Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Comments Posted By Masrul Purba Dasuha, S.Pd

Displaying 1 To 2 Of 2 Comments


Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Pemkab Humbahas akan Cetak Buku “Ahu Sisingamangaraja” Tulisan Prof DR WB Sijabat

Sisingamaraja atau dalam bahasa Jawa disebut Singomirejo. Ia sejatinya merupakan salah seorang prajurit dari Pangeran Diponegoro beragama Islam, yang meneruskan perjuangan Diponegoro di bawah komando Sentot Alibasyah Prawiradirdja. Ia melanglangbuana ke Sumatera, karena ingin menggabungkan diri dengan sisa-sisa pasukan paderi di bawah komando Tuanku Tambusei, akibat peperangan di Jawa telah mengalami kelumpuhan dan takluk oleh kolonial Belanda.

Demikian juga setelah ia menggabungkan diri dengan kaum paderi dalam melawan Belanda, mereka juga mengalami hal yang sama terjepit oleh kekuatan sistem politik Belanda devide et impera dan persenjataan yang serba cukup. Hingga akhirnya, ia bersama kaum paderi lainnya sepeninggal Tambusei bercerai berai. Ada yang melarikan diri Tapanuli dan ada pula yang bertolak ke Aceh bergabung dengan para pejuang anti kolonial seperti Cik Di Tiro, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, dan lain-lain.

Sementara Singomirejo yang orang Toba menyebutnya Sisingamangaraja, melawat ke Tapanuli Utara dengan keadaan cemas bercampur takut. Sesampainya di Tapanuli Utara, ia kemudian disambut hangat oleh masyarakat setempat dengan perasaan penuh rasa heran dan takjub. Mengapa demikian? karena ia (Singomirejo) menampilkan sesuatu yang berbeda dari mereka, sehingga perasaan takjub dan heran, tidak dapat mereka tutupi. Singomirejo berbusana serba putih layaknya seorang yang suci (saleh). Ia berserban dan memakai selempang pada sebelah lengannya dengan gagahnya mengendarai seekor kuda.

Akibat rasa heran dan takjub tersebut, masyarakat setempat lalu menganggapnya seorang yang sakti nan suci. Didasari oleh penilaian tersebut, mereka lalu mengusungnya sebagai raja (diparajahon umbaen hasongtionna) dan mereka juga menabalkannya menjadi marga Sinambela, dan sejak saat itu jadilah ia seorang Raja di sebuah tempat yang bernama Bakkara.

Ketika perlawanan rakyat terhadap Belanda meletus, Singomirejo bersama dengan rakyar kemudian melakukan perlawanan, namun dalam perlawanan itu mereka tidak meraih kemenangan, tetapi justru malah bercerai berai akibat diburu oleh Belanda.

Di tengah keadaan seperti itu, demi menyelamatkan diri, Singomirejo lalu pergi meningggalkan daerah Bakkara itu menyusuri sebuah daerah yang hingga kini sulit dipastikan.

Alkisah, pada waktu itu adalah seorang Datu bermarga Sinambela yang juga anti penjajah. Dalam perlawanannya terhadap Belanda ia tewas terkena tembakan, anehnya Belanda menganggap ialah Singomirejo yang mereka cari, lalu tersiarlah kabar ke tengah masyarakat bahwa Sisingomirejo telah mati, mereka pun yakin akan kebenaran itu.

Kesimpulan:
1. Sisingomirejo bukanlah orang Batak tetapi yang di-Batakkan dan diberi gelar Raja, karena kesaktian dan kesalehannya.
2. Singomirejo adalah seorang muslim, tidaklah menganut agama parmalim
3. Singomirejo tidak mati, tetapi ia hanya diduga mati.
4. Singomirejo kemungkinan besar malarikan diri ke Aceh.
5. Tidak ada Sisingamaraja I-XII, yang ada hanyalah Sisingamangaraja atau Singomirejo saja.
6. Ia tidak memiliki kekuasaan yang luas, melainkan hanya sebuah huta yang bernama Bakkara saja, disitulah ia dirajakan (diparajahon) memimpin dan mengajarkan jalan kebenaran kepada komunitas kecil masyarakat batak.

