SETIAP budaya memang memiliki ciri khas dan keunikan. Demikian halnya dengan budaya Batak.
Image Ini terlihat di ajang Pergelaran Festival Budaya Batak Sumatera Utara dari seluruh kabupatan dan kota se-Kalsel plus Kuala Kapuas yang bertajuk Horas Tano Batak, di Gedung Wanita Kayutangi Banjarmasin, Sabtu dan Minggu (24-25/11).
Beragam seni budaya seperti tarian dan seni vokal Sumatera Utara ditampilkan, mulai dari marga Alas, Kluet, Karo, Toba, Pakpak, Dairi, Simalungun, Angkola hingga Mandailing.
Festival budaya ini dimulai Sabtu (24/11) yang dibuka oleh Walikota Banjarmasin Yudhi Wahyuni. Dalam sambutannya, Yudhi cukup bangga dengan acara festival ini yang memberikan warna dalam keragaman adat istiadat di Tanah Air dalam satu kesatuan.
“Marilah kita bersatu membangun Kalsel. Tak ada perbedaan dalam hal suku atau agama, kita adalah satu keluarga,” tambahnya.
Festival yang berlangsung dua hari itu cukup meriah. Pada grand final Minggu (25/11), semua peserta hadir unjuk kebolehan. Pengumuman pemenang dan pemberian hadiah serta trofi akan dilakukan Sabtu (1/12).
Uniknya di ajang ini, peserta festival memakai ulos, kain tenun khas Batak yang berbentuk selendang sebagai lambang ikatan kasih sayang.
Ulos memiliki fungsi simbolik yang tidak dapat dipisahkan dalam aspek kehidupan orang Batak. Berbagai jenis dan motif mempunyai makna tersendiri.
Sumber : (ncu) Banjarmasin Post
[SB] Tags : -Baru ada 1 tanggapan untuk artikel “Horas Tano Batak”
Silahkan memberikan tanggapan !
Artikel sebelumnya :
» » BPLH [Badan Pengendalian Lingkungan Hidup] Gudangkan Lima Alat ISHU
Artikel selanjutnya :
» » Membangun Tuk-Tuk Sebagai “Kawasan Wisata Digital” dan Samosir sebagai “Pemerintahan e-Gov”



Pada tanggal 21 Februari 2008 jam 2:13 am