Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Senin
3
Mar '08

“Saya Orang Batak”, Sebuah Perspektif



Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Saya mendapatkan respon atas tulisan saya berjudul “Jika Anda Orang Batak, Katakan Pada Anak Anda Dia Orang Batak”. Tulisan itu jujur sebuah perspektif pribadi dari pengalaman pribadi. Saya berharap tidak menyinggung siapapun. Kalau dibaca teliti, tulisan itu sebenarnya tidak mendorong semua orang yang masuk dalam kategori Antropologi sebagai “Suku Bangsa Batak” untuk menyebut diri mereka “orang batak”. Tulisan itu menyarankan agar mereka (yang merasa) “orang batak” memberitahu anak-anak mereka bahwa mereka “orang batak”. Tak ada gunanya berdebat jika anda bukan orang batak atau merasa bukan orang batak. Saya coba ulas semua masukan yang saya terima .

Jonson Tarigan, sahabat saya yang sedang mengambil S3 di New York, dan selalu menyebut dirinya “orang batak” dalam emailnya mengatakan: “gejala sosial budaya Batak urban yang kau gambarkan di blog mu itu dalam konteks yang hampir sama sudah jadi indikator perpecahan bangsa batak sejak jaman nenek moyang kita. Sub-kultur yang satu mengatakan berbeda dari lainnya, atau merasa lebih unggul dari lainnya, dan menganggap lebih pimitif yang lainnya. Di kampungku, sebutan orang Batak itu ya hanya untuk orang Toba.”

Ita Damanik, sahabat saya semasa kuliah di S1 merespon singkat: “I am Batak, Batak Simalungun!” Sementara sahabat lain mengatakan: “tanah leluhurku, tanah Simalungun, bukan tanah batak!. Arimbi Nasution, sahabat “french club” saya yang berjilbab itu mengatakan: “Aku tak pernah tahu ada, sebutan lain selain “orang Batak”. Aku orang Batak Mandailing.

Inangtua (Tante) saya yang br. Siregar (Angkola), menjelaskan bahwa jaman nenek moyang dulu ada ejekan sinis: “muda kayo, han sipirok, muda miskin han toba” artinya, “kalau kaya pasti dari Sipirok, kalau miskin pasti dari Toba.” “Ketika banyak sastrawan Batak Selatan seperti Madong Lubis, Mochtar Lubis atau ilmuwan Dr. Diapari Siregar sudah mahsyur pada masa penjajahan, banyak orang Batak dulu mengaku orang Selatan.”, kata Inangtua yang berusia 70-an dan lahir di Jakarta itu.

Saya juga mendapat beberapa email panjang lebar yang tidak dengan blak-blakan mengatakan “kami bukan orang Batak”, tapi dengan kesimpulan pendek mengatakan bahwa sebutan “orang Batak” itu hanya untuk orang Batak Toba. Email lain mengatakan, bahwa hanya orang Tapanuli saja yang disebut “orang batak” dan orang non-Tapanuli tidak menyebut diri mereka “orang Batak”. Sebuah indikasi yang menunjukkan bahwa memang ada perbedaan perspektif (non-ilmiah) diantara kelompok masyarakat Suku Bangsa Batak. Indikasinya, panggilan “batak” mengacu pada sub-kultur batak Toba, yang konotasinya dimata sub-kultur lain adalah “batak tulen”.

Saya melihat bahwa krisis identitas orang batak menjadi indikator perpecahan suku bangsa batak sejak jaman opung-opung kita. Orang-orang Batak yang mengalami krisis identitas itu ada disekitar kita. Mengenali dan meng-identifikasinya sangat mudah; ciri-ciri mereka adalah; tidak mengakui identitas batak, menghilangkan marga, menjauh dari komunitas dan budaya batak, berpura-pura tidak dapat berbahasa batak, mengatakan dirinya sudah “sangat jawa”, “sangat sunda”, “sangat barat”, “sangat manado”, sudah berpendididikan asing, tidak pernah tahu kampung halaman, dsb. Mereka takut terkonotasi dengan persepsi peradaban terbelakang sebagai orang “batak tulen“. They are around you and me.

