Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Minggu
20
Apr '08

Seputar Kepemimpinan Populer Ke Populis


Kemenangan menurut hitungan Quick Count Lembaga Survey Indonesia, pasangan Hade pada pilgub Jawa Barat menjadi fenomen yang cukup menarik perhatian masyarakat. Hade adalah akronim untuk Ahmad Heryawan (41) dan Dede Yusuf (41).

Sekurang-kurangnya ada dua faktor yang ikut menunjang kemenangan tersebut. Pertama faktor usia belia. Daun muda selalu lebih menarik dari daun tua yang sudah mulai menguning atau coklat. Darah segar lebih menarik daripada darah kental yang sudah mulai menggumpal. Warna hijau dari daun muda melambangkan dinamika pertumbuhan. Warna coklat pada daun tua merujuk kepada warna tanah ke mana daun itu segera akan menjadi humus. Usia muda ditambah ketampanan wajah membuat figur ini mudah diingat.

Dalam pemilihan umum faktor memori-sadar (siap pakai) seperti ini paling penting. Pemilih lebih suka memilih orang yang pertama muncul dalam ingatannya daripada orang yang harus dipikir-pikir entah siapa gerangan dan dari mana asalnya.   Faktor kedua ialah popularitas. Siapa yang tidak kenal Dede (Macan) Yusuf yang aktor laga komplit (silat, kungfu, karate, taekwondo) dan bintang iklan obat sakit kepala berkotak merah itu? Paling tidak sebagai politisi dirinya masih relatif bersih, belum memiliki catatan hitam dalam soal korupsi maupun skandal susila. Kita menyaksikan kenyataan bahwa aktor “tukang insinyur” Rano Karno (47) juga telah memenangkan pilkada untuk posisi Wakil Bupati Tangerang bersama Bupati inkumben, Ismet Iskandar (39) untuk periode 2008 - 2013.

Dalam karirnya manusia pemimpin mempunyai dua arah kemungkinan besar. Pertama, untuk menjadi pimpinan dengan prestasi tinggi tetapi tidak populer. Atau menjadi pimpinan yang populer tetapi kurang berprestasi.  Kerapkali popularitas tidak diimbangi dengan prestasi yang seimbang. Idealnya tentulah seorang pemimpin itu populer karena prestasinya.

Misalnya, Ali Sadikin (70) mantan Gubernur DKI (1966-1977). Ali Sadikin adalah gubernur yang sangat berjasa dalam pengembangan Jakarta menjadi sebuah kota metropolitan yang modern. Di bawah kepemimpinannya Jakarta  mengalami banyak perubahan karena proyek-proyek pembangunan dari hasil pemikirannya, seperti Taman Ismail Marzuki, Kebun Binatang Ragunan, Proyek Senen, Taman Impian Jaya Ancol, Taman Ria Monas, Taman Ria Remaja, kota satelit Pluit di Jakarta Utara, dan pelestarian budaya Betawi di kawasan Condet. Ali juga mengadakan pesta rakyat setiap tahun pada hari jadi kota Jakarta (22 Juni).

Tantangan seorang pimpinan muda sangat berat. Bagaimana cara mentransformasi diri dari tokoh yang populer menjadi pemimpin politik yang populis. Populer saja tidak cukup. Apa gunanya memiliki seorang pemimpin yang populer tetapi tidak populis, artinya tidak memihak kepada kepentingan rakyat banyak dan kepentingan semua pihak dalam masyarakat.

Pemilihan Gubernur untuk daerah Sumatera Utara juga menunjukkan hasil yang mengagetkan banyak pihak.  Syamsul Arifin Silaban (55) Gatot Pujo Nugroho (45) berdasarkan hasil hitungan Quick Count LSI mencapai suara 29,28 % mengungguli pasangan Triben yang menggait 21,74%.

Yang menarik dari pasangan gado-gado Batak dan Pujakesuma ini ialah slogan yang diusung mereka. Syamsul Arifin mengusung slogan:  “Sahabat Semua Suku.” Slogan ini mencerminkan semangat toleransi dalam keanekaragaman etnik di Sumatera Utara. Bila bersikap fanatik-sara maka pimpinan tidak akan diterima di kawasan yang mempunyai slogan unik:  “Ini Medan, bung!” Sebaliknya slogan Gatot Pujo Nugroho ialah: “Bersih, Peduli, Profesional.” Slogan ini mengimbangi nilai toleransi tadi, karena nilai bersih, nilai peduli dan nilai profesional merupakan syarat mutlak menjadi seorang pemimpin di era globalisasi ini. Cerdas bila tidak bersih apa gunanya bagi rakyat?  Populer dan profesional bila tidak peduli kepada rakyat kecil apa gunanya pula?

Kita masih ingat betapa Syamsul Arifin ini pernah terkait soal kabar abu-abu tentang pendidikan formalnya mulai sejak jenjang SMP, SMEP, SMEA sampai ke jenjang SE. (Sumber: http://ksemar.wordpress.com/2008/03/06/photo-copy-tidak-lulus-smep-hsyamsul-arifinse-calon-gubsu/). Dalam wawancara TV dengan Meutia Hafid tampak bagaimana Syamsul agak keteteran menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis yang dicerca oleh reporter Meutia.

Bagi rakyat kecil soal pendidikan tersebut tidak terlalu mutlak untuk dipermasalahkan. Yang lebih menarik bagi para pemilih ialah slogan yang sangat merakyat yang dibahasakan pula dengan bahasa rakyat pula yang mudah dimengerti oleh mereka.  Program mereka ialah: 3T + 1P.  Rakyat: Tidak lapar, Tidak Bodoh, Tidak Sakit. Punya masa depan.

Pertanyaan Meutia Hafid itu sangat tajam, menusuk ke jantung permasalahan dan akan selalu aktual.  Pertama, setelah menang pilkada apakah pemenang masih ingat akan janji-janji mereka sewaktu masa kampanye.  Kedua, bagaimana caranya merealisasikan janji-janji itu agar menjadi kenyataan.

Syamsul Arifin hanya menjawab secara superfisial bahwa ia akan mengadakan koordinasi dengan semua pemangku daerah yaitu para camat dan walikota. Koordinasi memang penting tetapi program realistis, bertenggat waktu jelas, dan dapat tercapai (achievable) masih jauh lebih penting lagi. Nilai-nilai sangat penting tetapi program-program kerja juga sama sekali tidak kalah pentingnya.  Bila kedua anasir tersebut dapat dikombinasikan dan digerakkan secara dinamis maka kepemimpinan yang populer diharapkan akan mampu menjadi kepemimpinan yang populis. JS.

Sumber : (Juswan Setyawan) KabarIndonesia.com 


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.