Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Jumat
7
Des '07

Etnis Batak Rentan Kanker Belakang Rongga Hidung


Delfitri Munir Peroleh Gelar Doktor

Dr Delfitri Munir SpTHT memperoleh gelar Doktor (S3) dalam bidang ilmu kedokteran setelah lulus sidang promosi di kampus USU, kemarin di biro rektor USU, Padangbulan Medan.

Dalam desertasinya dijelaskan, etnis Batak yang mempunyai alel gen HLA-DRB1*08 ternyata rentan terkena tumor di belakang rongga hidung (karsinoma faring). Kesimpulan itu diambil setelah staf pengajar Departemen Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok, Bedah Kepala Fakultas Kedokteran USU ini membawa beberapa sampel darah suku Batak ke Universitas Leiden di Belanda untuk diteliti.

“Etnis batak yang mempunyai gen itu, mempunyai peluang terkena tumor belakang rongga hidung empat kali lipat dari suku Batak yang tidak punya gen tersebut,” kata pria kelahiran Solok 26 Januari 1954 tersebut.

Menurut data dari RSUP Adam Malik, sekitar 46,7 persen penderita tumor belakang rongga hidung di Sumut berasal dari suku Batak. ‚ÄúPadahal populasi suku ini bukan yang terbanyak,” jelasnya.

Anggota IDI Medan dan PERHATI Sumut ini menjelaskan, pada stadium awal tumor tersebut bisa diobati. Namun, karena gejala awalnya tidak khas, kebanyakan penderita baru mengetahui mengidap tumor itu pada stadium tiga sehingga sudah sulit disembuhkan.

“Gejalanya biasa saja, cuma pilek, hidung sering tersumbat, telinga sering berdenging, sehingga banyak orang menganggap sepele. Tetapi begitu lehernya sudah bengkak, baru diperiksa ke dokter,” kata pencipta lagu Himne FK USU dan Himne FK Universitas Andalas Padang ini.

Selain faktor internal, katanya, tumor di belakang rongga hidung juga dapat disebabkan oleh faktor eksternal seperti kebiasaan meminum alkohol, merokok ataupun sudah mengonsumsi ikan asin ketika masih berusia di bawah 10 tahun.

“Jadi kalau suku Batak yang punya gen HLA-DRB1*08 suka minum minuman beralkohol seperti tuak, merokok dan sudah mulai mengonsumsi ikan asin sebelum berusia 10 tahun maka peluang terkenanya sampai enam kali lipat,” katanya.

Dijelaskannya, kebiasaan memakan ikan asin dapat meningkatkan risiko, sebab proses pembuatannya memakai sinar matahari. Ultraviolet yang terkandung dalam sinar itu menyebabkan terjadinya nitrosasi yang menyebabkan terbentuknya nitrosamine. Sehingga virus Epstein Barr, salah satu penyebab kanker belakang rongga hidung dapat berkembang.

Dalam desertasinya, dia juga menyarankan perlunya dibuat penelitian lebih lanjut mengenai alel gen tersebut sehingga diharapkan dapat dibuat vaksin untuk mengantisipasi penyakit tumor belakang rongga hidung itu.

Desertasi tersebut disampaikan dokter yang telah mengikuti berbagai workshop nasional dan internasional ini di hadapan panitia penguji dengan Ketua Promotor Profesor Ramsi Lutan SpTHT-KL(K) dari FK USU dan Ko-Promotor Dr FM Judajana SpPK (K) dan Profesor Dr Widodo Ario Kentjono SpTHT-KL(K) keduanya dari Universitas Airlangga Surabaya. Kemudian Prof M Nadjib Lubis SpPA(K), Prof Masrin Munir SpTHT-KL(K) dan Prof Sorimuda Sarumpaet MPH.

Sumber : (Swisma) Harian Global, Medan


Baru ada 1 tanggapan untuk artikel “Etnis Batak Rentan Kanker Belakang Rongga Hidung”

  1. Tanggapan jimmi:

    Saya seorang mahasiswa ingin tanya soal jenis-jenis kemenyan yang berada pada tanah batak dan sejarah kenapa di tanah batak khususnya di tapanuli banyak orang dulu menanam pohon kemenyan.Terima Kasih

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.