Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Rabu
8
Agt '07

Pendidikan yang Mencerdaskan dan Berkarakter


Makan BersamaPengusaha Edwin Soeryadjaya ketika berkunjung ke Yayasan Soposurung, di Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, menyempatkan diri makan bersama dengan para siswa lembaga pendidikan yang didirikan mantan Menpan TB Silalahi itu. Acara makan bersama merupakan salah satu tradisi yang ditanamkan yayasan ini sebagai bagian dari upaya membangun karakter peserta didiknya.

Pengantar

Penyelenggaraan pendidikan nasional tidak semata mentransfer ilmu dan pengetahuan serta teknologi kepada peserta didik. Lebih dari itu, pendidikan harus bisa menumbuhkan semangat kebangsaan sebagai warga bangsa dengan karakter ke-Indonesia-an. Dua hal itulah yang diupayakan Yayasan Soposurung di Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara seperti ditulis wartawan SP, Noinsen Rumapea dalam sorotan berikut ini.

Kompleks Asrama Yayasan Soposurung (Yasop) di Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara (Sumut) itu, terasa cukup nyaman. Lokasinya jauh dari jalan raya. Di belakang terdapat gunung yang kokoh, sementara di depannya, tak jauh dari lokasi ada tepi pantai Danau Toba, yang indah.

Tak terasa, selama 15 tahun berkiprah, asrama itu sudah menghasilkan 600 alumni, atau 15 angkatan. Sekitar 35 persen di antaranya telah menyelesaikan pendidikan di jenjang perguruan tinggi dari berbagia bidang ilmu.

Bahkan di antara alumni sudah ada yang meraih master, PhD, dan sebagainya. Kebanyakan alumni adalah sarjana teknik, mungkin karena ketika masih di bangku sekolah menengah atas (SMA), mereka mengambil jurusan ilmu pengetahuan alam (IPA), jadi sebagian besar berminat ke arah sana.

Yayasan Soposurung adalah sebuah lembaga pendidikan yang dirintis oleh TB Silalahi. Sekolah dengan misi membangun karakter itu, setiap tahun merekrut 40 siswa berprestasi dari sekitar Sumut untuk disekolahkan di SMAN 2 Soposurung, Balige, dan diasramakan di asrama yang disediakan selama mereka sekolah di SMA. Semuanya dengan biaya gratis.

Mereka memperoleh fasilitas tempat tinggal, makan, seragam yang dipakai di asrama, kegiatan ekstrakurikuler, fasilitas ruang komputer dan internet. Di asrama para siswa mengikuti berbagai aktivitas atau pun kegiatan ekstrakurikuler.

Kini, empat tenaga pengajar yang ada di asrama dikhususkan mengajar ekstrakurikuler, kursus komputer, bahasa Inggris dan Mandarin, aksara Batak, karate, renang, pengembangan bakat, peraturan baris-berbaris, pendidikan kedokteran-kesehatan.

Mereka juga wajib menonton berita di malam hari, belajar bersama, belajar menari dan bernyanyi, seperti paduan suara dan olah vokal. Demikian juga melakukan kegiatan-kegiatan yang melatih kepemimpinan dan percaya diri, seperti naik gunung.

Jadi, asrama adalah tempat tinggal dan tempat mereka melakukan aktivitas atau pun kegiatan ekstrakurikuler, bukan sekolah. Tenaga pengajar yang ada di asrama hanya dikhususkan untuk mengajar ekstrakurikuler, contoh komputer, bahasa Inggris, Mandarin, Batak, pengembangan bakat, karate, dan aktivitas fisik lainnya.

Tenaga-tenaga pengajar tersebut juga merupakan alumni yang bertugas di asrama. Sedangkan pengajaran formal mereka dapatkan dari sekolah, yaitu SMAN 2 Balige. Tenaga pengajar yang ada di sana pun tentunya merupakan lulusan dari Institut Keguruan (IKIP) atau fakultas ilmu keguruan dan pendidikan (FKIP) di universitas. Gaji mereka rata-rata sama dengan guru PNS pada umumnya.

