Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Rabu
30
Apr '08

Rekson Silaban : “Hidupkan Pola Kekeluargaan”


Problem buruh dan majikan di Indonesia tak kunjung selesai. Padahal, kedua pihak sebenarnya bisa bersinergi, bahkan menjalin hubungan kekeluargaan seperti di Jepang. Pengusaha untung, pekerja pun tercukupi jaminan sosialnya.

Jepang adalah negara yang menggunakan standar kerja paling tinggi di dunia. Jepang juga memberikan jaminan sosial paling baik bagi karyawannya.

“Itulah yang menyebabkan pekerja di Jepang bisa mengabdi kepada perusahaannya secara total seumur hidup,” papar Rekson Silaban, Presiden Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI), saat wawancara dengan INILAH.COM di Jakarta, Senin (28/4).

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indononesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengungkapkan, sebenarnya pengusaha lebih memilih pekerja yang bisa secara total mengabdikan dirinya kepada perusahaan. Bukan pekerja kutu loncat.

“Tapi, untuk mengakui bahwa buruh merupakan bagian dari korporasi sudah seharusnya pekerja juga menerima hak-haknya secara adil,” tandas Rekson. Berikut petikan wawancara dengannya.

Apa pendapat Anda tentang pekerja yang harus mengabdi total seumur hidup kepada perusahaan seperti di Jepang?

Krosceknya juga harus disesuaikan dengan sistem bekerja di Jepang. Mereka tidak mengenal sistem senioritas. Pihak pengelola dan pekerja dianggap sebagai sebuah keluarga.

Tapi, untuk mengakui bahwa buruh adalah bagian dari korporasi, pekerja juga harus menerima hak-hak secara adil. Di Jepang, dalam perundingan-perundingan dengan buruh, para majikan sampai bertemu langsung dengan buruh, dengan pelaku-pelaku perburuhan.

Apakah pola kekeluargaan itu juga menyangkut pembagian keuntungan?

Pembagian keuntungan juga terjadi secara profesional. Di Indonesia, kalau perusahaan untung, pekerja tidak diberitahu. Ketika perusahaan rugi, baru gembar-gembornya disampaikan ke pekerja.

Tingkat kepercayaan di sini sangat lemah. Belum bisa kita mengikuti sistem bekerja seperti gaya Jepang. Untuk bisa seperti itu, perilaku hubungan kerja harus kita benahi, harus ada mutual respek, transparansi dan pemberian pendidikan kepada buruh.

Bagaimana Anda menilai pola outsourcing di Indonesia?

Outsourcing itu sudah ada undang-undangnya. Mau diapain lagi? Outsourcing itu nggak dipermasalahkan lagi dan itu bukan fenomena yang serius karena di negara lain juga seperti itu.

Indonesia nggak mungkin punya sistem sendiri yang berbeda dengan negara lain. Sudah bagus kalau mengikuti undang-undang dan terus berupaya meningkatkan jaminan sosialnya.

Jika demikian, problemnya di mana?

Yang dikhawatirkan sekarang adalah perusahaan yang seharusnya tidak di-outsoucing ternyata kemudian di-outsourcing. Lalu, majikan bilang, ini yang dapat fasilitas dan itu yang enggak dapat karena bukan core business-nya.

Jadi, sistem jaminan sosial tidak bisa dinikmati pekerja meski tidak optimal?

Di luar negeri, visibilitas bisnis dan situasi politik dikombinasikan. Boleh saja perusahaan mengikat pekerja, tapi harus dipertinggi jaminan sosialnya, visibilitasnya, dan keamanannya.

Maksud Anda, visibilitas dan jaminan sosial-keamanan di Indonesia belum berimbang?

Masih banyak penyimpangan. Undang-undangnya banyak sekali dan hampir semuanya dilanggar. Sebutlah soal ketentuan upah minimum. Nggak ada satu provinsi yang 50% bayar. Pelanggaran umumnya dilakukan pihak perusahaan. Soal Jamsostek juga begitu. Terkait outsourcing apalagi.

Jadi, bagaimana masalah-masalah itu harus disikapi pihak pekerja maupun pengusaha?

Banyak memang yang harus dibenahi. Tapi, terpenting adalah aturan main yang sudah ada dijalankan dulu. Aturan-aturan main yang memberatkan kedua belah pihak dibicarakan lagi untuk mencapai kondisi win-win solution.

Sumber : (Ahmad Munjin-[E1/I3]) Inilah.Com, Jakarta


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Dilema Tenaga Kerja Outsourcing
Artikel selanjutnya :
   » » Menakertrans Minta May Day Tak Anarkis