Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Minggu
2
Mar '08

Jika Anda Batak, Katakan Pada Anak Anda Dia Batak



Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Children should be encouraged to take pride in their ethnic heritage, thereby boosting self-esteem.” (DeHart, Sroufe, & Cooper, Child development: Its nature and course. Boston: McGraw Hill, 2000). “Anak-anak harus didorong untuk bangga pada asal-usul etnis mereka sehingga mendongkrak rasa bangga dan penghargaan terhadap diri mereka sendiri

Weekend lalu saya diperkenalkan si Bungsu adik saya pada teman barunya. Si Bungsu ini “anak gaul” sehingga kerap membawa teman baru ke rumah. Biasanya si Bungsu akan memperkenalkan nama temannya dan saya akan melanjutkannya dengan pertanyaan-pertanyaan standard seperti “tinggal dimana”, “sekolah dimana”, “kenal si bungsu dimana?”, “ayah ibu kerja dimana” dll. Kadang pertanyaan-pertanyaan itu saya akhiri dengan pertanyaan dari mana dia berasal. Teman baru si Bungsu yang usianya tidak lebih dari 20-21 tahun ini misalnya, karena wajahnya yang Ganteng, bulu matanya luar biasa bagus, kulit bersih dan tubuh atletis, saya jadi ingin tahu dari mana dia berasal.

Kamu orang apa sih, Dek?”, tanya saya ingin tahu.

Orang Jakarta, Kak”, katanya.

Kita semua orang Jakarta karena kita tinggal atau lahir di Jakarta. Maksud Kakak, kamu berasal dari suku apa”, lanjut saya.

ohhhh”, katanya seolah baru sadar salah menjawab. Saya yakin dia sebenarnya mengerti maksud saya. “Orang Sumatra, Kak”, jawab si ganteng. Saya mulai agak hilang kesabaran.

Dek, kamu tidak belajar pengantar Antropologi waktu semester satu yah? Kan Sumatra itu bukan suku bangsa, jadi enggak ada istilah saya orang Sumatra. Kok susah amat kau menjawab pertanyaan Kakak? Kamu nih ganteng dan oon yah”, lanjut saya. Si Ganteng tertawa.

Orang Medan deh, Kak”, ralatnya, gelisah. Mukanya agak bingung atau pura-pura bingung.

Si Bungsu yang tahu betul maksud saya langsung menimpali dengan wajah tidak sabar: “Lu ngomong sama Kakak gue yang bener, bilang aja lo orang Batak gitu, susah amat sih guoblog lo…. Dia ini Siregar, Kak, gak ngaku Batak! Ibunya Batak, juga, Simanjuntak.” “Waktu ketemu pertama kali juga ‘gitu’ Kak, bertele-tele waktu ditanya orang apa”, lanjut si Bungsu. “Mandi masih pake air asin, tinggal di gang sempit aja udah gak ngaku orang Batak lu..!”, lanjut si Bungsu berseloroh. Mereka terbahak. Semoga si Ganteng belajar sedikit hari itu mengenai siapa dia.

Saya bangga pada si Bungsu karena diusianya yang muda ia tidak pernah ragu mengatakan “Saya orang Batak”. Si Bungsu adalah tipikal remaja metropolitan “produk MTV” yang selalu kami khawatirkan agak menganut faham hedonis dan sangat ter-westernisasi. Sejak usia 5 tahun dia sudah ‘ngerti’ apa itu “luar negri”.

Saya juga bangga pada ayah saya yang sebagian hidupnya dihabiskan di Semarang, dan sampai akhir hidupnya selalu membaca karya-karya sastra cukup tinggi dari Rendra, Sapardi Joko Damono, hingga Ernest Hemingway itu, tetapi ia tetap mengajarkan anak-anaknya untuk bangga pada asal-usul kami. “Never be ashamed to tell people who you are. You are orang Batak”, demikian ayah saya yang berbahasa Inggris, Belanda dan Jawa itu selalu mengatakan.

Pengajaran ayah saya itu menanamkan concious saya untuk tidak pernah ragu mengatakan “saya orang Batak” ketika asal-usul saya ditanyakan dimanapun saya berada, di Danau Toba yang keras, di Yogja yang lunak maupun di Paris, London atau New York yang sophisticated, ketika saya bertemu dengan orang Indonesia disana. Bahkan ketika saya sudah menyebut diri saya sebagai “a global citizen”. “Saya Orang Batak”. Clear! Tanpa embel-embel “tapi saya lama tinggal di Singapore”, atau “tapi saya sudah tidak bisa bahasa Batak”, atau “ tetapi saya lahir di Jakarta” atau “tapi saya orang Mandailing”. Kata “tetapi” itu adalah satu dari seribu excuses yang dipakai oleh banyak orang Batak untuk mengatakan bahwa ia berbeda dari stereotype orang Batak yang terbentuk di masyarakat. Kira-kira artinya adalah “tetapi saya sudah berbudaya, sudah tidak ‘barbaric’. Saya sudah tidak makan orang lagi!”.

