Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Senin
8
Okt '07

Lahan Tidur Rawan Diselewengkan


Diperkirakan ratusan ribu tanah warga di Sumatera Utara belum memiliki surat keterangan kepemilikan tanah dari kepala desa setempat. Tanpa surat itu, tanah ulayat yang dimiliki secara turun-temurun tersebut rawan diselewengkan.

Kondisi itu semakin rawan mengingat pembukaan lahan untuk penanaman sawit semakin marak pada akhir-akhir ini. Terutama saat harga minyak mentah sawit (CPO) semakin mahal.

Pantauan Kompas di Kabupaten Tapanuli Tengah, Minggu (7/10), warga sudah mulai resah. Aritonang (40), warga Sibolga yang memiliki lahan di Desa Pahieme, Kecamatan Sorkam, Kabupaten Tapanuli Tengah, mengatakan, lahan ayahnya diberikan oleh Raja Huta (tetua kampung) sekitar tahun 1979.

Namun, sampai saat ini lahan tersebut belum mendapat keterangan kepemilikan dari kepala desa. “Kami pernah mengurus surat itu, tetapi sampai saat ini belum ada keterangan lagi,” kata Aritonang.

Aritonang mengatakan, lahan tersebut sempat ditanami sawit bertahun-tahun lalu, tetapi terhenti karena warga memprotes.

Sementara Jaidus Lubis (65), warga Pulo Pane, Kecamatan Sosorgadong, Tapanuli Tengah, mengatakan, lahannya dijual setelah sebelumnya ada pihak yang memaksa dirinya menjual tanah dengan tekanan. Karena kesal, ia justru menjual lahan ke pihak lain yang tidak melakukan pemaksaan.

“Saya takut ada pertengkaran, maka saya jual saja,” kata Jaidus Lubis.

Selain tak memiliki surat, warga juga tak punya pengetahuan sehingga berada pada posisi lemah saat bertransaksi tanah.

Kepala Desa Maduma, Kecamatan Sorkam Barat, Tapanuli Tengah, Epharaim Silaban mengaku masih banyak tanah di wilayahnya yang belum memiliki alas hak. Tanah seluas 13,11 kilometer persegi di Maduma diperkirakan 30 persennya belum memiliki surat keterangan kepemilikan. Baru sekitar 10-20 persen yang memiliki sertifikat, sisanya 50 persen sudah punya surat kepemilikan.

Warga enggan mengurus surat kepemilikan karena tidak tahu fungsi surat kepemilikan dan merasa aman dengan situasi saat ini. Selama ini kepemilikan didasarkan pengakuan dari para tetangga sekitar lahan.

Sumber : (wsi) Harian Kompas, Sibolga


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Juwono Sudarsono: Singapore does not want its image tarnished
Artikel selanjutnya :
   » » Ende Siboru Tombaga III