Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Rabu
10
Okt '07

Peranan Perempuan dalam Adat dan Budaya Batak Diseminarkan


Ketua Lembaga Adat Dalihan Natolu (LADN) Tapanuli Utara Drs BP Nababan bersama Ketua Pengadilan Tarutung Saur Sitindaon dan Pdt Rostety Lumbantobing Waka Biro Pembinaan HKBP, membuka pelaksanaan seminar tentang kedudukan dan peranan perempuan Batak di Kabupaten Tapanuli Utara. Seminar tersebut dilaksanakan Selasa (9/10) di Tarutung.

“Kisah pembagian harta warisan dalam adat Batak yang menganut aliran Patrilinear (Mengambil garis keturunan dari Ayah) seperti yang terjadi pada kisah “Si Boru Tumbaga” yang tidak memiliki saudara laki-laki, di mana harta orangtuanya di Tean (Diwarisi) kepada saudara ayahnya. Untuk saat ini tidak akan terulang lagi.

Hal ini sesuai dengan Amanah dalam UUD Tahun 1945 pasal 4 ayat (1) dan pasal 27 ayat (1), UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Kepres No 9 Tahun 2000 tentang Pengarus utamaan gender (PUG) dan Surat edaran Mendagri, Tanggal 26 Juli 2001 tentang pelaksanaan PUG.

Demikian diungkapkan Ketua Pengadilan Negeri (PN) Tarutung Saur Sitindaon SH MH, Sesuai dengan amanah yang tertuang dalam UUD tahun 1945, bahwa setiap warga negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu sendiri. Namun dalam sistem kekerabatan suku Batak, kaum perempuan hanya merupakan bagian dari kelompok ayahnya sebelum dia menikah. Setelah menikah, kerabat suaminya akan membayar mas kawin (Sinamot), saat itulah dia meninggalkan orantuanya dan dimasukkan ke dalam satuan kekrabatan suaminya.

Di mana dalam berbagai literatur mengenai aturan-aturan (Ruhut-ruhut ni adat Batak) disimpulkan bahwa anak laki-lakilah yang berhak atas barang-barang pusaka orangtuanya. Sehingga jelas kedudukan perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Akan tetapi, perumpamaan orang Batak ada yang menyatakan “Dompak marmeme anak, dompak marmeme boru” yang berarti kedudukan anak perempuan dan laki-laki adalah sama.

Namun praktiknya, dalam hal pembagian harta warisan bahwa anak perempuan hanya memperoleh: Tanah (Hauma pauseang), Nasi Siang (Indahan Arian), warisan dari Kakek (Dondon Tua), tanah sekadar (Hauma Punsu Tali). Akan tetapi saat ini kedudukan perempuan dalam hukum sudah banyak berubah. Khususnya jika terjadi sengketa di pengadilan.

“Dalam hal perempuan tidak memiliki saudara laki-laki, berhak mendapat harta warisan dari orangtuanya, kecuali terhadap barang-barang pusaka yang diterima dari kakeknya,” ujar Saur Sitindaon.

Sedangkan Ketua Lembaga Adat Dalihan Natolu (LADN) Taput Drs BP Nababan menjelaskan, bagi masyarakat Batak sebenarnya kedudukan perempuan sangat dihormati, hal ini terbukti dengan berbagai gelar kehormatan yang diberikan, seperti Soripada, Parsonduk bolon, Tuan boru, Boru ni raja dan lain-lain. Dan di dalam kehidupan sehari-hari pun seorang perempuan harus dihormati, seperti dalam pepatah Batak: Huling-huling tali pasa, holi-holi sakkalia, Hormat ma lakka ni Ama, molo rap dohot akka Ina.

Akan tetapi dalam hal perkawinan, kedudukan perempuan Batak tidak begitu menggembirakan, karena sering ada ucapan: Na Tinuhor (Yang dibeli), Na Nialap (Yang dijemput) dan Partalaga (Yang di bawah). Demikian juga dengan istilah Molo Dung Magodang Boru Pamulion (Kalau anak perempuan sudah besar dikawinkan), kata “Pamulion” seolah-olah menyuruh pergi atau siap untuk diperjualbelikan. Maka muncul lah istilah adat Batak, Mangallang tuhorni boru (Memakan mas kawin anak perempuan) atau Mangallang juhut.