Tanah Batak Tanah Leluhur

Saya menyebut tanah leluhur saya adalah Samosir, karena betapa luasnya Tanah Batak. Menurut Tarombo (silsilah) Marga Sinaga, Saya adalah generasi ke-17 Marga Sinaga, dihitung dari tokoh bernama Raja Toga Sinaga (Sinaga Pertama), hidup sekitar abad ke 15. Sebagian besar buyut kandung saya dikubur di Samosir, sebagian lagi dikubur dan beranak pinak hingga hari ini di Tanah Simalungun, berserak dari Siantar hingga Tanah Jawa atau keluar Sumatra. (Yupp, ada Tanah Jawa di Tanah Simalungun). Sepupu-sepupu saya di Simalungun itu (ada yang sudah mencapai generasi ke 22) sebagian beragama Islam.

Lalu, mengapa disebut Tanah Batak? Apa Sejarahnya ?

Tanah Batak

Pusuk Buhit di Tapanuli (Tapanuli kemudian mekar menjadi beberapa kabupaten) dipercaya sebagai tempat awal Suku Bangsa Batak pertama yang beranak pinak pada sekitar abad 13. Pemerintah Belanda menamakan wilayah itu sebagai Centraal Batakland yang artinya Tanah Pusat Suku Bangsa Batak atau Tanah Batak atau Tano Batak (Lance Castle, “Kehidupan Politik Suatu Karesidenan di Sumatera, Tapanuli, 1970).

Suku bangsa Batak secara geografis melakukan penyebaran dan berserak pada wilayah-wilayah tertentu dan menjadi “Tuan Tanah” atau “Landlord “ atas tanah-tanah kediaman mereka tersebut. Pemujaan atas tanah-tanah mulia itu dikenal lewat sebutan Tanah Simalungun, Tanah Karo, Tanah Mandailing. Beberapa literature menjelaskan sejumlah hasil penelitian Genealogi (asal-usul) yang menunjukkan, terjadinya migrasi orang Batak secara konsisten yang berawal dari sekitar Danau Toba (Lance Castle, “Kehidupan Politik Suatu Karesidenan di Sumatera, Tapanuli, 1970).

Tiga tahun terakhir ini saya addicted mempelajari buku-buku dan literature yang ditulis oleh Anthropologist, Sociologist, Linguist dan beberapa budayawan mengenai Suku Bangsa Batak, 1 dari 19 peta suku bangsa terbesar di Indonesia yang penggolongannya didasarkan pada lingkaran hukum adat yang dibuat oleh Van Vollenhoven (B. Ter Haar, Adat Law in Indonesia, New York, New York Institute of Pacific Relations, 1984).

Saya juga mempelajari Tarombo (Silsilah), mulai Tarombo Si Raja Batak, yang dipercaya orang Batak sebagai cikal bakal Suku Bangsa Batak), serta beberapa Tarombo Marga. Saya tidak berniat untuk memperdebatkan apa yang sudah ditulis dan sudah di-research selama beratus tahun oleh para Anthropologist, Linguist dan Sociologist, Missionarist terdahulu. Mungkin perlu 20 tahun tambahan, plus 10 orang profesor dan sekitar 100 team, untuk secara Anthropology, Genealogy, Ethnology, Sociology, Linguistic, Socio-Linguistic, meneliti ulang asal-usul orang batak, penyebarannya secara geografis, ekonomis, sosiologis, menelaah tingkah laku sosial- budaya-linguistik mereka, menetapkan parameter measurement serta menarik kesimpulan atas siapa yang disebut “suku bangsa Batak”. Jadi saya ambil dari literature yang sudah ada saja.

Siapakah orang Batak? Who are they?

Definisi “Orang Batak”

Pada perspektif saya, pada saat ini ada 2 definisi “orang Batak”;

1. Mereka yang menurut Antropologi termasuk Suku Bangsa Batak (Definisi ilmiah)
2. Mereka yang mengaku/merasa Orang Batak (Definisi bukan ilmiah)

Saya katakan “saya orang Batak”, karena berdasarkan definisi ilmiah dan bukan ilmiah, saya tergolong orang Batak.

