Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Comments Posted By Maridup Hutauruk

Displaying 1 To 10 Of 53 Comments


Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Inovasi Baru Ulos Batak ala Merdi Sihombing

Innovasi baru ulos Batak ala Merdi memang merupakan terobosan baru untuk ikut melestarikan salah satu komponen budaya Batak, akan tetapi sebaiknya Merdi memang harus berkonsentrasi kepada bahan atau motif ulos untuk penggunaannya sebagai pakaian jadi karena kalau untuk kebutuhan sebagai perangkat adat sebaiknya biarkan saja 'parhasussak' yang mengelolanya karena jumlah produk yang tersedia selalu tercukupi. Kasihan mereka harus digilas oleh ATM (Alat Tenun Mesin), setelah gencar dihabisi oleh pembakaran ulos oleh yang mengaku mahluk surga, dan perlu juga dicermati jangan-jangan bung Merdi nantinya diterror pula oleh mereka itu.

Comment Posted By Maridup Hutauruk On 02.06.2008 @ 22:01

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

DR RE Nainggolan MM: Pacuan Kuda di Siborong-borong Harus Digalakkan Kembali

Pacuan Kuda itu memang harus dihidupkan kembali karena memang sudah mati. Kalau sebutan digalakkan seolah masih ada pelaksanaan pacuan kuda nyatanya tak ada lagi, jadi harus dihidupkan.

Identitas Batak dan Tanah Batak secara pelan dan pasti memang hilang. Apakah ini melalui skenario intelektual atau memang karena kebodohan, masih merupakan tanda tanya besar?

Dimulai masuknya Paderi menyusul adanya evangelisasi berlanjut kepada penjajahan Belanda dan Jepang seterusnya dizaman kemerdekaan boleh diperhatikan apa yang pernah ada di Tanah Batak dan apa yang masih tersisa sekarang ini, perlu kita tanya diri sendiri.

Comment Posted By Maridup Hutauruk On 30.03.2008 @ 03:05

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

"Saya Orang Batak", Sebuah Perspektif

Kalau mau tau tentang Batak lebih mendalam maka perlu dicari sendiri dulu pembuktiannya oleh diri sendiri karena belum banyak yang berminat melakukan pengkajian ilmiah tentang Batak, apalagi orang Batak sendiri yang selalu meminta bukti ilmiah tentang dirinya sendiri, kok kita mau nuntut bukti ilmiah dari orang lain saja.... enak kali lah....

Ilmu-ilmu yang mengungkap tentang garis keturunan manusia menjadi manusia hampir seluruhnya bersumber dari ilmu barat yang memang getol untuk mencari jatidirinya sebagai manusia. Pemikiran bahwa manusia berkembang pertamakalinya dari Afrika ternyata buyar setelah berkembangnya ilmu yang mempelajari tentang genetika dengan metoda DNA. Penelitiannya mengungkap bahwa ternyata Adam (nabi) tidak pernah bertemu secara biologis dengan Siti Hawa, artinya manusia sekarang bukanlah berkembang biak dari keturunan Adam dan Hawa, jadi dari mana?

Galaksi Bima Sakti memiliki satu sumber kehidupannya yaitu Matahari yang menghidupi planet-planetnya termasuk Bumi. Bumi mengelilingi Matahari dengan garis edar dimana sinar Matahari sebagai sumber hidup terpancar sepanjang garis Khatulistiwa. Sewaktu daratan masih bersatu ratusan juta tahun yang lalu yang disebut Super Benua Pangea dan Gondwana maka Pulau Sumatra dan pulau-pulau lainnya di nusantara adalah daratan yang terpisah dari Super Benua tersebut, dan letaknya berada di garis khatulistiwa sementara kawasan Afrika sangat jauh di Utara untuk mendapatkan cahaya kehidupan dari Matahari. Kehidupan mahluk pertamakali berkembang dari air yang mengelilingi pulau-pulau itu, kemudian berevolusi menjadi mahluk-mahluk seperti sekarang ini termasuk manusia dan manusia Batak.

'Aku berpikir maka aku ada' demikianlah kata seorang pujangga Yunani dan manusia Batak pun berpikir dan mengatakan berasal dari Pusuk Buhit dan berkembanglah dari situ manusia-manusia ke seluruh dunia, jadi bukan dari India atau Indocina atau Burma. Inikan ilmu lama....

