Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Jumat
17
Agt '07

Dilema Kedatangan Cicit Sisingamangaraja XII


Untuk kali pertama, turunan langsung Sisingamangaraja XII menghadiri ritual Sipaha Lima di Hutatinggi,Kec Laguboti, Kab Toba Samosir,Sabtu (28/7).

Kenyataan ini cukup menyentak, pasalnya kini tak satu pun turunan Sisingamangaraja XII yang masih menganut Ugamo Malim atau Agama Parmalim. Sabtu siang itu, seorang pemuda menghampiri Raja Marnangkok Naipospos, pimpinan Parmalim Nasiakbagi Hutatinggi, yang sedang duduk mengamati persiapan puncak ritual Sipaha Lima. Setelah menyalami Raja Marnangkok sembari membungkuk, pemuda itu pun bergeser. Satu per satu kerabat Raja Marnangkok didekati, seraya memberi hormat. Keakraban dan kehangatan suasana kemudian terbangun di antara mereka.

Raja Marnangkok sendiri langsung tercenung, tapi tak lama. Kemudian, kepada SINDO dan rombongan seniman dari Medan yang hadir untuk melihat langsung ritual Sipaha Lima, Raja Marnangkok berkata, ”Kalian kenal siapa dia? Dia itu cicit Sisingamangaraja (XII).” Ya, pemuda berusia 35 tahun tersebut tak lain adalah Raja Tonggotua Sinambela, generasi ke-15 Raja Batak Sisingamangaraja. Nama Tonggotua, menurut Raja Marnangkok, adalah nama pemberian Raja Ungkap Naipospos, pimpinan Parmalim Nasiakbagi Hutatinggi generasi kedua.

”Secara emosi, keluarga kami cukup dekat. Makanya bapak saya (Raja Ungkap) yang memberi dia nama. Kami tetap menghormati turunan Sisingamangaraja XII. Kami sering bersilaturahmi.Kalau tidak keluarganya yang datang ke sini (Hutatinggi), kami yang berkunjung. Namun, kali ini berbeda. Ini pertama kali turunan Sisingamangaraja XII menghadiri ritual Sipaha Lima. Terus terang ini dilema bagi kami,karena dia (Raja Tonggotua Sinambela) beragama Kristen,” terang Raja Marnangkok. Seharusnya, lanjut pimpinan Parmalim Hutatinggi yang sekarang berusia 68 tahun ini, Raja Tonggotua Sinambela turut didaulat memandu ritual Sipaha Lima.

Sebab, dia punya pertalian darah langsung dengan Sisingamangaraja XII. Namun, ini tak mungkin diwujudkan karena ritual Sipaha Lima adalah ritual keagamaan. ”Kalau turunan Sisingamangaraja XII masih ada yang menganut Ugamo Malim, kakek saya Raja Mulia Naipospos pasti akan menyerahkan tampuk pimpinan keagamaan kepada turunan Sisingamangaraja XII. Kakek saya diberi mandat oleh Sisingamangaraja XII untuk memimpin Ugamo Malim karena saat itu belum ada turunan Sisingamangaraja XII yang dipandang mampu,” paparnya.

Meski cukup gelisah, Raja Marnangkok tidak ekspresif menunjukkannya. Hanya, di luar sepengetahuan para pengikut ritual, dia menggelar pertemuan dengan seluruh Ulu Punguan Parmalim Nasiakbagi Hutatinggi. Ulu Punguan adalah para pimpinan keagamaan di wilayah persebaran Parmalim, mereka ada puluhan orang.

…bersambung !

Sumber : (indra gunawan) Seputar Indonesia


Ada 9 tanggapan untuk artikel “Dilema Kedatangan Cicit Sisingamangaraja XII”

  1. Tanggapan Am. Ivan Sipahutar:

    Berita ini cukup mengejutkan saya, walaupun begitu tak mengapa keturunan dari raja Sisingamangaraja ternyata tidak ada lagi yang beragama malim, saya kira dalam hidup memang setiap insan bebas menentukan keyakinannya, untuk saudaraku yang beragama malim yang walaupun hingga kini belum diakuinya keberadaan kalian tak perlu riskan, karena kita toh tetap bersaudara antar umat manusia, mungkin suatu hari kelak bangsa kita ini bisa menerima perbedaan yang ada diantara kita, terus maju ompung Raja Marnakkok dan janganlah lupa untuk mewariskan nilai-nilai adat batak yang oppung kuasai kepada generasi penerus Batak, terimakasih untuk silaban.net saya kaget pada halaman depan ada nama saya dan blog saya dipajang, semoga bisa diterima orang lain horas .

  2. Tanggapan Monang Naipospos:

    Sebenarnya kondisi itu bukan kehendak mereka. Setelah Raja Sisingamangaraja XII “dibunuh”, seluruh keluarganya ditawan di Pearaja Tarutung. Putranya yang masih hidup diungsikan keberbagai kota di Pulau jawa dan tidak (jarang) dipertemukan. Mereka diberi pendidikan dan dibabtis menjadi Kristen. Hubungan batin dan keluarga antara turunan Sisingamangaraja (I-XII) dengan Parmalim (khususnya Turunan Raja Mulia Naipospos) sampai saat ini tetap terpelihara, walau dalam ritual keagamaan tidak saling mempengaruhi.

