Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Kamis
15
Mei '08

Pekerja Bergaji Kurang dari Rp 4 Juta Per Bulan Semakin Terjepit



Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Kelompok pekerja dengan gaji Rp 1 juta-Rp 3 juta per bulan akan semakin terjepit jika kenaikan harga bahan bakar minyak atau BBM diberlakukan. Hal itu bukan saja karena upah riil mereka semakin turun, tetapi juga karena mereka menghadapi kemungkinan pemutusan hubungan kerja karena tekanan ekonomi yang dihadapi industri.

”Dari 37 juta pekerja formal, hampir separuhnya bergaji Rp 1 juta sampai Rp 3 juta per bulan. Pemerintah seharusnya turut memikirkan dampak kenaikan harga BBM bagi golongan masyarakat kelas menengah ini,” kata Presiden Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI) Yanuar Rizky di Jakarta, Rabu (14/5).

Kenaikan harga BBM tidak hanya berdampak buruk terhadap pekerja golongan menengah. Industri kecil, rumah tangga, dan padat karya juga sangat sensitif terhadap kenaikan harga BBM.

Yanuar mengatakan, saat harga BBM naik 114 persen pada bulan Oktober 2005, sedikitnya 400.000 buruh terkena PHK sebulan setelah kenaikan harga diberlakukan. Banyak industri kecil dan rumah tangga bangkrut.

Hasil survei OPSI terhadap pekerja formal di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi pada bulan Desember 2005 memperlihatkan, akibat kenaikan harga BBM, biaya transportasi naik 53,8 persen, biaya makan di kantor naik 41,4 persen, biaya makan keluarga naik 51,5 persen, dan biaya kontrak rumah naik 47 persen. Dengan situasi itu, seharusnya ada kenaikan upah sebesar 48 persen.

Menurut Yanuar, kenaikan harga BBM akan memicu naiknya harga produk konsumsi, padahal daya beli pekerja sedang turun. Dengan demikian, orang pasti mengurangi volume konsumsi karena tidak bisa mengejar kenaikan harga. ”Sebagian besar pekerja yang gajinya tidak mencukupi kebutuhan akan menutupinya dengan berutang,” kata Yanuar menambahkan.

Dalam survei OPSI yang diluncurkan 30 April 2008, dari 816 responden yang menjawab, 227 di antaranya menyatakan berutang kepada koperasi untuk menutup kebutuhan hidup mereka. Sebanyak 204 orang berutang lewat kartu kredit, 195 orang berutang kepada keluarga, dan 61 orang mengombinasikan ketiganya.

”Ketergantungan pekerja kelompok menengah ini terhadap kartu kredit sangat tinggi. Jika mereka terkena PHK, akan terjadi kemacetan pembayaran kartu kredit yang bisa berdampak pada perbankan,” kata Yanuar.

Presiden Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (K-SBSI) Rekson Silaban berpendapat, kelompok pekerja yang paling rentan terhadap kondisi perekonomian adalah buruh kontrak.

”Begitu industri keberatan beban, yang paling mudah untuk mengurangi biaya adalah efisiensi, dengan menghentikan buruh kontrak,” katanya.

Sumber (HAM) Kompas.Com, Jakarta  


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.






Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel sebelumnya :
   » » Tarian Tor Tor Sigale Gale Pukau Masyarakat Ceko

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel selanjutnya :
   » » FKUB Binjai Keluarkan 3 Imbauan