Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Comments Posted By Badia Tambunan.SE

Displaying 1 To 1 Of 1 Comments


Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Kitab SIRAJA BATAK

TANGGAPAN BAGIAN PERTAMA
Sebelum para pembaca lebih jauh mendalami makna tanggapan ini maka sangat tepat jika kita menambah khasanah berpikir tentang terminologi dan sejarah Batak. Kurang lebih jika tidak tepat mohon kami dikoreksi dan saya tidak sekalipun menghakimi siapapun dalam konteks tanggapan ini.
Batak adalah sebuah istilah kolektif yang digunakan sebagai identitas sekelompok etnik yang terdapat di kawasan dataran tinggi di sumatera utara atau tepatnya disekitar danau toba. Sedangkan bahasa Batak berasal dari bahasa Austronesia dengan kebiasaan bertutur berbalas-balasan dalam rapat.
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “buddhayah” yang merupakan bentuk jamak dari “buddhi” yang berarti hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere dan dalam bahasa Indoensia diterjemahkan “kultur”.
Menurut Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski bahwa kebudayaan Batak merupakan bagian tidak terpisahkan dari etnik Batak sehingga segala sesuatu yang terdapat dalam kelompok etnik Batak ditentukan oleh kebudayaan yang dimilikinya dan sifatnya turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya dan hal ini disebut superorganic. Kebudayaan Batak merupakan sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran etnik Batak pada zaman dahulu kala, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan Batak adalah benda-benda yang diciptakan oleh etnik Batak sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu etnik Batak dalam melangsungkan kehidupan etnik.

Adat adalah gagasan kebudayaan yang melembaga menjadi kebiasaan yang lazim dilakukan di suatu kelompok etnik. Apabila adat tidak dilaksanakan akan terjadi keresahan sehingga kelompok etnik tersebut perlu menjatuhkan sanksi terhadap pelaku yang menyimpang namun sanksi ini tidak menjadi pranata hukum sehingga tidak bersifat bilateral atau universal. Kata adat sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu Adah yang berarti “kebiasaan-kebiasaan dari masyarakat”.
Manusia memiliki keterbatasan pikiran dan daya tahan fisik untuk memahami serta mengungungkap rahasia-rahasia alam sehingga muncul keyakinan akan adanya penguasa tertinggi dari sistem jagad raya ini, yang juga mengendalikan manusia sebagai salah satu bagian jagad raya. Sehubungan dengan itu, baik secara individual maupun hidup bermasyarakat, manusia berkeyakinan bahwa ada penguasa alam semesta yang dapat memberi kebahagiaan sejati. Kepercayaan ini terkristalisasi menjadi agama.
Agama menjadi sebuah institusi dimana keberadaannya diakui sehingga anggotanya dapat berkumpul bersama untuk beribadah menerima paket doktrin yang menawarkan hal yang terkait dengan sikap dan perbuatan yang harus diambil oleh masing-masing individu sehingga mereka memiliki keseimbangan dalam menjadi hidup.
Agama biasanya memiliki suatu prinsip, seperti “10 Firman” dalam agama Kristen atau “5 rukun Islam” dalam agama Islam. Yahudi adalah agama tertua dan merupakan agama monotheistik yang masih ada sampai sekarang, sedangkan seharah umat Yahudi adalah bagian utama dari agama Ibrahim lainnya, seperti Kristen dan Islam.
Agama dan sistem kepercayaan lainnya seringkali terintegrasi dengan unsur kebudayaan yang penting dalam sejarah umat manusia. Kristen adalah salah satu agama penting yang berhasil mengubah wajah kebudayaan Eropa pada akhir abad 17. Pemikiran para filosopis modern pun banyak terpengaruh oleh para filosopis Kristen semacam St. Thomas Aquinas dan Eramus. Sementara itu, nilai dan norma agama Islam banyak mempengaruhi kebudayaan Timur Tengah dan Afrika Utara, dan juga sebagian wilayah Asia Tenggara.
