Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Selasa
30
Okt '07

Empat Tersangka Sabu Bebas


Tak Terbukti Terlibat Pabrik Sabu Batam

SETELAH ditahan selama delapan hari, tepatnya sejak Sabtu (20/10) lalu, empat orang tersangka yang diduga terlibat kasus pabrik sabu-sabu di Batam, akhirnya dibebaskan Mabes Polri. Keempat tersangka yang merupakan warga negara Indonesia yang dibebaskan itu adalah Jaelani Usman, Darwin Silaban, Syaed Abu Bakar, dan Apeng.

Mereka dibebaskan Senin (29/10) sekitar pukul 11.00 WIB. Sedangkan dua tersangka yang kini masih ditahan Mabes Polri adalah Wang Chin I dan Tsai Tsai Chen, keduanya warga negara Taiwan.

Dari hasil penelusuran dan informasi yang diperoleh Batam Pos, keempat WNI yang dibebaskan tersebut, untuk sementara dinilai tidak memiliki keterlibatan dalam kasus pabrik sabu-sabu tersebut. Polisi tidak memiliki cukup bukti untuk menahan keempat orang tersebut. Mereka hanya pembantu di tempat tersebut. Namun, keempat orang itu masih dimintai untuk wajib lapor ke polisi setelah dibebaskan.

Kemarin, wartawan koran ini sempat melihat Jailani di Batam Centre. Ia mengendarai sepeda motor, memakai jaket warma hitam dan bercelana hitam. Warga di sekitar Komplek Hup Seng juga mengakui bahwa mereka melihat Jailani sudah menghirup udara bebas. Jailani merupakan Satpam yang sudah bekerja di kawasan Hup Seng selama 6 tahun. Dia juga tinggal di kawasan tersebut, sejak dimulainya pembangunan ruko. Istri Jailani yang kini hamil delapan bulan, senang suaminya dibebaskan polisi.

Selama ini, Jaelani Usman menempati ruko yang kosong di komplek tersebut. Jika ruko tersebut sudah ada pembelinya, maka Jaelani akan pindah mencari ruko yang kosong lainnya. Dia tak pernah tahu siapa penyewa ruko tersebut. Jaelani ditangkap polisi saat dia ingin menyapu di komplek ruko Hup Seng.

Tiba-tiba dia diamankan bersama dengan lima pembantu lainnya. Kemudian anggota Mabes Polri juga menangkap dua warga Taiwan yang berada di dalam ruko tersebut. Setelah mereka ditangkap, lalu dibawa ke samping Rumah Makan Suri Bundo supaya menunjukkan barang bukti lainnya.

Jailani ditangkap karena dia berkerja sebagai satpam di kawasan itu. Namun setelah diinterogasi selama 8 hari, Jailani ternyata tidak mengetahui bahwa tempatnya bekerja dijadikan pabrik-sabu-sabu. Dia pun akhirnya dibebaskan oleh tim penyelidik  Mabes Polri.

Dari penuturan warga setempat, pada malam atau siang hari, di komplek pertokoan Hup Seng, Blok C Nomor 7 memang tak terlihat ada aktivitas yang menonjol. Tak heran jika pegawai rumah Makan Suri Bundo juga tak tahu jika di sebelahnya ada pabrik sabu-sabu.

Dari informasi lain yang diperoleh, istri Jaelani yang dalam keadaan hamil, tak lagi tinggal di pertokoan Hup Seng. Mereka sudah pindah ke tempat saudaranya di Batam Centre. Kondisi perekonomian keluarga Jaelani tergolong pas-pasan. Karena hanya tergantung dari gaji Jaelani per bulannya 1 juta. Untuk menambah penghasilan, dia menjadi tukang sapu di kawasan tersebut. Bahkan dia juga merangkap tukang cuci mobil majikannya.

Rudi, saudara Jaelani mengaku, kakaknya akan pulang kampung di Aceh jika kredit motornya selesai. ’’Tahun depan mereka pulang kampung,” kata Rudi.

Istri Jaelani, Rahayu Winarsih sempat kebingungan untuk mencari biaya bersalin anak yang dikandungnya. ’’Selama ditangkap, Jaelani tak ada memberi kabar berita. Pihak keluarga diberitahu Sabtu kemarin melalui surat pos yang dialamatkan di Tanjungpiayu, bahwa Jaelani ditahan polisi karena diduga terlibat sabu-sabu,” jelas Rahayu kepada Batam Pos, kemarin.

Beberapa warga mengatakan, selama tiga bulan terakhir, yang juga waktu masa penelitian oleh Mabes Polri untuk membongkar sindikat narkoba internasional tersebut, berbagai gelagat aneh sering dilihat warga. Bahkan warga sempat melihat helikopter terbang rendah di atas pertokoan tersebut. Warga juga melihat pengambilan gambar dari heli saat berada di atas ruko.

