ada pandangan seperti itu terhadap adat atau kebiasaan kita. jadi bukan maksud saya untuk tampil ataupun hal lainnya.

Mauliate
bony Silitonga

Comment Posted By Bony Silitonga On 29.04.2008 @ 01:21

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

tipe kekerabatan dalam suatu masyarakat (patrilineal,matrilineal, ataupun bilineal)merupakan dasar dalam penarikan garis keturunan. ketiga tipe bentuk tersebut terlalu jauh untuk dijadikan dasar dalam melihat masalah gender yang terbentuk di masyarakat yang bersangkutan.

masalah gender dalam suatu masyarakat dapat dilihat dari bentuk masyarakat itu sendiri. matriarkat atau patriarkat. bentuk-bentuk tersebut menjelaskan akses-akses, kedudukan, serta peranan laki-laki dan perempuan di suatu masyarakat.

masyarakat batak merupakan masyarakat patriarkat dengan tipe kekerabatan patrilineal.hal itu dapat menjelaskan bahwa masyarakat batak menarik garis keturunan dari pihak ayah. garis ketunan tersebut ditandai dengan sistem marga. selain itu masyarakat Batak dalam kehidupannya kontrol, kekuasaan serta akses-akses ekonomi ada di tangan laki-laki. dan untuk menjaga atau melestarikan bentuk kepatriarkatan ini salah satu strateginya terwujud dalam sistem pewarisan yang lebih mengutamakan anak laki-laki, contoh anak laki-laki terakhir berhak atas rumah tinggal orang tua, jatah laki-laki pertama lebih besar dari adik-adiknya (yang laki-laki juga).

dalam sistem waris batak, kaum perempuan terlihat tidak terperhatikan. harta bisa diperoleh perempuan bukan lewat media hukum waris, akan tetapi dengan meminta kepada sang ayah (ulos pauseang).

meninggalkan bentuk-bentuk budaya batak yang menunjukkan ketimpangan gender tidaklah mudah. tersedianya hukum negara yang lebih memperhatikan kesetaraan gender harus diakui merupakan salah satu jalan pemecahan. akan tetapi, pertanyaan selanjutnya apakah aksesnya mudah untuk diraih oleh semua perempuan Batak? apakah semua perempuan Batak tahu akan hal tersebut?

penutup dari tanggapan saya apakah ada dan bagaimanakah tindakan selanjutnya setelah terciptanya hukum negara mengenai kesetaraan gender dalam hal waris khususnya di masyarakat Batak agar benar-benar terlaksana?

salam
bony Silitonga

Comment Posted By bony Silitonga On 25.11.2007 @ 15:52

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Kajian Antropologi Batak Prof Bas

kepada saudari/saudara ella,,salam
coba cari di toko2 buku yang lebih kecil dari gramed,,kalau di bandung seperti ultimus atau togamas (di jogja juga ada)..
kalau saudara butuh bantuan mencari,saya bisa mencarikannya..cari saya di bony_tea@yahoo.com.sg,,sekarang saya lagi di jakarta,,kebenaran saya juga lagi menyusun skripsi tentang batak toba di perantauan.

salam

Comment Posted By bony silitonga On 30.12.2007 @ 23:33

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Selama enam tahun saya kuliah dan empat tahun saya berusaha untuk memahami suku bangsa Batak, saya hanya menemukan sedikit buku-buku mengenai Batak yang dibuat sendiri oleh orang Batak dan disusun secara ilmiah. Bukan bermaksud untuk merendahkan buku-buku yang hanya merupakan catatan kehidupan perseorangan. Kedua jenis buku tersebut memberikan berbagai informasi bagi orang-orang yang ingin belajar tentang Batak.

Saya mengenal empat karya tulang Simanjuntak yang telah diterbitkan. selain itu saya juga mengetahui karya-karya yang lainnya, seperti hotman Siahaan, Sitor Situmorang, Sidjabat, raja patik uhum Tampubolon. Ataupun karya orang-orang non batak seperti Vergouwen, Sulistyowati. akan tetapi, bagaimana saya mendapatkannya merupakan suatu pembuktian perkataan tulang Simanjuntak bahwa akses terhadap buku-buku tentang Batak memang tidak terbuka selebar akses terhadap buku-buku tentang Jawa.

Saya memang mempunyai kepentingan dari mempelajari buku-buku tentang Batak. Yaitu untuk menyelesaikan skripsi saya. kehidupan di luar Tanah dan dominasi budaya Batak merupakan hal yang membuat saya agak begitu lama untuk memulai penulisan. Di akhir tanggapan ini, saya hendak menyampaikan bahwa saya (mungkin jugateman-teman )yang lahir serta besar di luar lingkungan budaya Batak sedikit atau bahkan tidak mengenal budaya Batak. Dan hal tersebut akan tetap lestari jika tak ada gerakan dari orang-orang kita sendiri untuk membuka akses, yaitu berkarya tentang Budaya Batak agar kami yang di luar tanah Batak mendapat kemudahan untuk mengenal budaya kami sendiri.

Comment Posted By bony Silitonga On 24.11.2007 @ 02:40

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Dalihan Natolu Sumber Hukum Adat Batak

HORAS

Selama penelitian saya tentang perantau Batak Toba di salah satu daerah di Jawa Tengah,saya menemukan ada beberapa informan yang telah menikah sedikit pemahamannya tentang DNT. Dan mereka baru sedikit tahu tentang DNT setelah mereka menikah. Yang saya hendak tanyakan mengapa hal itu bisa terjadi?

hal kedua yang hendak saya tanyakan,,apakah ada kemungkinan untuk membedah sejarah pembentukan struktur sosial masyarakat Batak (DNT) melalui kacamata sejarah perkembangan kehidupan manusia? karena berdasarkan beberapa bacaan saya sedikit mengetahui bahwa masyarakat Batak Kuno merupakan tipe masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada pertanian. dan DNT memiliki peran penting dalam kehidupan saat itu, contohnya dapat dilihat dalam perkawinan di luar kelompok, khususnya perkawinan dengan pariban.

MAULIATE

Comment Posted By bony Silitonga On 29.04.2008 @ 00:32

«« Kembali ke halaman statistik