Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Selasa
27
Nov '07

Bupati Taput Pimpin Raker Pendidikan Diikuti 2000 Peserta dari 4 Kecamatan


Bupati Tapanuli Utara Torang Lumabantobing memimpin rapat kerja pendidikan dihadiri peserta dari 4 kecamatan yaitu Siborongborong, Pagaran, Parmonangan dan Muara sebanyak 2000 peserta terdiri dari guru-guru TK,SD/MIN/MIS, SMP/MTS dan SLTA/SMK/MAN, komite sekolah, pemerhati pendidikan dan tokoh masyarakat, Jumat (23/11) di SMK Negeri 1 Siborongborong.
Dalam arahannya Torang Lumabantobing mengharapkan para guru dapat mewujudkan semboyan masyarakat Bona Pasogit “Anak hon hi do hamoraon di ahu”.

Dengan demikian katanya, sekolah tidak hanya dijadikan sebagai tempat menuntut ilmu tapi hendaknya menjadi tempat proses pembelajaran. “Guru mempunyai tugas berat yaitu membentuk karakter manusia. Tugas guru membentuk budi pekerti, sopan santun, kejujuran dan bahkan menanamkan jiwa bersih. Tanamkan yang baik-baik pada murid dan hindarkan murid dari kejahatan,” himbaunya.
Menurutnya tugas tersebut pasti dpat dilaksanakan para guru di Taput dengan baik sebab pilihan menjadi guru tersebut diyakini sebagai panggilan jiwa.

Pada kesempatan itu, bupati tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada guru-guru di Taput atas kerja kerasnya juga sehingga daerah ini dapat menempati peringkat kedua kelulusan SLTA se-Sumut dan meningkatnya jumlah siswa lulusan SLTA dari Taput yang masuk perguruan tinggi negeri tahun 2006/2007.
Rapat kerja tersebut dihadiri sejumlah pejabat di antaranya Wakil Ketua DPRD Taput BP Nababan, anggota dewan Ray Leonard Nababan, Bangkit Silaban SE, Asisten II HP Marpaung sebagai moderator, kadis Pendidikan Dra Mariani Simorangkir MPd, Kepala Bawasda Drs Julu Hutapea, Kepala Bappeda Saul Situmorang SE MSi.

Wakil Ketua DPRD BP Nababan mengajak seluruh guru mengembalikan kejayaan pendidikan Taput dan DPRD mendukung obsesi Bupati Torang Lumbantobing meningkatkan mutu pendidikan sebab pendidikan jembatan menuju kehidupan yang lebih baik.
Sementara itu Kadis Pendidikan Taput Dra Mariani Simorangkir MPd antara lain melaporkan dasar pelaksanaan Raker tersebut UU nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, UU nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah berikut sejumlah prestasi yang diperoleh pendidikan Taput dalam bidang akademis dan lomba lainnya.

Sumber : (Rel/PR3/g) Harian SIB, Tarutung


Ada 2 tanggapan untuk artikel “Bupati Taput Pimpin Raker Pendidikan Diikuti 2000 Peserta dari 4 Kecamatan”

  1. Tanggapan sabar tambunan:

    Horas,

    Tingkat pendidikan orang batak rata-rata sudah paling tinggi di Indonesia. Ternyata ini tidak cukup men-sejahtera-kan. Memang Indonesia belum menjadi negara yang bisa membuat rakyatnya sejahtera. Tapi memang pendidikan merupakan jembatan menuju kesejahteraan yang lebih baik, terutama bagi rakyat kita yang masih banyak miskin, termasuk orang batak juga banyak sekali miskin.

    “Anak hon hi do hamoraon di ahu”, sudah tertanam dalam di sanubari orang batak. Wujud kankritnya tercapainya tingkat pendidikan setinggi-tinginya. Soal falsafah ini tidak perlu diulang-ulang untuk digembar-gemborkan lagi. Sudah otomatist itu terpelihara dan terbangun melalui nilai-nila yang terkandung dalam adat dan dalihan Natolu kita.

    Yang jadi soal, semakin hari falsafah ini ‘dihantam’ oleh mahalnya pendidikan dan pendidikan yang tidak berkwalitas. “Hidup bukan untuk sekolah, tapi sekolah untuk hidup”. Bersekolah harus mensejahterakan hidup, baik untuk memenuhi kebutuhan lahir maupun batinnya.

    Kita, terutama pemerintah daerah harus mulai terbiasa membuat dan menjalankan program2 yang sederhana namun realistis dan terukur. Jangan lagi guru disebut pahlawan tanpa tanda jasa, karena mau menjadi guru katanya panggilan jiwa. Tapi gajinya kecil dan dia gelisah apakah anaknya nanti mampu dia biayai sampai perguruan tinggi??? Guru itu manusia biasa kok………..

    Bikin saja program setiap anak guru sekolah negri dan swasta dijamin negara (gratis dan dibantu biaya hidupnya-hutang dari negara) untuk berkuliah apabila lulus tes masuk universitas/ politeknik negri. Bayangkanlah dampaknya pada semangat para guru !!

    Bikin saja program “Anak Batak TOEFL 500″. Menjadikan setiap anak didik pada akhirnya lulus SMA/SMK minimal memiliki skor TOEFL 500. Bayangkan dampaknya pada kepercayaan diri dan bangga yang tumbuh pada diri setiap anak batak.

    Bikin saja program “ICT for School”. Mengajarkan dan berpraktek Teknologi Internet dan Komputer mulai anak kelas 5 SD agar mampu ber-internet dengan baik dan benar. Mampu mengeksplorasi berbagai sumber pengetahuan serta berhubungan dengan orang dari berbagai penjuru dunia.

    Bahasa Inggris dan ICT adalah kemampuan literacy minimal sekarang apalagi masa depan. Layaknya jaman dulu kemampuan membaca dan berhitung. Sekali lagi, Inggris dan ICT adalah modal utama, yang lainnya akan bertambah dengan sendirinya!! Tidak boleh lagi anak batak dijejali sebanyak mungkin pengetahuan yang sekedar bersifat hafalan. Ajari saja mereka bagaimana metoda dan cara mencari pengetahuan itu. Kalau butuh dan berminat, pastilah mereka akan mencarinya sendiri, bahkan lebih baik dari para guru-gurunya.

    Muliate

  2. Tanggapan Togar Silaban:

    Kalaulah melaksanakannya semudah yang dikatakan sdr. Tambunan (komentar) diatas, maka saya yakin Pak Bupati akan segera melaksanakannya.
    Andai saja kemampuan pendanaan pemerintah cukup untuk itu, andai saja pemahaman birokratnya di kabupaten cukup untuk itu, andai saja prosedurnya sesederhana yang dibayangkan orang.

    Pemkab itu terbatas kemampuannya lae, apa boleh buat begitulah adanya. Meski saya tidak tinggal di Tarutung, tapi bisa membayangkan kondisi dan kapasitas Pemkab Taput.

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.