Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Sabtu
29
Des '07

Jakarta Banjir Narkoba


Catatan Akhir Tahun 2007

Narkotika dan obat berbahaya (narkoba) yang dikendalikan jaringan barang haram tersebut dari dalam dan luar negeri selama tahun 2007 masih memban-jiri Jakarta. Jual-beli narkoba itu tidak saja meningkat di diskotek, tetapi pengendaliannya, terutama pil ekstasi impor dan sabu, telah dilakukan dari apartemen dan hotel di Ibukota. Tak heran sejumlah kalangan, termasuk para artis, terjerat kasus narkoba.

Fakta berbondong-bondongnya pedagang narkoba meraup keuntungan bisnis haram itu terungkap dari ratusan kasus yang telah ditangani Polsek, Polres, Polda, Mabes Polri dan Badan Narkotika Nasional (BNN). Data Direktorat Narkotika Polda Metro Jaya mencatat, sampai November 2007 sebanyak 8.000 lebih kasus narkoba diungkap yang melibatkan ribuan tersangka. Sebagian besar dari mereka adalah konsumen barang haram tersebut.

Laris-Manis

Pasokan narkoba ke Ibukota disebut-sebut laris-manis karena bebas diedarkan mulai dari kelas eceran, seperti penjualan pil ekstasi di beberapa diskotek, karaoke, dan live music, plus peningkatan jual-beli narkoba yang dikendalikan bandar besar di apartemen dan hotel.

Menurut Ketua Jaring-an Informasi Dampak Minuman Keras & Narkoba (RIDMA) SS Budi Rahardjo, Ketua GRANAT Henry Yosodiningrat, Ketua GERAM Sofyan Ali, dan Ketua Satuan Anti-Narkoba (SAN), Anhar, polisi tidak cukup menangkap pelaku di lapangan.

Polisi diharapkan konsisten memutus rantai peredaran narkoba dari hulu sampai hilir, dan harus dicegah sedini mungkin. Tentu saja, pemberantasan narkoba tidak saja merupakan kewajiban petugas, tetapi memerlukan kepedulian masyarakat antinarkoba. “Jangan sampai gebrakan penangkapan bandar narkoba, apakah di rumah, diskotek, hotel, dan apartemen oleh Satgas BNN (Polda Metro, Red) hanya lips service, sementara fakta peredaran narkoba di Jakarta tetap marak dari tahun ke tahun,” kata Budi Rahardjo.

Informasi Akurat

Selama dua bulan di penghujung tahun 2007, Polda Metro bekerja sama dengan Mabes Polri dan BNN menangkap sejumlah bandar besar spesialis pil ekstasi dan sabu kelas atas (kelompok Monas, Red) dari Malaysia plus jaringan Wang Cheng I, warga Taiwan.

Direktur IV Narkotika Bareskrim Mabes Polri Brigjen Pol Indradi Tanos mengatakan penangkapan secara ber- tahap kedua kelompok bandar narkoba asal Malaysia dan Taiwan itu berkat informasi akurat warga, didukung pengembangan penyelidikan kasus yang sama.

Sebelum membekuk lima bandar narkoba warga Malaysia itu di lokasi terpisah di Hotel Peninsula, Apartemen Mediterania, dan Apartemen Taman Anggrek, Jakarta Barat, satuan tugas BNN juga menangkap enam bandar narkoba kelas internasional lainnya, terdiri dari dua warga asing asal Taiwan yakni, Wang Chen I dan Tsai Cheng, serta empat pelaku lainnya, yakni Abu Bakar, Jailani Usman, Darman Silaban, dan Afeng.

Keempatnya adalah warga Batam. Wang Chen I Cs adalah pengelola empat pabrik narkoba berlokasi di wilayah hukum Polda Kepulauan Riau (Kepri). Sedangkan Wei Nan Cheng, yang disebut-sebut sebagai bos kelompok bandar narkoba di wilayah Kepri, berhasil lolos dari penyergapan dan kini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) Mabes Polri.

Dari kelompok Wang diamankan empat pabrik atau lokasi penyimpanan narkoba di Batam dengan total aset senilai total Rp 455 miliar. Polisi juga menyita barang bukti, terdiri dari 699 kilogram sabu, 544 liter cairan bahan baku sabu, dan bahan baku sabu padat 4,5 ton.

Kapolri Jenderal Pol Sutanto, Kabareskrim Komjen Pol Bambang Hendarso Danuri, dan Kalahar BNN Komjen Pol Made Mangku Pastika, sempat mengunjungi beberapa lokasi yang digerebek, yakni di Kompleks Pertokoan Niaga Blok E Panbil (tempat menyimpan bahan baku sabu cair), Perumahan Duta Mas Cluster II (laboratorium pengolahan shabu), Kawasan Industri Hijrah Blok C (pengeringan sabu siap saji), serta wilayah Batam Center Nagoya, sentral operasional pengiriman shabu antarkota, provinsi, bahkan negara.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Sisno Adiwinoto mengatakan pengembangan penyidikan kasus empat pabrik narkoba di Batam itu ditindaklanjuti dengan menggrebek sebuah rumah Jalan Karang Sari III, Muara Karang Pluit Jakarta Utara. Dari lokasi itu, polisi menyita ratusan butir pil ekstasi.

Ong, warga Taiwan, yang mengontrak rumah itu ditangkap dan dituduh menjadi bagian dari sindikat pengedar pil ekstasi antarnegara dengan sasaran penjualan konsumen tertentu di Jakarta. “Fakta pengungkapan banyaknya kasus narkoba, terutama di Jakarta dan kota besar lainnya menunjukkan Indonesia sudah tidak saja sebagai daerah transit, namun produsen narkoba antarnegara. Ancaman tersebut harus dihentikan dengan melibatkan konsistensi petugas setempat, didukung kepedulian masyarakat dalam memberantas narkoba,” ujar Sisno.

Sumber : [SP/Gardi Gazarin] Suara Pembaruan


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Kusmayanto Kadiman: Keputusan PLTN harus tahun ini
Artikel selanjutnya :
   » » Sehari Tanpa Mobil Akan Diberlakukan di Surabaya