Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Sabtu
25
Okt '08

Tiga Tahun Pelatihan Opera Batak

Pusat Latihan Opera Batak di Pematang Siantar didirikan sebagai program pengembangan agenda menghidupkan kembali Opera Batak di tahun 2002. Ketika itu, ide pembuatan Pusat Latihan Opera Batak (biasa disebut PLOt) ditampung dan diwujudkan atas kesepakatan Lena Simanjuntak yang kini tinggal di Koeln, Jerman, Sitor Situmorang serta Barbara Brouwer yang menetap di Apeldoorn, Belanda.

Kegiatan lembaga baru mulai digiatkan di Kota Siantar sejak 12 September 2005 di Sekretariat Jalan Lingga No 1 Siantar. Ketika itu masih dirintis oleh dua personel, Thompson Hs dan Berto Hutabarat. Kami sudah terlibat dalam revitalisasi dan aktivitas grup percontohannya di Tarutung sejak 2002.
Kami kemudian menjadikan rumah kontrakan milik Keuskupan Agung Medan (KAM) yang dikelola oleh Komisi Kepemudaan atau Komkep sebagai Sekretariat PLOt. Kompleks tersebut merupakan bekas perkantoran Komsos KAM dengan studio Sanggar Suteranya yang dipindahkan ke Medan lebih sekian tahun lalu. Pengajuan kontrak tiga tahun pertama ini diterima oleh Romo Hendra Kimawan, OSC (Ketua Komkep) bersama dokumen proposal PLOt. …baca selengkapnya »

[SB] Tags : , ,
Selasa
18
Des '07

“Ratu” Opera Batak dari Tiga Dolok

Ratu OperaNgeri-ngeri sedap! Itulah ungkapan cerdas sarat makna dari Zulkaidah br Harahap (60), mantan maskot opera Batak pimpinan Tilhang Gultom pada 1960-an hingga awal 1970-an.

Konteks ucapan Zulkaidah br Harahap, yang amat populer dengan panggilan boru Harahap itu, sebetulnya sederhana. Bahwa, menjadi seniman tradisi seperti yang ia geluti selama ini ternyata penuh dinamika. Suka dan duka kerap berjalan beriring. Jarak yang memisahkan keduanya pun terkadang begitu tipis meski di lain waktu bisa begitu jauh merentang; ibarat bumi dan langit.

Apalagi ketika nasib opera Batak yang ia geluti sejak tahun 1963 kini sudah lebih dari dua dekade mati suri. Zulkaidah pun dipaksa menerima kenyataan jauh lebih buruk. Bukan saja ia kehilangan panggung seni yang menghidupinya, tetapi sekaligus kehilangan kesempatan memenuhi wasiat (alm) Tilhang Gultom agar ia tetap bisa menghidupi seni tradisi yang ikut membesarkannya tersebut. …baca selengkapnya »

[SB] Tags :
Jumat
13
Jul '07

Opera Batak yang Hanya Nostalgia

JARUM jam sudah menunjuk angka 20.30 wib, hujan tak kunjung berhenti menyelimuti lapangan Sisingamangaraja, Balige, Toba Samosir, Sumatera Utara (Sumut), Sabtu, Juni lalu. Namun pertunjukan opera Batak bertajuk Srikandi Boru Lopian di lapangan itu tetap ramai dikunjungi penonton dari berbabagai etnis yang berasal dari daerah Tapanuli, bahkan ada juga dari luar Sumut.

Opera ini menyuguhkan pertunjukan perjalanan hidup Lopian, putri kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Sisingamangaraja XII dan Boru Sagala (isteri ketiga), yang gugur dalam pertempuran melawan Belanda. Opera garapan Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) pimpinan Thompson Hs ini digelar untuk memeringati 100 tahun gugurnya pahlawan nasional Sisingamangaraja XII, tepatnya Juni 1907. …baca selengkapnya »

[SB] Tags :
Senin
4
Jun '07

Geliat Opera Batak

Opera Batak seperti memperoleh tempat unjuk diri di Taman Budaya Sumatera Utara, Sabtu (2/6) malam. Meskipun kursi yang disediakan tidak penuh (terisi sekitar tiga perempatnya), penonton masih duduk hingga pertunjukan usai.

