Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Comments Posted By D. Banjarnahor

Displaying 1 To 2 Of 2 Comments


Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Jejak Raja-raja Batak Dalam Lagenda

Benar bahwa hal itu adalah mitos ketika dimaknai sebagai tidak sebagai kelaziman Ilmiah yang tidak didukung referensi apalagi data.
tetapi yang positif buat saya sebagai orang batak yang tidak mengenal budaya batak dari "LAPO TUAK" bahkan belum mengenal budaya batak hingga umur 25 tahun, mitos tersebut juga sangat berguna. Paling tidak secara Positivistik, suatu mitos yang dianggap oleh mayoritas "KEBENARAN" juga bisa menjadi "KEBENARAN". jadi saya tidak mau melawan "KEBENARAN" yang ada. tetapi seperti yang sudah kita tahu bersama kenapa sedikit sekali sejarah batak yang dipublikasikan, apa karena tidak pernah diteliti atau takut tidak laku sehingga tidak diterbitkan. Sebagai orang yang sedang "SADAR" untuk kembali belajar budaya batak, saya kesulitan untuk mendapatkan bahan-bahan atau buku2 untuk saya pelajari. Sangat disayangkan beberapa kajian sejarah adat batak saya pelajari dari terbitan suatu Gereja yang saya tidak sepenuhnya ilmiah karena ada kepentingan lain dari penerbitan itu. seorang teman saya,satrawan, yang juga orang batak dari Jogja (dia juga malu berdebat soal budaya batak kerena tidak lancar berbahasa batak) mengatakan beberapa sumber sejarah yunani pernah menyebut Barus sebagai pelabuhan yang besar, dan beberapa buku asing sebelum abad pertengahan juga menyebutkan beberapa tempat di tanah batak.
bisakah saya diberikan referensi bacaaan mengenai sejarah, kebudayaan, religi batak, saya tidak kesulitan dalam bahasa inggris.

sebelumnya saya ucapkan
mauliate

Comment Posted By D. Banjarnahor On 21.12.2007 @ 17:33

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Ugamo Malim di Negara Demokratis

Ketertarikan saya dengan budaya Batak ketika saya mengobrol dengan salah satu sastrawan Indonesia yang berdomisili di Jogja yang sangat menyayangkan dekadensi budaya batak, bukan hanya di seluruh Indonesia tetapi juga di tanah batak itu sendiri. Kawan saya itu yang sedang asik berperang dengan TUK dan GM-nya (kalau masalah ini silahkan dibaca di buletin sastra BoemiPoetra), mengatakan terlalu sedikit orang batak yang peduli terhadap budaya batak yang asli, bahkan dia mencontohkan Gondang juga telah menjadi Keyboard tunggal di Medan sekalipun. Walapun masih ada yang mempertahan adat batak baik di desa maupun kota tetapi sangat sulit melihat kemurnian dari budaya batak. ada yang bilang ini proses evolutif suatu adat, ada yang bilang akulturasi, ada yang bilang efiensi apabila dipandang dari sudut ekonomi. Yang ektrem, agama asal dari sebagian orang batak juga dipandang sesat di Tanah Batak oleh orang batak itu sendiri. Proses religi beserta reliogitas umat yang dilakukan turun-temurun bagi saya merupakan suatu harta budaya yang layak dipelajari dan tentunya dilestarikan.
Agama lain yang besar ditanah batak pernah mengobok-obok kepercayaan ditanah batak, dilarangnya sebagian adat batak dan penyembah sipelebegu pun menjadi Idiom sanksi yang sama hinanya seperti KOMUNIS yang pernah besar di Indonesia.
Siapakah yang salah?
Apakah pengikut agama lain yang aktif meneriakan sesat, Organisasi para pemimpin umat yang dengan gampangnya memberikan fatwa sesat atau dengan diam-diam menyebarkan kebencian terhadap Kepercayaan batak yang asli?
atau negara yang tidak pernah walaupun mampu untuk melindungi budaya beserta religi yang ada di tanah batak.
Tetapi saya lebih suka untuk menyalahkan diri sendiri yang baru sekarang peduli dan mau mempelajari sejarah, kesenian, kebudayaan beserta Religinya. Saya adalah seorang dengan budaya Hybrid yang besar di jakarta kemudian di Solo
tetapi ketika saya sadar untuk kembali berbudaya batak, saya kesulitan untuk belajar, tidak seperti budaya Jawa tengah yang sering juga saya pelajari. untuk itu marilah para intelektual batak untuk peduli terhadap budaya batak. laluilah fase zaman lisan dari budaya, dan terus dokumentasikan dan lestarikan budaya batak. Karena orang mau berjuang karena dia tahu, Siapa yang peduli terhadap Ugamo Parmalim kalau orang-orang batak yang pintar-pintar, yang jadi jenderal, yang berpengaruh dikekuasaan, serta yang mengaku para pEjuang demokrasi tidak pernah mendengar nama Parmalim.
demikianlah dari saya mohon jangan dianggap sesat ataupun diajak berdebat dengan bahasa batak (saya masih belajar bahasa batak).

Mauliate

Comment Posted By D. Banjarnahor On 21.12.2007 @ 17:00

«« Kembali ke halaman statistik