Nonmiliter

Pada awalnya, asrama dipimpin oleh tentara yang sengaja didatangkan ke sana untuk membina mental dan fisik siswa. Kini Kepala Asrama Yayasan Soposurung dipercayakan kepada alumni Yasop, Helen Hutagalung.

Setelah menyelesaikan kuliah di Akademi Pariwisata JIH dan melanjut ke Beijing Union University, Helen memilih mengabdi ke almamaternya. Dia dipercayakan membina siswa-siswi SMA itu di asrama, yang dihuni 120 orang siswa.

Kini semua yang mengurus asrama adalah alumni yayasan tersebut, selain Helen juga Wakil Kepala Asrama Halasan Sitorus, alumni USU jurusan teknik elektro, Alonso Manik, pembina, alumni USU jurusan arsitektur, Flora Panjaitan, dokter, alumni USU.

Tak sedikit alumni yang aktif dalam kegiatan-kegiatan pembangunan yang membantu lingkungan sekitar kampung, melaksanakan try out bagi siswa SMP, latihan menghadapi ujian, membagi informasi perkuliahan, dan sebagainya,” kata Helen.

Sejak berdiri sampai 12 tahun, mulai tahun 1992-2004 asrama dikelola oleh militer.

“Kini pengurus asrama adalah nonmiliter. Kedisiplinan yang diterapkan oleh militer juga bisa diterapkan oleh pengurus asrama yang nonmiliter, hanya saja dimodifikasi agar tidak terlalu kaku, karena anak-anak bukan tentara,” ujar Helen.

Para orangtua dan anak-didik yang berhasil masuk ke sekolah itu, tentu sangat bersyukur. Sebab, sekolah itu telah terbukti mampu membangun karakter anak didik agar terus mengarah ke hal-hal yang baik.

Menurut TB Silalahi, 15 tahun lalu di Soposurung, tercatat sebuah sejarah berdirinya asrama Yayasan Soposurung yang bekerja sama dengan sekolah negeri, yakni SMAN 2 Soposurung Balige, dengan misi pembangunan karakter siswa.

“Memang waktu itu sudah ada sekolah Taruna Nusantara di Malang waktu itu, tetapi itu murni swasta. Ini pertama kali swasta menggandeng sekolah negeri untuk pembangunan karakter siswa,” katanya.

Karenanya, Presiden Soeharto ketika itu, menetapkan SMAN 2 Soposurung, Balige sebagai sekolah percontohan dalam dua hal, yakni kerja sama swasta dengan pemerintah dalam pendidikan, dan kedua sekolah untuk membentuk karakter siswa.

Selain membina kerohanian, waktu itu, kepala asrama dipegang oleh militer dibantu beberapa stafnya siap menggembleng siswa untuk kedisiplinan. Misalnya, sikap menghormati kakak kelas dan orang yang lebih tua, disiplin dalam asrama, termasuk menata kamar tidur, latihan fisik, dan pembinaan mental lainnya. Di luar asrama pun mereka harus tetap menunjukkan sikap yang sopan dan tidak menyombongkan diri karena para siswa itu adalah orang-orang pilihan dari berbagai wilayah.

Salah satu contoh, saat makan bersama, harus dilakukan dengan cara militer, yakni dengan sikap tertib dan tetap siaga. Saat penyambutan siswa baru bulan Juli 2007, para siswa digabung dengan para tamu untuk makan bersama di ruang makan siswa. Meski terjalin percakapan yang akrab antara para tamu dan siswa, namun kedisiplinan tetap terjaga.

Bukan saja ilmu pengetahun yang mereka asah di sana, juga talenta, dari kegiatan-kegiatan yang keras seperti bela diri hingga kesenian yang membutuhkan bakat tertentu.