Agama kristen sendiri masuk ke Batak pada abad 19 oleh beberapa missionaris dan salah seorang yang terkenal ialah Ludwig Ingwer Nommensen oleh sebab itu HKBP memiliki faham Lutheran. Kisah awal masuknya para missionaris ke tanah Batak adalah memakai strategi membaur dengan keyakinan bahwa agama akan dapat dikenal melalui budaya etnik Batak. Walaupun demikian bahwa perlawanan dari etnik Batak dengan eksistensi budaya dan adat istiadatnya tetap tidak dapat dihindarkan dan hal ini terbukti pada tahun 1934 Pdt. Samuel Munson dan Pdt. Hendry Lyman yang diutus Bandan Zending Boston Amerika Serikat mati martir di Lobu Pining Tapanuli Utara.
Pola pembauran ajaran Kristiani kedalam budaya etnik Batak yang dimulai oleh Van der Tuuk pada tahun 1849 dengan menterjemahkan sebagian dari Alkitab ke dalam aksara batak membawa kerancuan sampai sekarang. Kurun waktu 158 tahun ternyata belum cukup untuk memisahkan ajaran agama dengan adat budaya etnik batak.
Pada tahun1825 -1829 tuanku Rao dari Padang menyerang tanah Batak dan diperkirakan pada saat itu muncul kepercayaan Parmalim. Kepercayaan Parmalim juga menerapkan pola pembauran namun beberapa hal prinsip adat istiadat Batak di hilangkan secara total yaitu tidak boleh memakan darah, babi, anjing dan monyet.
Mengingat bahwa dalam aliran kepercayaan parmalim tidak diperbolehkan makan darah, babi, anjing dan monyet maka aliran ini tidak dapat diterima secara utuh sebab beberapa media penyembahan dalam budaya batak telah dipantangkan. Sementara para missionaris pada awal mula masuknya agama nasrani ke etnik Batak tidak menyentuh hal tersebut. Pola pembauran yang dilakukan oleh para missionaris telah membuat manipulasi ajaran alkitab dan hal ini terpatri hingga sekarang. Perkeliruan prinsip yang dilakukan adalah : Berdasarkan tulisan Drs. Brisman Silaban Msi. bahwa adat inti mencakup seluruh kehidupan yang terjadi pada penciptaan dunia oleh Debata Mulajadi Nabolon. Adat inti diberikan bersamaan dengan penciptaan. Sesudah Mulajadi Nabolon menciptakan dewa tiga serangkai yaitu Batara Guru, Bala Sori dan Bala Bulan, maka dengan segera dimamahkanlah kepada mereka undang-undang dan hukum untuk mengetahui yang baik dan yang buruk. Tatkala pada awal mula manusia pertama dicipta (ada) di dunia ini maka Mula Jadi Nabolon memeteraikan “adat” dalam diri manusia tersebut serta memeteraikan undang-undang dan hukum ke dalam hati mereka tentang yang boleh dan terlarang, yakni “terlarang” (tongka), “jangan” (unang) dan tak patut (naso jadi). Dalam konteks ini bahwa Debata Mulajadi Na Bolan adalah dewata pencipta dewa. Para missionaris merekayasa bahwa pada hakekatnya Tuhan adalah Debata yang menciptakan langit bumi dan segenap isinya. Para missionaris untuk tidak menghilangkan perkataan dari dewata yang diyakini oleh etnik Batak sebagai pencipta segala sesuatu yang ada dan merupakan penguasa jagad raya yang menguasai banua ginjang, banua tonga dan banua toru.
2. Dalihan na tolu, yaitu Hula-hula, Dongan Tubu and Boru. Sementara dalam aplikasi kehidupan sehari-hari satu sama lain menjalankan peran sesuai dengan status masing-masing, yaitu : “Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru”. Jika hak dan kewajiban yang terkandung didalamnya tidak dilaksanakan maka akan mendapat sanksi magis yaitu : “Angka na so somba marhula-hula siraraonma gadongna, molo so Manat mardongan tubu, natajom ma adopanna, jala molo so elek marboru, andurabionma tarusanna”.
Mengutip dari tulisan Drs. Brisman Silaban Msi. yang disadur dari pendapat RP Tampubolan bahwa melanggar adat inti sebagai undang-undang (patik) dan hukum (uhum) adalah soal hidup atau mati, melanggar dan mengobahnya adalah dosa berat yang mengakibatkan kebinasaan. Untuk meyakinkan doktrin ini maka si raja Batak umpasa yang harus dipatuhi yaitu “Ompunta naparjolo martungkot salagunde. Adat napinungka ni naparjolo sipaihut-ihut on ni na parpudi”. Itulah tiga falsafah hukum adat Batak yang menjadi pedoman dalam kehidupan sosial yang hidup dalam tatanan adat sejak lahir sampai meninggal dunia.
