Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Jumat
2
Nov '07

Industri telematika terganjal tujuh masalah


Industri telematika nasional menghadapi tujuh masalah yang menghambat perkembangan bisnis, sehingga dibutuhkan penyelesaian yang komprehensif oleh pemerintah, pelaku usaha, dan akademisi.

Dirjen Industri Alat Transportasi dan Telematika Departemen Perindustrian Budi Darmadi mengingatkan industri telematika berpotensi tumbuh dan berkembang dengan cepat. Pasalnya, sektor ini merupakan bagian dari industri prioritas yang harus dikembangkan di masa depan.

“Dalam kurun waktu lima tahun belakangan, industri telematika tumbuh dengan laju yang sangat cepat terutama di kawasan Asia Pasifik yakni 9,3%. Di Indonesia, pertumbuhan industri ini mencapai 12% pada 2006,” kata Budi di sela-sela Pembukaan Forum Koordinasi Pengembangan Industri Kreatif Telematika, Rabu.

Namun, hasil penelitian yang dilakukan Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi menunjukkan ada tujuh permasalahan yang berpotensi menghambat laju pertumbuhan tersebut.

Ketujuh masalah itu adalah keterbatasan akses informasi, belum adanya penataan industri yang sistematis, sulit dan mahalnya perizinan investasi, keterbatasan akses modal dan perolehan hak cipta, akses pendidikan untuk meningkatkan kualitas SDM, dan rantai bisnis yang belum berkelanjutan.

“Atas berbagai masalah ini, laju pertumbuhan sektor telematika nasional tak sekencang negara-negara lain di kawasan Asean. Pada tahun lalu, sektor ini baru mampu menghasilkan omzet nasional US$2,8 miliar atau 4,4% dari total pasar Asia sebesar US$45 miliar,” tulis laporan itu.

Dari total omzet tersebut, sekitar US$2 miliar dikuasai pasar hardware (perangkat keras), sementara US$800 juta pasar software (perangkat lunak).

Sekitar 50% dari total omzet software nasional dikuasai oleh sektor kreatif telematika. Namun, total omzet industri telematika itu masih lebih kecil dibandingkan dengan Malaysia yang pada tahun lalu menguasai US$4 miliar.

Harus terpadu

Ketua Komite Tetap Informatika Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Agoes Silaban mengatakan untuk mengatasi ketujuh masalah tersebut para pihak yang berperan a.l. dunia usaha/asosiasi, pemerintah, dan akademisi harus berjalan sinergi dalam menuntaskan berbagai kendala.

“Agar berjalan baik, pihak perbankan harus membuka akses modal terhadap industri ini, sementara pengusaha lebih mengintensifkan akses pasar internasional untuk mendapatkan order dan bertukar pengalaman,” katanya.

Menurut Agoes, departemen terkait perlu membuat kebijakan yang sinkron misalnya memasukkan wacana industri kreatif telematika dalam kurikulum nasional, peningkatan kualitas SDM oleh Depnakertrans, dan kebijakan teknologi oleh Ristek.

Sementara itu, Depkominfo bertanggung jawab untuk infrastruktur, regulasi/UU a.l. Palapa Ring, UU ITE/cyber law, dan DepkumHam untuk menuntaskan masalah hak cipta.

Oleh : (Yusuf Waluyo Jati) (yusuf.waluyo [-at-] bisnis.co.id) Bisnis Indonesia


Baru ada 1 tanggapan untuk artikel “Industri telematika terganjal tujuh masalah”

  1. Tanggapan togar silaban:

    Kapan bung Agoes Silaban ini bergabung di milis Silaban ya. Ditunggu di Milis kita.

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.