Bakat itu telah mereka tunjukkan saat penyambutan 40 siswa baru Yasop belum lama ini. Di hadapan para undangan, seperti pengusaha Edwin Soeryadjaya, Gubernur Sumatera Utara Rudolf Pardede, Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Ismeth Abdullah, Direktur PLN Sunggu Aritonang, pengusaha Jhon Aritonang, Bupati Tobasa Monang Sitorus, Bupati Taput Torang Lumbantobing, Bupati Nias, Binahati B Bahea, Bupati Samosir Mangindar Simbolon, Bupati Humbang Hasundutan Manatap Simanungkalit dan undangan lainnya. Mereka mempertunjukkan atraksi-atraksi yang memukau. Ada yang menari tradisional, modern, ketangkasan, dan sebagainya.

Tak sia-sia subsidi biaya yang secara rutin dikeluarkan oleh yayasan. Biaya operasional Yasop Rp 65 juta sampai 70 juta per bulan. Sumber dana tetap masih dari Letjen (Purn) Dr TB Silalahi, sebagai Ketua Dewan Pembina Yasop.

Donatur yang secara rutin menyumbang tidak ada. Namun, tak sedikit sumbangan yang telah diterima, di antaranya dari pengusaha-pengusaha besar dan kalangan pemerintah, yang pernah berkunjung ke Yasop, juga Pemda setempat.

Sekolah Internasional

Setelah 15 berkiprah, pemerintah melalui Depdiknas menetapkan SMAN 2 sebagai salah satu sekolah yang akan dipersiapkan menjadi sekolah nasional bertaraf internasional. Untuk itu, Yasop secara khusus mendatangkan guru-guru internasional untuk mengajar di SMAN 2 Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumut.

“Diharapkan guru-guru tersebut akan membantu mempersiapkan siswa menghadapi program internasional agar segera bisa menyesuaian diri, misalnya belajar dengan bahasa pengantar bahasa Inggris,” kata TB Silalahi.

Selain itu, guru-guru internasional itu diharapkan bisa membantu guru-guru lokal beradaptasi dengan suasana internasional, baik dalam pengajaran, ilmu, maupun suasana. “Guru-guru internasional itu guru-guru yang telah berpengalaman mengajar di sekolah internasional, antara lain di Singapore International School di Jakarta. Mereka semua alumni Yayasan Soposurung sendiri. Jadi mempermudah komunikasi dengan sesama siswa, pengurus asrama, dan sebagainya,” kata mantan Menpan itu.

Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Ismeth Abdullah mengatakan, dia sangat salut kepada TB Silalahi atas keteguhan komitmennya membangun karakter bangsa melalui Yasop. Menurut Ismeth, apa yang dilakukan Yasop sangat tepat dilakukan di Kepri, seperti Batam dan pulau-pulau lainnya.

“Tak sedikit warga Kepri yang sekolah di Singapura, Malaka, Kuala Lumpur, Malaysia untuk memperoleh sekolah yang berkualitas. Kalau di Kepri ada sekolah seperti yang dikelola Yasop, tentu sekali warga Kepri tak perlu membayar mahal untuk sekolah di luar negeri,” katanya.

Ismeth mengutarakan, dia sangat tertarik membangun sekolah sejenis di Kepri, apalagi sudah menerapkan kurikulum internasional.

“Mungkin kami bisa bekerja sama dengan Yasop untuk mengadopsi konsep yang digunakan di sini,” katanya.

Memang, Yasop telah terbukti dengan konsisten mempertahankan bahkan meningkatkan mutunya selama 15 tahun. Tentu sekali, para alumninya memiliki tanggung jawab yang tidak kecil agar sekolah berasrama itu bisa tetap eksis. Kalau perlu, mereka mendirikan unit usaha untuk mendanai asrama, karena tidak mungkin selamanya Ketua Dewan Pembina yang mensubsidi.

Sumber :( SP/Noinsen Rumapea) Suara Pembaruan


Ada 2 tanggapan untuk artikel “Pendidikan yang Mencerdaskan dan Berkarakter”

  1. Tanggapan sabar tambunan:

    Horas,

    Memang, inilah salah satu contoh berguna untuk meningkatkan kwalitas pendidikan untuk anak didik orang batak. Perlu dijadikan sebuah GERAKAN (movement) bahwa modal yang utama/nomor satu bagi orang batak adalah pendidikan yang harus berkwalitas. Jadikan pendidikan ditano batak sebagai sebuah ‘infrastruktur’, bukan komoditi (komersial). Layaknya membangun jalan, saluran irigai, listrik dan sejenis.