Selain menggunakan heli, pengambilan dokumentasi pertokoan Hup Seng juga diambil dari apartemen di samping PT Adhya Tirta Batam. Warga juga pernah melihat, seseorang menggunakan handycam membidikkan lensanya di rumah Makan Suri Bundo. ’’Yang kita lihat itu, kemungkinan besar anggota polisi yang membongkar kasus ini,” kata salah satu warga.

Menurut informasi dari sumber tadi, masuknya barang kimia di dalam pertokoan tersebut, kemungkinan saat Lebaran. Karena saat itu, kebanyakan petugas keamanan dan pegawai di sekitar pertokoan libur. Sehingga membuat gerakan sindikat untuk memasukkan barang ke lokasi lebih leluasa. ”Karena sebelum Lebaran, memang tak terlihat aktivitas apapun,” katanya..

Penjagaan Pabrik Sabu Mulai Sepi
Sepekan lebih, polisi terus secara intensif meneliti keberadaan empat pabrik sabu-sabu di Batam yang berhasil diungkap tim Mabes Polri, Sabtu (20/10) dan Ahad (21/10) lalu. Jika sebelumnya, empat lokasi ini dijaga ketat, kemarin mulai terlihat sepi penjagaan.

Seperti yang terlihat di komplek pergudangan Taman Niaga Blok E No 3, Mukakuning. Pantauan Batam Pos kemarin, tak terlihat satupun polisi berjaga di sana. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, polisi berseragam dinas tampak berjaga-jaga di depan ruko tersebut. Pagi kemarin, gerbang dan pagar ruko ditutup rapat. Namun, garis polisi (police line) tetap terpasang.

Sepinya penjagaan ini diduga ada kaitannya dengan pemindahan barang bukti. Jumat (26/10) lalu, tim Laboratorium Forensik Mabes Polri mengecek di komplek pergudangan tersebut. Kasat I Dit Narkoba Polda Kepri Kompol Putut Wicaksono terlihat bersama aparat kepolisian dari Jakarta itu.

Tim Labfor memindahkan beberapa barang bukti (BB) ke mobil yang menunggu di depan pagar ruko berlantai dua ini. Apakah barang bukti akan dipindahkan? ”Belum. Kita cek dulu,” ujar seorang wanita yang mengenakan seragam Labfor saat dihampiri usai mengecek ruang ruko.

Sebelumnya, Kapolda Kepri Brigadir Jenderal (Brigjen) Sutarman membenarkan BB kasus ini akan dibawa ke Mabes Polri.

Sumber : (dea/why) Batam Pos, Batam


Ada 4 tanggapan untuk artikel “Empat Tersangka Sabu Bebas”

  1. Tanggapan gunawan:

    Puji Tuhan,
    Ternyata dongan tubu ini masih bersih sejauh ini, padahal kita sudah sempat berprasangka yang gak enak.

  2. Tanggapan Togar Silaban:

    Nampaknya polisi main pukul rata aja, siapa yang berada di sekitar TKP langsung ditangkap.
    Syukur ternyata dongan tubu kita si Darwin ini sudah bebas, tapi mudah-mudahan bebas betul. Kalau dia memang tidak terkait ya akan bebas, cuma kadang-kadang dibebaskan untuk dijadikan “umpan”. Nah jadi dia mesti hati-hatilah.
    Perkara narkoba ini tidak ada ampun. Hukumannya tidak bisa ditawar.

  3. Tanggapan Tommy:

    Baguslah sudah bebas kedan ini,mungkin ada anggota mills ini yang bisa ketemu dengan beliau,kalau ada tolong pasahat tabe sian au bah,,,terimakasih sebelumnya.

  4. Tanggapan Charly Silaban:

    Syukurlah..
    Jadi kepikir, gimana peran Polri dalam hal pemulihan nama baik “Darwin” ini ?
    Seperti kita tahu, karena peristiwa ini, beliau sudah masuk pemberitaan ke berbagai media hinga ke media luar negeri sbg tersangka TANPA ADA PRADUGA TAK BERSALAH !!

    Biasanya namanya terdakwa, sebelum benar2 diputuskan bersalah oleh pengadilan, maka di media hanya disebutkan inisialnya. Sementara dalam kasus saudara kita ini tidak…!

    Ini yang namanya PENCEMARAN NAMA BAIK bukan ?
    Apes benar nasib saudara kita ini.. :(
    Apa yang harus diperbuat kalau kita diposisi itu ?

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Mabes Polri dan Polisi Taiwan Buru Bos Pabrik Sabu di Batam
Artikel selanjutnya :
   » » Penyebaran HIV Harus Diwaspadai