Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Kamis
8
Nov '07

Pencemaran Kali Surabaya, Sumber Pencemaran Diduga Dari Mojokerto


Ada temuan baru soal peristiwa kematian ikan di Kali Surabaya antara 28-31 November 2007 lalu. Selain disebabkan turunnya kandungan Oksigen terlarut dalam air hingga mencapai kondisi septik (kandungan Oksigen pada titik nol/tanpa ada oksigen di air), kondisi itu dipicu tingginya kadar polutan dalam air Kali Surabaya karena buangan limbah sebuah pabrik gula di Mojokerto.

Menurut penelitian yang dilakukan Ecoton, kebocoran bak penampung molase pada tanggal 28 Oktober 2007 di pabrik tersebut patut diduga menimbulkan tingginya kadar polutan yang ada di Kali Marmoyo yang selanjutnya mengalir ke Kali Surabaya. Luberan tetes ini dirasakan oleh warga yang tinggal di sepanjang aliran Kali Marmoyo di Desa Jeruk Seger, Desa Ngabar, Desa Pelabuhan hingga Jetis.

”Dari observasi, kami menemukan adanya empat lubang effluen limbah, satu buangan resmi dan tiga yang berpotensi sebagai saluran bypass limbah. Untuk tiga buangan yang berpotensi sebagai saluran by pass limbah terlihat hitam, sesaat terlihat kekuningan seperti yang dilihat warga di Jeruk Seger serta bersuhu tinggi,” terangnya Prigi Arisandi, Direktur Eksekutif Ecoton, Rabu (7/11).

Selain itu, Ecoton juga menemukan ada retakan pada salah satu tangki yang hanya disumbat dengan tanah, sehingga dapat dipastikan rembesan tetes tebu (molase) masih bisa keluar masuk pada saluran drainase dan mencemari lingkungan sekitar.
”Dengan temuan itu, kami meminta gubernur Jawa Timur melakukan pengendalian dengan membentuk tim investigasi atas kelalaian yang dilakukan pabrik gula itu. Polda Jatim juga harus segera bertindak,” tuturnya.

Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Surabaya Ir Togar Silaban mengatakan, di samping memberi pengawasan ketat terhadap hasil limbah industri, di Surabaya idealnya juga memiliki tempat pengolahan limbah domestik terpadu. Sebab, limbah domestik memberi kontribusi cukup besar pencemaran air Sungai Surabaya.

“Terus terang, hingga kini BPLH tidak memiliki stasiun pemantau pencemaran air Sungai Surabaya. Namun, secara periodik BPLH tetap melakukan pengujian sampel air Sungai Surabaya yang diambil dari sekitar 10 titik,” katanya.

Sumber : (tof/dos) Surya Online, Surabaya


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.