Kalau kita mau tau Apa dan Siapa Batak itu, maka kita harus berani mencari tau bagaimana terjadinya peta Bumi, harus tau perkembangan kehidupan mahluk dari mulai sel sampai alien, harus tau perkembangan peradaban manusia dari mulai Sumer, Mesir, Sudan, Ethiopia, India, China dan peradaban-peradaban kuno lainnya. Harus menelusuri genetika kehidupan mahluk, harus mengikuti perkembangan penggalian-penggalian arkeologi dan korelasinya dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang berkaitan. Tidakkah kita tau bahwa situs-situs babilonia ditemukan 30m dibawah permukaan pasir? mengapa tidak kita gali saja 100m dibawah Tanah Batak untuk mencari situs-situs yang tertimbun akibat letusan gunung Toba 75.000 tahun lalu, atau mencari tau apa yang ada di dasar Danau Toba karena danau tersebut terbentuk 30.000 tahun lalu? Ada yang mau membiayai? maksudnya supaya ada bukti ilmiah?

Pada pictogram yang terdapat pada piramid di Mesir yang berusia lebih dari 3000 tahun tergambar bentuk-bentuk pesawat terbang (fixed wing), helikopter (rotary wing), dan kapal selam yang diterjemahkan oleh para arkeolog bahwa bangsa Mesir kuno sudah mengetahui atau sedikitnya ada melihat wahana itu, apa lantas kita harus panggil para arkeolog itu untuk menceritakan kepada kita supaya kita percaya? Kalau Twin-tower runtuh ditabrak pesawat terbang pada peristiwa 911 apa lantas kita harus dibawa ke New York supaya percaya dengan melihat langsung? Kok aku bisa percaya si Musa bisa membelah Laut Merah? Apa ini bukan fenomena alam Tsunami? atau aku harus hidup di zaman Musa dan menyaksikannya supaya percaya? hebat kalilah aku ini bah.... Kalau orang bule cerita bahwa patung bunda maria menangis mengeluarkan darah aku lantas percaya tapi kalau si Batak cerita bahwa ada Naga Padoha dibawah Tanah Batak minta bukti ilmiah. Kalau si bule pencet tombol-tombol remote control untuk menggerakkan channel atau satelit aku pasti percaya, tapi kalau dukun pergendangan memijat-mijat tulang burung siburuk dari jauh dan yang patah tulang merasa kesakitan lantas aku tak percaya. Kata orang langit itu biru tapi yang kulihat di Jakarta langit itu kelabu dan tak pernah biru, mana yang benar?

Memang akan banyak silang pendapat apabila kita membahas tentang Batak sementara kita sendiripun tak mau tau mengenai Batak itu dan lantas menelan bulat-bulat yang dikatakan bukan Batak. Penting kita menggali Batak itu menuju kemuliaannya dan bukan untuk menonjolkan kenistaannya. Mari sama-sama.....

Comment Posted By Maridup Hutauruk On 19.05.2008 @ 21:12

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Sebenarnya kita sudah dapat memastikan sebutan baik secara ilmiah atau tidak ilmiah mengenai Batak atau bukan Batak, Bangsa Batak atau bukan Bangsa Batak, Suku Batak atau bukan Suku Batak, Orang Batak atau bukan Orang Batak, pribadi seorang Batak atau bukan seorang Batak, oleh karena Batak sebagai sebutan "Batak" sudah melingkupi suatu budaya yang disebut "Dalihan Natolu & Tarombo". Jadi, apabila seseorang tidaklagi bersinggungan dengan "Dalihan Natolu & Tarombo" maka seseorang tersebut bukan "Batak".

