Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Comments Posted By ariel demetrius nadeak

Displaying 1 To 1 Of 1 Comments


Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Menyempurnakan Provinsi Tapanuli Melalui Dukungan Nyata dari Kab. Dairi dan Pakpak Bharat

Sedikit tentang Malthus.

Malthus dalam pandangan saya adalah sosok clergy kerajaan Britania Raya yang dalam kependetaannya malah sama sekali tidak berpihak kepada rakyat miskin. Pendapatnya yang menyatakan bahwa tekanan pertambahan jumlah populasi manusia akan menekan habis kemampuan sumberdayaalam yang menunjang kehidupan umat. Malthus melemparkan kemiskinan yang dialami sebagian umat manusia kembali kepada mereka poor people itu sendiri sebagai akibat dari ketidakmampuan mereka sendiri untuk mengelola sumberdaya yang mereka punya, tanpa melihat realita bahwa poor people ketika itu memang secara sistematis dipaksa oleh perkembangan kapitalisme industri untuk terdis-enfrancised, terdislokasi dari tanah-tanah mereka untuk memberikan jalan bagi mass-production industries. Ini bisa terjadi karena karena pemilik kapital: industrialis, bankers, landlords dengan memanfaatkan kehausan aristokrat kerajaan akan uang mampu melegalisai pemarjinalan kaum miskin ke daerah-daerah pinggiran dan kemudian bahkan harus bermigrasi kedaerah-daerah kumuh seputar pusat-pusat industri untuk memenuhi tuntutan membayar pajak pada negara dan demi menafkahi keluarga.

Pada perkembangan selanjutnya ajaran Malthus ini menjadi dasar bagi Revolusi Hijau di India dan Mexico yang pada hakekatnya hanya untuk mencegah kembalinya kepemilikan tanah kepda rakyat kecil melalui Landreform dengan jalan meningkatkan produksi pertanian pada small-scale farm, dulu kita kenal dengan intensifikasi pertanian. Pada akhirnya program ini hanya meningkatkan ketergantungan kaum miskin pada pupuk, pestisida yang harus diimpor dan bahkan berakibat hilangnya keragaman varietas padi, erosi tanah dan akumulasi kekayaan hanya di tangan landowners semata. Ini masih berlanjut kini dibawah organisasi semacam CGIAR, IFPRI yang dilahirkan oleh Malthusianis yang bercokol di Bank Dunia, Population Council bahkan juga Ford Foundation. IRRI di Filipina juga terkait dengan hal ini.
Setidaknya kita sudah tau bagaimana sepak terjang organisasi kelas dunia ini menterlantarkan kaum papa dengan pinjaman bersyarat (conditional loan), pasar bebas,good governance dan banyak lagi hal lainnya.

Bukan hanya itu, dengan asumsi bahwa the poor memiliki semacam intrinsic capacity untuk menurunkan kemalasan, kebodohan dan fertilitas tinggi-nya, salah satu turunan Malthusianism—Neo-Malthusianisme telah sejak awal abad 20 memperkenalkan program Birth-control yang sedikit banyak telah diadopsi oleh program KB di Indonesia.

Makin bertambah dalam lagi cengkeraman kepentingan sekelompok pemilik kapitasl yang jumlahnya semakin sedikit tetapi dengan akumulasi kekayaan yang semakin menjulang dengan tekanan untuk mem-privatisasi semua sektor kehidupan umum/publik (tentu saja dengan anggapan dasar bahwa kaum miskin tidak mampu mengelola asset-asset publik, bahkan cenderung merusaknya)

Dan lebih aneh lagi efek kegiatan industri kapitalis yang sudah ratusan tahun merusak lingkungan hidup global, kini ditimpakan kepada kaum/negara miskin dengan alasana bahwa kemajuan industri yang akan dicapai negara miskin dalam masa seratus tahun kedepan lebih berbahaya bagi lingungan. Untuk itu kaum miskin harus membatasi industrialisasi ekonominya….. Amaggggooooiiiiiiiiii………..hammmuunaaaaa….

Sebagai salah seorang putera batak yang lahir dan dibesarkan serta beroleh pendidikan dari manfaat yang diberikan kekayaan alam Tano Batak, saya pribadi memiliki keluhan hati agar kemiskinan ini tidak lebih lama lagi menyiksa orang tua dan saudara-saudaraku disana. Jika Propinsi Tapanuli yang digagas saat ini kelak terelisasi, kepentingan ekonomi politik kapitalis dunia dan juga kapitalis domestik……… majulah Tano Batak…..majulah Halak Batak…….

Ariel Demetrius Nadeak
Institute of Social Studies
Den Haag.

Comment Posted By ariel demetrius nadeak On 18.11.2006 @ 06:44

«« Kembali ke halaman statistik