Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Jumat
16
Nov '07

Cara Efektif Memberantas Narkoba


Roy Marten kembali tertangkap tangan sedang pesta sabu-sabu (SS) di Surabaya bersama empat kawannya di kamar 465 Novotel, Surabaya Selasa (13/11) siang.  Dari kelima orang tersebut, polisi menyita empat paket sabu-sabu seberat 1.501 gram, seperangkat alat isap sabu-sabu, enam buah ponsel, seperangkat alat isap sabu-sabu, dan dua buah alumunium foil yang berisi sisa-sisa SS (www.Liputan6.com)

Keempat kawan Roy Marten yang ditangkap adalah Freddy Mattatula (52), beralamat di Jakarta, Haryanto alias Hong A Khi (46), warga Jalan Kapasari, Didit Kesit Cahyadi (43), ber-KTP di Jalan Tempel, dan Winda (31), beralamat di Jalan Raya Merak Gg III Rewin.

Menariknya, selain Winda, track record ketiga kawan Roy Marten soal kriminalitas cukup buruk. Freddy Mattatula, misalnya. Pria ini baru saja dua bulan lalu ke luar dari LP Madiun. Sebelumnya, setahun lalu, Freddy ditangkap Unit Idik II Satnarkoba Polwiltabes Surabaya dengan barang bukti sabu-sabu seberat 0,8 gram. Sebelumnya, Freddy juga pernah ditangkap Polda Metro Jaya, juga atas kasus narkoba. Sama seperti Freddy, Hong A Khi juga seorang residivis, yang juga baru tiga bulan lalu ke luar LP Madiun setelah ditangkap Ditnarkoba Polda Jatim setahun lalu. (Riau Pos, 14/11). Beberapa hari sebelumnya, dalam sebuah acara BNN yang dihadiri Kapolri dan Bos JPNN Dahlan Iskan, Roy Marten sempat menyampaikan cerita yang cukup mengejutkan.” Lebih mudah mencari sabu-sabu di penjara dari pada di luar. Diluar, kita keliling dua atau tiga jam  belum tentu dapat, tapi di dalam penjara dengan mudah kita dapatkan..”.Demikian dikutip liputan 6 pagi (14 /11).

Berita mengejutkan ini, melengkapi keterkejutan kita mendengar kabar bulan Oktober lalu dari Batam. Keberadaan Kota Batam sebagai salah satu basis sindikat pembuat dan pengedar narkoba internasional semakin terbukti. Bekerja sama dengan badan antinarkoba (DEA) Hongkong, Taiwan, dan Singapura. Mabes Polri berhasil membongkar empat pabrik sabu-sabu di Batam yang memproduksi ratusan ton sabu-sabu per bulan. Dari Batam, barang haram itu diedarkan ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan dunia. Empat pabrik sabu-sabu itu berada di Ruko Taman Niaga Blok E No 3, Pandanwangi; Perumahan Taman Duta Mas Cluster II No 57, Batam Centre; Komplek Pergudagangan Hijrah Karya Mandiri Blok C-5, Simpang Frengky; dan Ruko Hup Seng Blok C-8, Batam Centre.

Dalam kasus ini, polisi berhasil menangkap enam orang tersangka, dua di antaranya adalah warga negara Taiwan, yakni Wang Chin-I (52) dan Tsai alias Tsai Cheng (53). Empat tersangka lainnya yang merupakan warga negara Indonesia adalah Jaelani Usman (28), Darwin Silaban (25), Syaed Abu Bakar (54) dan Apeng (42).

Polisi juga menemukan barang bukti berupa cairan methamphetamine (shabu) lebih kurang 150 galon atau 568 liter atau 568 kilogram ice crystal yang nilainya ditaksir mencapai Rp454 miliar atau 45.440.000 dolar Amerika Serikat. Polisi juga berhasil mengamankan 40 kg sabu-sabu siap edar yang sudah berhasil dibawa ke Jakarta.