Menurut penulis Pemkab Humbang Hasundutan tidak salah untuk mencetak ulang sejarah perjuanganan Sisingamangaraja. Namun, tulis dan ungkapkanlah kebenaran sejarah secara otentik dan obyektif, jangan mengada-ada. Lalu siarkanlah itu kepada khalayak agar mereka kembali ke sejarah sebenarnya, dan dapat memaklumi atas terjadi pembelokan sejarah selama ini. Sekian dan Terima Kasih. horas 3x

Sumber: Buku Kuno pustaha Simalungun milik Haji Tuan Alep Damanik.

Comment Posted By Masrul Purba Dasuha, S.Pd On 23.10.2007 @ 00:20

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Raja dan Kerajaan di Simalungun

Saya setuju atas tulisan yang anda muat, namun masih banyak yang belum akurat mengenai keberadaan suku Simalungun sebagai satu etnis yang agung di antara etnis yang ada di Indonesia. Ketidakakuratan itu tidak perlu jelaskan mengingat persoalan mengenai sejarah Simalungun hingga kini masih belum tuntas digali dan dibahas, sehingga hal itu menjadi problematika kompleks yang berlarut-larut di tengah warga Simalungun, terutama bagi mereka yang maniak terhadap sejarah Simalungun.

Perlu saya terangkan di sini bahwa di kalangan warga Simalungun, terutama para penulis dan pemerhati sejarah Simalungun masih banyak melihat Simalungun tidak secara obyektif. Ada yang melihat dari aspek teritorial, agama, dan budaya. Padahal bila kita mengenyampingkan hal itu, sungguh bukanlah suatu hal yang mustahil bila sejarah Simalungun akan semakin konkrit ke permukaan dan akurat dalam hal data.

Di daerah Bandar yang meliputi Kecamatan Bandar, Pematang Bandar, Bandar Masilam, dan Bandar Huluan yang dahulunya merupakan wilayah kekuasaan Harajaon Bandar dengan rajanya bermarga Damanik Bariba. Di daerah ini masih ada beberapa bukti sejarah, baik dalam bentuk materi dan turiturian,namun hingga kini masih kurang penggalian. Padahal sungguh demikian besar kerajaan ini ketika masa kejayaannya, yang kekuasaannya menembus daerah-daerah bukan hanya Simalungun, tetapi sampai daerah Asahan bahkan sampai ke daerah Labuhan Batu sekarang. Mengapa, realita sejarah ini diabaikan, jawabnya adalah karena masyarakat Simalungun di daerah ini mayoritas beragama Islam, yang kerap diberi predikat oleh orang Simalungun atas dan Horisan sebagai orang Jaheijahei atau mayamaya, dan dianggap sudah menanggalkan identitas Simalungunnya akibat pengaruh agama. Namun, kenyataannya tidak demikian, penulis sebagai putra kelahiran Pematang Bandar sangat mengesalkan hal itu. Oleh sebab itu, di sini penulis akan mencoba menguraikan sekilas tentang kondisi kehidupan masyarakat di daerah itu. Penduduk di daerah Bandar yang meliputi 4 kecamatan di atas hidup saat ini dihuni oleh beragam suku, seperti Simalungun (15%), Jawa (55%), Batak Toba (20%) dan suku lain 10% (Mandailing, Karo, Pakpak,dll).
Mata pencaharian umumnya bertani, berladang, dan wiraswasta. Masyarakat Simalungun masih banyak yang menggunakan bahasa Simalungun sebagai media komunikasi, dan persoalan adat istiadat ala Simalungun di beberapa tempat juga masih eksis dijalankan.

Terkait situs sejarah, di beberapa tempat masih ada ditemukan meskipun sudah dalam kondisi memprihatinkan. Seperti di desa Parhutaan Kecamatan Pematang Bandar terdapat sejumlah pekuburan para raja dan partuanon Bandar tempo dulu. Desa ini merupakan pamatangnya Harajaon Bandar. Sebagaimana kita ketahui, bahwa kerajaan ini tidak dapat dipisahkan dengan kerajaan Siantar dan Partuanon Sidamanik, karena ketiganya berasal dari satu nenek moyang yang semula punya satu kerajaan yang kemudian mengembangkan diri menjadi dua kerajaan dan satu partuanon.