TANGGAPAN BAGIAN KEDUA Tanggapan Bagian Kedua
Perbandingan : (Yang bercetak miring adalah kutipan tulisan Silaban) dan yang bercetak tebal adalah kutipan dati Alkitab : Masa Mula Dunia Diciptakan Allah (Alkitab, buku kejadian)
1:1. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.
1:2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Rekayasa para missionaris pertama pada orang Batak. Ia di mula ni mulana ditompa Debata ma langit dohot tano, dungi hira na ginargaran do tano i jala songon halungonan jala holom do, rodi banua toru. Dungi manareap-reap ma hosa ni Debata di ginjang ni aek i. Terjemahan diatas diambil dari Alkitab pertama untuk etnis batak (aksara Batak). Missionaris menterjemahkan Allah menjadi Debata karena ada kesamaan dengan kepercayaan etnis batak yaitu Debata Mula Jadi Na Bolon. Missionaris juga menambahkan kata banua toru dengan maksud agar terkesan ada kesamaan dengan kepercayaan animisme orang batak tentang penciptaan Debata Mula Jadi Na Bolon, yaitu Banua Ginjang, Banua Tongan dan Banua Toru. Rekayasa ini juga diperkuat pada Tangiang Ale Amanami yaitu Tangiang Na Pinodahon ni Tuhan Jesus tu Angka Sisean Na dimana Hata Pamungkaan adalah Ale Amanami na di banuaginjang. Rekayasa Lucifer tentang penciptaan yang diyakini oleh etnis batak yang masih loyal melaksanakan ritual adat batak sampai sekarang, seperti tertera dibawah ini.1. ADAT INTI Adat inti mencakup seluruh kehidupan yang terjadi pada penciptaan dunia oleh Debata Mulajadi Nabolon. Adat inti diberikan bersamaan dengan penciptaan. Sesudah Mulajadi Nabolon menciptakan dewa tiga serangkai yaitu Batara Guru, Bala Sori dan Bala Bulan, maka dengan segera dimamahkanlah kepada mereka undang-undang dan hukum untuk mengetahui yang baik dan yang buruk. Tatkala pada awal mula manusia pertama dicipta (ada) di dunia ini maka Mula Jadi Nabolon memeteraikan “adat” dalam diri manusia tersebut serta memeteraikan undang-undang dan hukum ke dalam hati mereka tentang yang boleh dan terlarang, yakni “terlarang” (tongka), “jangan” (unang) dan tak patut (naso jadi). Dengan demikian, Adat Inti mutlak harus dituruti dan dilaksanakan sebagai undang-undang, adat dan hukum dalam kehidupan, seperti yang ditegaskan dalam ungkapan berikut :
Adat do ugari
Sinihathon ni Mulajadi
Siradotan manipat ari
Siulahonon di siulu balang ari
artinya :
Adat adalah aturan yang ditetapkan oleh Tuhan Pencipta, yang harus dituruti sepanjang hari dan tampak dalam kehidupan (Simanjuntak, 1966)
Pelaksanaan Adat Inti tidak boleh dimufakati untuk mengobahnya dalam upacara adat karena terikat dengan norma dan aturan yang diturunkan oleh Mula Jadi Nabolon (sebelum agama mempengaruhi sikap etnis Batak Toba terhadap upacara adat). Kalau Mula Jadi Nabolon memang adalah Tuhan Pencipta berarti adat inti mutlak adanya dan kekal maknanya sehinga tidak ada satu kekuatan agama manapun yang mampu mempengaruhi etnis Batak. Pemahaman kami terhadap pendapatan diatas adalah kontradiktif. Dengan uraian tentang Adat Inti di atas maka kita pada saat sekarang yang masih setia melaksanakan upacara adat, kita tidak mungkin lagi (tidak mampu) melaksanakannya sesuai dengan iman berdasarkan agama yang kita anut dan inilah merupakan pergeseran pelaksanaan adat yang kita laksanakan. Pemahaman kami pada tulisan diatas bahwa rekayasa dan manipulasi penulis terhadap pengerian Adat dimeteraikan oleh Mula Jadi Na Bolon ke dalam diri manusia, tidak konsisten dengan kita tidak mungkin lagi (tidak mampu) melaksanakannya sesuai dengan iman berdasarkan agama yang kita anut . Tuat ma na di dolok martungkot siala gundi Napinungka ni ompunta na parjolo Tapa uli-uli (bukan tai huthon) sian pudi