Akhirnya, keberadaan kaum perempuan itu lebih menyedihkan kalau mendengarkan syair lagu:

Pangeol-eolmi da solu, solu na ditonga tao
Molo matipul hole mi, maup tudia nama ho
Pengeol-eolmi da boru, boru naso mariboto
Molo mate amangmi boru, maup tudia nama ho

“Tinallik randorung, sai bontar gotana, dos do anak dohot boru, nang pe asing marga namangalapsa (Sama anak perempuan dan anak laki-laki walaupun sudah dibeli), sesuai dengan perubahan hukum yang baru di negara kita ini, demikian juga dengan masuknya agama ke tanah Batak,” ujar BP Nababan.

Apa yang dikemukakan Nababan didukung oleh pernyataan Ketua PN Tarutung Saur Sitindaon SH MH dan Pdt Rostety Lumbantobing (Biro Pembinaan HKBP) yang mengatakan, bahwa perempuan dan laki-laki adalah sama di mata Tuhan.

Hadir dalam acara seminar tersebut, Kabag Pemberdayaan Perempuan Taput T boru Perdosi, para istri camat se-Taput dan undangan lainnya.

Sumber : (Fernando Hutasoit) Harian Global, Taput


Ada 6 tanggapan untuk artikel “Peranan Perempuan dalam Adat dan Budaya Batak Diseminarkan”

  1. Tanggapan bony Silitonga:

    tipe kekerabatan dalam suatu masyarakat (patrilineal,matrilineal, ataupun bilineal)merupakan dasar dalam penarikan garis keturunan. ketiga tipe bentuk tersebut terlalu jauh untuk dijadikan dasar dalam melihat masalah gender yang terbentuk di masyarakat yang bersangkutan.

    masalah gender dalam suatu masyarakat dapat dilihat dari bentuk masyarakat itu sendiri. matriarkat atau patriarkat. bentuk-bentuk tersebut menjelaskan akses-akses, kedudukan, serta peranan laki-laki dan perempuan di suatu masyarakat.

    masyarakat batak merupakan masyarakat patriarkat dengan tipe kekerabatan patrilineal.hal itu dapat menjelaskan bahwa masyarakat batak menarik garis keturunan dari pihak ayah. garis ketunan tersebut ditandai dengan sistem marga. selain itu masyarakat Batak dalam kehidupannya kontrol, kekuasaan serta akses-akses ekonomi ada di tangan laki-laki. dan untuk menjaga atau melestarikan bentuk kepatriarkatan ini salah satu strateginya terwujud dalam sistem pewarisan yang lebih mengutamakan anak laki-laki, contoh anak laki-laki terakhir berhak atas rumah tinggal orang tua, jatah laki-laki pertama lebih besar dari adik-adiknya (yang laki-laki juga).

    dalam sistem waris batak, kaum perempuan terlihat tidak terperhatikan. harta bisa diperoleh perempuan bukan lewat media hukum waris, akan tetapi dengan meminta kepada sang ayah (ulos pauseang).

    meninggalkan bentuk-bentuk budaya batak yang menunjukkan ketimpangan gender tidaklah mudah. tersedianya hukum negara yang lebih memperhatikan kesetaraan gender harus diakui merupakan salah satu jalan pemecahan. akan tetapi, pertanyaan selanjutnya apakah aksesnya mudah untuk diraih oleh semua perempuan Batak? apakah semua perempuan Batak tahu akan hal tersebut?

    penutup dari tanggapan saya apakah ada dan bagaimanakah tindakan selanjutnya setelah terciptanya hukum negara mengenai kesetaraan gender dalam hal waris khususnya di masyarakat Batak agar benar-benar terlaksana?

    salam
    bony Silitonga

  2. Tanggapan sabar tambunan:

    Horas,
    Bagi Boni Silitonga,

    Budaya, termasuk didalam adat istiadat bagi suatu komunitas disepakati dan dilaksanakan demi kebaikan dan kemajuan dari masyarakat itu sendiri. Artinya produk2 budaya seharusnya bersifat dinamis. Bila kondisi didalam dan lingkungan komunitas itu berubah, otomatis dituntut perubahan dalam budaya itu juga.

    Bangsa Yahudi adalah bangsa yang paling maju didunia, sekaligus termasuk bangsa yang paling ‘kolot’. Bangsa Batak juga ‘kolot’, tapi kok ngga maju?? Soal posisi wanita Yahudi dalam adat, sepintas atau dari sudut pandang nilai2 modern sekarang bahkan lebih parah dari bangsa Batak.Tapi pernahkan kita mendengar keluhan dari pihak wanita Yahudi??

