Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Selasa
19
Jun '07

Warga Eks RW 22 Cibeureum Demo


Tuntutan Ganti Rugi tak Digubris Pemkot dan Pengembang

Karena tidak memperoleh ganti rugi atas kios dan bangunan rumah mereka yang dieksekusi 2,5 tahun lalu, para pedagang dan warga eks RW 22 Cibeureum, Kec. Cimahi Selatan, Kota Cimahi, menggelar aksi unjuk rasa, Senin (18/6). Mereka menuntut Pemkot Cimahi atau pengembang Pasar Raya Cibeureum (PRC) yang menguasai tanah tersebut, segera memberikan ganti rugi kepada warga.

Aksi unjuk rasa yang berlangsung di eks tanah sengketa di Jln. Raya Cibeureum, tepat di seberang Percetakan Advent itu, menyebabkan arus lalu lintas di sepanjang ruas Jln. Raya Cibeureum - Jln. Pesantren hingga perbatasan Kota Bandung, macet.

Apalagi, dalam unjuk rasa itu, warga membakar ban-ban bekas, sehingga kepulan asap hitam mengganggu jarak pandang para pengguna jalan yang saat itu melintas di sana. Agar tidak terjadi kemacetan yang semakin parah, petugas Polres Cimahi sibuk mengatur lalu lintas di sepanjang jalan itu.

Dalam aksinya, warga eks RW 22 Cibeureum memasang berbagai poster di benteng tanah Cibeureum. Poster-poster itu pada intinya berisi tuntutan pemberian ganti rugi dan memprotes sikap Pemkot Cimahi yang tidak berpihak terhadap mereka.

Selain itu, warga membuat selebaran yang memprotes penguasaan tanah Cibeureum oleh pemerintah, berdasarkan Keputusan PK No. 92/PDT/2000 yang didasarkan pada sumpah palsu. Selebaran itu lalu mereka bagi-bagikan kepada para pengguna jalan.

Tidak diperhatikan

Koordinator warga eks RW 22 Cibeureum Agus Totok dan Silaban mengatakan, aksi itu mereka lakukan untuk memperjuangkan hak-hak warga yang telah menempati lahan seluas 2,9 ha itu selama puluhan tahun. Karena, sejak tanah Cibeureum dieksekusi 6 Januari 2005 lalu, mereka belum juga menerima ganti rugi.

Upaya mereka berkali-kali meminta DPRD dan Pemkot Cimahi memfasilitasi pemberian ganti rugi, tapi tidak ada hasilnya. Bahkan, hingga tanah Cibeureum dikuasai pemkot dan pengembang untuk dijadikan PRC dan Terminal Cibeureum, pemerintah tidak juga memikirkan nasib warga. Terbukti, dalam perencanaan pembangunan PRC, pemerintah tidak membahas soal pemberian ganti rugi kepada warga.

Hal senada disampaikan Edi, eks Ketua RW 22. Jika warga tidak juga mendapatkan ganti rugi, mereka mengancam tidak akan memilih incumbent dalam Pilkada Cimahi.

Apalagi, eks warga RW 22 terkesan diadu domba dengan warga RW 20, yang diberi izin menggunakan tanah tersebut untuk pergelaran seni. Warga RW 20 pun lalu membersihkan tanah tersebut dari rumput dan ilalang. Mereka menduga, setelah tanah itu rata dan bersih, projek PRC pun akan segera direalisasikan.

Karena aksi warga kemarin semakin memanas, hingga ada warga yang pingsan. Kasat Intelkam Polres Cimahi AKP Tatang akhirnya memfasilitasi perwakilan warga, yaitu Agus Totok dan Naibaho bertemu dengan perwakilan dari Pemkot Cimahi. Mereka diterima sejumlah pejabat Badan Kesatuan Bangsa. Namun, pertemuan itu pun tidak membuahkan hasil. Petugas hanya berjanji untuk memfasilitasi tuntutan warga.

Sumber : (A-136) *** Pikiran Rakyat, Cimahi


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Kijang Inova Kontra Sampri di Sidikalang, 1 Tewas
Artikel selanjutnya :
   » » Studi Kelayakan Jalan Lingkar Danau Toba Tahun Ini