Sungguh menyedihkan! Itulah kata yang sangat tepat untuk menggambarkan realitas ini. Di tengah hiruk pikuk situasi perpolitikan yang kian tidak menentu, terjangan badai krisis ekonomi yang hingga kini belum berlalu (entah sampai kapan), merosotnya moralitas masyarakat, melonjaknya angka kriminalitas, kasus korupsi dan suap yang masih terus bergentayangan, dan berbagai problematika pelik lainnya yang semakin menghimpit bangsa ini. Merebaknya kasus narkoba (narkotika dan obat-obatan berbahaya) menjadikan rakyat makin terancam dari berbagai lini kehidupan .

Meskipun persoalan narkoba itu sudah cukup lama dan sangat meresahkan banyak orang, hingga kini, pemerintah masih belum memiliki resep yang cukup jitu untuk menghadang meluasanya peredaran zat berbahaya itu. Bahkan, ada kecenderungan kian meningkat. Sasarannya pun semakin meluas, menembus ke berbagai lapisan. Peredarannya pun merambah sampai ke desa-desa. Yang dijadikan sebagai sasarannya tidak terbatas hanya anak muda, remaja, atau orang dewasa. Anak-anak usia SD pun sudah dijadikan mangsanya. Di Palembang modus peredaran narkoba bahkan melalui penjual roti berisi ekstasy. Tidak mengherankan, jika pengguna narkoba di Indonesia sudah mencapai angka yang sangat mengkhawatirkan. Seiring itu korban tewas akibat over dosis terus meningkat.
Hasil polling yang dilakukan oleh Forum Gajah Mada terhadap 11 SMU di Mojokerto menyebutkan ada 19,40 % atau 1 dari 5 orang pernah mengkonsumsi narkotika.

Hasil survey Dr. Ayub Sani Ibrahim DSJ di dua buah rumah sakit swasta di Jakarta Selatan terhadap 35 pasien yang diwawancarai, diperoleh fakta bahwa 89% pengguna narkotika berada pada usia 15 sampai 20 tahun (usia remaja). Dari 35 pasien tersebut terdiri dari 18 pria dan 17 wanita menunjukkan ketergantungan terhadap obat. Kenyataan masalah narkoba yang sudah sedemikian itu, menimbulkan kekhawatiran pada sementara kalangan yaitu datangnya bahaya hilangnya generasi (lost generation). Menurut penelitian Hawari, misalnya, bahwa kasus penyalahgunaan NAZA adalah anak-anak usia remaja (13-17 tahun) sebanyak 97%. Hasil polling yang dilakukan Deteksi, usia pemakai narkoba menunjukkan rata-rata masih belia. Usia 15-17 tahun 24 %, 18-20 tahun 46 %, dan 21-23 tahun 22%. Realitas ini jelas tidak boleh dibiarkan terus berlangsung

Narkoba dengan berbagai jenis dan merek diedarkan melalui jari­ngan yang sangat rapi dan terkait dengan sindikat pengedar narkoba internasional.
Di sisi lain, strategi bisnis ini juga memiliki efek melumpuhkan lawan. Dengan rusaknya pandangan hidup generasi muda , rendahnya akhlaq mereka, dan lemahnya fisik, mental maupun intelektual mereka, maka semakin mudah bagi negara-negara imperialis semacam Amerika untuk memperbudak negeri ini.

NARKOBA: ”NIKMAT” MEMBAWA SEKARAT

Narkoba (narkotika dan obat-obatan berbahaya) dikenal juga dengan NAZA (narkotika, alkohol, dan zat adiktif lainnya). Menurut WHO (1969) yang dikutip Prof DadangHawari (1996) batas obat terlarang (drug) adalah setiap zat (bahan subtansi) yang jika masuk ke organ tubuh akan mengadakan perubahan pada satu atau lebih pada organisme tersebut. Narkotika, Alkohol, dan zat adiktif lainnya, adalah zat yang mempunyai efek seperti itu, khususnya dalam fungsi berfikir, perasaan dan perilaku yang memakainya. Zat tersebut sering disalahgunakan sehingga menimbulkan ketagihan (addiction) yang pada gilirannya sampai pada ketergantungan (dependence). Beberapa jenis zat yang dapat dikelompokkan sebagai narkotika itu antara lain: opium, morfin, heroin, kokain, dan ganja.