    Saya kira wanita Yahudi memang puas dengan posisinya dalam tata-nilai adat Yahudi mereka. Isu tentang kesetaraan gender, yang merupakan perjuangan banyak kaum wanita di banyak tempat dibelahan bumi, tidak terjadi di masyarakat Batak.

    Coba kita hayati betul2 konsep Dalihan Natolu……tidak ada peluang sedikitpun bagi kaum laki2 Batak untuk ‘menindas’ kaum perempuannya. ‘Holong dan menjaga martabat perempuan’ sangat kuat di tata nilai Dalihan Natolu…

    Menyangkut warisan yang diatur oleh adat, untuk masyarakat agraris jaman dulu, ditambah lagi sistem marga dan Dalihan Natolu…memang kebutuhannya mengharuskan demikian. Bayangkan apabila warisan tanah saat itu tidak diatur demikian?? Sistem marga dan Dalihan Natolu tidak akan bisa berjalan dengan yang seharusnya.

    Memang masalahnya saat ini sebagian besar masyarakat Batak sudah menjadi masyarakat urban, bukan lagi petani. Lahir , besar dan meninggal di tanah perantauan. Tapi jangan khawatir, ‘khan adat itu dinamis !? Yang saya maksud adalah, isu kesetaraan gender di masyarakat batak bukan masalah besar.

    Yang lebih penting saya kira, bagaimana dengan kekuatan adat dan tata nilai ‘HOLONG’ yang bersumber dari dalihan natolu mampu membuat orang batak maju!!.

    Bayangkanlah bagaimana kondisi tanah batak 50 tahun lagi. Apabila hanya mengandalkan pertanian semata, pastilah tidak akan mampu menghidupi jumlah penduduk yang meningkat lebih dari 2 kali nantinya.

    ‘Menjadi Orang Batak’ adalah melakukan dua hal sekaligus, yaitu bermarga dan terikat sistem nilai dalihan natolu. Sungguh, sebuah ‘modal sosial’ yang sangat besar apabila bisa dikembangkan dan dimanfaatkan lebih dari sekedar untuk kepentingan acara2 adat semata, seperti kelahiran, perkawinan atau kematian. Modal sosial yang harusnya bermanfaat juga dalam kehidupan dan problem sehari2……..termasuk sebagai masyarakat urban !!

    Dengan modal Marga dan Dalihan Natolu sebagai modal sosial ini harusnya kita mampu membuat pinjaman/kredit untuk usaha2 pertanian, perternakan dan UKM di tano Batak dengan bunga kredit yang sangat rendah. Sumber dananya dari sumbangan seluruh masyarakat batak, gratis..! Operasionalnya, serahkan saja kepada Bank yang sudah mapan dan profesional untuk melakukannya.

    Juga harusnya kita bisa membuat gerakan pendidikan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris (TOEFL for 500) dan ketrampilan ber-ICT (Internet Go TO School.

    Sayang memang apabila aplikasi dari budaya kita jauh tertinggal dengan kebutuhan akan masa depan !!

    Muliate.

  3. Tanggapan Maridup Hutauruk:

    Dalihan Natolu dan Tarombo sudah pas menjadi nafas kehidupan Bangsa Batak. Kesetaraan gender sudah terkandung didalamnya. Kebetulan saya baru submit sebuah comment atas sebuah artikel berjudul “Boru Raja”, maksudnya ‘Boru ni Raja’ barulah saya masuk ke artikel ini, tetapi sepertinya ke-dua artikel ini ada kaitannya. Saya setuju dengan dua komentator diatas tetapi ada sedikit ‘hata tambaan’ terutama menanggapi artikel ini.

    Kutipan: Amanah dalam UUD Tahun 1945 pasal 4 ayat (1) dan pasal 27 ayat (1), UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Kepres No 9 Tahun 2000 tentang Pengarus utamaan gender (PUG) dan Surat edaran Mendagri, Tanggal 26 Juli 2001 tentang pelaksanaan PUG.

    Comment:
    1) Amanah ini tidak boleh diberlakukan dalam hal pembagian harta-warisan pada Bangsa Batak ataupun apabila ada konflik harta warisan, oleh karena apabila diberlakukan maka akan terjadi ‘Ketidak setaraan Gender’ yang merugikan pihak laki-laki dalam satu marga, oleh karena perempuan sudah mendapatkan ‘haknya’ dari marga suami.

