Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Kamis
2
Agt '07

Melihat Dunia Lain dengan Menyelam


Politisi tidak pernah percaya akan ucapan mereka sendiri, karena itulah mereka sangat terkejut bila rakyat mempercayainya

Menyelam (scuba diving) merupakan olahraga yang menyenangkan. Apalagi jika tiba waktunya berburu tempat-tempat menyelam, tentu akan lebih mengasyikkan lagi. Karena itu tak sedikit yang menggandrungi olahraga ini.

Salah seorang di antara penghobi selam ini adalah Ivan K Silaban. Melalui surat elektronik yang dikirimkannya, lelaki berusia 30 tahun yang kini berdomisili di Pandan, Tapanuli Tengah menceritakan panjang lebar pengalamannya menelan asinnya air laut Indonesia.

Ayah satu anak ini menggeluti hobi menyelam sejak kuliah di program studi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau, Pekanbaru. Perkenalan pertamanya dengan dunia bawah laut ini berawal saat ia diutus kampusnya itu mengikuti pelatihan selam pada Desember 1997 di Padang.

“Mulanya sih bukan hobi, tapi lebih cenderung kebutuhan pendidikan. Aku ikut pelatihan selam pada Desember 1997 di Padang. Karena gratis, aku sampai rela meninggalkan ujian,” sebutnya.

Sejak mengikuti pelatihan selam itulah, hobi menyelam ini kian menjadi-jadi. Menggilai aktivitas
bawah laut ini kian mencapai puncaknya ketika ia bergabung di Reef Check Aceh and North Sumatera, sebuah NGO yang konsen terhadap kelestarian terumbu karang di mana ia menjadi salah satu konsultannya.

Kalau dihitung-hitung, sejak menggeluti hobi menyelam sejak 10 tahun terakhir, ia sudah melanglang buana ke sejumlah daerah eksotik di Indonesia, misalnya saja Bali, surganya para penyelam. Indahnya dunia bawah laut Sanur, Padang Bai, Tulamben dan Pulau Menjangan sudah dijalaninya.

Selain Bali, hampir seluruh lokasi penyelaman di Sumatera juga diarunginya. Di Tapteng misalnya ada di Poncan, Pulau Mursala dan Pulau Karang, Barus. Di Nias menyelam di Kepulauan Hinako, Sirombu dan Lahewa. Tak ketinggalan lautan Aceh juga diselaminya. Mulai dari Sabang dan Pulau Rondo, pulau terluar di Sumatera. Demikian pula Pulau Banyak.

Intinya, menyelam bagi Ivan tak sekadar hobi, tapi juga profesi. Sejumlah kursus menyelam sudah diikutinya seperti Open Water Diver di tahun 1997, Digital Underwater Photography tahun 2006. Ke depan, rencananya mau melanjutkan ke Underwater Videography dan lanjut sampai Dive Master.

Kini ia sudah menyandang sertifikasi yang dikeluarkan oleh Professional Association of Diving Instructor (PADI).

Melihat Dunia Lain
Dari sejumlah lokasi penyelaman, yang paling berkesan saat ia bersama tim Reef Check Aceh dan North Sumatera menyelami laut Aceh pascatsunami. Selama dua minggu, ia dan rombongan menyelam pada titik-titik tertentu, mulai dari Sibolga hingga ke Pulau Rondo.

“Ini petualangan paling mengesankan bagiku. Waktu menyelam di Pulau Rondo, aku membawa bendera merah putih yang diikatkan ke tangkiku. Ini menunjukkan, kalau kita sudah berada di titik paling utara Sumatera,” ujarnya berkisah soal pengalaman paling berkesan selama menyelam.

Ayah satu anak ini punya alasan kenapa suka menyelam. Menurutnya, menyelam merupakan hobi yang unik dan jarang dilakukan orang lain. Selain itu, keingintahuan mengenai dunia bawah laut hanya bisa kita nikmati dengan bebas melalui menyelam.

“Ada kepuasan sendiri saat memasuki dunia bawah air. Seakan-akan kita memasuki dunia lain. Warna-warni dunia bawah air itu sangat berbeda dengan daratan. Pada saat kita masuk ke air, ikan-ikan akan menjauh, tetapi kemudian datang mendekati kita seakan-akan menyelidiki kita, kali ikannya berpikir, ini makhluk apa ya? Kok aneh gitu?,” ujar konsultan pengelolaan terumbu karang ini bercanda.

Bertemu Ikan Hiu
Menjelajahi perut laut tentu tidak sering menghadapi rintangan yang membahayakan. Sekalipun menguasai teori selam bisa jadi bahaya itu datang di luar perkiraan. Pengalaman Ivan misalnya, yang beberapa kali sempat menemui arus kuat yang mampu menyedot dirinya untuk terus ke dalam. Belum lagi pengalaman bertemu dengan ikan hiu. Ini terjadi saat ia mencari Ikan Mola-Mola di Pulau Menjangan, Bali bersama kru Expedition Metro TV pada bulan September 2006.