Disampinng itu, masih ada zat-zat lainnya yang tidak tergolong dalam narkotika, tetapi termasuk zat adiktif (zat yang dapat mengakibatkan kecanduan). Pengaruhnya terhadap susunan saraf pusat (otak) serupa dengan narkotika dan alkohol. Ectasy, adalah salah satu diantaranya. Zat aktif yang dikandung ectasy adalah amphetamine, suatu zat yang tergolong stimulasia (perangsang). Di dunia kedokteran, zat amphetamine digunakan antara lain untuk mengobati penyakit hyperkinesia, depresi ringan, dan narkolepsi. Penggunaan di dunia sangat ketat, sebab dapat menimbulkan ketergantungan. Penyalahgunaan ectasy yang kadang disebut dengan ineks ini akan menimbulkan ‘gangguan mental organik’.

Apabila sedang ‘on’ atau ‘triping’, pemakainya akan merasakan gejala psikologik dan fisik. Gejala psikologik adalah agitasi psikomotor, rasa gembira, rasa harga diri meningkat, banyak bicara, dan kewaspadaan meningkat. Adapun secara fisik adalah pelebaran pupil mata, tekanan darah meninggi atau rendah, berkeringat atau rasa kedinginan, mual dan muntah.
Bagi mereka yang sudah ketergantungan, bila pemakaian dihentikan akan menimbulkan kondisi yang dinamakan ‘gejala putus obat’ yang ditandai rasa ketagihan, kelelahan, keletihan menyeluruh, tidur berkepananjangan 12-24 jam, depresi berat, rasa lesu dan lemah yang sangat, timbul pikiran tentang kematian, ingin bunuh diri, dan mencelakakan diri.  Terbukti banyak pengguna yang sekarat karena over dosis. Inilah ”nikmat sesaat” yang membawa sekarat.

Umumnya pemakaian zat-zat tersebut seringkali mengakibatkan ketagihan (addiction), bahkan sampai pada tataran ketergantungan (dependence). Zat atau bahan (obat) yang dapat menimbulkan adiksi dan dependensi, adalah zat yang memiliki ciri sebagai berikut:

1.    Keinginan yang tak tertahankan atau kebutuhan yang luar biasa untuk senantiasa menggunakan zat tersebut. Keinginan itu mendorongnya untuk mendapatkan zat yang dimaksud, dengan jalan apa pun akan ditempuhnya tanpa mempedulikan resikonya.
2.    Kecenderungan untuk menaikkan dosis sesuai dengan toleransi tubuhnya
3.    Ketergantungan psikis (psychological depedence) pada obat itu. Apabila pemakaiannya dihentikan akan menimbulkan kecemasan, kegelisahan, depresi, dan gejala-gejala psikis lainnya.
4.    Ketergantungan fisik (physical depedence), apabila pemakaian zat ini dihentikan, akan menimbulkan gejala fisik , yang dinamakan gejala putus NAZA (withdrawal symptom).

Singkat cerita, siapapun yang mencoba mencicipi narkoba pasti berujung nestapa.  Teman saya alumni Gontor pernah berseloroh narkoba itu bahasa arab. Nar artinya neraka koba dari kata qoroba artinya dekat. Narkoba artinya sudah sangat dekat menuju neraka. Jalan pintas ke neraka.

