Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Comments Posted By Sijurnal

Displaying 1 To 1 Of 1 Comments


Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Pergeseran Adat Batak Toba (bagian I)

Kurang Ajar.1 !

Cerita kisah nyata,
Sekitar Tahun 1990 – 1996 saya pernah mengenal seorang perempuan Boru Batak yang sedang menjalani pendidikan di salah satu Universitas jurusan Teologia di Jakarta. Pada Tahun 1990 saya lulus dari Fakultas Teknik di Jakarta dan Boru Batak ini lulus pada Tahun 1995 menjadi Pendeta. Dalam kurun waktu 5 Tahunan kami berteman akrab dan berpacaran dengan baik. Pada akhir Tahun 1994 mama saya meminta supaya saya berkeluarga (beristri) dan mama meminta, supaya pacar saya diperkenalkan dengan keluarga, saya berpikir positip dengan serba kekurangan tidak memiliki modal nikah untuk Membeli seorang perempuan yang menjadi istri saya sesuai dengan Adat Batak. Saya memberanikan diri melamar dengan membawa natua-tua semarga saya, kerumah siperempuan dengan tolakan yang sangat kasar dan kejam tidak menerima lamaran kami karena tidak memiliki uang sebanyak Rp50JT yang dia minta untuk Tuhor ni Boru, maka pembicaraan pada saat itu tidak bersambung, maka saya mengambil keputusan mengatakan kepada si Boru supaya mencari laki-laki yang ganteng dan kaya seperti Bung Tomi Suharto yang punya pohon duit, maka permintaan mama saya tidak terkabul untuk mengenal parumaen di karenakan Pogos sampai di akhir hayatnya beliau. Mohon dengan sangat cerita ini jangan terulang lagi bagi generasi penerus Bangsa, jika ada di antara saudaraku yang mengalami penderitaan semacam ini, tolong segera menghubungi saya, supaya kita cari perempuan yang tidak mempunyai Tuhor, Sinamot (gratis). Sungguh Tega Orang Tua Batak Menjual Boru dan Membeli Boru, Seperti Benda Mati Saja, hati-hati melakukan seperti perlakuan ini karena sangat di lindungi oleh Undang-Undang 1945 Republik Indonesia. HORAS !

Sijurnal.

Kurang Ajar.2 !

Tenga,
Mangoli, diwaktu acara pernikahan habis Tano Maraek dan habis Tano Mahiang agar si Boru nauli dapat menjadi Istri, usaha habis-habisan sampai-sampai terhutang dikarenakan melaksanakan Adat Batak, dalam acara Adat Batak tersebut di laksanakan besar-besaran para tetamu puas (maulae) akan tetapi akibatnya buruk kepada si Pelaku habis pesta atau Acara Adat Batak bukannya menuju kepelaminan melainkan menuju ketiang gantungan dalam mempertanggung jawabkan hutang-piutang sapai ke LP, di dalam hal ini menyewa rumah untuk tinggal pun sudah tidak punya uang, maka pada saat itu si Boru tetap kembali kepada orang tuanya sementara si sang laki sudah ke LP. Pada saat saya menulis surat ini saya sudah bebas, bertobat dan tidak melakukan seperti itu lagi, mohon ampun. Permintaan saya jika ada yang mengetahui si Boru dimana tolong dong dibilangin bahwa saya sudah bebas dari hutang-piutang yang menjerat. Tolong, masihol, malungun, marniang, sudah tua, sudah peot, wassalan, Horas Hasian, Hupaitte do ho saleleng ahu mangolu di tano Parserakan on.
Jangan di contoh karena ini kelakuan buruk dari Anak Rantau mauliate.
Horas. !

Sijurnal.

Comment Posted By Sijurnal On 16.07.2007 @ 17:52

«« Kembali ke halaman statistik