Saat itu ia syuting di kedalaman 30-an meter, tiba-tiba seorang rekannya menunjuk-nunjuk memberi aba-aba bahwa dibelakangnya ada dua ekor ikan hiu. Namun dengan gagah berani, aku mendekati hiu tadi dan ambil videonya.

“Perkiraanku, itu hiu jenis Leopards Reef Shark, hiu yang tidak terlalu ganas. Saat semua sudah naik baru aku tahu bahwa hiu itu ternyata jenis White Tip. Ini jenis hiu yang cukup ganas. Aku nggak bisa bayangin kalau si hiu lagi lapar, pasti tidak seramah dan sebaik itu mau berpose di depanku,” sebutnya.

Selain itu penyelam harus sehat, bebas dari sakit berat seperti jantung, ayan dan diabetes, karena kegiatan di bawah laut betul-betul menguras tenaga. Namun sebesar apapun rintangannya, tentu tidak mampu mengalahkan pesona warna-warni terumbu karang, gunung laut, lembah dasar laut yang jauh lebih menakjubkan dibanding pesona alam di daratan. Itulah sebagian keasyikan ketika hobi menyelam sudah mendarah daging.

Menyelam Hobi yang Mahal?
Bagi sebagian orang, mungkin menyelam bukan hobi yang murah. Dibutuhkan banyak biaya untuk memenuhi peralatan dan fasilitas lain yang dibutuhkan. Namun asumsi ini tidak disepakati Ivan K Silaban, salah seorang penghobi olahraga bawah air ini.

“Menyelam hobi yang mahal? Itu tergantung orangnya sih. Kalau kita bandingkan dengan sepakbola mungkin ia. Karena dengan modal Rp 50.000 misalnya, sepakbola sudah dapat dimainkan. Bandingkan dengan menyelam, uang Rp 50.000 itu hanya untuk sewa 1 tangki saja,” katanya.

Menurutnya, menyelam menjadi terlihat mahal dan cukup bergengsi lantaran biaya akomodasi dan rentetannya. “Yang membuat mahal itu perjalanan kita bila ingin menjamah lautan seperti Bunaken, Komodo, Menjangan dan sebagainya,” ujar Ivan.

Kalau untuk fasilitas seorang penyelam bisa disewa. Untuk 2 kali dalam sehari penyelaman hanya sekitar Rp 300-400 ribu. Tapi sewa boat menuju lokasi bisa Rp 500.000 hingga Rp 3.500.000 per hari.

Agar supaya murah, biasanya kita menyelam berkelompok. Ini sesuai dengan filosofi menyelam itu sendiri yang melarang menyelam sendirian. Biasanya perkelompok bisa 4-8 penyelam urunan. Jika menyelam berdua akan butuh sekitar Rp 2.000.000 untuk 2 kali penyelaman dalam sehari, termasuk alat selam, sewa boat dan makan.

“Itu berarti Rp 1.000.000 per orang. Jika 4 orang hanya Rp 3.000.000 atau Rp 750.000 per orang. Dan jika berdelapan akan lebih murah lagi, karena per orang cukup membayar Rp 600.000 per orang,” sebutnya merinci.

Itu kalau kita belum punya alat selamnya (asumsinya semua disewa). Jika sudah punya alat selam, kita hanya butuh sewa tabung dan weigh belt serta boat saja dan tentunya beli makanan. Biayanya akan sangat jauh lebih murah lagi. Lalu, siapa bilang hobi menyelam itu mahal?

Sementara untuk kursus selam, menurut sesepuhnya PADI di Indonesia, Cipto Aji Gunawan, disediakan sangat beragam, khususnya di specialty-nya. Secara umum, pelatihan yang tersedia seperti: Open water dan advanced. Kemudian ada specialty deep diver, night diver, wreck diver dan underwater navigation. Yang lebih spesial lagi bisa berlatih underwater photo, underwater video dan lain-lain.

Biaya pelatihan 1 orang lumayan mahal, tapi kalau berkelompok dapat lebih murah. Ivan dkk sendiri pernah mengadakan pelatihan selam bagi Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Nias Selatan dengan sertifikasi PADI. Soalnya, 70 persen penyelam di dunia disertifikasi oleh PADI, sehingga penyelam dengan sertifikat ini diterima menyelam disemua operator selam di dunia dan telah diakui secara internasional. Jika ada yang ingin kursus selam dengan sertifikasi PADI, Ivan cs juga bisa memfasilitasinya.

Sumber : (Dedy Ardiansyah-Yeni Kurniawi) Harian Global, medan 

[SB] Tags : , ,



Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Adik Bunuh Kakak Kandung
Artikel selanjutnya :
   » » Siapa Bilang Kopi Sigarar Utang Ngga PATEN ?