PANDANGAN ISLAM
Berkaitan dengan hukum narkoba, tidak ada perbedaan pendapat tentang haramnya narkoba. Al Iraqi dan Ibnu Taimiyyah (Subulus Salam juz IV hal 35) menceritakan bahwa terdapat ijma’ atas haramnya candu dan barang siapa yang menghalalkannya bisa menyebabkan kufur. Yang berbeda hanya dalil yang digunakannya. Al Qordawi dalam kitab Al Halalu Wal Haram halaman 75 menggolongkannya sebagai khamr, karena sifatnya yang memabukkan. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Sayid Sabiq, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (Fiqhus Sunnah hal 332), Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Husaini (Kifaayatul Akhyaar Juz II hal 188).
Sedangkan Ash Shan’aniy, dalam kitab Subulus Salam (juz IV hal 35), beliau juga menggolongkan hashish (candu) sebagai sesuatu yang memabukkan, sehingga hukumnya haram.
Hukum benda memabukkan itu didasarkan pada hadits dari Jabir ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: ”Apa yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnya juga haram” (dikeluarkan oleh Abu Daud, Nasa’i, Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Ibnu Hibban). Beliau menyatakan bahwa apa terjadi pada narkoba juga terjadi pula pada khamr, yakni sama-sama menyebabkan rasa girang dan mabuk. Meskipun begitu, bila ada yang menolak anggapan bahwa candu itu memabukkan, beliau menjawab bahwa candu bisa melemahkan. Dalam hal ini, terdapat hadits dari Ummu Salamah, ia berkata: ”Rasulullah SAW telah melarang setiap zat (bahan) yang memabukkan dan melemahkan” (HR Ahmad dan Abu Daud). Imam As Suyuti, dalam kitab al Jami’ush Shoghir, menshahihkan hadits ini.

Al Khathabiy menjelaskan bahwa makna al muftir adalah setiap minuman yang bisa mendatangkan futur (lemas, lemas) dan al khawar (lemah) pada anggota tubuh (Subulus Salam juz IV hal 35). Jika kita mengkaji dalil-dalil yang digunakan, hadits yang melarang penggunaan benda yang memiliki sifat muftir, secara pasti dapat diterapkan pada narkoba. Narkoba, dalam berbagai jenisnya, terbukti melemahkan pemakainya, baik fisik, mental, maupun intelektual.

Disamping bisa melemahkan, narkoba juga bisa mengakibatkan dlarar (bahaya atau merusak bagi manusia). Rasulullah SAW bersabda: ”Tidak (boleh) menimpakan bahaya pada diri sendiri dan kepada orang lain” (HR Ibnu Majah). Bahaya khamr, sebagaimana dijelaskan di depan, sangat jelas baik secara individual maupun komunal. Sebagaimana telah dijelaskan di muka, Narkoba dapat menimbulkan gangguan mental organik karena barang-barang itu memiliki efek langsung terhadap susunan saraf (otak). Hal ini dapat dilihat pada perubahan-perubahan neurofisiologik dan psiko-fisiologik pada si pemakai dalam keadaan keracunan ( overdosis/itoksidasi) atau dalam keadaan ketagihan (putus zat / withdrawal) dalam kenyataannya terbukti menimbulkan bahaya. Selain dampak pada si pemakai, penyalahgunaan Narkoba juga bisa berbahaya bagi orang lain. Hawari, (1996) menyebutkan bahwa narkoba juga bisa mengakibatkan kecelakaan lalu lintas (58,7%).

Di samping itu, narkoba umumnya digunakan untuk mendukung berbagai kemaksiatan penggunanya, seperti berdansa secara bercampur baur di berbagai diskotik, kafe, bar, pub, melakukan aktivitas aktivitas seksual secara bebas dan kemaksiatan lainnya. Ini terbukti dengan berbagai operasi yang selama digelar oleh polisi. Di tempat-tempat itulah biasanya polisi menemukan obat-obatan berbahaya tersebut. Ini berarti, memakai narkoba bukan hanya haram, tetapi juga mendorong orang untuk melakukan perbuatan haram dan juga bisa melalaikan berbagai kewajiban. Tidak terbayangkan, orang yang terbuai dalam ‘mimpi indah’ atau fly oleh narkoba masih ingat Allah, bisa dan mau sholat, puasa, dakwah dsb. Jelaslah, hukum penggunaan narkoba itu haram.

