Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Senin
29
Okt '07

Lagi, 1,16 Ton Bahan SS Disita


Dari Dua Lokasi Baru

Polisi kembali menemukan 29 karung atau sekitar 1.160 kilogram ephedrine, bahan kimia prekursor sebagai bahan utama pembuat sabu (crystal methamphetamine) di Kawasan Industri Taiwan, Kabil Batam, Sabtu (27/10). Barang bukti tersebut juga disita dari sebuah ruko di kompleks Ruko Hupseng Blok E Nomor 7. Demikian disampaikan Direktur IV Direktorat Narkoba, Badan Reserse Kriminal, Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia, Brigadir Jendral Indradi Thanos, Minggu (28/10).

“Berat setiap karung diperkirakan 40 kilogram. Harga setiap kilogram sekitar 5.000 dollar AS. Dengan demikian nilainya sekitar 200.000 dollar AS. Barang-barang tersebut masih diperiksa tim laboratorium forensik Polri dan DEA (Drug Enforcement Administration) AS. Hasil sementara, positif,” ucap Indradi.

Ke-29 karung ditemukan di gudang yang disewa tersangka Che Lee Macinary, warga negara Taiwan yang kini buron, di kompleks Taiwan Industrial Park Blok A nomor 4. Barang-barang dititipkan Lai Yau Hsin. “Malam ini ke-10 anggota saya masih menjaga gudang beserta barang-barang terlarang tersebut,” ujar Indradi.

Ia menjelaskan, untuk setiap kilogram produk sabu, dibutuhkan 0,6 kilogram ephedrine yang berbentuk bubuk. “Ketiga ahli dari DEA kini sedang menyelidiki darimana dan bagaimana barang-barang tersebut didistribusikan,” ujar Indradi.

Sementara keterangan dari salah seorang penjaga gudang di kawasan industri Taiwan, barang haram tersebut ditemukan dari salah satu ruangan di bagian tengah gudang yang tertutup tumpukan bahan kimia dalam kemasan karung. Bahan kimia yang ditemukan di gudang ini, antara lain, 29 karung epedrine yang juga ditemukan di lokasi pabrik sabu-sabu di kompleks Taman Niaga Sukajadi Batam.

Informasi yang dihimpun Sijori Mandiri di lapangan, dua perusahaan di kawasan Taiwan Industrial Park, Kabil yang diperiksa Mabes Polri dan Tim Badan Narkotika Amerika Serikat (Drug Enforcement Agency/DEA) tersebut adalah,
PT Royce Enterprise dan PT Shie Lee Machinery.co. Diduga, Huang, salah seorang tersangka yang  kini masuk DPO aparat kepolisian mempunyai kaitan dengan para pemilik dan pengelola kedua perusahaan tersebut.

“Iya pak. Kemarin ada polisi dan beberapa orang bule yang datang ke perusahaan ini. Tetapi kami tidak tahu maksud kedatangan mereka. Pak Acai selaku Manager di perushaan ini yang langsung menerima mereka,” ujar salah seorang pengamanan PT Royce Enterprise yang bernama Erwin kepada wartawan, kemarin.

Dia mengatakan, manajemen PT Royce Enterprise yang berada di bawah manajemen A-Cai memproduksi bahan untuk membuat rak meja dan perabotan lainnya yang terbuat dari triplek. Berbeda dengan perusahaan yang di bawah manajemen salah seorang tersangka A-Lai yang memproduksi plastik.

“Perusahaan A-Lai dengan Royce hanya berada satu atap. Sementara manajemen kedua perusahaan ini berbeda. Selain itu produksinyapun beda,” ujar Erwin yang mengatakan di perusahaan ini tidak ada zat kimia yang dipergunakan sebagai bahan untuk memproduksi produk selain tiner saja.

Sementara itu, Kepala Unit IV Ditektorat IV Bagian Narkotika Mabes Polri Komisaris Besar Nikson Manalu yang dijumpai wartawan di PT Royce Enterprice enggan memberikan komentar. Dan ketika ditanyakan proses penyelidikan di dua perusahaan Taiwan tersebut, Nikson berkilah.

“Saya hanya datang untuk melihat satpam di sini saja. Saya tidak tahu lagi yang lainya,” ujar Nikson yang memagang kasus penemuan pabrik sabu di Batam tersebut sambil meninggalkan wartawan dengan menggunakan mobil BP 1 TP milik Kasat I Dit Reserse Narkoba Polda Kepri Komisaris Polisi Putut Wicaksono.

