Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Senin
15
Okt '07

Sisi Gelap Gerilya Padri


NEGERI ini punya banyak pahlawan nasional. Keba­nyakan pahlawan lahir dari kancah perang geril­ya, termasuk yang dikobarkan gerakan Padri di Minangkabau, Sumatera Barat.

Sudah tertanam sejak sekolah dasar, gerakan Padri adalah gerakan antikolonial. Dua tokohnya, Imam Bonjol dan Tuanku Tambusai, adalah pahlawan nasional.

Era informasi ini membuat banyak peristiwa terpendam muncul ke permukaan. Satu dampak yang tak perlu dirisaukan, kalangan terdidik ramai menafsirkan kembali kriteria pahlawan. Di Bali, beberapa sejarawan melihat Puputan, yang dipimpin I Gusti Ngurah Made Agung, bukanlah perang rakyat Bali, melainkan hanya keluarga Puri Badung. Di Makassar, ada sejarawan yang melihat bukan Hasanuddin, melainkan Arung Palaka, yang membuat Sulawesi Selatan tak bisa sepenuhnya ditundukkan VOC.

Orang juga mempersoalkan Imam Bonjol. Sebuah petisi online yang dipublikasikan luas di Internet meminta pemerintah mencabut gelar pahlawan yang diberikan pada 1973.

Alasan yang dikemukakan mengagetkan, sekaligus ironis. Imam Bonjol bertanggung jawab atas pembantaian lokal. Gerakan Padri diketahui sebagai gerakan anti-Belanda, tapi tujuan utamanya memurnikan syariat Islam. Kelompok Padri berpaham Wahabi itu ingin Islam di Sumatera Barat bersih dari unsur kultural. Sayangnya, pemurnian memakan korban besar. Keluarga Istana Pagaruyung dijagal, di Tanah Batak terjadi pembunuhan massal. Dalam tragedi itu disebutkan banyak perempuan dirampas, diperjualbelikan.

Tuanku Imam Bonjol dan Tambusai dianggap mengetahui segala kekerasan itu tapi tidak mencegahnya. Mereka yang berusaha memahami kedua tokoh itu beranggapan adab lokal yang melegalkan perbudakan membuat kedua­nya memaklumi penjualan gadis. Penyerbuan ke Pagaruyung dan Tanah Batak, di mata yang pro, seakan dibenar­kan sebab dua daerah itu memihak kolonial. Pendapat yang antikekerasan belum pernah terdengar.

Bahkan belum ada risalah yang seimbang tentang kontroversi Padri. Polemik baru muncul pada 1964. Mangara­dja Onggang Parlindungan menerbitkan buku Tuanku Rao. Parlindungan adalah pejuang dan ikut mendirikan PT Pindad Bandung. Ia bukan sejarawan profesional. Meski isi bukunya menantang, secara metodologis ia memang amatir.

Pada Juni 1969, Parlindungan dan ulama terkenal Hamka bertemu dalam diskusi di Padang. Parlindungan tidak bisa menjawab banyak kritik Hamka. Buku Parlindung­an ditarik, tapi Hamka tidak berhenti. Pada 1974, pemuka agama itu mengeluarkan buku Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao.

Polemik Padri tidak lantas mati. Penyebab terpenting, Hamka tidak membahas pokok soal: pembantaian Pagaruyung dan Batak. Buku Hamka kritis, tapi ia menghindar menulis tragedi berdarah tadi. Dan kini Tuanku Rao diterbitkan kembali. Bahkan sebuah buku baru kekejaman Tuanku Tambusai, karangan seorang ahli sejarah Mandailing, juga muncul.

Tak perlu cemas menyikapi pengungkapan fakta baru sejarah ini. Sangat tak beralasan menyulut konflik Minang dan Batak karena ada yang mendedahkan tarikh baru. Polemik Parlindungan dan Hamka sebenarnya contoh baik. Debat tidak melahirkan permusuhan etnis atau pembakaran buku histori. Keduanya bersahabat, Parlindungan selalu menjemput Hamka untuk salat Jumat bersama.

Nama Imam Bonjol biarlah tetap menghiasi buku sejarah, juga menjadi nama jalan di berbagai kota. Hanya perlu informasi tambahan tentang kekerasan Padri, tanpa bumbu sensasi, dalam rumusan yang disepakati bersama. Data baru itu penting untuk menambah kedalaman buku sejarah kita.