Memproduksi narkoba juga haram. Dalam syari’at Islam, hukum memproduksi suatu barang mengikuti hukum barang itu sendiri. Apabila suatu benda itu diharamkan, maka memproduksinya juga haram. Kesimpulan ini didapat dari hadits Nabi SAW dari Anas ra. bahwa:”Sesungguhnya Rasulullah SAW melaknat dalam khamr sepuluh personel, yaitu: pemerasnya (untuk keperluan umum), pembuatnya (untuk kalangan sendiri), peminum-nya, pembawanya, pengirimnya, penuangnya, penjualnya, pemakan uang hasilnya, pembayarnya, dan pemesannya” (HR Ibnu Majah dan Tirmidzy).
Dari hadits tersebut, memeras (memproduksi) khamar termasuk perbuatan yang diharamkan. Hukum haram disimpulkan karena ada celaan yang bersifat jazim dengan kata la’ana (melaknat).

Atas dasar itu, memproduksi narkoba — selain beberapa jenis narkotika yang memang sengaja dibuat untuk pengobatan dan keperluan kedokteran seperti, morfin yang digunakan untuk anti nyeri, biasanya diberikan pada pasien pasca bedah trauma karena patah tulang — adalah haram.
Sedangkan hukum memperjualbelikannya juga haram. Kesimpulan ini didapatkan dari hadits yang diriwayatkan dari Jabir ra. bahwa Rasulullah bersabda:
Ø¥“Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli khamr, bangkai, babi, dan patung. Lalu ditanyakan kepada Rasulullah,”Wahai Rasulullah, bagaimana menurut engkau bangkai yang digunakan untuk mengecat perahu, menghaluskan kulit, dan sebagai penerangan?” Rasulullah menjawab,”Tidak boleh. Itu tetap haram” kemudian Rasulullah SAW melanjutkan”Allah mengutuk orang Yahudi. Sesungguhnya Allah telah mengharamkan lemak pada mereka. Mereka memperbaikinya, lalu menjual dan memakan hasilnya” (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim).
Dalam hadits di atas secara jelas Rasulullah SAW mengharamkan jual beli khamr.

Berdasarkan kesimpulan tersebut, maka turut serta memasarkan, mendistribusikan, dan memperjualbelikan narkoba adalah haram. Lebih-lebih menjadi bagian dari sindikatnya, yang terus-menerus mencari mangsa.
Apabila narkoba diharamkan diperjualbelikan dan dimakan hasilnya, maka memberikannya sebagai hadiah –tanpa uang pengganti– juga diharamkan, baik diberikan kepada seorang muslim, yahudi, nasrani, atau lainnya.
AKAR MASALAH
Melihat bahaya narkoba dan peredarannya yang begitu meluas, kita harus mengkaji akar masalahnya dan mencari sebuah solusi yang benar-benar mampu menghadang narkoba dan memberantasnya.
Sebenarnya, pemerintah sudah menempuh beberapa cara untuk menghadang peredaran narkoba. Berbagai penyuluhan dilakukan. Kampanye anti-narkoba digalakkan. Operasi-operasi narkoba di tempat-tempat hiburan ditingkatkan. Tetapi, upaya itu hingga kini belum membuahkan hasil yang memuaskan. Narkoba masih terus bergentayangan mendapatkan mangsa-mangsa baru. Karena itu harus dicari penyebab yang menjadi akar masalahnya. Setidaknya ada tiga faktor penting, mengapa hingga kini narkoba masih tetap eksis dan menunjukkan gejala terus meningkat.