Penonton terlihat cermat mengikuti setiap adegan dalam pertunjukan tersebut. Mereka dengan penuh sukacita memberi apresiasi berupa tepuk tangan dan gelak tawa.

Opera berjudul “Si Purba Goring-Goring”, dramaturgi Thomson HS yang diproduksi Pusat Latihan Opera Batak (Plot), Siantar, itu terbagi dalam tiga babak. Setiap babak diselingi dengan musik, lagu, dan undian berhadiah. …baca selengkapnya »

[SB] Tags : ,
Senin
14
Agt '06

AWK Samosir - Totalitas Buat Gondang dan Opera Batak

“Abdul Wahab Kasim Samosir” Pimpinan Opera Serindo

Hampir seluruh hidupnya untuk gondang, uning-uningan, tortor dan opera Batak. Ia murid langsung almarhum Tilhang Oberlin Gultom itu (pendiri opera Batak akhir tahun 1920-an). Ia amat gelisah atas perkembangan kesenian Batak dewasa ini. Sebab, menurutnya, semua orang Batak sudah menyeleweng dari budayanya. Lihat pesta-pesta perkawinan, band lebih selalu ditanggap ketimbang gondang termasuk saat mangulosi, menyampirkan ulos kepada pengantin dan kerabatnya.

Menuju rumahnya di belahan timur Jakarta selepas tol, jalan aspal menanjak dan sempit. Hanya bilangan kilometer dari Taman Mini. Di sisi jalan menganga sebuah gang semak dan tanah coklat. Seorang perempuan muda cantik sedang menanti. Ia memandu kami.
Tak sampai tiga menit, tersua hamparan tanah merah 200-an meter persegi. Kering dan keras sebab matahari sedang terik. Tak satu belukar tumbuh. Hanya rumah petak berpintu lima yang kelihatan di seberang. Lantainya satu kaki di bawah permukaan tanah merah itu. Bila hujan turun, gumpalan lumpur mesti melekat di kasut mengonggok di lantai rumah bilik itu. …baca selengkapnya »

[SB] Tags : , ,
Jumat
28
Jul '06

Opera Batak Harus Dibangkitkan

Opera Batak merupakan warisan leluhur, yang harus dibangkitkan kembali. Karena, di dalam kandungan cerita opera Batak itu selalu tercermin budaya luhur yang memang bisa diterapkan sebagai pedoman hidup manusia. Hal itu disampaikan Sitor Situmorang, sastra kondang Indonesia, yang lahir di Pulau Samosir tahun l924 lalu dan kini tinggal di Eropa, beberapa waktu lalu dalam acara bincang-bincang tentang Opera Batak di markas Pusat Latihan Opera Batak (PLOT) di Jalan Lingga, Pematangsiantar.

Menurut Sitor, opera Batak itu sendiri sudah ada sejak tahun l920. Menampilkan berbagai kesenian musik, nyanyian dan tarian serta teater. Panggungnya adalah halaman rumah tradisional yang saat itu masih hutan. Biasanya dilakukan sebagai upacara ritual untuk menghormati warisan leluhur dan alam raya. Kegiatan itu dilanjutkan dengan adanya pesta Bius (besar) yang diikuti berbagai kalangan, termasuk para raja maupun rakyat biasa dari beberapa daerah otonomi. …baca selengkapnya »

[SB] Tags : ,
Rabu
22
Mar '06

[Opera Batak] Belumlah Semerdu Nyanyiannya

Satu panggung yang tertutup tiga lapis layar berdiri di tengah lapangan Sisingamangaraja, Balige, Kabupaten Toba Samosir. Saat malam mulai turun, alunan uning-uningan segera terdengar. Riuhnya paduan taganing, hasapi, garantung, sarunai etek, dan hesek, seolah memanggil masyarakat sekitar lapangan untuk datang. Inilah saatnya opera Batak dimulai.

Betul saja, orang-orang mulai berduyun-duyun memasuki lapangan dan duduk di bangku yang sudah disediakan. Banyak pula yang berdiri, bahkan anak kecil duduk di depan panggung.