  3. Tanggapan Soltan Sihombing:

    Horas di hita sude.
    Berita ini baru saya tau. Sebelumnya saya tidak pernah tahu bahwa keturunan SM Raja -XII rupanya ada (sekalipun saya aslinya dan besar di Siborongborong), atau paling tidak selama ini tidak pernah ter-ekspos. Sungguh disayangkan hal itu.(Terimakasih banyak untuk Bpk Monang Naipospos atas informasinya). Tetapi baiklah, karena topiknya diatas adalah seputar kontroversi mengenai agama cicit Ompu SM Raja, maka itulah yang akan saya tanggapi. Mengenai keyakinan sudah jelas kita tahu bahwa itu adalah hak asasi. Memang rumit untuk menjawab pertanyaan mengapa keturunan langsung Ompu SM Raja memilih agama lain. Saya kira penjelasan Pak Monang Naipospos sudah cukup untuk itu. Tetapi saya kira, agama Kristen juga adalah agama yang mengajarkan yang kebaikan. Buat saya yang penting adalah tarombo asal usul kita jangan sampai lupa, kemudian nama besar SM Raja adalah sesuatu yang tetap dipertahankan, karena SM Raja lebih dikenal orang lain adalah karena perjuangannya melawan penjajah (kepahlawanannya), bukan karena agamanya. Jadi semangat perjuangan itu yang harus diwariskan. Bukankah demikian sodara-sodara????

  4. Tanggapan T. Siagian:

    Horas… Saya senang kalau dia berkunjung ke acara Sipaha Lima, kebetulan saya dekat sama dia karena satu sekolah ketika di SMP Methodist (semoga dia masih ingat saya) karena sudah lama tidak berhubungan.

  5. Tanggapan Togar Silaban:

    Menurut info yang pernah saya dapat, ada yang kurang jelas, siapa s sebenarnya keturunan langsung Sisingamangaraja XII Sinambela. Ada yang bisa memberi klarifikasi dengan informasi yang akurat dengan dukungan fakta ?. Kalau informasi cuma menurut penuturan, itu sifatnya sangat subyektif.

  6. Tanggapan alek marbun:

    Kalau kita ikuti system keagamaan/kepercayaan orang batak (PARMALIM) disana jelas tak jauh dari makna dan arti dari ‘agama’ dengan maksud, untuk menentramkan para umat dari nilai-nilai norma. Dengan begitu, PARMALIM itu merupakan suatu kepercayaan yang mesti di pertahankan dan dikembangkan dengan melihat perkembangan zaman dan teknologi sekarang ini.

  7. Tanggapan baktinendra prawiro:

    Pasti sebuah kejadian yang sangat mengesankan dan cukup mengharukan, karena itu peristiwa yang jauh lebih penting daripada dilema atau ke-gamang-an yang di rasakan oleh Raja Marnangkok, pimpinan Parmalim. Raja Tonggotua Sinambela, apapun agama dan kepercayaan-nya, tetaplah turunan Sisingamaraja XII _ yg dipercaya sebagai manifestasi kekuasaan (spiritual) Debata Mulajadi Na Bolon, sedangkan Debata MNB _ kalau kita tidak terlalu repot memilah-milah Yang Ilahi _ adalah Tuhan Yang Maha Esa, Allah, Yahweh dsbnya. Masakan Tuhan di Timur Tengah beda dengan Tuhan di Tano Batak? Jadi kalau ritual Sipaha Lima dasar dan tujuannya baik dan suci seharusnya Raja Tongggotua Sinambela diperkenankan mengambil bagian di dalamnya _ bukan hanya sekedar datang ber-wisata rohani ke Laguboti.

    Sudah waktunya yang HKBP (dan gereja2 derivatif-nya) berhenti meng-kafir-kan Ugamo Parmalim dan sebaliknya juga Ugamo Parmalim untuk bisa menerima ke-kristen-an, atau Islam dllnya, sebagai kepercayaan2 yang juga berasal dari dan memuliakan Debata Mula Jadi Na Bolon. Kalau itu terjadi pastilah roh Sisingamangaraja XII di surga abadi _ atau Banua Ginjang _ berbahagia … Turunannya yang beragama Kristen ambil bagian dalam dalam upacara suci Ugamo Parmalim yang dulu turut beliau arahkan perintisannya.

  8. Tanggapan putri:

    apa semua keturunan Raja Sisingamangaraja memang ga ada yang beragama parmalim kok bisa???
    kenapa orang lain bisa sangat menghormati Ulaon Raja Sisingamangaraja sepert sipaha lima sementara keturunannya engga????

  9. Tanggapan Sigop M. Tambunan:

    Horas di hita sude,.

    Ini berita menarik,… bahwa berita- berita seperti ini seharusnya tetap diekspos sebagai sejarah nantinya. tapi sayang sangat minim sekali informasi mengenai pomparan Raja Si Singamangaraja. Sejak berita wafatnya beliau, kebanyakan publik tidak mengetahui bagaimana sejarah lanjut tentang keturunannya. Sehingga apabila sekarang dalam berita ini ada rupanya cicit beliau berarti ada yang terputus. Kemana saja mereka selama ini, apakah mereka mewarisi sifat heroik Raja Si Singamangaraja?… tolong diinformasikan kepada publik,sekiranya masih banyak pihak yang tahu mengenai keluarga Raja Sisingamangaraja pasca wafatnya.

    Mauliate.

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.