Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Sabtu
7
Jul '07

DHL Express Dituduh Rugikan Konsumen


Perusahaan jasa pengiriman barang kelas dunia, DHL Express Cabang Indonesia, dituding telah merugikan konsumennya di Medan. Kerugian dalam bentuk penahanan barang milik konsumen, sehingga janji bahwa barang akan diterima konsumen dalam waktu 4 hari, gagal terpenuhi.

Direktur PT Multigrafindo, Albert Kang yang didampingi bagian pembelian Jimmy dan Humas Rico Silaban, mengatakan hal itu kepada wartawan di Bandara Polonia, Jumat (6/10).
Albert menerangkan, pihaknya membeli (impor) barang berupa inflatable ball (balon yang terbuat dari bahan PVC) dari Guangzhou, China. Produk inflatable ball ini digunakan untuk menghibur anak-anak di arena permainan Dysney Funtassy Land yang digelar di Medan selama sebulan. “Sesuai perjanjian kita dengan penjual, barang akan dikirim melalui cargo udara dan laut,” kata Albert.

Pengiriman barang melalui cargo udara, lanjutnya, disepakati menggunakan perusahaan jasa pengiriman barang DHL Express. Pihak DHL Express di China sudah menyanggupi barang akan tiba di Medan, paling lama dalam waktu 4 hari.
Menurut Albert, untuk jasa pengiriman barang tersebut, pihaknya membayar US$ 5.280 atau sekitar Rp 50 juta lebih. “Karena barang itu bukan untuk diperdagangkan, maka pihak DHL menyatakan pemesan di Medan tidak perlu melengkapi dokumen yang dibutuhkan untuk mengimpor barang. Semuanya menjadi tanggung jawab DHL Express,” ujarnya.

Barang yang dikirim dari Guangzhou tanggal 10 Juni 2007 itu diperkirakan tiba di Medan berkisar tanggal 13 atau 14 Juni 2007. Pada tanggal 13 Juni 2007, pihak DHL menginformasikan, jika barang telah tiba di Jakarta (Bandara Soekarno Hatta).
“Setelah barang tiba di Indonesia, ternyata barang tidak langsung ke Medan, melainkan di Jakarta. Pihak DHL beralasan, bahwa barang terlalu besar dan berat, sehingga tidak bisa masuk ke pesawat kecil,” tambah Jimmy.

Tetapi kemudian, pihak DHL Cabang Indonesia yang berpusat di Jakarta menginformasikan, barang tidak bisa dikeluarkan, karena pengeluaran barang dari custom clearance Bandara Soekarno Hatta harus menyertakan dokumen kepabeanan. Seperti NPWP, API dan SRP.
“Kita sangat terkejut atas informasi tersebut. Karena dalam perjanjian, semua itu menjadi tanggung jawab DHL. Di samping itu, barang itu tidak untuk diperdagangkan. Sehingga kita sangat kecewa atas pelayanan DHL Express,” tutur Rico.

Kemudian, Albert mendapat telepon dari staf DHL Indonesia mengaku bernama Supriyatno. Menurut Supriyanto seperti dituturkan Alber, disebutkan, bahwa barang dapat keluar jika pihak Multigrafindo memberi tambahan uang Rp 25 juta.
“Kami menolak permintaan itu. Anehnya, beberapa hari kemudian, ketika kita menelepon perwakilan DHL di Medan, kita diberitahu, sebagian barang sudah tiba di gudang kargo DHL Polonia. Hanya pihak DHL tidak mau mengeluarkan, dengan alasan kita harus melengkapi dokumen atau membayar Rp 25 juta,” tuturnya.
Beberapa hari kemudian, pihak DHL Indonesia di Jakarta juga memberitahu, bahwa sisa barang sudah dikeluarkan dari gudang di Bandara Soekarno Hatta. Namun sampai saat ini, pihak Multigrafindo belum menerima barang dimaksud.

“Padahal barang yang dikirimkan via laut sudah kita terima dua minggu lalu. Kita akan mengadukan ke Poldasu,” tekad Albert.

Sumber : (hisar hasibuan) MedanBisnis, Medan


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Lapdangmat: Launching & Bedah Buku “Tuanku Rao”
Artikel selanjutnya :
   » » DRR Section: Troicaire transit Meeting With Cordia