Suku Bangsa Batak

Antropologi mengenal “Batak ethnic group” atau “suku bangsa Batak” sebagai suku bangsa yang secara geografis berasal/mendiami wilayah-wilayah yang mereka sebut sebagai “tanah” (“land”) itu, dengan 5 sub-culture atau sub-ethnic Group sbb:

5 sub-ethnic group atau sub-culture Suku Bangsa Batak ;

* Batak Mandailing, mendiami Kabupaten Tapanuli Selatan (ibukotanya Padang Sidempuan) dan sekitarnya. Lokasinya dekat dengan Sumatera Barat.
* Batak Toba mendiami wilayah yang mencakup Kabupaten Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara.
* Batak Karo mendiami Kabupaten Karo yang lokasinya sudah dekat dengan Propinsi Nangroe Aceh Darussalam, khususnya kabupaten Aceh Tenggara.
* Batak Simalungun mendiami wilayah Kabupaten Simalungun dan sekitarnya
* Batak Pakpak mendiami wilayah Kabupaten Dairi dan sekitarnya

Jadi sah-sah saja jika kemudian kelima sub-kultur didalam kesuku-bangsaan Batak itu mengatakan diri mereka atau menyebut sub-kultur satu dengan lainnya sebagai Orang Mandailing, Orang Toba, Orang Karo, Orang Simalungun, atau Orang Pakpak atau bahkan terdefinisikan oleh kotak-kotak sub-sub-kultur lebih kecil berdasarkan kelompok klan/marga sebagai Orang Angkola atau Orang Selatan atau Orang Samosir (Par Samosir), orang Si Lindung (Par Silindung), Orang Balige (Par Balige). Orang-orang batak ini juga sudah kawin-mawin antar sub-culture dan berserak ke seluruh penjuru dunia.

Lalu apakah artinya kita bukan berakar dari satu rumpun Suku Bangsa Batak? Kita Bukan orang Batak?

“Indikator perpecahan suku bangsa batak sudah ada sejak jaman nenek moyang”, kata Jonson Tarigan sahabat saya.

Sesama orang Jawa memperkenalkan diri mereka dengan identitas orang Solo, orang Yogja, orang Suroboyo, orang Cirebon. Tetapi bukan berarti mereka bukan orang Jawa. Mereka juga sering menekankan kata Jawa didepan daerah asalnya. “Aku Jawa Cirebon!”. Betapapun berbedanya budaya Cirebon dengan budaya Solo, dan budaya Jawa Timur dengan Tengah, mereka tetap “Wong Jowo”

Identifikasi “Saya orang Batak” saya katakan jika lawan bicara saya sesama orang Indonesia menanyakan asal kesukuan saya. Bukan untuk pemujaan kesukuan/etnosentris. Ketika ditanyakan oleh sesama orang batak, tentu saya akan mengatakan: “oh, Opungku orang Samosir, pulau ditengah Danau Toba, tepatnya Lontung dimana rumah opungku berdiri hingga hari ini sejak tahun 1880-an.”

But again, it is my perspective! Perspektif yang mungkin dilihat oleh sesama orang yang merasa “orang Batak” dimanapun dan dari wilayah geografis manapun mereka berasal. Tentunya harus dengan spirit “kita punya banyak kesamaan” dan bukannya spirit “kita punya perbedaan”. Saya sama sekali tidak berniat untuk mempermasalahkan perspektif sebagian orang yang menganggap bahwa rumpun suku bangsanya bukanlah Suku Bangsa Batak. Berbeda? It’s OK!