Sumber : Tempo Interaktif


Ada 7 tanggapan untuk artikel “Sisi Gelap Gerilya Padri”

  1. Tanggapan Maridup Hutauruk:

    Mangara­dja Onggang Parlindungan dalam buku Tuanku Rao memang mengakui bahwa dirinya sendiri memang bukanlah seorang penulis sejarah (amatir) namun sisi pengungkapan sejarah Batak & Minang harus diakui sebagai fakta sejarah yang selama puluhan tahun tertanam satu sisi catatan sejarah Batak & Minang yang salah. Secara nasional benak Bangsa Minang dan Bangsa Batak sudah dicekoki sisi sejarah yang salah pula sehingga porsi besar Perang Paderi sebagai perang saudara yang mengatasnamakan anutan agama diputar balik menjadi perang melawan penjajahan Belanda walaupun porsinya sangat kecil. Bahkan penyematan kehormatan sebagai Pahlawan Nasional memberi kesan bahwa negara menghalalkan keberingasan perang yang bukan antara kawan X lawan, melainkan antara kawan X kawan menjadi simbol-simbol yang dihargai setinggi-tingginya.

    Pembinasaan Kerajaan Pagaruyung dan pengikut-pengikutnya sampai punah yang dimotori oleh pemimpin-pemimpin orang Minang sendiri dan termasuk orang Batak, dan kemudian pembantaian Bangsa Batak oleh pemimpin-pemimpin orang Batak sendiri yang mengakibatkan punahnya 3/4 bangsa Batak adalah sejarah yang hampir tak ada terlintas di benak generasi selanjutnya ke dua Bangsa Minang & Bangsa Batak bahwa Perang Paderi adalah Perang Saudara yang diakui oleh Pemerintah sebagai PERANG MELAWAN PENJAJAH OLEH PADERI. Ironisnya Bangsa Batak tidak pernah berekspansi ke bangsa-bangsa lain dalam hal penguasaan suatu wilayah atau doktrin budaya maupun agama malah tergencet eksistensinya dalam pergaulan budaya dan pergaulan bernegara.

    Masyarakat Bangsa Batak sekarang ini tentu survive dari suatu seleksi yang sangat ketat dari ancaman kepunahan oleh Paderi dan wabah penyakit akibat perang saudara tersebut dan dalam konteks bermasyarakat sebagai rakyat suatu negara (Negara RI) yang merdeka masih harus juga mengalami seleksi yang sangat ketat, padahal setiap insan dari masyarakat Bangsa Batak sudah sangat jelas memegang konsep BIBIT-BEBET-BOBOT bahkan sampai 20 generasi kebelakang, dan tidak satupun etnis lain yang menjaga konsep keaslian ini kecuali mungkin hanya di tingkat keraton-keraton. Lalu tentu sangat wajar apabila masyarakat Bangsa Batak meng-claim bahwa dirinyalah yang paling asli di negara ini? So what? Berpropinsi atau bernegara tentu punya makna yang berdasar kepada ‘identity’.

    Bagi saya Buku Tuanku Rao yang bernuansa latar belakang penulis merupakan catatan sejarah yang mengungkap bahwa Bangsa Minang dan Bangsa Batak adalah dua Bangsa yang sejak dahulu sampai sekarang hidup berdampingan secara damai yang tetap terjaga hanya karena saling menjaga dan saling menghargai konsep budaya masing-masing. Negara sebagai payung justru tidak melihat keagungan budaya ini sebagai pemersatu. Slogan-slogan budaya yang agung hanyalah mendapat porsi yang kecil dalam program pemerintah sebagai pemicu pembangunan setiap daerah. HORAS

  2. Tanggapan tobadreams:

    Ini topik yang selalu aktual, dan selalu menimbulkan pro-kontra yang sengit.

    Setuju, memang ada bagian yang sengaja disamarkan dan bahkan direduksi, dalam penulisan sejarah seputar pembantaian maha mengerikan yang dilakukan Tentara Padri di Tano Batak.

    Ada ketakutan yang tak beralasan, jika fakta sejarah tersebut diungkap apa adanya, akan meniumbulkan dendam di kalangan orang Batak. Dendam tersebut tidak hanya tertuju kepada suku Minang, tapi bisa juga antar kelompok di dalam masyarakat Batak sendiri, dengan alasan yang beragam.

    Pembantain yang dilakukan oleh Tentara Padri adalah pemusnahan etnis. Diperkirakan tak kurang dari 50 % etnis Batak dihabisi nyawanya dalam massacre yang sungguh brutal itu.

    Apakah etnis Batak harus menaruh dendam terhadap suku Minang ? Tidak! Karena suku Minang sendiri juga sangat menderita di bawah penindasan segelintir pengikut Islam mazhab Hambali itu. Atas nama pemurnian agama, menyembunyikan ambisi dan nafsu-nafsu primitif di balik jubah putih mereka, Tentara Padri menjagal para bangsawan kerajaan Pagaruyung dan memperkosa istri-istri mereka.