Menjadi orang Batak berarti terperangkap dalam konotasi negatif stereotype yang terbentuk lewat penggambaran karakter yang kasar, keras, tempered, agresif, tukang-berantem, nyali preman, gaya bicara teriak-teriak, volume suara keras, belum lagi stereotype fisik rahang bersegi, mata tajam, tubuh lebih sering tebal dan profesi yang dihubungkan dengan pencopet, supir metromini ugal-ugalan, preman, petinju kasar, pecatur suntuk, inang-inang pedagang Pasar Inpres Senen, atau penyelundup Tanjung Periuk.

Konotasi negatif inilah yang sering kali membuat banyak keluarga Batak tanpa sengaja tidak menanamkan “rasa bangga” akan asal-usul mereka pada anak-anak mereka seperti si Ganteng teman adik saya tadi, yang jelas sekali sangat berat mengatakan “saya orang Batak”, dan berkilah mengatakan dirinya “Orang Jakarta”, “orang Sumatra” dan “orang Medan”. Konotasi negatif itu juga sering membuat Orang Batak bangga jika dikatakan “tidak kelihatan Batak”, “tidak kentara Bataknya”, apa lagi kalau sudah agak “kaya” sedikit atau kenal luar negeri, sudah tidak mau terafiliasi dengan apapun yang berbau Batak. Kalau bisa jangan ‘ngaku’ orang batak. Seorang artis berdarah batak malah mendapatkan nama ”Cut “ dari ayahnya untuk menggelapkan asal-usulnya. Menyedihkan!

Konotasi negatif di atas tidak akan pernah hilang jika setiap keluarga Batak memilih untuk menanggalkan identitas anak-anak mereka, menghilangkan marga mereka dari nama-nama mereka, “menggelapkan” asal-usul mereka dengan istilah “orang Medan”, “orang Sumatra” atau “orang Jakarta” (dia pikir cuma dia yang lahir di Jakarta), serta tidak memberikan pengajaran betapa pentingnya mengenal akar dan asal-usul budaya sendiri sebelum mampu mengenal dan mencintai budaya-budaya lain, bahkan sebelum mampu menikmati Beethoven Symphony No 9. Jadi jangan bilang anda penikmat budaya jika asal-usul suku bangsa andapun tidak anda akui.

Menanamkan kebanggaan atas asal-usul pada anak-anak kita itu bukan untuk tujuan pengkultusan superioritas kesukuan atau ethnocentrism, akan tetapi penghargaan terhadap budaya, etnik, identitas dan asal-usul itu. Kebanggaan dan penghargaan itu akan memberikan “sense of belonging” atas kelanjutan sebuah nilai budaya yang menjadi pondasi untuk membangun diri sendiri. Kelak tentunya membangun lingkungan dimana dia berada.

Red Wolf seorang pejuang dan budayawan Indian, Native American dalam beberapa bukunya mengatakan: “The Native Indian passed their culture and tradition down from generation to generation from memory, not from a notepad or book. Therefore, if your Mother, Grandmother, Father or Grandfather told you or your family that you are of Indian blood, you are Indian”. Saya terpesona dengan tulisannya itu. Katanya: “ Orang Indian mewariskan budaya dan tradisi mereka dari generasi ke generasi lewat ingatan, bukan lewat catatan dan buku, jadi jika ibu, nenek, ayah atau kakekmu mengatakan bahwa engkau berdarah Indian, maka engkau adalah Indian”.

Saya implementasikan dengan bebas kalimat di atas ke dalam tulisan saya ini sebagai: “Jika engkau orang Batak, katakan pada anak-anakmu bahwa mereka adalah orang Batak”.

Penulis : Tika Sinaga

SUmber : Tika Sinaga’s Blog


Ada 5 tanggapan untuk artikel “Jika Anda Batak, Katakan Pada Anak Anda Dia Batak”

  1. Tanggapan Togar Silaban:

    Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

    Kejadian seperti si Bungsu dan temannya itu masih sering dijumpai. Bahkan sepupu saya masih saja ngakunya orang Medan, meski logat Batak nya cukup kental.

    Kita memang harus bangga darimanapun kita berasal. Kalaupun ada konotasi negatif tentang beberapa perilaku sebagian orang Batak, ya itulah konsekuensinya. Dan menjadi tugas kita untuk membuktikan bahwa tidak semua orang Batak berperilaku negatif. Seseorang berperilaku negatif atau positif bukan karena Etnisnya, tapi karena pribadinya.

    Pembagian sub Etnik Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing dan Toba dan perkembangannya sekarang sudah sedemikian rupa, sehingga ada yang merasa bahwa yang Batak itu seolah-oleh adalah Toba. Ada juga teman yang dari Karo, merasa bukan bagian dari Batak, ada yang merasa Karo adalah Batak. Yang pasti GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) jelas menyatakan bahwa Karo adalah Batak.