—————————————————————————————————

Reference

1. B. Ter haar, Adat Law in Indonesia, New York, New York Institute of Pacific Relations, 1984
2. Bruce Warner, Missions as Advocate of Cultural Change Among the Batak People of Sumatra, MA Miss, 1972
3. Harahap. E St., Perihal Bangsa Batak: Bagian Bahasa. Jawatan Kebudayaan, Dep. Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1960
4. Lance Castle, Kehidupan Politik Suatu Karesidenan di Sumatera, Tapanuli, Grafika 1970
5. Lehmann, Martin E., Bibliographical Study of Ingwer Ludwig Nommensen (1834-1918), Pioneer Missionary to the Bataks of Sumatra, London Publisher,1996
6. Joustra, M., Karo-Bataks Woordenboek. Leiden, Brill, 1907. (English Version), 1970
7. Drs. Richard Sinaga, Leluhur Marga-Marga Batak Dalam Sejarah Silsilah dan Legenda, Dian Utama, Cetakan ke-2, Jakarta, 1997
8. Baharuddin Aritonang, Orang Batak Naik Haji, Gramedia, 2002
9. Harahap M.D., Adat Istiadat Tapanuli Selatan, Rafindo Utama, Jakarta.
10. Harahap B. Hamidi. 1979. Jalur Migrasi Orang Purba di Tapanuli Selatan. Majalah Selecta no. 917.
11. Paul Radin, Primitive Man as Philosopher, London British Museum, 1980
12. Hutagalung, W.M., Tarombo Dohot Turi-Turian Ni Bangso Batak, Tulus Jaya, Jakarta, 1990
13. Nalom Siahaan, Adat Dalihan Na Tolu: Prinsip dan Pelaksanaannya, Grafindo, Jakarta, 1982
14. Team Anjungan Sumut, Tarombo Si Raja Batak, Media Taman Mini Indonesia Indah, 1991
15. Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi, Rineka Cipta 1996

———————————————————————————————————————-This writing is dedicated to: Gorga Hosa Deo Sinaga and Tondi Halomoan Raja Sinaga, those young men, my nephews who might have not been told that they are orang Batak

Penulis : Tika Sinaga (July 5, 2006)
Sumber : Tika Sinaga’s Blog


Ada 14 tanggapan untuk artikel ““Saya Orang Batak”, Sebuah Perspektif”

  1. Tanggapan Togar Silaban:

    Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

    Yang menarik adalah bagian tambahan tulisan Tika Sinaga itu yang mendedikasikan tulisan itu kepada sepupunya Gorga Hosa Deo Sinaga dan Tondi halomoan Raja Sinaga. Kedua orang itu jelas-jelas namanya adalah nama Batak, but they might not been told that they are orang Batak.

    Dari sepanjang pengalaman saya dan dari informasi yang pernah saya ketahui, konsep DALIHAN NATOLU sebagai jiwa kekerabatan orang Batak, belum ada saya temukan pada suku lain. Kalau kita pelajari konsep itu, saya yakin kita akan bangga jadi orang Batak.

    Lalu pertanyaannya, dari mana dan bagaimana para leluhur “ompunta sijolo-jolo tubu” membangun konsep kekerabatan DALIHA NA TOLU itu. Kapan konsep itu dikembangkan di tanah Batak.

    Kalau ada orang yang punya informasi tentang konsep kekerabatan yang mirip Dalihan Natolu, mohon disampaikan disini, saya ingin mempelajarinya.

  2. Tanggapan Purwana:

    Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

    Saya orang Jawa, menurut persepsi saya (atau bahkan kebanyakan orang Jawa), yang disebut ‘orang Batak’ adalah temen-temen yang berasal dari Sumatera bagian Utara atau Barat, entah yang Batak tulen atau tidak tulen, sepanjang logat bicaranya kenceng seperti orang Batak ya biasa kami sebut sebagai orang Batak..

  3. Tanggapan Par Bintan:

    Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

    Batak ya batak…

    Kalau ada orang lain yang nenek moyangnya orang Batak tapi sekarang tidak merasa atau mengaku batak kenapa dipusingkan…

  4. Tanggapan Togar Silaban:

    Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

    Mas Purwana,
    Kalo ukurannya logatnya kenceng, nanti banyak orang Batak yang “palsu”.
    Anak saya logatnya udah “Suroboyoan”, mereka yang lahir di Yogya udah “Ngayogyaan”, dst. Begitu juga yg lahir di Betawi atau Bandung. Lha mereka tetep Batak loh..

  5. Tanggapan eva m. hutajulu:

    Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

    setelah membaca artikel ini, saya merasa bahwa saya termasuk orang batak yang mengalami krisis identitas atas kebatakan saya, tapi lama -lama I CAN’T DENY MY IDENTITY AS A BATAK WOMAN karena sebagaimana kerasnya saya menyangkal identitas saya tetaplah saya orang batak. kini saya sedang berproses untuk menjadi seorang batak. karena siapa lagi yang akan menjaga adat dan kebudayaan batak selain kita.

