Pameran foto Monumen Nasional (Monas) Dari Masa ke Masa yang digelar beberapa waktu lalu di Jakarta, berhasil menarik perhatian sebanyak 38.778 pengunjung, dan sebanyak 2 persennya adalah warga asing. Ini terlihat dari buku tamu yang diisi pengunjung. Pada umumnya, para pengunjung menorehkan pesan dan kesan yang sangat positif. Pesan dan kesan mereka ditampilkan pada buku tamu itu.
“Kami puas dengan apresiasi masyarakat yang tinggi terhadap pameran tersebut. Ini membuktikan Monas begitu melekat di hati masyarakat bukan hanya Kota Jakarta, melainkan juga masyarakat seluruh Indonesia. Banyak dari pengunjung yang mengharapkan pameran seperti ini digelar kembali,” ujar Kepala Pengelola Tugu Monas, Rafael Nadapdap.
Dikatakan, pameran yang dilakukan dalam rangka turut memeriahkan Hari Kemerdekaan ke-63 RI itu bertujuan untuk memberikan gambaran kepada masyarakat tentang sejarah berdirinya Monas berikut perkembangannya secara visual melalui sarana fotografi.
“Kami ingin masyarakat lebih mengenal sejarah pendirian Monas bukan sekadar melalui cerita, melainkan juga mengamati secara langsung melalui serangkaian foto. Dengan cara ini, masyarakat dapat melihat bagaimana proses pembangunan Monas itu,” katanya.
Senada dengan Rafael, Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, Pinondang Simanjuntak mengatakan, dengan adanya pameran tersebut, diharapkan masyarakat lebih menghargai Monas sebagai ikon bangsa yang mampu mempersatukan seluruh lapisan masyarakat di Indonesia sesuai dangan tujuan pendirinya. Dia melanjutkan, tugu itu perlu dijaga dan dilestarikan oleh seluruh elemen bangsa dengan menjadikannya sebagai simbol pemersatu yang selalu mengobarkan rasa persatuan dan kesatuan.
“Monas sebagai pemersatu, terbukti dengan pengunjungnya yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat. Di sini tidak ada perbedaan golongan ataupun status, itulah makna yang ingin dicapai oleh pendiri tugu ini,” ujarnya.
Pameran yang merupakan satu rangkaian pameran kerjasama dengan Belanda yang juga telah digelar di Erasmus Huis pada 31 Juni-24 Juli 2008 lalu, menampilkan berbagai foto tentang perkembangan Monas mulai dari tahap perencanaan, pembangunan hingga perkembangannya saat ini. Dari seluruh foto yang dipamerkan tersebut dapat dirangkum rangkaian tahapan pembangunan Monas.
Monas didirikan di atas area seluas 80 hektare di Jakarta Pusat dengan ketinggian monumen 132 meter yang terbuat dari marmer dengan mengambil bentuk Lingga dan Yoni. Obor atau lidah api yang menjulang di tengahnya terbuat dari 14,5 ton perunggu dan 50 kg emas. Penambahan emas pada lidah api tersebut dilakukan setelah ulang tahun kemerdekaan ke-50 RI. Sedangkan, Patung Diponegoro di bagian Utara lapangan Monas dilapisi perunggu seberat 1,8 ton.
Pembangunan monumen ini atas inisiatif Presiden RI pertama, Soekarno. Konstruksi Monas dimulai pada tahun 1961 yang diresmikan oleh Soekarno pada 17 Agustus 1961 dan resmi dibuka untuk umum pada 12 Juli 1975. Struktur bangunan Monas menggunakan angka hari kemerdekaan Indonesia 17-8-1945, yakni terepresentasi tinggi landasan utama 17 meter, area museum 8 meter persegi dan plasa luar 45 meter x 45 meter.
Sayembara
Perencanaan pembangunan Tugu Monas telah dimulai sejak tahun 1954 oleh pemerintah RI dengan membentuk panitia pendiri tugu yang diketuai oleh Sarwoko Martokusumo. Tahun 1955 oleh panitia diadakan sayembara terbuka untuk mencari arsitek yang mampu untuk mendesain pembangunan tugu tersebut. Dari 53 peserta yang mengikuti sayembara, Frederich Silaban terpilih sebagai juara.
Pada tahun 1959 ketua panitia pendiri diambil alih oleh Presiden Soekarno yang kemudian mengadakan sayembara kedua. Sayembara kedua pada tahun 1960 diikuti oleh 222 peserta dengan 136 gambar. Akhirnya, Soekarno menyetujui dan memilih Soedarsono, alumni Prince Juliana School Yogyakarta tahun 1932 sebagai arsitek pembangunan Monas. Jadi, arsiteknya tugu tersebut adalah Frederich Silaban dan Soedarsono. Semua ini tergambar dalam foto.
Sejak saat itulah pembangunan tugu Monas mulai dilakukan yang dibagi dalam empat tahap. Tahap pertama mencakup pembangunan kantor, gudang-gudang, pemagaran batas kerja serta pemancangan tiang-tiang. Tahap kedua mencakup pemasangan marmer oleh pekerja asal Italia dan pemasangan instalasi listrik. Tahap ketiga, penyempurnaan pada ruang museum sejarah, ruang kemerdekaan, badan tugu, halaman dan terowongan. Tahap terakhir, pembuatan dan penempatan diorama. Dalam pameran tersebut juga terdapat foto saat presiden RI kedua, Soeharto untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Monas tahun 1973.
Sejak berdirinya hingga saat ini, Monas tidak pernah sepi dari pengunjung. Berbagai lapisan masyarakat dari seluruh penjuru Nusantara bahkan mancanegara terus berdatangan untuk menyaksikan keindahan dan kemegahan dari tugu ini.
Rafael mengatakan, setiap hari Monas dikunjungi rata-rata 2.000 orang. Pengunjung meningkat pada saat hari libur dan akhir pekan, yakni mencapai 2.500 hingga 5.000 orang.
Setiap tahun pengunjung meningkat sekitar 14 persen. Tahun 2007 pengunjung lebih banyak, yakni 738.000 orang ketimbang tahun 2006 yang hanya 648.000. Tahun 2007 retribusi Monas senilai 3,185 miliar. Melihat meningkatnya pengunjung, menurut Rafael diperkirakan tahun 2008 akan meningkat menjadi 800.000 pengunjung.
“Tahun ini kemungkinan bertambah karena selain program Visit Indonesia Year 2008, juga adanya penambahan sarana kereta wisata pada bulan Maret lalu untuk memberikan kemudahan bagi pengunjung saat berkeliling di Monas,” ungkapnya.
Sumber : (Ruht Semiono[DMF/N-5]) Suara pembaruan
[SB] Tags : alm. Ars. F. Silaban, Suara PembaruanArtikel sebelumnya :
» » PIB Dukung Sanggam Hutapea
Artikel selanjutnya :
» » Surabaya, Ayo Hemat Energi


Silahkan memberikan tanggapan !