    Kejahatan lain yang dilakukan Tentara Padri di Minangkabau adalah menghapuskan secara paksa sistem ninik-mamak dan nagari, yang untungnya kini telah dipulihkan kembali.

    Kebrutalan Tentara Padri meninggalkan sebuah catatan hitam yang akan selalu menghantui kesadaran etnis Batak dan Minangkabau, sampai kelak peristiwa sejarah tersebut berhasil didokumentasikan secara akurat dan obyektif, serta dipublikasikan.

    Pelajaran terpenting dari peristiwa mengerikan itu bagi etnis Batak dan Minangkabau, juga bagi seluruh umat manusia, berhati-hatilah dengan siapapun yang menggunakan kedok agama untuk memprovokasi orang-orang melakukan kekerasan. Pelajaran ini masih berlaku sampai detik ini, masih sangat aktual, karena masih saja lahir di dunia ini orang-orang yang merasa diberikan perintah oleh Tuhan untuk membunuh sesama manusia.Bahkan saat melakukan tindakan yang bertentangan dengan perintah Tuhan pun, mereka menyalahgunakan nama Tuhan.

    Sekadar saran, untuk menyembuhkan luka sejarah yang masih terus menganga seperti lubang hitam di antara kedua etnis bertetangga itu, ada baiknya kalau etnis Batak dan Minangkabau mendirikan prasasti atau tugu peringatan tragedi maha mengerikan itu.Mungkin sangat tepat lokasinya di daerah Bonjol.

    Yang terakhir, para ahli sejarah perlu memeriksa lagi catatan sejarah Tuanku Imam Bonjol, dengan satu pertanyaan : apakah dia bertanggung jawab atas pemusnahan etnis di Tano Batak ? Kalau ya, gelar kepahlawanan Iman Bonjol harus dicopot!

  3. Tanggapan Zul Amri, SE:

    kalau menurut saya ketokohan imam bonjol tidak perlu diragukan lagi,

  4. Tanggapan Tumpak Sitio:

    Menurut saya kebenaran sejarah perlu diungkapkan.
    Kalau perlu adakan suatu forum umum yang mengundang pihak-pihak baik dari pihak Minang maupun Batak (atau keturunannya)yang terkait sejarah tersebut untuk menemukan kebenaran sejarah Perang Paderi ini, termasuk tentang Pongki Nangolngolan dan juga akhir kisah hidup Sisingamangaraja yang tampaknya belum terlalu jelas! Karena Sejarah adalah pelajaran yang sangat berharga, jadi jangan sampai kita memberi pelajaran yang salah kepada generasi muda Batak.
    HORAS!!!,,,

  5. Tanggapan Togar Silaban:

    Kalau memang ada dokumen-dokumen dan kesaksian yang bisa mengungkapkan pembantaian itu dan bisa dipertanggungjawabkan, maka itu perlu dipublikasikan secara luas. Fakta menyeramkan seringkali memang ditutup-tutupi untuk kepentingan tertentu.
    Kalaulah Paderi melakukan pembantaian untuk memperluas dan memurnikan keyakinannya, itu perlu diusut dan diklarifikasi.
    Klarifikasi itu bukan untuk dendam, tapi untuk mengungkapkan kebenaran.
    Kebenaran itu sangat perlu ditegakkan. Bukan soal meragukan ketokohan seseorang.

    Masalahnya bagaimana klarifikasi itu dilakukan sekarang, sementara dokumen tentang itu sangat minim. Jangankan kekejaman Paderi, kekejaman G30S saja sulit diklarifikasi, dan yang paling baru kerusuhan Ambon, Poso, dll, itu semua sulit diungkap. Padahal cerita dibalik berita yang kita lihat masih banyak.

  6. Tanggapan rony:

    di Riau ada namanya kota Bangkinang katanya asal bangkai inang adanya pemabataian inang2 orang batak?

  7. Tanggapan Maridup Hutauruk:

    @Rony
    Proto Melayu adalah nenek moyang dari Melayu. Batak adalah Proto Melayu, sedang penduduk Riau adalah melayu, mengapa ada pembantaian nenek moyang Melayu di tanah melayu? Menarik juga untuk ditelusuri sejarahnya!

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Kecelakaan, Dua Tewas dan Belasan Cedera
Artikel selanjutnya :
   » » Selama Lebaran Ruang Rawat Inap RS dr Pirngadi Banyak Kosong