Rumah berlantai dua yang terlihat suram itu dikontrak oleh A Peng dengan tarif per tahun Rp 65 juta. Tetapi A Peng malah jarang terlihat, bahkan teras rumah tampak kusam dan banyak sampah, meski selalu terparkir mobil Hyundai hijau B 1703 CC yang “tak pernah dipakai”.
Siapa sangka, ternyata rumah di Karang Sari, Muara Karang, Blok P7 Selatan No. 18, Jakarta Utara itu dijadikan tempat finishing pembuatan narkoba dari Batam. A Peng sendiri sudah ditangkap di Batam.
Lokasi yang digerebek polisi di Batam ada empat, yakni di kawasan pertokoan dan perumahan elite di Batam Center, serta dua lagi di kawasan industri ternama di Mukakuning dan Batam Center. Sama seperti yang di Jakarta, aktivitas penghuni rumah di Batam juga tak terpantau oleh warga sekitarnya.
Lembang, pelayan Rumah Makan Bundo Kanduang di kompleks pertokoan Hop Seng di Batam Center, menuturkan kepada SH, Selasa (23/10) petang, ia jarang melihat para pelaku di rumah toko (ruko) No. 5 dan 6 itu. Masri, pelayan Rumah Makan Suri Bundo milik Nyat Kadir (mantan Wali Kota Batam), mengaku hanya sekali melihat seorang pria berada di belakang ruko.
Waktu itu, tiga hari menjelang masa puasa, ruang dalam ruko sedang diperbaiki sejumlah tukang. Masri sempat menanyakan rencana dua ruko tersebut akan dibuat apa, tapi oleh seorang lelaki keturunan Tionghoa dijawab akan dibuat bar. “Ternyata buka pabrik sabu”, kata Masri sambil tertawa.
Di lantai dasar ruko No. 5 dan 6 itu masih ada dua mobil, Mercy warna silver dengan Kijang biru dongker milik para tersangka.
Kini Masri, Lembang, dan masyarakat sekitar bertanya-tanya, mengapa para pelaku berani membuka pabrik sabu di lokasi dekat jalan besar dan hanya berjarak sekitar 150 meter dari Markas Kepolisian Daerah Kepulauan Riau (Polda Kepri).
Yang pasti, selama ini para penghuninya menutup diri. Seperti yang dituturkan Yan Parta, Ketua RT 11/RW 08 Karang Sari, Muarakarang, Jakarta Utara. “Jangankan terlihat, untuk melaporkan ke RT dan RW saja mereka tidak mau datang, padahal saya sudah berulang kali memanggil melalui surat karena setiap saya datang ke rumah ini yang ngontrak tidak pernah ada.”
Hans yang rumahnya terletak di ujung Jalan Blok P7 juga tidak menyangka kalau rumah yang selalu gelap dan kotor itu adalah sarang narkoba terbesar selama tahun 2007 ini. “Rumah ini setiap harinya selalu sepi dan banyak sampah di mana-mana. Dan lagi, sejak rumah ini dikontrak, mobil Hyundai itu sudah ada dan tidak pernah digunakan,” jelasnya.
Kini rumah yang bercat putih dan bergorden kuning itu, menjadi perbincangan warga di seluruh Karang Sari Muara Karang. Di rumah itu, polisi Narkoba Mabes Polri menyita sedikitnya 19 kg sabu cair dan 23 kg sabu yang sudah jadi. Barang haram tersebut, menurut Kapolri Jenderal Sutanto, adalah sabu yang paling bagus setelah penemuan pabrik ekstasi di Cikande, Tangerang, tiga tahun lalu.
Olah TKP
Di Batam, hingga Rabu ini, tim Mabes Polri masih terus melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di empat lokasi pabrik sabu, setelah digerebek Sabtu (20/10) malam. Pengamatan SH di lokasi, Selasa (23/10) sore, ada delapan anggota kepolisian yang berada di dalam ruko No 5 dan 6 kompleks Hop Seng, Batam Center. Di antaranya ada yang memakai rompi hitam bertuliskan “Puslabfor”, ada pula yang bercelana pendek.
Enam tersangka yang kini telah ditahan di Mabes Polri adalah warga negara Taiwan bernama Wang Chin-I (52) dan Tsai-Tsai Cheng (53). Empat lagi tersangka lainnya adalah WNI bernama Darwin Silaban (25), Jelani Usman (28), Syed Abubakar (54), serta A Peng.
Kapolri Jenderal Sutanto mengungkapkan WN Taiwan itu sengaja didatangkan pelaku untuk mengolah bahan sabu di pabrik besar Batam, untuk menghasilkan produk berkualitas tinggi.
Berdasarkan imformasi yang diterima Mabes Polri bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) dari DEA Hong Kong dan MJIB Taiwan, tiga bulan lalu sebagian sabu hasil produksi Batam sudah sempat dipasarkan ke China dan Jakarta.
Sukses menggerebek empat lokasi pabrik di Batam, tim Mabes Polri kemudian bergerak ke Jakarta di Muara Karang itu, pada Senin (22/10). Dengan berbagai informasi berharga dari DEA Hongkong, MJIB Taiwan maupun Police Singapore, Mabes Polri terus mengembangkan penyelidikan terhadap jaringan internasional narkoba di Indonesia.
Kapolri mengatakan bahan baku sabu 568 kg yang disita dari empat lokasi pabrik di Batam, dipasok oleh sindikat dari China menggunakan kapal laut. “Sebagian campuran bahan kimia dibeli di Batam,” ungkap Sutanto saat meninjau lokasi.
Ia memperkirakan nilai bahan sabu itu mencapai Rp 454 miliar, jika harga jualnya Rp 900.000 per gram.
Namun, penggerebekan ke empat pabrik sabu tersebut tidak mengikutkan jajaran Polda Kepri. Maka banyak kalangan menilai Polda Kepri telah kecolongan, tetapi hal itu ditepis oleh Kapolda Kepri Brigjen Sutarman, saat ditanya wartawan dalam konferensi pers di Bandara Hangnadim, Batam.
Sumber : (Maya Handini/Parlyn Manungkalit) Sinar Harapan, Batam
[SB] Tags : Batam, Darwin Silaban, Sinar HarapanArtikel sebelumnya :
» » Pabrik Sabu di Batam - Bahan Utama Pembuat Sabu Diimpor dari Taiwan
Artikel selanjutnya :
» » ISPU [Indikator Standar Pencemaran Udara] Sering Rusak


Silahkan memberikan tanggapan !