Mencermati akan pengertian umpasa diatas maka sangat jelas bahwa konsistensi terhadap rekayasa tersebut tidak dapat dipertahankan penulis Artinya adat istiadat yang sudah diciptakan dan diturunkan nenek moyang kita terdahulu kita ikuti sambil diperbaiki (disesuaikan) dari belakang. Siapa sebenarnya yang menciptakan adat tersebut ?. Apakah Debata Mula Jadi Na Bolan yang diyakini oleh penulis sebagai Tuhan Pencipta adalah juga sama menjadi ompunta na parjolo. Kalau memang adat dimeteraikan bersamaan dengan penciptaan manusia dan menjadi bagian dari hidup manusia itu sendiri, mengapa adat itu tidak bersifat universal ?. Berikut ini adalah Tulisan Tonggo Simangunsong.
Dalam kepasrahan ini tentu saja masih ada harapan. Tapi, harapan itu bukanlah berasal dari dunia, melainkan dari Oppu Mula Jadi Nabolon. Dalam harapan itu, ada pula ketaatan untuk selalu mempertahankan hidup suci. “Kami tidak diakui bukan karena kami telah melakukan kejahatan, melainkan hanya pransangka buruk tentang kami,” katanya. Selanjutnya ia mengucapkan kalimat dalam bahasa Batak, ”Berilah kepada kami penghiburan kepada kami yang menangis ini, bawalah kami dari kegelapan dunia ini dan berilah kejernihan dalam pikiran kami.” Mereka yakin Debata hanya akan memberkati orang yang menangis. Nah, dalam kepasrahan yang berpengharapan inilah mereka hidup. Dalam keterasingan itu juga mereka menyerahkan hidupnya pada “kemaliman” (kesucian). “Parmalim adalah mereka yang menangis dan meratap,” katanya.
Dalam ritual Ugamo Parmalim sendiri, terdapat beberapa aturan dan larangan. Selain mengikuti 5 butir Patik ni Ugamo Malim (5 Titah Ugamo Malim), juga terdapat berbagai kewajiban lainnya seperti, Marari Sabtu atau ibadah rutin yang diadakan setiap Sabtu. Kewajiban lain di antaranya adalah Martutu Aek, yakni pemandian bayi yang diadakan sebulan setelah kelahiran, Pasahat Tondi yaitu ritual sebulan setelah kematian, Pardebataan, Mangan na Paet dan Pangkaroan Hatutubu ni Tuhan. Ada pun larangan yang hingga kini masih tetap dipertahankan di antaranya adalah. larangan untuk memakan daging babi dan darah hewan seperti yang lazim bagi umat Kristen. Memakan daging babi atau darah dianggap tidak malim (suci) di hadapan Debata. Padahal dalam ajaran Parmalim sendiri dikatakan, jika ingin mengaturkan pujian kepada Debata, manusia terlebih dahulu harus suci. Ketika menghaturkan pelean (persembahan) kesucian juga dituntut agar Debata dan manusia dapat bersatu. Selain itu, Parmalim juga tidak diperbolehkan secara sembarangan menebang pohon. Larangan ini diyakini akan mendatangkan bala apabila tidak diacuhkan. Pasalnya, hutan sebagai bagian dari alam yang sekaligus merupakan ciptaan Tuhan harus dilestarikan. Secara tradisi, apabila seseorang ingin menebang pohon di hutan, haruslah menanam kembali gantinya. Konon, ajaran Parmalim meyakini bahwa terdapat seorang raja yang berkuasa di hutan (harangan) yang lalu dikenal dengan Boru Tindolok (raja harangan). Jika melihat fisik bangunan rumah ibadah Parmalim, maka pada atap bangunan terdapat lambang tiga ekor ayam. Lambang ini, menurut Marnangkok, merupakan lambang ”partondion” (keimanan). Konon, menurut ajaran Parmalim, ada tiga partondian yang pertama kali diturunkan Debata ke Tanah Batak, yaitu Batara Guru, Debata Sori dan Bala Bulan. Sementara ayam merupakan salah satu hewan persembahan (kurban) kepada Debata. Ketiga ekor ayam itu berbeda warna. Yang pertama, berwarna hitam (manuk jarum bosi) merujuk kepada Batara Guru, putih untuk Debata Sori dan merah untuk Bala Bulan. Sedang masing-masing warna juga memiliki arti tersendiri. Hitam melambangkan kebenaran, putih melambangkan kesucian dan merah adalah kekuatan atau kekuasaan (hagogoon). Kekuatan adalah berkah yang diberikan kepada manusia melalui Bala Bulan yang tujuannya untuk mendirikan “panurirang” (ajaran dan larangan).
