- Silaban Brotherhood -

Pasar Kumuh Jadi Sorotan Adipura

Meski berturut-turut menerima penghargaan Adipura, Kota Surabaya masih perlu banyak pembenahan. Terutama pengelolaan sampah di pasar, dan pembakaran sampah.
Hal ini terungkap dalam audiensi bersama tim juri Adipura, dalam persiapan menuju Adipura 2009, Selasa (9/9). “Pengelolaan sampah di pasar-pasar Surabaya masih tergolong rendah. Misalnya di Pasar Genteng yang merupakan salah satu titik pantau Adipura, masih sering dijumpai penumpukkan sampah,” komentar Sri Utami, salah satu juri Penghargaan Adipura.

Tak hanya itu, sejumlah pasar tradisional lain nilai rata-ratanya juga masih rendah. Seperti Pasar Keputran Utara, keputran Selatan, Kapasan Baru, Soponyono, Pucang Anom, Pasar Kembang. “Solusinya, setiap pasar itu harusnya memiliki kontainer sendiri guna mengangkut sampah setiap hari,” ujar dosen Universitas Brawijaya ini.

Selain sampah pasar, katanya, yang menjadi perhatian serius yakni kondisi sampah di stasiun KA, pelabuhan, serta perairan terbuka. “Komposisi ruang terbuka hijau dan penataan PKL di stasiun KA, pasar, dan terminal juga diperhatikan,” lanjutnya.

Untuk persiapan Adipura 2009, pemantauan akan dimulai Oktober 2008 dipusatkan di 125 titik dalam 18 kategori. Yang meliputi perumahan, jalan arteri dan kolektor, pasar, pertokoan, perkantoran, sekolah, rumah sakit dan puskesmas, hutan kota, taman kota, terminal, stasiun KA, pelabuhan, sungai, saluran terbuka, LPA, pantai, pusat pengomposan. “Kalau kondisi sekolah-sekolah di Surabaya saya pikir sudah cukup excellent,” ucapnya.

Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Togar Arifin Silaban, mengatakan bobot penilaian tiap kategori untuk Adipura 2009 lebih rendah ketimbang 2008, namun capaian total bobot minimal 70 tidak diubah. “Bobot sengaja diturunkan karena kategori penilaian ditambah. Kalau sebelumnya nilai fisik saja yang dilihat, nanti wilayah secara keseluruhan juga dinilai. Selain itu faktor perencanaan juga akan dinilai. Semua aturan itu mengacu pada UU 18/2008 Tentang Pengelolaan Sampah,” jelasnya.

Sebelum memasuki masa pemantauan Oktober, BPLH melakukan uji coba pantau di sejumlah titik pantau tersebut. “Hasilnya masih kurang bagus, hanya beberapa titik pantau yang skornya di atas 70. Seperti jalan arteri Diponegoro, perumahan genteng Candirejo, balai kota, Kali Jagir, Kecamatan Rungkut, taman Tugu Pahlawan, kantor Bappeko, Puskesmas Kali Rungkut,” katanya.

Lainnya, seperti pasar tradisional , SMP, pertokoan, stasiun KA masih minim. Terutama faktor kebersihan toilet, sampah sisa pembakaran, ceceran material bangunan. Jika Surabaya ingin meraih Adipura kembali pada 2009, sejumlah titik pantau tersebut masih perlu pembenahan.

Sumber : (ame) [1] Surya Online, Surabaya



Artikel ini dicetak dari Silaban Brotherhood: http://www.silaban.net

Diposting oleh Charly Silaban  pada tanggal 10 September 2008  || Kategori Seputar Silaban

Permalink artikel: http://www.silaban.net/2008/09/10/pasar-kumuh-jadi-sorotan-adipura/

URLs in this post:
[1] Surya Online, Surabaya: http://www.surya.co.id/web/Surabaya-Raya/Pasar-Kumuh-Jadi-Sorotan-Adipura.html

Klik disini untuk mulai mencetak.