Seperti diberitakan sebelumnya, Senin (22/10) lalu polisi menggerebek lokasi pabrik sabu yang tersebar diempat lokasi di Batam, dan satu lokasi di Pluit, Jakarta Utara. Polisimenemukan dan menyita bahan dasar sabu, methampethamine, sebanyak 568 liter senilai sekitar Rp 454 miliar, serta 4,5 ton bahan dasar sabu yang berbentuk padat.

Polisi menangkap enam tersangka, dua warga Taiwan, Wang Chin I (52), dan Tsai Tsai Cheng (53), serta empat warga negara Indonesia, yaitu Jaelani Usman (32), Darwin Silaban (25), Syaed AbuBakar (54), dan Apeng (42).

Meski polisi telah menangkap enam orang tersangka,  namun polisi memastikan saat ini masih ada satu orang lagi yang terlibat dalam sindikat peredaran narkoba internasional tersebut. Pria yang diincar tersebut adalah Huang, pemilik ruko yang terletak di ruko Hup Seng Blok C No 08 Batam Centre. Sebelum membeli ruko di Batam Centre, Huang diketahui sering bolak balik ke Batam, untuk mencari atau mensurvei lokasi di Batam.

Huang yang sudah masuk DPO, memiliki andil besar dalam proses pembuatan sabu-sabu beromset miliran rupiah tersebut. Untuk mengejar pelaku, Mabes Polri telah menggandeng aparat kepolisian Taiwan.

Sementara, Kepala Divisi Humas Markas Besar Polri Inspektur Jenderal Sisno Adiwinoto, bahan-bahan dasar sabu tersebut diselundupkan melalui kapal nelayan asal Taiwan yang beroperasi di perairan Indonesia. “Kapal tradisional asing biasanya tidak izin memasuki perairan Indonesia,” tutur Sisno.

Ia mengatakan, sindikat berskala produksi besar cenderung memecah proses produksi di beberapa lokasi agar tersamar sehingga sulit dilacak. Empat lokasi di Batam misalnya, digunakan sebagai tempat proses awal pengolahan sabu cair hingga pemasakan, pengeringan, sampai menjadi kristal sabu. Rumah kontrakan di Pluit digunakan sebagai tempat pengolahan akhir sekaligus persinggahan sebelum didistribusikan di Indonesia.

Pada bagian lain Indradi mendesak agar Indonesia segera membuat undang-undang tersendiri tentang precusor yang mengatur sanksi pidana. “Negara-negara yang serius memberantas Narkoba, umumnya telah memiliki undang-undang ini,” tegasnya.

Konsul Jepang Khawatir
Pengungkapan empat pabrik sabu-sabu di Batam yang melibatkan jaringan internasional dengan omset mencapai ratusan miliar rupiah turut mengundang perhatian  pihak Konsulat Jepang di Medan.

Merasa tergelitik dengan pemberitaan keterlibatan warga negara asing dalam kasus tersebut, Konsul Mr Kyos Jumad, Sabtu (27/10) terbang langsung dari Medan ke Batam  untuk menemui jajaran aparat keamanan dan pejabat pemerintahan di antaranya Kepala Kantor Imigrasi Batam,

Menurut  Kepala Kantor Imigrasi Batam Harry Purwanto , Mr Kyos langsung datang ke ruang kerjanya dan menanyakan apakah ada keterlibatan warga negaranya dalam kasus tersebut.

Selain itu ia juga menannyakan mengenai sepak terjang warga Jepang yang ada di Batam, apakah terlibat dalam kasus-kasus kejahatan lainnya. Mr Kyos sangat khawatir jangan-jangan ada warga Jepang di Batam terlibat dalam berbagai kejahatan termasuk kejahatan transnasional.

“Beliau khawatir  kalau ada warga negaranya juga terlibat dalam kasus ini dan kejahatan lain sehingga langsung datang sendiri dan menanyakan sendiri supaya dapat jawaban pasti,” tutur Harry.

Menjawab  Mr Kyos, Harry memastikan warga negara Jepang tidak terlibat dalam kasus pabrik sabu-sabu dan sejauh ini belum menemukan ada warga Jepang masuk secara ilegal ke Batam melakukan tindak kejahatan.

Harry berjanji pihaknya melakukan koordinasi dengan pihak konsulat apabila memukan ada warga negara Jepang masuk ke Batam secara ilegal dan melakukan tindak kejahatan. Setelah mendapat kepastian bahwa warga Jepang tidak terlibat Mr Kyos baru nampak lega.

Sumber : (sm/ed/nn/mt/kcm) Sijori Mandiri, Batam


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Govt asked to ease pain of oil prices
Artikel selanjutnya :
   » » Aset Livatech Tak Bisa Dilelang