Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Senin
4
Jun '07

Geliat Opera Batak


Opera Batak seperti memperoleh tempat unjuk diri di Taman Budaya Sumatera Utara, Sabtu (2/6) malam. Meskipun kursi yang disediakan tidak penuh (terisi sekitar tiga perempatnya), penonton masih duduk hingga pertunjukan usai.

Penonton terlihat cermat mengikuti setiap adegan dalam pertunjukan tersebut. Mereka dengan penuh sukacita memberi apresiasi berupa tepuk tangan dan gelak tawa.

Opera berjudul “Si Purba Goring-Goring”, dramaturgi Thomson HS yang diproduksi Pusat Latihan Opera Batak (Plot), Siantar, itu terbagi dalam tiga babak. Setiap babak diselingi dengan musik, lagu, dan undian berhadiah.

Mungkin ada yang beranggapan bahwa undian berhadiah yang membuat penonton bertahan. Namun, hal itu bisa ditambah jika melihat banyak penonton yang terbahak-bahak karena pasti merasa terhibur dengan adegan di atas panggung.

Ceritanya, “Si Purba Goring-goring” mengajak penonton berefleksi soal kesetiaan. Purba adalah anak yatim piatu yang diasuh pamannya.

Ia hidup bersama Si Bintang, putri paman yang kemudian hari diketahui sebagai marpariban-nya. Purba pun menjalin hubungan cinta dengan Bintang. Namun, Purba harus merantau ke Barus untuk bekerja.

Purba berupaya melupakan pariban-nya setelah dijodohkan dengan putri pengusaha di Barus. Ia mulai lupa pada pariban-nya dan anaknya hasil hubungan dengan Si Bintang.

Teater rakyat

Opera Batak adalah salah satu teater rakyat yang berkembang di Sumatera Utara. Layaknya jenis kesenian tradisional lain di Indonesia, seperti ketoprak tobong di Jawa, opera ini terancam musnah tergusur budaya televisi. Lemahnya manajemen pertunjukan tradisional juga menjadikan seni tradisi ini pelan-pelan hilang.

Opera ini awalnya muncul dari Tilhang Parhasapi, yakni pengamen keliling di desa-desa Batak. “Awalnya pengamen, kami mencoba merevitalisasinya dalam Plot,” kata Thomson. Salah satunya dengan memasukkan unsur pertunjukan modern.

Ceritanya diambil dari cerita tutur yang berkembang di dalam cerita Batak yang ditulis dan diskenariokan kembali.

Pertunjukan opera Batak dilakukan sebagai salah saturangkaian peringatan 100 tahun gugurnya pahlawan nasional Sisingamangaraja XII.

Sayangnya, dukungan pemerintah untuk merevitalisasi opera tradisi ini belum maksimal. Selama ini, Plot bekerja sama dengan Asosiasi Tradisi Lisan di Jakarta, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara, Yayasan Kelola, Pemerintah Kabupaten Tobasa, dan sejumlah individu pemerhati seni tradisi.

Masih banyak hal yang harus diperbaiki, seperti regenerasi pemain opera. Kebanyakan pemain yang tampil malam itu sudah berusia tua. Sekali waktu, juga bisa dicoba menggunakan dialog berbahasa Indonesia supaya lebih banyak orang yang paham.

Seperti kata antropolog Universitas Negeri Medan, Prof Dr Bungaran Antonius Simanjuntak, saat pembukaan opera, opera tradisi ini memang harus dilestarikan.

Sumber : (wsi) Harian Kompas


Baru ada 1 tanggapan untuk artikel “Geliat Opera Batak”

  1. Tanggapan Benget.simatupang:

    hai semua masyarkat batak apa kabar
    saya hanya bilang supaya kesenian batak selaluh di lestarikan dan dijaga karena itu warisan dari nenek moyang kita sendiri makanya kita haru menjaganya.terima kasih untuk semua
    salam buat orang batak

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Politisasi, Siapa Takut?
Artikel selanjutnya :
   » » Hanya di Pixel Digitalprinting