Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Comments Posted By Andareas Silaban

Displaying 1 To 1 Of 1 Comments


Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Siapa Bilang Kopi Sigarar Utang Ngga PATEN ?

Kopi.... Jadi ingat orang tua di kampung...
Lebaran tahun lalu pulang kampung selama 2 minggu. Ketemu orang tua, pas lagi panen kopi. Diotak saya wah mantep, bisa minta traktir di bakmi sakura di siborong-borong..
Tapi ternyata hampir 50% dari penjualan kopi itu habis utk ongkos membayar tukang petik kopi(uang jasa, uang makan, uan g, dan goreng2an). Nggak jadi deh minta traktir.
Terus 3 hari nginep di tempat lae aku, dia dateng dari jakarta khusus utk nengokin kebun kopi bapaknya, karena bapaknya sudah meninggal. Aku ngitung2 itung, kok kayaknya kalau dari sisi bisnis berat ya.
Yg aku lihat memang harga jual kopi dari petani ke pengumpul itu sangat murah.
Kalau tidak salah rantai adalah :
Petani --- Pengumpul di pasar ---- Juragan Kopi (Tingkat Kabupaten) ---- dst.
Jadi akhirnya harga kopi naek berkali-kali lipat, tapi petaninya tetep kere. Aku kepikiran masa sih dinas pertanian, atau dinas perdagangan atau apapun suku dinas di PEMDA tidak ada yg memikirkan solusinya spy petani dapat menjual kopi dengan harga murah.
Apakah memungkinkan utk membuat 1 tempat penampungan kopi dengan skala besar yg dimodalin oleh Pemda yang bekerja sama dengan pihak Swasta untuk menampung kopi petani, jadi tidak perlu banyak tangan dalam proses penjualan. Karena menurut pendapat aku memang permasalahnnya ada di panjangnya rantai penjualan.

Comment Posted By Andareas Silaban On 26.08.2007 @ 11:29

«« Kembali ke halaman statistik