Tiga faktor tersebut adalah:
1.    Merebaknya Gaya Hidup Materialisme. Merebaknya narkoba di tengah-tengah kehidupan saat ini tidak bisa dilepaskan pengaruh globalisasi hidup materialistis yang dibawa oleh propaganda sistem Kapitalisme-Sekularisme. Terlebih setelah bermunculan berbagai media (baik TV, majalah, tabloig, atau koran), terus menerus mengekspose gaya hidup materialisme. Iklan-iklan dan sinetron glamour, tayangan lagu, berbagai cerita di balik kehidupan para artis yang ditayangkan televisi, memiliki andil cukup besar dalam mempengaruhi gaya hidup masyarakat Indonesia menuju pada kehidupan materialistis. Tanpa sadar, mereka beranggapan bahwa kebahagiaan dan harga diri seseorang diukur dengan materi apa dan berapa yang dimilikinya Bagi mereka yang memiliki cukup uang, mereka akan membelanjakan uangnya untuk sesuatu yang mereka anggap dapat membuat dirinya bahagia. Jika makanan, pakaian, rumah, mobil, dan kebutuhan lainnya tidak lagi menjadi masalah, mereka pun ingin terus merasakan benda-benda lainnya yang bisa membuatanya bahagia. Jika narkoba dianggap bisa memenuhi keinginannya, maka tak segan-segan akan mencicipi dan menikmati narkoba. Materialisme pula yang membuat para aparat penegak hukum –dari polisi, jaksa, sampai hakimnya– bisa disuap oleh para pengguna, pengedar, dan produsen narkoba. Sehingga, para pelaku kejahatan tersebut bisa tetap berkeliaran setelah ditahan beberapa hari di kantor polisi, atau melenggang setelah mendapatkan hukuman yang cukup ringan.

2.    Rendahnya Pengawasan Masyarakat. Salah satu ciri menonjol masyarakat sekuleris-kapitalis adalah longgarnya kebebasan individu. Dalam HAM (Hak Asasi Manusia), setiap individu memiliki kebebasan. Kebebasan itu hanya dibatasi oleh kebebasan orang lain. Bila tidak melanggar kebebasan orang lain, maka perbuatan itu tidak dianggap sebagai sebuah kejahatan. Sebuah perzinaan, misalnya, bisa digolongkan tindakan kriminal, manakala ada salah satu pihak merasa terpkasa (yang lazim disebut pemerkosaan). Tetapi, bila perbuatan itu didasarkan perasaan suka sama suka antara kedua belah pihak, maka itu tidak termasuk sebuah tindakan kriminal. Sehingga, keduanya tidak bisa diajukan ke pengadilan. Konsep seperti ini, tanpa disadari akan melahirkan pola kehidupan yang individualis, tidak peka terhadap lingkungan sekitar, dan cenderung permisif terhadap berbagai kemaksiatan. Masing-masing orang berpikir: Yang penting hal itu tidak menimpa saya! Dalam masyarakat seperti ini pecandu obat akan merajalela, walau negara melarangnya. Di samping keimanan kepada Allah SWT rendah bahkan tidak ada, masing-masing individu tidak mempedulikan nasib orang lain.

3.    Hukuman yang Ringan. Banyak yang menilai hukuman yang diberikan kepada para pemakai dan pengedar narkoba di Indonesia ini terlampau ringan. Itu pun yang dibawa ke pengadilan hanya para pemakainya atau pengedar kecil. Sedangkan Bede (bandar gede/besar) atau bahkan produsennya belum ada yang diseret ke pengadilan. Kalau dibawa ke pengadilan, tidak mendapatkan hukuman yang menjerakan. Kasus Roy Marten menjadi salah satu bukti. Penjara ternyata tidak membuat dia jera. Di penjara justeru bertemu dan berguru dengan pengedar dan bandar narkoba.

MEMBERANTAS NARKOBA
Setelah mengetahui akar persoalannya, maka dengan jelas terlihat bahwa merebaknya narkoba merupakan akibat yang lahir karena tatanan masyarakat tidak didasarkan pada Islam. Ideologi Kapitalime-Sekularisme, yang membuat masyarakat ini menjadi bobrok moralitasnya. Hanya Islam yang secara historis dan empiris terbukti bisa membasmi narkoba sampai ke akarnya. Dalam memberantas narkoba –dan dalam menerapkan seluruh hukumnya– Islam memperhatikan tiga, faktor, yaitu : faktor individu, faktor pengawasan masyarakat, dan faktor negara.

