Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Jumat
13
Jul '07

Opera Batak yang Hanya Nostalgia


JARUM jam sudah menunjuk angka 20.30 wib, hujan tak kunjung berhenti menyelimuti lapangan Sisingamangaraja, Balige, Toba Samosir, Sumatera Utara (Sumut), Sabtu, Juni lalu. Namun pertunjukan opera Batak bertajuk Srikandi Boru Lopian di lapangan itu tetap ramai dikunjungi penonton dari berbabagai etnis yang berasal dari daerah Tapanuli, bahkan ada juga dari luar Sumut.

Opera ini menyuguhkan pertunjukan perjalanan hidup Lopian, putri kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Sisingamangaraja XII dan Boru Sagala (isteri ketiga), yang gugur dalam pertempuran melawan Belanda. Opera garapan Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) pimpinan Thompson Hs ini digelar untuk memeringati 100 tahun gugurnya pahlawan nasional Sisingamangaraja XII, tepatnya Juni 1907.

Opera ini dihantar dengan sebuah puisi berjudul Pertempuran Terakhir Sisingamangaraja XII oleh penyair Sitor Situmorang. Saking antusiasnya penonton, Sitor yang menceritakan peperangan Sisingamangaraja XII diprotes karena terlalu lama. Mereka mendesak agar opera segera dimulai. Desakan itu membuat Sitor segera mengakhiri cerita dan pembacaan puisinya. Setelah Sitor membaca puisinya, layar ditutup sejenak. Kemudian layar dibuka kembali pertanda dimulainya babak pertama Opera. Pertunjukan dimulai dengan menampilkan Boru Sagala yang menceritakan penderitaan dirinya saat mengandung Lopian pada masa peperangan Sisingamangaraja XII dengan pasukan 800 orang melawan Belanda di Lintong-Pearaja Kabupaten Humbang Hasundutan.

Boru Lopian sepanjang hayatnya hidup dalam situasi perang. Ia tewas sekitar umur 17 tahun ditembak serdadu Belanda di jurang Sindias dekat Aek Sibulbulon Dolok Sitapongan, Sionom Hudon, Kecamatan Parlilitan, Kaupaten Humbang Hasundutan. Sebagai putri kesayangan Sisingamangaraja XII memeluk jenazah Lopian yang berlumuran darah, sehingga kesaktian sang Raja pudar karena ia berpantang terkena darah. Sisingamangaraja XII pun akhirnya gugur dikepung Belanda. “Opera ini terdiri dari lima babak cerita. Dimulai dari pertunjukan menampilkan Boru Sagala yang menceritakan masa pengungsian hingga lakon terakhir yang menampilkan peristiwa tertembaknya Lopian, gugurnya Sisingamangaraja XII, hingga ditawannya keluarga Sisingamangaraja XII,” kata Thompson sebagai penulis skenario opera Batak Srikandi Boru Lopian.

Para penonton antusias menyaksikan pertunjukan hingga babak terakhir yang ditutup dengan lagu Aek Sibulbulon, Lagu yang menceritakan perjalanan terakhir Lopian. Iwan Lubis, 26, seorang penonton mengaku senang menonton opera Batak. “Baru kali ini saya menonton opera Batak, walau berlangsung dua jam lebih, tapi saya tak merasa bosan. Setelah menonton opera Batak Srikandi Boru Lopian, selain terhibur saya semakin tahu sejarah Lopian dan Sisingamangaraja XII. Selama ini saya hanya tahu dari lagu dan buku cerita yang tak selengkap opera Batak ini,” katanya.

Rithaony Hutajulu Dosen Etnomusikologi Universitas Sumatera Utara (USU) mengatakan opera Batak salah satu pertunjukan rakyat di Sumut. Opera ini mulai dipertunjukkan di Tapanuli sekitar 1928, termasuk pertunjukan transisi tradisional ke Eropa modern, tak murni tradisional seperti ketoprak atau ludruk di Pulau Jawa. “Pertunjukan ini modifikasi opera bangsawan yang berasal dari Malaysia pada masa penjajahan Inggris di negeri itu, sehingga nuansanya seperti opperete modern, tapi lakon dan tokoh ceritanya tradisional tentang cerita rakyat di Sumut,” kata penggiat musik tradisional yang mendalami musik dan lagu-lagu opera Batak itu.