Masyarakat Simalungun di daerah ini menganggap bahwa kerajaan mereka lebih besar dibanding Siantar, mereka berasumsi bahwa raja Siantar datang dari tempat ini,demikian juga di Sidamanik; bukan sebaliknya dari Kerajaan Siantar ke Bandar.

Pernyataan ini bisa benar bisa juga tidak, namun kenyataan di lapangan yang dengan nyata penulis dengar dan lihat kondisi demikianlah yang terjadi. Hal demikian barangkali bisa saja terjadi mengingat, secara geografi daerah ini berdekatan dengan pesisir pantai timur Sumatera yang dahulunya merupakan jalur lintas para peziarah dan partigatiga yang datang dari Selat Malaka melalui Tanjung Tiram dan Tanjung Balai.

Kembali ke situs sejarah, di desa parhutaan ini mengalir sungai besar yang mereka sebut dengan Bah Pamujian, yang pada masa eksisnya kerajaan dijadikan sebagai tapian dari para keluarga kerajaan.

Terkait adat istiadat di desa ini masih eksis dijalankan, terutama ketika acara Marhajabuan (pernikahan). Demikian juga seperti doding mananggei, taurtaur dan tortor simbandar masih banyak yang mahir melantunkan dan mempraktikkan.

Tidak jauh dari tempat ini, terdapat satu kampung bernama Batangiou yang dijadikan sebagai areal perladangan.Penulis berkeyakinan bahwa tempat inilah barangkali pusat kerajaan Batangiou dahulu, yang hingga kini keberadaannya masih menjadi tanda tanya besar, karena di beberapa tempat di daerah Simalungun tidak ada yang menunjukkan identitas konkrit Batangiou sebagai nama tempat.
Kemudian di tempat lain, tepatnya di Kecamatan Bandar Huluan terdapat kampung bernama Bah Tobu, yang menurut keyakinan masyarakat terjadi disebabkan oleh tiga bersaudara marga Damanik yang kala itu mengadakan perjalanan dari arah pesisir timur, yang ketika sampai di desa itu mereka mengalami kehausan, lantas meminum air di atas bulung ni sungkit (daun kincung) yang terasa masni (tobu)hingga akhirnya akibat kekenyangan salah satu dari mereka meninggal, maka di namakanlah kampung itu Bah Tobu. Kemudian dua orang lagi melanjutkan perjalanan ke arah perdagangan, sesampai di sana kondisi yang mustahil terjadi pada mereka, di mana salah seorang mereka terkecoh dengan pemandangan pepohonan yang berbuah lebat yang berbayang di permukaan air, ia lalu menyelam dan ingin mengambil buah, tapi apa yang terjadi ia akhirnya tenggelam. Melihat itu, saudara satu lagi kemudian ikut menyusul, karena dia menganggap saninanya itu telah habis melahap buah-buahan itu, maka kondisi yang sama pun terjadi, ia turut tenggelam. Merujuk pada fenomena ini, masyarakat Simalungun di sekitar itu menyakini tempat itu bertuah dan angker hingga kemudian mereka membangun tempat pemujaan bernama Keramat Kubah.

Demikianlah sekilas turiturian tentang 3 bersaudara marga Damanik, yang diyakini sebagai cikal bakal leluhur marga Damanik di tempat itu.

Hanya demikian yang dapat penulis tanggapi dan utarakan, yang penting sekarang bagaimana kita dengan bahu-membahu bersama menelusuri jejak-jejak kehidupan nenek moyang kita orang Simalungun. Sonai ma, Horas 3 x Banta Ganupan. Diatei Tupa

Comment Posted By Masrul Purba Dasuha, S.Pd On 18.09.2007 @ 06:46

«« Kembali ke halaman statistik