    Saya bangga menjadi orang Batak.

  2. Tanggapan Gindo:

    Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

    Kalau soal orang batak ini memang menjadi dilema bagi orangnya. Namun sebagai orang batak, saya bangga sekali meskipun teman2 saya selalu mengejek bahasa saya. Orang batak malu mengaku suku batak karena perilaku masalalu sungguh tak terpuji di mata masyarakat.Menurut saya banggalah sebagai ORANG BATAK,DAN MAMPU BERBAHASA BATAK.CULTURE ITU HARUS DIKEMBANGKAN DAN DIWARISKAN KEPADA ANAK-ANAK KITA(THE NEXT GENERATION.MAULIATEMA)

  3. Tanggapan Judit br.Regar:

    Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

    Saya sangat tertarik dengan cerita anda, dan kebetulan cerita anda menyinggung cowok semargaku. Tapi aku bangga dengan tulisan serta himbauan anda yang meminta kita semua orang BATAK bangga menjadi orang BATAK.
    Sejak bisa ngomong orangtuaku sudah mengajak kami anak-anaknya marhata batak dan itupun rasanya kurang , itu ku alami saat usia tujuh tahun kami pulang kampung dan saya sering gelagapan saat diajak manggkatai dengan teman-teman se usai saya.Molo songoni ba ringgas ma hita marsiajar hata BATAK unang di gadis na malo marhata batak hita marsogot, itu pesan orang tua kami. Salut buat anda serta salam buat adiknya si bungsu, apa ya jadi ya sama marga Siregar itu.

  4. Tanggapan Jepri Manurung:

    Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

    Memang sangat menyedih ketika kita ketemu sesama batak, tapi dia berusaha menutupi bahwa dia orang batak.
    Tapi aku juga pernah ketemu orang yang sangat berlawan dengan gaya si GANTENG tadi. Beliau lahir di Pekanbaru dan sekolahnya di Jakarta. Saat cerita2 ternyata dia sangat ga suka dengan orang batak yang tidak memakai identitas marganya di belakang, sampai dia katakan samaku “Suatu saat nanti klo saya punya anak, saya akan beri dia nama satu suku kata saja” karna akan memberi dorongan kepadanya akan selalu menulis marganya di belakang namanya (Mungkin ini bisa kita contoh juga. Padahal beliau ini istrinya Chinese (bukan berarti dia ga suka batak).

  5. Tanggapan luhut rajagukguk:

    Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

    Sehabis membaca tulisan Ito Tika Sinaga ini, terus terang saya tertawa. Tertawa pahit! Mentertawakan nasib bangsa Batak yang agak ‘lain’ dari bangsa lainnya. Mengapa? Kalao orang Sunda, Betawi, Jawa, dan lain-lainnya sejak di ‘mbrojolkan’ (dilahirkan) ke dunia ini tak perlu susah-susah memperjuangkan dirinya menjadi Sunda, menjadi Jawa, menjadi Betawi, dan menjadi lain-lainnya, maka orang Batak (khususnya zaman ini) harus berjuang menjadi Batak.

    Saya sendiri harus kepayahan mondar-mandir kesana kemari karena kesalahan penulisan marga di ijazah SMA. Lebih seru lagi, saya harus ‘bertarung’ sengit dengan petugas di Kantor Catatan Sipil Jakarta mengenai pencantuman Marga pada Akte Kelahiran anak-anak saya.’Pertarungan’ tersebut masih berlanjut di sekolah TK, SD, SMP anak-anak! Tapi semua ‘pertarungan’ itu saya ‘menangkan’: Akte Kelahiran anak-anak, ijazah semuanya mencantumkan marga RAJAGUKGUK!, dengan catatan pada Akte Kelahiran ada yang disingkat ‘R’, ‘RG’. (Maka saudara-saudara, kalau bikin nama anak, tak perlu panjang-panjang biar muat pada kolom isian yang hanya 25 termasuk spasi)

    Itulah sekelumit perjuangan ‘menjadi’ orang Batak pada zaman ini! Mengapa? Karena tanpa Marga, bukan orang Batak! Dus, tanpa Marga, Dalihan Natolu tidak ada!!!

    Tentu saja, masih banyak indikator lainnya yang dapat dijadikan tolok ukur penilaian apakah seseorang itu orang Batak. Namun demikian, bagi mereka yang TIDAK bersedia menunjukkan identitas keBatakannya (salah satunya Marga) ,tidak usah bersilat lidah(!), kepada mereka ini saya ucapkan selamat jalan meninggalkan Batak! Kami Orang Batak TIDAK MEMBUTUHKAN ANDA! Horas, selamat jalan!

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.






Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel sebelumnya :
   » » Torang Lumbantobing “Pecah Kongsi” dengan Frans A Sihombing

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel selanjutnya :
   » » “Saya Orang Batak”, Sebuah Perspektif