"Batak" tidak perlu ditawarkan (diperjualbelikan) sebagai suatu pengakuan untuk mensahkan jatidiri seseorang sebagai seorang insan Batak, melainkan seseorang harus secara berani dan bertanggungjawab menyatakan dirinya sebagai seorang Batak. "Tarombo" menyiratkan seseorang pasti memiliki "Marga". Apabila seseorang sudah memiliki marganya maka pada dirinya akan tersemat puluhan sebutan nama yang menjadi identitas (jatidiri)-nya, sebut saja 'ompung, tulang, lae, tunggane, pariban, amang, amangtua, amanguda, amangboru, inang, inangbao, iangtua, ianguda, ito, hela, pariban, anggi, haha', dan banyak lagi. Jadi, hanya dengan sematan marga pada namanya maka demikian panjang jatidirinya. Demikian pulalah sebutan ini ada pada etis Batak lainnya. Apabila marga ini berakses kepada suatu kegiatan kultural maka sikap dan perilaku sudah pula menjadi identitas yang semakin sah untuk setiap sebutan tadi, dan demikianlah pengejawantahannya dalam Dalihan Natolu. Jadi, "Batak" adalah sebagai suatu identitas yang pasti dan terukur dan bukan menawarkan diri untuk menjadi identitas seseorang melainkan seseorang yang harus mencari identitasnya dalam "Batak".

Pada tahun '70an semasa saya beraktivitas di kampus maka banyak teman-teman yang menyandang sebutan dibelakang namanya dengan kata Srg. Hsb. Nst. Hrp. dan bila ditanya, mereka menyebutnya bukan Batak (maaf, mungkin ini hanya pengakuan diri mereka sendiri saja) dan bahkan banyak yang menghapuskannya sama sekali. Mungkin yang disebut dalam artikel “muda kayo, han sipirok, muda miskin han toba” artinya, “kalau kaya pasti dari Sipirok, kalau miskin pasti dari Toba.” menjadi referensi mereka. Sekarang ini mereka itu menyematkan marga dari singkatan-singkatan tersebut dan mengatakan dirinya Batak.

Dahulu dijaman baheula bahwa seorang hatoban bukan seorang Batak karena dia tidak pantas disematkan marga dan hatoban ini hanya berhak menjadi "pangulubalang", makanya orang-orang Batak semuanya menjadi 'raja' sepanjang dia memakai marganya dan bila tidak mengidentitaskan dirinya dengan marga maka dia tidak berhak menyandang gelar 'raja' dan kalau bukan raja maka bukan Batak, dan kalau bukan Batak maka ada kemungkinan menjadi 'hatoban'. Kapan gelar 'raja' disandang oleh seorang Batak adalah pada saat perhelatan Dalihan Natolu berlangsung.

Apabila seseorang mendapat satire dan sinisme dalam membawakan jatidiri sebagai seorang Batak maka perlu mencari jatidiri itu dalam Dalihan Natolu da Tarombo, dan menjadilah dianya itu 'raja'. Apakah harus disangsikanlagi identitas seorang 'raja'?

@Purwana, ketertarikan anda pada inti artikel ini perlu diperdalam dengan mengkaji Eksistensi Majapahit-Singosari, Ekspedisi Pamalayu, Kitab Pararathon, para ksatria Gajah Mada - Kuti, para sesepuh yang bergelar 'Mpu' (Ompu), makna 'Gending' (Gondang), kata-kata keseharian seperti (manuk, mangan, pinggan, udan, dua, telu, papat, limo, enam, pitu, wolu, sempulu, dll.) maka akan ada tambahan pencerahan tentang "Batak".
Horas

Comment Posted By Maridup Hutauruk On 30.04.2008 @ 19:42

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

"Boru Raja", Sebuah Konsep Priyayi Perempuan Batak

Saya sangat hormat dan kagum kepada Tika Sinaga Si Boru ni Raja. Kandungan artikel ini memang benar-benar keluar dari kejujuran seorang Boru ni Raja.

Semasa Expedisi Pamalayu dijamannya Majapahit, raja-rajanya berniat mengambil permaisuri dari Sumatra. Dimulai dari Aceh mereka mengambil boru Aceh, kemudian dari Padang mau diambil tapi terjadi peristiwa Minangkabau sehingga tak jadi, dari Sriwijaya diambilnya boru Sriwijaya, kemudian dari Sunda juga diambilnya tapi sempat terjadi Perang Bubat, dan yang paling membingungkan Majapahit malah menyerahkan putrinya menjadi permaisuri Raja-raja Batak makanya ada sebutan Boru Basopaet yang berarti boru Majapahit, karena itupula ada istilah Sibaso sebagai sebutan keahlian seorang perempuan untuk yang pandai mengobati dan dukun beranak, karena memang dia mempunyai keahlian itu. Ini cerita dahulukala bahwa Bangsa Batak itu sudah berbudaya tinggi dan dihormati bahkan oleh kerajaan seagung Majapahit.