Karenanya, langkah yang dilakukan untuk memberantas narkoba adalah:
1.  Menumbuhkan Ketakwaan Anggota Masyarakat. Perbuatan manusia sangat ditentukan oleh prinsip-prinsip kehidupan yang diyakininya. Keyakinan tentang keberadaan Allah SWT, bahwa Allah SWT satu-satunya dzat yang menciptakan dunia dan isinya termasuk dirinya, bahwa Allah senantiasa menyaksikan setiap perbuatan yang dikerjakan manusia, bahwa Allah SWT telah menurunkan aturan-aturan kehidupan berupa dienul Islam, disertai pula keyakinan bahwa pada hari kiamat manusia seluruh amal perbuatannya dihisab. Seorang muslim yang akan memiliki keyakinan teguh terhadap aqidah Islam akan menghasilkan sebuah pola perilaku yang senantiasa menjadikan Islam sebagai standar dan parameter perbuatannya. Semakin kuat aqidahnya, semakin kokoh prinsip itu dipegangnya, maka semakin tangguh pula kepribadiannya. Jika seseorang sudah memiliki kepribadian Islamiy yang tangguh, maka ia tidak terpengaruh oleh lingkungannya, seburuk apa pun lingkungan tersebut. Bahkan, ia justru akan berupaya mengubah lingkungan buruk tersebut. Jika pandangan materialistis yang sekarang berkembang menjadikan materi sebagai ukuran kebahagiaan, seorang muslim yang bertaqwa memandang bahwa tercapainya kebahagian adalah ketika ia mengikuti hukum-hukum Allah SWT. Ketakwaan itu tidak hanya pada rakyat. Para penegak hukum juga harus memiliki ketakwaan. Jika tidak mereka akan mudah disuap dengan lembaran-lembaran uang.

2. Pengawasan Masyarakat. Masyarakat yang saling ma­sa bodoh ada­lah masyarakat yang mudah terjangkit wabah nar­koba. Salah satu ciri sebuah sistem yang sehat dalam kaitannya dengan narkoba (dan berbagai kriminalitas lainnya) adalah minimnya rangsangan untuk melakukan kejahatan. Acara-acara TV yang bisa mempengaruhi pola kehidupan menuju pola hidup materialistis, konsumeris, hedonis, sekularis, dan pola-pola yang membahayakan aqidah umat harus dilarang. Kita tidak boleh mendiamkan sebuah kemungkaran terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

3. Tindakan Tegas Negara. Negara harus melakukan tindakan riil untuk memberantas peredaran narkoba. Dalam kasus narkoba ini negara harus membongkar semua jaringan dan sindikat pengedar narkotika termasuk kemungkinan konspirasi internasional merusak para pemuda dan mengancam pengguna, pengedar dan bandar dengan hukuman yang sangat berat. Hakim-hakim harus bersikap tegas dalam menghukum siapa saja aktor di balik peredaran narkoba, jangan sekali-kali tergoda suap.
Abdurrahaman Al Maliki (nidzomul uquubat hal. 189) menyatakan bahwa setiap orang yang menggunakan narkoba, dikelompokkan sebagai perbuatan kriminal, dan sanksi yang diberikan negara bisa berupa jilid (cambuk) atau penjara hingga lima belas tahun, dan denda yang ukurannya diserahkan kepada qadli.
Masalah narkoba tidak mungkin dapat diatasi secara tuntas kecuali jika menggunakan metode pendekatan yang benar dalam memberantas barang jahanam itu. Mencermati apa yang terjadi di negara-negara Barat sehubungan masalah narkoba, me­nunjukkan bahwa mereka tak kunjung mampu mengatasi barang haram ini. Dan memang mustahil mereka bisa secara tuntas menanggulangi narkoba. Ideologi Demokrasi-Sekuler yang mereka anut itulah yang menyebabkan kemustahilannya. Dan apabila negeri muslim seperti Indonesia masih terus mem­bebek cara-cara hidup mereka, termasuk dalam mengatasi problem narkoba, sudah pasti ujungnya adalah kehancuran masyarakat, bangsa dan negara. Jika demikian, kenapa tidak kembali kepada Islam?

Penulis : Muhammadun (muhammadun1971@yahoo.com / HP 08127621671)

Sumber : Riau Today 


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.






Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel sebelumnya :
   » » Awak Kopaja P16 Protes Penambahan Armada

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel selanjutnya :
   » » Sumut Rebut Tiga Emas Kejurnas Tinju