Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Sabtu
6
Okt '07

Karyawan Livatech Tinggalkan Pabrik


Sejak 1 September lalu, karyawan PT Livatech Elektronik Indonesia, yang bangkrut sejak Februari silam,  tidak lagi datang berjaga di lokasi pabrik perusahaan. Penjagaan aset hanya dilakukan secara bergiliran oleh dua orang karyawan setiap malam.

Meski begitu, setiap siang, perusahaan yang dirundung masalah sejak awal tahun ini tetap berpenghuni. Mereka adalah karyawan yang tidak memiliki tempat tinggal lagi sebab sewa kamar kos atau rumah mereka habis. Akibatnya mereka terpaksa tinggal di gedung yang terletak di Kawasan Industri Kara ini.

Diistirahatkannya sebagian besar karyawan dilakukan guna memangkas pengeluaran. Sebab bantuan sudah sangat berkurang dan kas hanya cukup untuk makan beberapa karyawan yang bertugas jaga malam sampai akhir bulan.

Selasa (27/9) lalu, Forum serikat pekerja metal Indonesia (FSPMI) Livatech telah mengadukan masalah ini ke DPW FSPMI Kepri. DPW mengusulkan agar Livatech  meminta bantuan ke Dinas Sosial (Dinsos) Kota Batam, sebab mereka juga sudah kehabisan dana untuk disumbangkan. Selasa (2/10) lalu, Dinsos memang memberikan bantuan kepada mereka. Yakni 8 karung atau 400 kilogram beras Bulog dan 10 dus atau 480 botol kecap manis. “Selain itu tidak ada lagi,” ucap bendahara SPMI Livatech Evi Bena Avanti.

Tadinya mereka berharap bantuan yang diberikan Dinsos bisa mereka bagikan ke karyawan sebagai pengganti THR mereka. Karena yang mereka peroleh beras dan kecap, harapan ini pupus. “Kalau beras dan mi instan masih bisa. Tak masalah setengah kilo per orang,” katanya sedikit menyesalkan kenapa kecap yang lebih banyak.

Jalan selanjutnya yang mereka rencanakan adalah mencoba menjual kecap ukuran sedang tersebut. Uangnya, akan dibelikan minyak tanah dan gula. “Tak tahulah mau mengadu ke mana lagi,” ucap seorang karyawan yang siang itu turut berbagi cerita dengan Batam Pos di parkiran Livatech Mok.

Untunglah selama puasa ini, mereka sedikit terbantu dengan adanya pemberian nasi bungkus dari koperasi Koperbumi kerjasama karyawan Panasonic dan SPMI. Tiap sore, perwakilan karyawan mengambil bagian mereka di pos sekuriti sana. “Pernah sudah nunggu tak dapat juga. Sekuritinya bilang, hari ini tak ada buat fakir miskin,” ucap   karyawan yang kini tinggal di gedung Livatech Emi sedikit meringis dan mengaku terpaksa bertebal muka mencoba meminta beberapa bungkus.
“Untunglah dapat juga 15 bungkus. Kalau tidak kacau, kami hari itu tak masak,” ucap Emi pula.
Aset Belum Bisa Dijual

Terkait aset perusahaan berupa bangunan dan mesin-mesin yang diharap sebagai pemabayar pesangon dan gaji mereka pun masih belum ada kejelasan. Beberapa waktu lalu, pengadilan hubungan industrial (PHI) Tanjungpinang telah menyatakan aset tersebut dapat dijual.

Penaksiran harganya, dapat dilakukan Disnaker Kota Batam. Sayangnya, saat Disnaker mendatangi Livatech, Disnaker mengaku tak bisa melakukan penaksiran harga. Dari informasi yang diberikan ketua PUK SPMI Livatech Jhon Mauritz Silaban kemarin, Disnaker mengaku tidak amemiliki orang yang kompeten untuk menaksir harga. “Kita disuruh minta bantuan ke Sucofindo,” katanya.

Sumber : (cr6) Batam Pos, Batam


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » KTP Gratis Diminati Warga
Artikel selanjutnya :
   » » Warung ‘Remang-remang’ di Lau Rambong Tanah Pinem Dairi Dirazia