Hanya saja, diyakini bahwa Raja Sisingamangaraja adalah utusan Debata yang lahir melalui perantaraan roh Debata kepada Boru Pasaribu. Diyakini pula, pada waktu di Harangan Sulu-sulu sebuah cahaya, yang kemudian diyakini sebagai roh Debata datang kepadanya dan mengatakan, “baen pe naung salpu i roma na tonggi, tarilu-ilu ho sonari, roma silas ni roha.” yang menyatakan bahwa: “Walaupun hari ini engkau menangis namun engkau juga akan merasakan kebahagiaan kelak.”
Boru Pasaribu kemudian mengandung dan dianggap berselingkuh dengan marga asing tetapi kemudian disangkal, sebab pada saat roh Debata hadir dan mengucapkan hal itu kepadanya, ia tak sendirian melainkan turut disaksikan putrinya. Maka kemudian, putra yang terlahir itu (yang kemudian dikenal dengan Raja Sisingamangaraja I), diakui sebagai utusan Debata.
Selanjutnya, Raja Sisingamangaraja memiliki keturunan hingga 12 keturunan. Itu pun secara roh. Hanya saja, hingga kini banyak yang tidak mengakui Raja Sisingamangaraja sebagai nabi bagi Ugamo Malim, melainkan hanya sebagai manusia biasa. Raja Sisingamangaja XII sendiri dikenal sebagai pahlawan Nasional. “Itulah yang menjadi anggapan ganjil terhadap Ugamo Parmalim selama ini,” kata Marnangkok. Namun meski demikian, juga diyakini bahwa Sisingamangaraja masih hidup hingga kini, tentu saja secara roh.
Hingga akhir hayat Raja Sisingamaraja XII, keyakinan Ugamo Malim kemudian diturunkan melalui Raja Mulia Naipospos, yang merupakan kakek kandung Marnangkok Naipospos sendiri. Inilah yang kemudian menjadi acuan pada acara atau ritual-ritual besar Ugamo Parmalim yang diadakan rutin setiap Sabtu dan setiap tahunnya. Ritual-ritual besar Parmalim itu seperti Parningotan Hatutubu ni Tuhan (Sipaha Sada) dan Pameleon Bolon (Sipaha Lima), yang diadakan pertama pada bulan Maret dan yang kedua bulan Juli. Yang kedua diadakan secara besar-besar karena pada acara ini para Parmalim menyembelih kurban kerbau atau lembu. “Ini merupakan tanda syukur kami kepada Debata yang telah memberikan kehidupan,” kata Marnagkok. Begitulah Ugamo Malim dalam ritual dan eksistensinya. Persoalan marginalisasi, kesucian, kontradiksi opini publik hingga harapan mereka, barangkali masih menunjukkan banyak pertanyaan. Namun, sidaknya dalam kepasrahan mereka dapat menikmati sedikit kebebasan di desa mereka sendiri, Hutatinggi. Tapi, Hanya sedikit. Dari apa yang ditulis diatas maka semakin jelas bahwa Adat Batak dan Kepercayaan Parmalim yang notabine mempunyai basic dari adat batak adalah merupakan imajinasi manusia yang dipengaruhi oleh Lucifer dengan hanya merekayasa satu dua perkataan sehingga mampu menghipnotis akal sehat etnis batak yang masih konsisten dan loyal terhadap ritual adat Batak. Satu fakta lagi dari tulisan N. Siahaan pada tahun 1964 menjadi wacana berharga untuk membuka matahati rohani kita.