  6. Tanggapan Par Bintan:

    Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

    @ eva m. hutajulu

    Saya sangat senang membaca pengakuan ito. Cara paling mudah untuk mencintai Batak, belajarlah bahasa batak dan sering-seringlah mengunjungi tanah batak (kalau ito sudah besar dan berdiam di luar tanah batak).

  7. Tanggapan Rine:

    Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

    Tulisan saya berjudul “Jika Anda Orang Batak, Katakan Pada Anak Anda Dia Orang Batak” tulisan ini menurut saya bagus tetapi yang saya bingung apa iya ada orang batak yang tidak mau mengakuinya?

  8. Tanggapan Robert Manurung:

    Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

    Aku orang Batak (zangan pakke kata saya, kurang pas):

    Akhirnya yang menentukan adalah identifikasi diri tiap-tiap individu. Kalau ada batak ketularan penyakit semacam “Sindrom Michael Jackson”–yang mati-matian melunturkan warna kulit hitamnya; mau kita apain Laeku ?

    Kita tidak mungkin mencegah debatakisasi sukarela itu. Biarkan saja yang mau “lilu”. Tapi yang masih waras harus kita jaga jangan sampai ikut tertular.

    Btw mantap kali tulisan Lae ini. Bikin lagi yang semacam ini lae.Horas.

  9. Tanggapan yogi:

    Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

    Tanya, apabila org Batak menikah, apakah sangat memperhatikan masalah marga? tolong jelaskan dg detail

  10. Tanggapan Maridup Hutauruk:

    Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

    Sebenarnya kita sudah dapat memastikan sebutan baik secara ilmiah atau tidak ilmiah mengenai Batak atau bukan Batak, Bangsa Batak atau bukan Bangsa Batak, Suku Batak atau bukan Suku Batak, Orang Batak atau bukan Orang Batak, pribadi seorang Batak atau bukan seorang Batak, oleh karena Batak sebagai sebutan “Batak” sudah melingkupi suatu budaya yang disebut “Dalihan Natolu & Tarombo”. Jadi, apabila seseorang tidaklagi bersinggungan dengan “Dalihan Natolu & Tarombo” maka seseorang tersebut bukan “Batak”.

    “Batak” tidak perlu ditawarkan (diperjualbelikan) sebagai suatu pengakuan untuk mensahkan jatidiri seseorang sebagai seorang insan Batak, melainkan seseorang harus secara berani dan bertanggungjawab menyatakan dirinya sebagai seorang Batak. “Tarombo” menyiratkan seseorang pasti memiliki “Marga”. Apabila seseorang sudah memiliki marganya maka pada dirinya akan tersemat puluhan sebutan nama yang menjadi identitas (jatidiri)-nya, sebut saja ‘ompung, tulang, lae, tunggane, pariban, amang, amangtua, amanguda, amangboru, inang, inangbao, iangtua, ianguda, ito, hela, pariban, anggi, haha’, dan banyak lagi. Jadi, hanya dengan sematan marga pada namanya maka demikian panjang jatidirinya. Demikian pulalah sebutan ini ada pada etis Batak lainnya. Apabila marga ini berakses kepada suatu kegiatan kultural maka sikap dan perilaku sudah pula menjadi identitas yang semakin sah untuk setiap sebutan tadi, dan demikianlah pengejawantahannya dalam Dalihan Natolu. Jadi, “Batak” adalah sebagai suatu identitas yang pasti dan terukur dan bukan menawarkan diri untuk menjadi identitas seseorang melainkan seseorang yang harus mencari identitasnya dalam “Batak”.

    Pada tahun ‘70an semasa saya beraktivitas di kampus maka banyak teman-teman yang menyandang sebutan dibelakang namanya dengan kata Srg. Hsb. Nst. Hrp. dan bila ditanya, mereka menyebutnya bukan Batak (maaf, mungkin ini hanya pengakuan diri mereka sendiri saja) dan bahkan banyak yang menghapuskannya sama sekali. Mungkin yang disebut dalam artikel “muda kayo, han sipirok, muda miskin han toba” artinya, “kalau kaya pasti dari Sipirok, kalau miskin pasti dari Toba.” menjadi referensi mereka. Sekarang ini mereka itu menyematkan marga dari singkatan-singkatan tersebut dan mengatakan dirinya Batak.