Sebaiknya tidak disebutkan seperti pada penggal akhir artikel ini yang mengatakan "...., saya mengagumi konsep itu dengan segala kelemahannya.", karena Boru ni Raja itu tidak ada kelemahannya. Dalihan Natolu sudah mengaturnya bahwa clan Siboru ni Raja akan menjadi 'hula-hula' yang posisinya sangat dihormati sebagai jaminan penghargaan kepada Siboru ni Raja. Sementara dalam clan suami Siboru ni Raja akan tercatat dalam 'Tarombo' sebagai 'paniaran'. Dan kalau pandai membawa diri sebagai Boru ni Raja maka dia akan menyandang gelar 'parsonduk bolon'. Siboru ni Raja jangan menuntut materi dari clan-nya,tetapi dia punya hak materi dari clan suaminya. Adilkan...!

Jadi konteks kata 'Raja' pada Bangsa Batak bermakna duakali lipat dibanding yang diartikan oleh bangsa2 lain. 'Raja' mengandung makna yang spiritual dan material. Perilaku, budipekerti, sikap, panutan, termasuk dalam makna kata 'Raja' secara spiritual, sementara kekayaan, harta, kekuasaan, kepintaran masuk dalam makna kata 'Raja' juga. Jadi bila dua kubu makna kata 'Raja' tersebut ada pada seseorang, maka dialah 'Siraja Batak'.

Jadi kalau Boru ni Raja Tika Sinaga sudah seperti yang di artikelkan, maka hamu ito/ pariban/ namboru/ inang uda/ inang tua/ nantulang/ inang/ inang bao/ ompung boru/ Inang namatua, akan lebih mulia dari 'Putri Sion', percayalah itu...... demikian banyaknya sebutan untuk seorang Boru ni Raja

Comment Posted By Maridup Hutauruk On 21.02.2008 @ 00:27

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Horas Tano Batak

Inilah Budaya Bangsa Batak 'Dalihan Natolu & Tarombo' itu. Dalam artikel ini disebut 9 etnis dan sebenarnya ada 13. Jadi seharusnya jangan adalagi pandangan bahwa Batak itu hanya 5 etnis. Istilah etnispun kuranglah tepat untuk Batak yang disebut 'Bangsa Batak'. Sebutan yang pas untuk setiap marga adalah kata 'suku', jadi Bangsa Batak itu terdiri dari lebih kurang 450 suku.

Comment Posted By Maridup Hutauruk On 21.02.2008 @ 02:13

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Sisi Gelap Gerilya Padri

@Rony
Proto Melayu adalah nenek moyang dari Melayu. Batak adalah Proto Melayu, sedang penduduk Riau adalah melayu, mengapa ada pembantaian nenek moyang Melayu di tanah melayu? Menarik juga untuk ditelusuri sejarahnya!

Comment Posted By Maridup Hutauruk On 15.02.2008 @ 00:53

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Mangara­dja Onggang Parlindungan dalam buku Tuanku Rao memang mengakui bahwa dirinya sendiri memang bukanlah seorang penulis sejarah (amatir) namun sisi pengungkapan sejarah Batak & Minang harus diakui sebagai fakta sejarah yang selama puluhan tahun tertanam satu sisi catatan sejarah Batak & Minang yang salah. Secara nasional benak Bangsa Minang dan Bangsa Batak sudah dicekoki sisi sejarah yang salah pula sehingga porsi besar Perang Paderi sebagai perang saudara yang mengatasnamakan anutan agama diputar balik menjadi perang melawan penjajahan Belanda walaupun porsinya sangat kecil. Bahkan penyematan kehormatan sebagai Pahlawan Nasional memberi kesan bahwa negara menghalalkan keberingasan perang yang bukan antara kawan X lawan, melainkan antara kawan X kawan menjadi simbol-simbol yang dihargai setinggi-tingginya.

