Proses penghitungan suara Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), berbuntut panjang. Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat di Jl Kornel Simanjuntak, Kawasan Pasar Buah, Kecamatan Tarutung, Sumatera Utara (Sumut), Selasa (28/10) sore, dibakar. Polisi terpaksa menyegel.
Kepala Kepolisian Resor (Polres) Taput, AKBP Edi Hasiolan Napitupulu menyampaikan, penyegelan dilakukan untuk mengantisipasi hal terburuk yang kemungkinan bisa terjadi. “Aksi massa sudah mengarah anarkis. Kami langsung mengambil langkah untuk mencegah kemungkinan terburuk,” katanya.
Diharapkan, masyarakat tidak anarkis. Bila ada yang merasa dirugikan, lebih baik menempuh jalur hukum. Sekitar 5.000 orang yang melakukan demo ini menolak hasil penghitungan suara, karena pilkada yang dilaksanakan, Senin (27/10), diindikasikan penuh dengan kecurangan.
Masyarakat mengaku menemukan bukti kecurangan tersebut, namun pengaduan mereka tidak ditanggapi. Massa menerobos masuk gedung KPU, lalu membakar meja dan kursi di dalam ruangan tersebut. Bahkan asbes gedung itu sempat terbakar. Namun, polisi dengan cepat memadamkan kobaran api itu.
“Di antara kecurangan itu adalah melibatkan oknum pegawai negeri sipil (PNS) sampai di tingkat kecamatan untuk turut dalam tim pemenangan Torang Lumban Tobing - Bangkit P Silaban,” ujar Koordinator Tim Pemantau Pilkada Taput, Lambas Pasaribu.
Kecurangan lain, banyak kepala desa yang ditemukan mengantongi 2.700 surat suara yang diduga sudah dicoblos, saksi tidak diberikan pertinggal laporan yang disampaikan ke koordinator kecamatan, pemilih dua kali memilih, pencoblosan atas nama orang lain, bahkan sampai mengerahkan massa dari luar daerah untuk ikut memilih.
“Kasus ini banyak ditemukan di hampir setiap tempat pemungutan suara (TPS). Salah satu pasangan calon telah bermain curang. Kami menuntut agar pilkada segera diulang,” katanya.
Menyusul kejadian itu, pertemuan dilakukan antara pihak pendemo dan polisi dan pasangan calon yang kalah dalam penghitungan suara tersebut. “Kendati demikian, pilkada sangat berat untuk diulang. Hasil penghitungan ulang bisa saja untuk dilakukan kembali,” ujar Ketua KPU Sumut Irham Buana Nasution saat mengomentari kejadian tersebut.
Pilkada Taput diikuti pasangan Torang Lumbantobing - Bangkit Silaban, Roy Sinaga - Djunjung Hutauruk, Samsul Sianturi - Frans Sihombing, Sanggam Hutapea - Londut Silitonga, Wastin Siregar - Swaloon Silitonga, dan Edward Sihombing - Alpa Simanjuntak.
Dua Putaran
Ketua KPU Dairi, Pardes Berutu mengatakan, Pilkada Dairi dipastikan berlangsung dua putaran karena dari tujuh pasangan calon yang bertarung tidak satu pun memperoleh 30 persen suara dari suara yang sah. Yang akan masuk dalam putaran kedua, yakni pasangan Parlemen Sinaga- Budiman Simanjuntak dan Jhonny Sitohang-Bungaran Sinaga.
Sementara itu, pelaksanaan Pilkada Wali Kota Makassar periode 2009-2014, berlangsung, Rabu (29/10) dan dinyatakan sebagai hari libur lokal. Penetapan hari libur tersebut berimbas kepada karyawan dan PNS yang bekerja di daerah terdekat Makassar, yakni Kabupaten Gowa, Maros, Pangkep, dan Takalar. “Di Makassar memang libur, tetapi kami yang tugas di Gowa tetap bekerja dan hanya meminta izin pimpinan untuk melakukan pencoblosan,” ujar Syamsuddin, pegawai di jajaran Pemerintah Kabupaten Gowa.
Para pemilih berbondong-bondong ke tempat pemungutan suara (TPS), di antara 1,3 juta penduduk Makassar di 14 kecamatan, terdapat 959.814 jumlah pemilih dengan jumlah TPS 1.792 buah.
Sumber : [AHS/151/148] Suara Pembaruan, Tarutung
[SB] Tags : Bangkit Parulian Silaban SE, Suara Pembaruan, TarutungArtikel sebelumnya :
» » Massa Bakar Kantor KPU Tapanuli Utara
Artikel selanjutnya :
» » Pilkada Langkat dan Dairi Diprediksi Dua Putaran


Silahkan memberikan tanggapan !