    Dahulu dijaman baheula bahwa seorang hatoban bukan seorang Batak karena dia tidak pantas disematkan marga dan hatoban ini hanya berhak menjadi “pangulubalang”, makanya orang-orang Batak semuanya menjadi ‘raja’ sepanjang dia memakai marganya dan bila tidak mengidentitaskan dirinya dengan marga maka dia tidak berhak menyandang gelar ‘raja’ dan kalau bukan raja maka bukan Batak, dan kalau bukan Batak maka ada kemungkinan menjadi ‘hatoban’. Kapan gelar ‘raja’ disandang oleh seorang Batak adalah pada saat perhelatan Dalihan Natolu berlangsung.

    Apabila seseorang mendapat satire dan sinisme dalam membawakan jatidiri sebagai seorang Batak maka perlu mencari jatidiri itu dalam Dalihan Natolu da Tarombo, dan menjadilah dianya itu ‘raja’. Apakah harus disangsikanlagi identitas seorang ‘raja’?

    @Purwana, ketertarikan anda pada inti artikel ini perlu diperdalam dengan mengkaji Eksistensi Majapahit-Singosari, Ekspedisi Pamalayu, Kitab Pararathon, para ksatria Gajah Mada - Kuti, para sesepuh yang bergelar ‘Mpu’ (Ompu), makna ‘Gending’ (Gondang), kata-kata keseharian seperti (manuk, mangan, pinggan, udan, dua, telu, papat, limo, enam, pitu, wolu, sempulu, dll.) maka akan ada tambahan pencerahan tentang “Batak”.
    Horas

  11. Tanggapan AH Damanik:

    Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

    Kalau orang Batak itu cikal-bakalnya dimulai dari Pusuk Buhit berarti orang Batak itu asli sesuai teori evolusi nya Darwin. Tetapi tidak ada bukti ilmiah yang menyebutkan itu. Secara geografis, saya malah percaya bahwa orang Batak adalah hasil perkembangan dari nenek moyang yang berasal dari India, Indochina, Burma dll. Tidak ada pesawat waktu itu yang bisa membawa manusia dari selat malaka atau samudra hindia sehingga sampai di Samosir.

  12. Tanggapan Maridup Hutauruk:

    Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

    Kalau mau tau tentang Batak lebih mendalam maka perlu dicari sendiri dulu pembuktiannya oleh diri sendiri karena belum banyak yang berminat melakukan pengkajian ilmiah tentang Batak, apalagi orang Batak sendiri yang selalu meminta bukti ilmiah tentang dirinya sendiri, kok kita mau nuntut bukti ilmiah dari orang lain saja…. enak kali lah….

    Ilmu-ilmu yang mengungkap tentang garis keturunan manusia menjadi manusia hampir seluruhnya bersumber dari ilmu barat yang memang getol untuk mencari jatidirinya sebagai manusia. Pemikiran bahwa manusia berkembang pertamakalinya dari Afrika ternyata buyar setelah berkembangnya ilmu yang mempelajari tentang genetika dengan metoda DNA. Penelitiannya mengungkap bahwa ternyata Adam (nabi) tidak pernah bertemu secara biologis dengan Siti Hawa, artinya manusia sekarang bukanlah berkembang biak dari keturunan Adam dan Hawa, jadi dari mana?

    Galaksi Bima Sakti memiliki satu sumber kehidupannya yaitu Matahari yang menghidupi planet-planetnya termasuk Bumi. Bumi mengelilingi Matahari dengan garis edar dimana sinar Matahari sebagai sumber hidup terpancar sepanjang garis Khatulistiwa. Sewaktu daratan masih bersatu ratusan juta tahun yang lalu yang disebut Super Benua Pangea dan Gondwana maka Pulau Sumatra dan pulau-pulau lainnya di nusantara adalah daratan yang terpisah dari Super Benua tersebut, dan letaknya berada di garis khatulistiwa sementara kawasan Afrika sangat jauh di Utara untuk mendapatkan cahaya kehidupan dari Matahari. Kehidupan mahluk pertamakali berkembang dari air yang mengelilingi pulau-pulau itu, kemudian berevolusi menjadi mahluk-mahluk seperti sekarang ini termasuk manusia dan manusia Batak.