    2) Kutipan: …., dalam hal pembagian harta warisan bahwa anak perempuan hanya memperoleh: Tanah (Hauma pauseang), Nasi Siang (Indahan Arian), warisan dari Kakek (Dondon Tua), tanah sekadar (Hauma Punsu Tali). Akan tetapi saat ini kedudukan perempuan dalam hukum sudah banyak berubah. Khususnya jika terjadi sengketa di pengadilan. Comment:[Inikan sudah menunjukkan keutuhan ‘Hukum Adat Batak’ terhadap perempuan. Mau apalagi comment-1]

    3) Kutipan: Sedangkan Ketua Lembaga Adat Dalihan Natolu (LADN) Taput Drs BP Nababan menjelaskan, bagi masyarakat Batak sebenarnya kedudukan perempuan sangat dihormati, hal ini terbukti dengan berbagai gelar kehormatan yang diberikan, seperti Soripada, Parsonduk bolon, Tuan boru, Boru ni raja dan lain-lain. Dan di dalam kehidupan sehari-hari pun seorang perempuan harus dihormati, seperti dalam pepatah Batak: Huling-huling tali pasa, holi-holi sakkalia, Hormat ma lakka ni Ama, molo rap dohot akka Ina. Comment:[Penghormatan secara spiritual sudah sedemikian tingginya kedudukan perempuan dalam keluarga marga suami]

    4) Kutipan: Akan tetapi dalam hal perkawinan, kedudukan perempuan Batak tidak begitu menggembirakan, karena sering ada ucapan: Na Tinuhor (Yang dibeli), Na Nialap (Yang dijemput) dan Partalaga (Yang di bawah). Demikian juga dengan istilah Molo Dung Magodang Boru Pamulion (Kalau anak perempuan sudah besar dikawinkan), kata “Pamulion” seolah-olah menyuruh pergi atau siap untuk diperjualbelikan. Maka muncul lah istilah adat Batak, Mangallang tuhorni boru (Memakan mas kawin anak perempuan) atau Mangallang juhut.
    Comment:[Yang diistilahkan bukanlah mengandung makna yang sebenarnya. Istilah-istilah yang disebutkan ini baru muncul setelah Bangsa Batak tersentuh dengan budaya baru yang lebih materialistik, apakah itu karena pengaruh agama, atau budaya kemerdekaan? perlu juga ada kajiannya. Istilah sebenarnya adalah “Sinamot”. Kata ini mengandung makna yang sangat dalam dan bukan seperti yang diistilahkan]

    5)Kutipan: Apa yang dikemukakan Nababan didukung oleh pernyataan Ketua PN Tarutung Saur Sitindaon SH MH dan Pdt Rostety Lumbantobing (Biro Pembinaan HKBP) yang mengatakan, bahwa perempuan dan laki-laki adalah sama di mata Tuhan.
    Comment: [Tuhan tentu tidak mempersoalkan harta dan benda karena dia sipencipta? Bangsa Batak yang menganut faham budaya perkawinan yang patriarchie tentu laki-laki yang menentukan pembagian harta warisan (bukan maksudnya memiliki semua!) Kalaupun manusia laki-laki dan perempuan harus masuk surga kemungkinannya perempuan yang lebih banyak masuk oleh karena statistiknya memang lebih banyak perempuan. Inikan tidak juga ada kesetaraan gender?]

    Kesimpulan comment, bahwa masyarakat Bangsa Batak masa sekarang ini sudah memahami hukum adat yang berlaku sekarang ini sesuai dengan Dalihan Natolu dan Tarombo dan memang adil dan tidak ada unsur ketidak setaraan gender dalam hukum sebagaimana diutarakan dalam comment-1). Kalau masyarakat harus condong kepada UU dan perundangan hukum negara, maka konsep kesetaraan Dalihan Natolu dan Tarombo harus dibubarkan juga?. Yah.. begitulah orang batak seperti di artikel dan @Bony Silitonga, laki-laki yang mengakui dan membela adanya ketimpangan gender bagi perempuan. Hati-hati… dengan apa yang tersirat pada perangkat yang berkembang sekarang ini! Budaya Bangsa Batak akan habis dan punah tanpa kita sadari. Seharusnya para ahli hukum Batak yg meng-counter UU & Peraturannya agar ada ‘addendum’ yang menilai kesetaraan dalam Dalihan Natolu dan Tarombo yang ‘applicable’ pada Batak.

    Hata on hata tambaan, Horas.