Siahaan mengatakan bahwa Sastra tulis telah lama ada, diduga sejak abad ke-13, yaitu dengan adanya “aksara Batak yang berasal dari aksara Jawa Kuna melalui aksara Sumatera Kuna”, sesudah Singosari mengirimkan tentaranya ke Jambi di Sumatera Tengah.
Sastra tulis itu adalah berupa ilmu perbintangan atau astronomi, tarombo atau silsilah, ramuan pengobatan tradisionil, turi-turian yang bersifat mythe atau dongeng. Cerita-cerita itu ditulis dengan aksara Batak Toba pada kulit kayu yang lebarnya dapat dilipat. Tulisan pada kulit kayu itu disebut pustaha ‘pustaka’ yang sekarang ini sulit ditemukan. “Seperti diterangkan di atas bahwa tidak ada seorang ahli yang dapat mengetahui dari mana asal muasal aksara Batak.” Namun, manusia hanya dapat mengira-ngira atau menghubung-hubungkan sejarah terjadinya aksara di muka bumi ini. Tetapi secara linguistik dapat dikaji bahwa aksara itu bermula dari “aksara Hieroglif Mesir”, dan turun temurun sesuai dengan perkembangan zaman pada masa itu (lihat bagan di atas).
Permulaan Aksara Batak Menurut Versi Batak Ompunta Mulajadi Nabolon Nasa bangso na di liat portibi on, na marhatopothon adong do Debata, diparhatutu nasida do i, na tarpatupa Debata do na sa na boi dodoan ni roha ni jolma. Bangso Batak pe masuk do tuhorong na marhatopothon, adong Debata, i ma: Debata Mulajadi Nabolon. Parbinotoan i hibul jala Polim do di Jolma na parjoloi.
Alai tutu molo lam tamba panarihon ni roha ni jolma di atas tano on, lam moru ma parbinotoan i, gabe holan pasi-pasina nama na tading. Ala ni i, massa i maol nama patorangon angka na masa sian narobi ni narobi, ala so diida mata jala so dibege pinggol. Dung i laos ditongos muse ma Debata Natolu. Ia dung songon i, ditongos Mulajadi Nabolon ma dua balunbalunan Surat Batak. Dibalunan na parjolo, i ma na margoar “Surat Agong “, i ma di lehon (bagian) ni Guru Tateabulan, jala disi tarsurat ma hadatuon (ilmu kedukunan), habeguon (ilmu tentang hantu), parmonsahon (ilmu silat) dohot pangaliluon (ilmu menghilangkan diri/ilmu gaib). Di balunan na paduahon, i ma na margoar “Surat Tombaga Holing” i ma bagian ni Raja Isumbaon, di si tarsurat taringot tu harajaon (kerajaan), paruhuman (ilmu Hukum), parumaon (Ilmu pertanian/persawahan), partigatigaon (Ilmu perdagangan) dohot paningaon (WM. Hutagalung, 1991:1 dan 33). Ompunta Si Raja Batak Ianggo anak ni Ompunta Raja Batak dua do, na parjolo na margoar Raja Ilontungon gelar Guru Tateabulan, na paduahon i ma na margoar Raja Isumbaon (WM. Hutagalung, 1991:32). Jadi Surat Agong dan surat Tumbaga Holing diterima Si Raja Batak dari Ompung Mulajadi Nabolon. Kemudian Surat Agong diraksahon (diterjemahkan) oleh Martuaraja doli, dan surat Tombaga Holing ditorsahon Tuan Sorimangaraja. Dari merekalah turun temurun surat Batak itu sampai sekarang ini. Dengan demikian Martuaraja doli dan Tuan Sorimangaraja lah yang pertama sekali membaca surat Batak yang diterima Si Raja Batak itu dari Ompunta Mulajadi Nabolon berupa Pustaha yang dituliskan di kulit kayu (laklak).
Badia Tambunan,SE

Comment Posted By Badia Tambunan.SE On 19.07.2007 @ 19:37

«« Kembali ke halaman statistik