    ‘Aku berpikir maka aku ada’ demikianlah kata seorang pujangga Yunani dan manusia Batak pun berpikir dan mengatakan berasal dari Pusuk Buhit dan berkembanglah dari situ manusia-manusia ke seluruh dunia, jadi bukan dari India atau Indocina atau Burma. Inikan ilmu lama….

    Kalau kita mau tau Apa dan Siapa Batak itu, maka kita harus berani mencari tau bagaimana terjadinya peta Bumi, harus tau perkembangan kehidupan mahluk dari mulai sel sampai alien, harus tau perkembangan peradaban manusia dari mulai Sumer, Mesir, Sudan, Ethiopia, India, China dan peradaban-peradaban kuno lainnya. Harus menelusuri genetika kehidupan mahluk, harus mengikuti perkembangan penggalian-penggalian arkeologi dan korelasinya dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang berkaitan. Tidakkah kita tau bahwa situs-situs babilonia ditemukan 30m dibawah permukaan pasir? mengapa tidak kita gali saja 100m dibawah Tanah Batak untuk mencari situs-situs yang tertimbun akibat letusan gunung Toba 75.000 tahun lalu, atau mencari tau apa yang ada di dasar Danau Toba karena danau tersebut terbentuk 30.000 tahun lalu? Ada yang mau membiayai? maksudnya supaya ada bukti ilmiah?

    Pada pictogram yang terdapat pada piramid di Mesir yang berusia lebih dari 3000 tahun tergambar bentuk-bentuk pesawat terbang (fixed wing), helikopter (rotary wing), dan kapal selam yang diterjemahkan oleh para arkeolog bahwa bangsa Mesir kuno sudah mengetahui atau sedikitnya ada melihat wahana itu, apa lantas kita harus panggil para arkeolog itu untuk menceritakan kepada kita supaya kita percaya? Kalau Twin-tower runtuh ditabrak pesawat terbang pada peristiwa 911 apa lantas kita harus dibawa ke New York supaya percaya dengan melihat langsung? Kok aku bisa percaya si Musa bisa membelah Laut Merah? Apa ini bukan fenomena alam Tsunami? atau aku harus hidup di zaman Musa dan menyaksikannya supaya percaya? hebat kalilah aku ini bah…. Kalau orang bule cerita bahwa patung bunda maria menangis mengeluarkan darah aku lantas percaya tapi kalau si Batak cerita bahwa ada Naga Padoha dibawah Tanah Batak minta bukti ilmiah. Kalau si bule pencet tombol-tombol remote control untuk menggerakkan channel atau satelit aku pasti percaya, tapi kalau dukun pergendangan memijat-mijat tulang burung siburuk dari jauh dan yang patah tulang merasa kesakitan lantas aku tak percaya. Kata orang langit itu biru tapi yang kulihat di Jakarta langit itu kelabu dan tak pernah biru, mana yang benar?

    Memang akan banyak silang pendapat apabila kita membahas tentang Batak sementara kita sendiripun tak mau tau mengenai Batak itu dan lantas menelan bulat-bulat yang dikatakan bukan Batak. Penting kita menggali Batak itu menuju kemuliaannya dan bukan untuk menonjolkan kenistaannya. Mari sama-sama…..

  13. Tanggapan Dany Saragih Garingging:

    Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

    klo Batak itu identik dengan Toba, maka saya sangat setuju kalau BATAK ya BATAK, Simalungun ya Simalungun, Karo ya Karo, dsb.. Jangan dicampur2….

  14. Tanggapan Lamhot Sitorus:

    Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

    kalau menurut saya, semua orang yang masih keturunan dari siraja batak adalah “halak batak” tak perduli tinggal di kutup utara, di antartika atau di planet mars sekali pun, jadi bagi orang yang tidak mau mengakui dirinya sebagai orang batak dan tidak mau memakai marganya, pada hal dia adalah keturunan dari siraja batak, saya boleh katakan dia adalah seorang “Penghianat”.

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.






Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel sebelumnya :
   » » Jika Anda Batak, Katakan Pada Anak Anda Dia Batak

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel selanjutnya :
   » » “King Cobra” ditantang Silaban