  4. Tanggapan Bony Silitonga:

    HORAS!!!

    terkejut saya ketika mengetahui bahwa saya mendapatkan teman-teman bercerita di bagian ini.

    terima kasih Amang S. Tambunan.
    saya sangat senang membaca empat paragraf terakhir Amang. sungguh saya sangat setuju bahwa “menjadi orang Batak itu adalah melakukan dua hal sekaligus yaitu bermarga dan terikat sistem nilai dalihan na tolu”. Kedua hal tersebut adalah salah sekian hal yang menunjukkan identitas kesukubangsaan kita, yaitu Batak. Dan hal tersebut tanpa disadari (karena masih ada yang belum mengetahuinya) dapat menjadi modal sosial bagi kita, Orang-orang Batak. Akan tetapi Amang, di kehidupan rantau terutama di kota-kota besar, contoh Jakarta, kedua hal tersebut memang amat terlihat dalam acara adat saja. Dalam kehidupan sehari-hari hal tersebut belum terlalu terlihat. kalau saya melihatnya karena faktor letak tempat tinggal yang berjauhan.

    oleh karena itu saran amang di paragraf2 akhir sangat setujui, dan saya mau ikut serta. tidak banyak yang bisa saya berikan kecuali tenaga saya.

    teruntuk Amang M. Hutauruk.
    terima kasih amang atas komentnya,tapi saya bukan bermaksud untuk menampilkan diri sebagai pembela perempuan Batak. saya hanya ingin menyampaikan pandangan saya bahwa ada penelitian yang menunjukkan hal tersebut. dan saya tidak bertujuan untuk membubarkan DNT. DNT menurut saya merupakan struktur masyarakat yang wah!!!akan tetapi kedahsyatannya sangat terasa di saat masyarakat tersebut masih berada dalam tahap kehidupan yang sama.
    saat ini kondisi berbeda, sekiranya perlulah dilakukan beberapa penyesuaian. saya hanya menyampaikan bahwa ada pandangan seperti itu terhadap adat atau kebiasaan kita. jadi bukan maksud saya untuk tampil ataupun hal lainnya.

    Mauliate
    bony Silitonga

  5. Tanggapan Bony Silitonga:

    HORAS!!!

    terkejut saya ketika mengetahui bahwa saya mendapatkan teman-teman bercerita di bagian ini.

    terima kasih Amang S. Tambunan.
    saya sangat senang membaca empat paragraf terakhir Amang. sungguh saya sangat setuju bahwa “menjadi orang Batak itu adalah melakukan dua hal sekaligus yaitu bermarga dan terikat sistem nilai dalihan na tolu”. Kedua hal tersebut adalah salah sekian hal yang menunjukkan identitas kesukubangsaan kita, yaitu Batak. Dan hal tersebut tanpa disadari (karena masih ada yang belum mengetahuinya) dapat menjadi modal sosial bagi kita, Orang-orang Batak. Akan tetapi Amang, di kehidupan rantau terutama di kota-kota besar, contoh Jakarta, kedua hal tersebut memang amat terlihat dalam acara adat saja. Dalam kehidupan sehari-hari hal tersebut belum terlalu terlihat. kalau saya melihatnya karena faktor letak tempat tinggal yang berjauhan.

  6. Tanggapan Bony Silitonga:

    oleh karena itu saran amang di paragraf2 akhir sangat setujui, dan saya mau ikut serta. tidak banyak yang bisa saya berikan kecuali tenaga saya.

    teruntuk Amang M. Hutauruk.
    terima kasih amang atas komentnya,tapi saya bukan bermaksud untuk menampilkan diri sebagai pembela perempuan Batak. saya hanya ingin menyampaikan pandangan saya bahwa ada penelitian yang menunjukkan hal tersebut. dan saya tidak bertujuan untuk membubarkan DNT. DNT menurut saya merupakan struktur masyarakat yang wah!!!akan tetapi kedahsyatannya sangat terasa di saat masyarakat tersebut masih berada dalam tahap kehidupan yang sama.
    saat ini kondisi berbeda, sekiranya perlulah dilakukan beberapa penyesuaian. saya hanya menyampaikan bahwa ada pandangan seperti itu terhadap adat atau kebiasaan kita. jadi bukan maksud saya untuk tampil ataupun hal lainnya.

    Mauliate
    bony Silitonga

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Petani Mandiangin Dibacok
Artikel selanjutnya :
   » » Employers told simply: ‘pay Idul Fitri bonus’