Pembinasaan Kerajaan Pagaruyung dan pengikut-pengikutnya sampai punah yang dimotori oleh pemimpin-pemimpin orang Minang sendiri dan termasuk orang Batak, dan kemudian pembantaian Bangsa Batak oleh pemimpin-pemimpin orang Batak sendiri yang mengakibatkan punahnya 3/4 bangsa Batak adalah sejarah yang hampir tak ada terlintas di benak generasi selanjutnya ke dua Bangsa Minang & Bangsa Batak bahwa Perang Paderi adalah Perang Saudara yang diakui oleh Pemerintah sebagai PERANG MELAWAN PENJAJAH OLEH PADERI. Ironisnya Bangsa Batak tidak pernah berekspansi ke bangsa-bangsa lain dalam hal penguasaan suatu wilayah atau doktrin budaya maupun agama malah tergencet eksistensinya dalam pergaulan budaya dan pergaulan bernegara.

Masyarakat Bangsa Batak sekarang ini tentu survive dari suatu seleksi yang sangat ketat dari ancaman kepunahan oleh Paderi dan wabah penyakit akibat perang saudara tersebut dan dalam konteks bermasyarakat sebagai rakyat suatu negara (Negara RI) yang merdeka masih harus juga mengalami seleksi yang sangat ketat, padahal setiap insan dari masyarakat Bangsa Batak sudah sangat jelas memegang konsep BIBIT-BEBET-BOBOT bahkan sampai 20 generasi kebelakang, dan tidak satupun etnis lain yang menjaga konsep keaslian ini kecuali mungkin hanya di tingkat keraton-keraton. Lalu tentu sangat wajar apabila masyarakat Bangsa Batak meng-claim bahwa dirinyalah yang paling asli di negara ini? So what? Berpropinsi atau bernegara tentu punya makna yang berdasar kepada 'identity'.

Bagi saya Buku Tuanku Rao yang bernuansa latar belakang penulis merupakan catatan sejarah yang mengungkap bahwa Bangsa Minang dan Bangsa Batak adalah dua Bangsa yang sejak dahulu sampai sekarang hidup berdampingan secara damai yang tetap terjaga hanya karena saling menjaga dan saling menghargai konsep budaya masing-masing. Negara sebagai payung justru tidak melihat keagungan budaya ini sebagai pemersatu. Slogan-slogan budaya yang agung hanyalah mendapat porsi yang kecil dalam program pemerintah sebagai pemicu pembangunan setiap daerah. HORAS

Comment Posted By Maridup Hutauruk On 04.11.2007 @ 08:44

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Peranan Perempuan dalam Adat dan Budaya Batak Diseminarkan

Dalihan Natolu dan Tarombo sudah pas menjadi nafas kehidupan Bangsa Batak. Kesetaraan gender sudah terkandung didalamnya. Kebetulan saya baru submit sebuah comment atas sebuah artikel berjudul "Boru Raja", maksudnya 'Boru ni Raja' barulah saya masuk ke artikel ini, tetapi sepertinya ke-dua artikel ini ada kaitannya. Saya setuju dengan dua komentator diatas tetapi ada sedikit 'hata tambaan' terutama menanggapi artikel ini.

Kutipan: Amanah dalam UUD Tahun 1945 pasal 4 ayat (1) dan pasal 27 ayat (1), UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Kepres No 9 Tahun 2000 tentang Pengarus utamaan gender (PUG) dan Surat edaran Mendagri, Tanggal 26 Juli 2001 tentang pelaksanaan PUG.

Comment:
1) Amanah ini tidak boleh diberlakukan dalam hal pembagian harta-warisan pada Bangsa Batak ataupun apabila ada konflik harta warisan, oleh karena apabila diberlakukan maka akan terjadi 'Ketidak setaraan Gender' yang merugikan pihak laki-laki dalam satu marga, oleh karena perempuan sudah mendapatkan 'haknya' dari marga suami.