Opera ini berkembang di Tapanuli dengan bentuk penggabungan seni pertunjukan teater dengan musik tradisional batak yang diiringi instrumen musik tradisional Batak seperti hasapi, gondang, dan taganing. Babak demi babak juga diselingi lagu tradisional mulai dari lagu perjuangan, andung-andung (sedih), hingga tumba (regge). Lagunya variatif dan kadang tak sinkron dengan tema opera Batak yang sedang dipertunjukkan. Opera sempat jaya pada 1960-an, Opera sangat populer pada masa Tilhang Gultom grup Serindo yang hampir mendominasi opera Batak tak hanya di Sumut tapi juga sampai ke Sumatra Barat dan Riau. Setelah masa kejayaan Tilhang Gultom grup opera bertambah banyak menjadi sekitar 35 grup. Antara lain rompemas, serada, tiurma, rofermasi, SGSI, rosopera, saut cinta nauli, dan dos roha.

Erliana Sihombing,62, pemain opera Batak grup serindo senang dengan tampilnya kembali opera Batak pada peringatan 100 tahun gugurnya Sisingamangaraja XII. “Kami bisa bermain opera lagi sekaligus bernostalgia. Saya bermain opera sejak 1965, terakhir tahun1985. Waktu itu kami berkeliling, di satu tempat kami bisa selama sebulan main opera. Sejak itu tak ada lagi opera Batak di panggung terbuka,” kata pendiri tiurma opera itu. Marsius Sitohang, mantan pemain dos roha opera mengharapkan adanya sebuah lembaga yang membangkitkan kembali opera Batak. “Saya yakin opera Batak bisa dibangkitkan kembali kalau dikelola dengan profesional.

“Lembaga itu bisa mengelola pertunjukan yang nantinya para pemain bisa hidup dari opera itu,” kata tukang beca yang diangkat menjadi dosen USU karena keahliannya memainkan musik tradisional. Musisi Ben Pasaribu mengatakan opera Batak tak mungkin lagi dibangkitkan seperti masa lalu yakni pengelola dan pemain opera itu hidup dari penjualan tiket. Menurutnya dimensi ruang dan waktu sangat berpengaruh terhadap selera masyarakat. “Kalau dulu opera Batak diminat dan masyarakat mau membeli tiket menonton karena tak ada pilihan hiburan lain, sekarang sudah banyak televisi, tap, radio, bioskop, dan musik populer yang setiap saat dapat dinikmati,” katanya.Ben dan Rithaony berpendapat sama bahwa opera Batak saat ini hanya bersifat perayaan budaya dan semacam nostalgia. “Tapi ini juga bisa sebagai rekonstruksi sejarah dan kalau digarap dengan profesional dengan pertunjukan opera artistik akan diminati masyarakat. Tapi pengelola dan pemainnya tak mungkin lagi seperti dulu hidup dari penjualan tiket, tapi harus ada sponsor yang mendanainya kalau mau menjadi standar pertunjukan artistik,” kata Ben yang pernah menggarap opera Batak Metropolitan di TVRI Medan selama 32 episode.

Menurut Ben opera dapat dibangkitkan kembali sebagai pertunjukan seni dan hiburan untuk pariwisata yang dapat diselenggarakan pada waktu-waktu tertentu. “Tapi kalau dibangkitkan dengan pengelolaan agar pemain menggantungkan hidupnya sebagai pemain opera seperti dulu, itu tak mungkin,” katanya.

Grup opera Batak saat ini tidak ada lagi yang eksis berkeliling seperti masa lalu. Yang ada hanya pusat latihan yakni PLOt di Pematang Siantar di Sumut dengan jumlah personil sekitar 30 orang, 9 di antaranya pemain opera lama. Selain itu ada opera Batak yang melakukan pertunjukan dengan sistem pesanan atau muncul ketika ada even tertentu dengan mengumpulkan pemain opera Batak yang lama dan digabungkan dengan pemain baru. Selain di Sumut ada juga grup opera Batak di Jakarta pimpinan Krisman Gultom generasi Tilhang Gultom. Grup Krisman ini pun tampil kalau ada pesanan atau acara tertentu.

Kepala Badan Informasi dan Komunikasi (Infokom) Pemprov Sumur Eddy Syofian mengatakan pihaknya berkepentingan membangkitkan pertunjukan seni di Sumut, termasuk opera Batak. “Pertunjukan seni tradisional ini dapat menjadi media penyampaian pesan-pesan pembangunan dan pengembangan pariwisata. Kendala saat ini masalah kaderisasi pemain-pemain baru, penyampaian pesan yang harus aktual dan muatan lokal. Kalau masalah dana kami telah meminta kabupaten dan kota membiayai pengembangan pertunjukan seni tradisional, dana itu ada hanya perhatiannya yang kurang,” katanya.**

Sumber : (Kennorton Sirait) Kennorton Blog


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.