Jangan mengangankan mendengar kisah drama yang dinyanyikan secara seriosa layaknya aria-aria opera di panggung Broadway. Opera Batak adalah kisah tentang kearifan turun-temurun orang Batak yang disajikan dalam bentuk sandiwara. Mirip ludruk di Jawa Timur atau ketoprak di Jawa Tengah. …baca selengkapnya »

[SB] Tags : , ,
Senin
19
Sep '05

Monografi Pengembangan Revitalisasi Opera Batak (Januari 2004 - Agustus 2005)

Rekonstruksi dan Inovasi
Konsep semula yang dikonstruk untuk revitalisasi Opera Batak dilakukan dengan tiga segmen, yakni: regenerasi, rekonstruksi, dan inovasi. Target regenerasi itu telah terlaksana melalui kehadiran GOS. Sedangkan rekonstruksi, yang mengandalkan pemain lama, sebenarnya telah mulai diperhatikan sejak GOS mengadakan dua kali pentas. Target rekonstruksi itu berlangsung melalui kerjasama dengan Dra. Ritaony Hutajulu, MA, alumnus dan dosen di jurusan Etnomusikologi USU yang pernah mengadakan penelitian skripsinya tentang musik/vokal Opera Batak. Beliau terdorong kembali untuk terlibat mengajak beberapa mantan atau para pemain Opera Batak terdahulu, apalagi dengan dukungan dana dari Hibah Seni Yayasan Kelola. Bersama dengan beliau teks Guru Saman dipentaskan dua kali di Medan (Pendopo USU dan Taman Budaya Sumatera Utara) pada bulan Juni 2003. Namun target rekonstruksi melalui kerjasama itu tidak mampu hanya melibatkan para pemain lama.

Nuansa pementasan para pemain lama secara murni berlangsung di Balige, 14 Agustus 2004 lalu. Dinas Pariwisata Tobasa mengundang kelompok Dos Roha (pimpinan Marsius Sitohang) untuk mementaskan cerita Siboru Tumbaga. Pembayaran Rp. 12.000.000,- untuk produksi mereka itu dialokasikan dari dana Rp. 50.000.000,- (Limapuluh Juta Rupiah) yang diturunkan Dirjen Kebudayaan Pariwisata RI. Berikut adalah data para pemain lama yang dilibatkan dalam kesempatan itu. …baca selengkapnya »

[SB] Tags :
Jumat
17
Jun '05

Dari Tilhang ke Puccini

HINGGA pertengahan 1970-an masih dapat ditonton sampai di kota-kota kabupaten di Sumatera Utara sebuah bentuk kesenian bernama opera Batak. Menggelar tenda sebagai atap dan terpal yang dijadikan dinding di tanah lapang, lalu mendirikan panggung sederhana di dalamnya, bertahan berhari-hari bahkan berminggu-minggu di suatu tempat, lalu pindah ke tempat lain setelah kehabisan penonton.< p>

Saya tidak tahu apakah penyanyi Johnson Hutagalung, yang lahir dan besar di Tarutung kemudian tinggal di Jakarta, masih sempat menikmati opera Batak. Yang pasti, bintang radio dan televisi jenis seriosa ini cukup akrab dengan aria-aria yang berasal dari opera-opera entah buatan komponis Italia, Austria, Jerman, entah Perancis. Hampir pasti, soprano Diani Rinarti Sitompul yang blasteran Batak-Jawa dan tidak pernah bermukim di bona pinasa ayahnya itu, demikian juga pianis Christina Sidjabat yang lahir dan besar di luar Sumatera Utara meski ayah-ibunya tertungkus lumus dengan adat Batak yang pekat, tidak mengenal lagu-lagu opera Batak, apalagi menontonnya.

Pertengahan Mei lalu ketiga musikus Batak ini, ditambah soprano Margarisje LE Makikui, mengadakan pertunjukan Opera Arias, From Mozart to Puccini di Jakarta. Inilah pergelaran pertama duet penggagas Diani-Christina di sektor lagu-lagu opera setelah berkali-kali mencoba konser paduan suara dan berencana secara berkala mengumandangkan aria- aria opera ke langit Jakarta, Yogyakarta, dan Bali. …baca selengkapnya »

[SB] Tags : , ,