2) Kutipan: ...., dalam hal pembagian harta warisan bahwa anak perempuan hanya memperoleh: Tanah (Hauma pauseang), Nasi Siang (Indahan Arian), warisan dari Kakek (Dondon Tua), tanah sekadar (Hauma Punsu Tali). Akan tetapi saat ini kedudukan perempuan dalam hukum sudah banyak berubah. Khususnya jika terjadi sengketa di pengadilan. Comment:[Inikan sudah menunjukkan keutuhan 'Hukum Adat Batak' terhadap perempuan. Mau apalagi comment-1]

3) Kutipan: Sedangkan Ketua Lembaga Adat Dalihan Natolu (LADN) Taput Drs BP Nababan menjelaskan, bagi masyarakat Batak sebenarnya kedudukan perempuan sangat dihormati, hal ini terbukti dengan berbagai gelar kehormatan yang diberikan, seperti Soripada, Parsonduk bolon, Tuan boru, Boru ni raja dan lain-lain. Dan di dalam kehidupan sehari-hari pun seorang perempuan harus dihormati, seperti dalam pepatah Batak: Huling-huling tali pasa, holi-holi sakkalia, Hormat ma lakka ni Ama, molo rap dohot akka Ina. Comment:[Penghormatan secara spiritual sudah sedemikian tingginya kedudukan perempuan dalam keluarga marga suami]

4) Kutipan: Akan tetapi dalam hal perkawinan, kedudukan perempuan Batak tidak begitu menggembirakan, karena sering ada ucapan: Na Tinuhor (Yang dibeli), Na Nialap (Yang dijemput) dan Partalaga (Yang di bawah). Demikian juga dengan istilah Molo Dung Magodang Boru Pamulion (Kalau anak perempuan sudah besar dikawinkan), kata “Pamulion” seolah-olah menyuruh pergi atau siap untuk diperjualbelikan. Maka muncul lah istilah adat Batak, Mangallang tuhorni boru (Memakan mas kawin anak perempuan) atau Mangallang juhut.
Comment:[Yang diistilahkan bukanlah mengandung makna yang sebenarnya. Istilah-istilah yang disebutkan ini baru muncul setelah Bangsa Batak tersentuh dengan budaya baru yang lebih materialistik, apakah itu karena pengaruh agama, atau budaya kemerdekaan? perlu juga ada kajiannya. Istilah sebenarnya adalah "Sinamot". Kata ini mengandung makna yang sangat dalam dan bukan seperti yang diistilahkan]

5)Kutipan: Apa yang dikemukakan Nababan didukung oleh pernyataan Ketua PN Tarutung Saur Sitindaon SH MH dan Pdt Rostety Lumbantobing (Biro Pembinaan HKBP) yang mengatakan, bahwa perempuan dan laki-laki adalah sama di mata Tuhan.
Comment: [Tuhan tentu tidak mempersoalkan harta dan benda karena dia sipencipta? Bangsa Batak yang menganut faham budaya perkawinan yang patriarchie tentu laki-laki yang menentukan pembagian harta warisan (bukan maksudnya memiliki semua!) Kalaupun manusia laki-laki dan perempuan harus masuk surga kemungkinannya perempuan yang lebih banyak masuk oleh karena statistiknya memang lebih banyak perempuan. Inikan tidak juga ada kesetaraan gender?]

Kesimpulan comment, bahwa masyarakat Bangsa Batak masa sekarang ini sudah memahami hukum adat yang berlaku sekarang ini sesuai dengan Dalihan Natolu dan Tarombo dan memang adil dan tidak ada unsur ketidak setaraan gender dalam hukum sebagaimana diutarakan dalam comment-1). Kalau masyarakat harus condong kepada UU dan perundangan hukum negara, maka konsep kesetaraan Dalihan Natolu dan Tarombo harus dibubarkan juga?. Yah.. begitulah orang batak seperti di artikel dan @Bony Silitonga, laki-laki yang mengakui dan membela adanya ketimpangan gender bagi perempuan. Hati-hati... dengan apa yang tersirat pada perangkat yang berkembang sekarang ini! Budaya Bangsa Batak akan habis dan punah tanpa kita sadari. Seharusnya para ahli hukum Batak yg meng-counter UU & Peraturannya agar ada 'addendum' yang menilai kesetaraan dalam Dalihan Natolu dan Tarombo yang 'applicable' pada Batak.

Hata on hata tambaan, Horas.