    Biar saja negara kita kelihatannya menempatkan pendidikan menjadi semakin mahal (tak terjangkau) bagi rakyat miskin. Tapi ini janganlah terjadi di tano batak. Sebuah komunitas tidak akan pernah maju, apabila rakyat miskinnya tidak punya harapan ‘naik kelas’ status sosial dan ekonominya. Harapan ini hanya mungkin diberikan melalui pendidikan yang betul-betul berkwalitas !!

    Banyak bentuk dan ide lain yang bisa kita gali bersama dan terapkan menyangkut pendidikan berkwalitas ini. Tidak harus atau melulu dengan membangun sekolah seperti diatas. Buatlah Program ” LULUS SEKOLAH MENENGAH NILAI TOEFL MINIMAL 500 !!”.

    Untuk kepentingan itu sebaiknya kita bentuk sebuah lembaga independen. Para Pemda di tano Batak (Taput, Tapsel, Mandailing/Natal, Toba Samosir, Simalungun, karo, Dairi, Pemko Sibolga, Humbang, kota Pematang Siantar) cukup menjadi sponsor. Program ini juga akan kita tawarkan ke berbagai negara maju dan lembaga dunia untuk ikut membantu . Mereka dapat membantu berupa dana, fasilitas/alat, maupun tenaga pengajar native speaker.

    Saya yakin dalam 10 sampai 15 tahun kedepan, program ini mampu membentuk kepercayaan diri dan rasa bangga para peserta anak didik di tano batak. Ini penting sekali untuk pembentukan karakter dan sebagai modal hidup mereka selanjutnya…..untuk maju, kepercayaan diri dan rasa bangga harus punya

    Saya usul konkrit kepada Admin untuk membuatkan forum khusus di website ini, forum ” ANAK BATAK TOEFL 500 “. Dari Forum inilah kita mulai bergerak, bergerak dari bawah tanpa perlu mengandalkan dan tergantung dari tokoh-tokoh tertentu.
    Biarlah lembaga independen yang kita mau bentuk seperti diatas nantinya merupakan salah satu muara dari gerakan ini.

    Muliate

  2. Tanggapan Maridup Hutauruk:

    Beberapa tahun lalu saya ada ditelepon oleh seseorang yang mengaku dari salah satu stasiun TV-Satelit untuk diwawancarai mengenai program pendidikan di Indonesia. Saya tidak menyediakan waktu saya sehingga tidak terjadi wawancara dan hanya memberi masukan tentang inti program pendidikan terutama untuk sekolah dasar dan sekolah menengah.

    Program pendidikan formal untuk Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah di Indonesia sangat membunuh kreativitas siswa oleh karena sedemikian banyaknya matapelajaran yang harus ditempuh dengan ketersediaan waktu yang sangat tidak memadai untuk dipenuhi oleh siswa maupun guru dengan kondisi Sosial-ekonomi masyarakat Indonesia secara umum selama beberapa dekade. Saya lebih setuju dengan hanya tiga mata pelajaran yang tidak perlu disebut pokok atau tidak pokok tetapi sangat menyangkut harkat hidup manusia sebagai mahluk sosial yaitu 1. Ilmu Pasti (yang kandungannya Matematika,Ilmu Alam, Ilmu Hayat), 2. Budipekerti, 3. Bahasa Inggris.

