Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Sabtu
3
Nov '07

Pembangunan Kompleks Pertokoan Diduga Hasil Pencucian Uang


Tempat Ditemukan Pabrik Sabu

Seluruh harta kekayaan PT Hop Seng Development di Batam terancam disita oleh Mabes Polri, jika para tersangka warga negara Taiwan yang duduk dalam usaha perseroan, tidak bisa membuktikan dana yang dipakai membangun kompleks pertokoan dan kawasan industri bukan hasil pencucian uang (money laundering).

Selain mengusut tuntas kasus pendirian pabrik sabu-sabu yang berhasil ditemukan sudah tujuh lokasi, Mabes Polri juga memeriksa tiga tersangka warga negara Taiwan dengan tuduhan membangun kompleks pertokoan dan kawasan industri di Batam, menggunakan uang hasil kejahatan atas perdagangan barang haram/ narkotika.

Tim Direktorat II Bareskrim melakukan pemeriksaan mulai Jumat (2/11) di Batam di sebuah tempat. Tapi, Direktur IV Tindak Pidana Narkoba dan Kejahatan Terorganisir Bareskrim Mabes Polri Brigjen Indradi Thanos, memastikan pemeriksaan kepada wartawan, Rabu lalu, ketika jumpa pers di Mapolda Kepri.
Mereka yang diperiksa Tsai-Tsai Cheng (58), Wang Chin I (54) dan Lai Yauw Chin. Sedangkan Hwang Wen Shang, Direktur Utama PT Hop Seng Development, masih buron dengan Wei Nan Cheng dan Benny Chandra alias Jhony.

Brigjen Thanos mengakui, sebenarnya yang menjadi kunci membuka kasus pencucian uang adalah Hwang Wen Shang selaku bos PT Hop Seng. Tapi, suami notaris Maria Hilaria Salim, SH tersebut buron, kemungkinan di Singapura atau Taiwan dan sedang diburu Interpol.
Kendati demikian, sebelum menghadapi pemeriksaan Tsai-Tsai Cheng menolak tuduhan praktik pencucian uang. Lewat pengacaranya, Hamonangan Sinurat, SH, dia menyatakan siap menunjukkan bukti-bukti investasi PT Hop Seng Development di Batam tidak menggunakan uang hasil kejahatan
Menurut Hamonangan, untuk menghadapi proses hukum atas kasus sabu-sabu dengan tuduhan pencucian uang, tersangka Tsai-Tsai Cheng bersama Wang Chin I dan Lay Yauw Chin didampingi 40 advokad dari Jakarta dan Batam. Mereka bergabung membela hak-hak hukum para tersangka di hadapan penyidik sampai ke pengadilan.

Dilepas dari Tahanan
Sementara itu, empat warga negara Indonesia yang sempat ditahan oleh Mabes Polri selama delapan hari, yang diduga terlibat dalam kasus pabrik sabu-sabu, sejak Senin (29/10) lalu dibebaskan.
Keempat warga Batam yang semula diduga terlibat dalam kasus pabrik sabu-sabu, terdiri dari Jaelani Usman (28), Darwin Silaban (25), Sayed Abubakar (54), dan A Peng (48).

A Peng, pengusaha kedai kopi di kompleks pertokoan Newton kawasan Nagoya, kepada sejumlah wartawan, Kamis (1/11), menyatakan dirinya telah dibebaskan polisi, Senin.
Menurutnya, Sabtu (20/10) lalu, tiba-tiba saja beberapa polisi berpakaian preman menangkapnya dari kedia kopinya di Blok S kompleks Newton, lalu membawanya ke suatu tempat dalam keadaan mata ditutup dengan tangan diborgol. Kemudian ia dibawa ke Jakarta dan diperiksa serta ditahan selama delapan hari di Mabes Polri.

“Tapi karena benar tidak terlibat sama sekali dan tidak tahu-menahu soal pabrik sabu-sabu itu, akhirnya polisi membebaskan saya, Senin siang, bersama Jaelani, Abubakar, dan Darwin,” tutur A Peng.
Pelepasan keempat WNI dibenarkan Direktur IV Tindak Pidana Narkoba Mabes Polri Brigjen Indradi Thanos pada wartawan, ketika konferensi pers di Mapolda Kepri-Batam Center, Rabu (31/10). “Kami tidak bisa memaksakan penahanan bagi mereka karena tidak cukup bukti,” ujarnya kepada wartawan.
Sedangkan tiga tersangka warga negara Taiwan, Wang Chin I, Tsai-Tsai Cheng, Lay Yauw Chin masih ditahan untuk menjalani proses hukum.

Sumber :( Parlyn Manungkalit) Sinar Harapan, Batam


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.