Comment Posted By Maridup Hutauruk On 21.02.2008 @ 01:55

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Jejak Raja-raja Batak Dalam Lagenda

Saya ada tau yang mirip seperti diceritakan pada judul “Jejak Raja-raja Batak dalam Legenda” ada beda sedikit tetapi intinya sama. Legenda-legenda ini saya pelajari secara serius dan seriusnya bukan saya dapat dari “kedai tuak”, walaupun ‘tuak’ itu adalah penganan sakral dalam suatu prosesi adat istiadat Bangsa Batak. Kebetulan saya sedang membaca sebuah cerita peristiwa “Air Bah Nabi Nuh” di kedai tuak.

Saya menelusuri tarombo Adam sampai Nuh yang berdurasi 1500 tahunan, persisnya 1559 tahun dan Nuh generasi ke-10 dari Adam. Kemudian dari Nuh sampai Abraham tarombonya juga 10 generasi berdurasi 490 tahun, Abraham menjadi generasi ke-20 dari Adam. Kemudian dari Abraham sampai Yesus sebanyak 40 generasi dengan durasi 2000 tahun, sehingga Yesus menjadi generasi ke-60 dari Adam. Abraham itu orang Siria, bukan jahudi. Nggak percaya! Cari sendiri tarombonya, pasti ada sama anda. Sementara Adam mungkin orang Batak? Dan coba pula telusuri bibit-bebet-bobot tarombo bangsa ini?

Dalam Kitab Talmud dan Torah, peristiwa Airbah Nuh adalah legenda. Skripsi tertua yang ditemukan adalah di Mesopotamia dalam bentuk ‘cuneform = sejenis tablet tanah liat” sekitar 400 tahun lebih tua dari skripsi yang menceritakan ‘Peristiwa Airbah’. Dalam skripsi bangsa Sumer di Mesopotamia itu (Irak) terdapat cerita berupa legenda Gilgamesh sebagai raja dan pahlawan, dan ceritanya persis sama dengan cerita ‘Airbah Nuh’ Cuma aktornya bukan Nuh tetapi bernama ‘Utnaphistim’. Saya coba ambil kesimpulan bahwa cerita Airbah yang di Talmud dan Torah Jahudi tentu dari peradaban Sumer, yang disebut Gilgamesh dengan actor Utnaphistim-nya. Ternyata cerita Peristiwa Airbah Nuh ini menjadi anutan kepercayaan yang diyakini kebenarannya 100 persen oleh penganut agama besar, dan barangsiapa yang tidak percaya dan tidak meyakini 100 persen peristiwa ini tentu tidak mengakui Kitab Sucinya!.

Aksara Bangsa Batak, menurut penelitiannya sudah ada sekitar 700 tahun Sebelum Masehi dan persamaannya masih bersaudara dengan tulisan Aramaic yang dipakai Yesus, dan Rejang (disekitar danau ranau-batas Lampung), jadi sama sekali bukan berasal dari tulisan Kawi di Jawa yang berasal dari Sanskerta. Buku2 Bangsa Batak sudah dibakar habis oleh Paderi, sebagaian dibawa para bule, dan sebagian lagi dibakar oleh insan batak moderen, sehingga cerita diatas dianggap 100 hanya untuk porsi ‘kedai tuak’ padahal kalau dibuktikan cerita itu ada tertulis dalam aksara Bangsa Batak, apa anda dan saya mau baca dan bisa fahami???

Orang Bangsa Batak itu sebenarnya kurang pandai berimajinasi bohong karena tarombonya sendiri bisa dia ceritakan sampai 20 generasi kebelakang dan memang bisa persis sama seperti yang tertulis. Nggak percaya coba Tanya kepada orang Batak yang sudah Ompu (Mpu). Ada asap tentu karena ada api, ada legenda tentu ada kebenarannya.

Kalau ada yang katakan “madekdek sian langit mapultak Sian Bulu ” adalah merupakan pernyataan yang sangat sulit diterima, maka saya lebih sulit lagi menerima bahwa saya ini ternyata dibentuk dari debu tanah lalu dihembuskan nafas lalu... 'hidup' apalagi kalau yang membentuk itu seorang pembuat tembikar!

Comment Posted By Maridup Hutauruk On 15.02.2008 @ 12:39


 


Next page »


Halaman (6): [1] 2 3 » ... Last »

«« Kembali ke halaman statistik