    Penguasaan Bahasa Inggris sudah dipastikan memuat kandungan semua ilmu yang ada di jagad ini. Bahasa Belanda dan Bahasa Jepang yang pernah bersentuhan dengan Indonesia boleh juga disetarakan sebagai sumber ilmu namun semangat nasionalisme yang mengharamkan bahasa ini membawa bangsa ini terperangkap dalam kebodohannya. Bahasa Indonesia yang sejak dari kandungan sudah secara insting dikuasai oleh insan Indonesia mengapa harus menjadi materi yang mengancam prestasi siswa, kecuali materi ini hanya dipakai sebagai pokok pelajaran kreativitas yang tidak diwajibkan mungkin bermanfaat nantinya bagi siswa yang bercita-cita jadi ahli bahasa Indonesia, penyair, pengkhotbah (orator), pelawak atau sejenisnya.

    Budipekerti sudah pasti akan memancang manusia Indonesia pada moral sosial-budaya bangsa. Materi Pendidikan Agama bukanlah pembawa moral sosial-budaya bangsa, melainkan hanya rentetan peristiwa sejarah agama itu yang tidak pula menjamin ketaqwaan iman yang mempelajarinya. Pemahaman indoktrinasi Pancasila yang diharapkan menjadi moral sosial-budaya bangsa ternyata runtuh dalam sekejap mata yang hanya berdurasi rejim demi rejim, belum lagi adanya tambahan materi yang berkandungan lokal dalam lingkup yang heterogen. Selayaknyalah materi-materi ini masuk dalam pelajaran kreativitas yang tidak diwajibkan penilaiannya. Materi Budipekerti bukanlah pelajaran yang dapat dihafal sesaat lalu diuji dan lulus sebagaimana pelajaran agama, pmp, bahasa inonesia, kesenian, dsb. melainkan perilaku yang dipelajari dan dilakukan hari demi hari sesuai perjalanan waktunya.

    Materi pelajaran Ilmu Pasti merupakan kesadaran akan adanya manusia di alam semesta sebagai ciptaan, sebagai pemilik bersama mahluk sosial dan mahluk lainnya. Kesadaran berpikir terhadap Ilmu Pasti ini tentu akan membawa siswa kepada kesadaran sebagai dirisendiri, kesadaran sebagai komunitas, kesadaran sebagai bagian dari ciptaan, dan menyadari adanya kenyataan-kenyataan di alam semesta ini. Kesadaran akan materi pelajaran Ilmu Pasti tentu akan membawa keterkaitannya dengan materi pelajaran Budipekerti.

    Jadi, materi pelajaran Ilmu Pasti dan Budipekerti menjadi materi yang berjiwa dan hidup serta dengan siswa hari demi hari, materi pelajaran Bahasa Inggeris menjadi kendaraan yang membawa siswa menjadi siswa seutuhnya untuk bersaing mendalaminya. Matapelajaran diluar ini semuanya merupakan matapelajaran statis yang tidak berjiwa secara umum namun dapat menjadi pelajaran kreativitas yang tidak wajib dan tidak menjadi batusandungan bagi siswa untuk disebut berprestasi. Apa perlu prestasi siswa dibidang agamanya agar semua siswa Indonesia mengejar prestasi itu? Apa perlu prestasi kesenian seorang siswa semisal seni suara, seni tari, seni lukis agar semua siswa berlomba mengejar seni tersebut sehingga suatu saat semua orang Indonesia bersoaraksorai, berjogetria, mencoret-coret?

    Apapun katanya, bentuk-bentuk pendidikan itu adalah penting termasuk semua program pendidikan yang ada di Indonesia saat ini, tetapi menghabiskan sangat banyak waktu untuk nantinya tidak dapat dimanfaatkan oleh seseorang siswa yang sesuai bagi dirinya untuk kemaslahatan dirinya, kelompoknya, orang banyak, masyarakat, bangsa, manusia,alam semesta… kan sia-sia…

    Saya pribadi merasa menyesal bersekolah formal selama 20 tahun mendapatkan sedikit hanya sedikit ilmu yang berdayaguna bagi kemaslahatan orang banyak, sementara dari belajar non formal dirasa menjadi lebih banyak manfaatnya. Oleh karena itu, saya sangat setuju dengan usulan rekan komentator Sabar Tambunan untuk program Bahasa Inggrisnya. Horas

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.