Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Minggu
3
Jun '07

Rotua Erina T Siahaan : Meluaskan Minat pada Ulos



Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Ulos merupakan tenunan tradisional Batak yang memiliki simbol dan arti tersendiri di setiap tenunannya. Maka, orang memakainya tidak dengan sembarangan, tetapi sesuai ritual atau perayaan adat.

Meskipun demikian, ketika diberi sentuhan masa kini, kain itu bisa menjadi pakaian, rok, selendang, dan berbagai aksesori menarik.

Orang yang mencoba mengembangkan ulos agar dapat digunakan secara luas adalah Rotua Erina Theressa Siahaan (45), dengan tetap menjaga keunikan dengan tidak mengurangi makna serta simbol ulos dalam setiap produk yang dia hasilkan. Erina tetap menggunakan ulos tradisional sebagai dasar, antara lain motif bintang maratur yang biasa digunakan untuk upacara kehamilan tujuh bulan dan saat bayi lahir serta mangiring yang melambangkan keteraturan.

Dulunya ulos digunakan hanya sebagai selendang dan ikat kepala, kini Erina membuat agar ulos dapat menjadi rok atau sarung modern yang diikat dari samping, misalnya, sehingga dapat dipakai orang muda.

Erina juga memberi bordir pada kain yang aslinya berukuran pendek sehingga dapat digunakan untuk selendang panjang. Demikian juga ulos yang selama ini hanya didominasi warna merah, hitam, coklat, dan putih semakin bervariasi ketika Erina menambahkan warna baru, antara lain oranye, kuning, dan hijau.

Di luar itu, Erina juga menggunakan ulos untuk keperluan interior, seperti sarung bantal kursi, taplak meja, karpet, hiasan dinding, dan sajadah. Bisa juga dibuat dompet, hingga wadah tisu, telepon genggam, dan gunting kuku.

Hasil rancangan Rina sebagian dipamerkan dalam ajang Inacraft 2007 di Jakarta Convention Center pada April lalu. Bantal kursi yang diberi nama Ragi Hotang karena terbuat dari perpaduan kulit imitasi dengan kain ulos motif Ragi Hotang yang biasa digunakan untuk kain pernikahan berhasil memberi Erina penghargaan kategori produk ekspor.

Ibu dari empat putra dan putri ini tidak menyangka sarung bantalnya yang dibuat tiga hari menjelang pameran bisa menang.

“Bayangkan, bantal itu dipajang di atas lemari. Bisa dikatakan posisinya hampir tidak terlihat orang lewat. Eh, malah jadi juara,” kata Rina yang juga memperoleh penghargaan kategori tenunan ulos untuk produk kain bordiran Ragi Hotang pada Inacraft 2006.

Terbuka

Upaya Erina membuat ulos tampil menarik dia tampilkan dalam berbagai pameran dan peragaan busana, antara lain melalui Gelar Tenun dan Pesta Tenun. Maka, produknya tidak hanya terbatas diminati suku Batak.

“Banyak juga warga asing yang membeli produk saya saat pameran, seperti orang Thailand, China, Inggris, Amerika Serikat, dan Jepang. Paling banyak pembelinya dari Jepang,” kata Erina.

Mengenai harga, Erina mematok dari Rp 35.000-Rp 5 juta. Produk paling murah adalah dompet dan paling mahal berupa kebaya, sarung atau songket, dan selendang bordir.

Harga bantal kursi ukuran kecil terbuat dari kulit yang dikombinasi dengan ulos beserta isinya dijual minimal Rp 100.000 per buah, sedangkan bantal ukuran besar diberi harga antara Rp 150.000-Rp 175.000 per buah. Adapun untuk tas ia menjualnya antara Rp 350.000-Rp 750.000 per buah.

“Yang bikin mahal adalah motif, ukuran, dan baru tidaknya model rancangan. Motif yang rumit, ukuran besar, dan model terbaru tentunya harganya lebih mahal,” tambah Rina yang sampai saat ini hampir tidak memiliki koleksi untuk setiap produknya karena selalu terjual habis.

Mengenai omzet, ia tidak mau banyak komentar. “Saya tidak terlalu banyak berharap meraih keuntungan besar dari usaha saya ini. Saya sudah senang bila karyawan saya bisa mendapat pengetahuan, menabung, menyicil rumah, dan menghidupi keluarganya masing-masing,” ujar Rina yang kini mempekerjakan 10 karyawan dan karyawati.

Sementara untuk memamerkan produknya, ia lebih memilih di rumahnya sendiri di Jalan Anggrek Rosaliana, Jakarta Barat.

Prihatin

Hampir 20 tahun ibu dari Gerhard Reinaldi (24), Reinrahd Sihar (22), Daniel Reinaldo (20), dan Sartika Reinalda (18) ini menggeluti dunia ulos.

Suatu kali, tahun 1987, ia harus mengikuti suaminya, spesialis penyakit dalam khusus ginjal, Dr Tunggul Situmorang, sewaktu bertugas sebagai kepala rumah sakit di Balige, Sumatera Utara.

Sebagai istri kepala rumah sakit, ia harus mencari kegiatan yang banyak bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya. “Saya ini orang Batak, tetapi waktu itu saya baru pertama kali menginjakkan kaki ke sana (Balige),” kata Rina yang lahir di Pematang Siantar, 26 November 1961, tetapi ketika berusia tiga tahun hijrah ke Jakarta bersama orangtuanya.

Rina yang sempat mengenyam pendidikan setahun di Akademi Desainer Mode Indonesia di Kebon Kacang, Jakarta Pusat, ini mendalami seni ulos karena prihatin melihat ulos yang tidak berkembang.

“Dari tahun ke tahun, ukuran, pewarnaan, dan corak kain itu tidak pernah berubah. Sayang bila ulos sama sekali tidak dikembangkan,” ujar Rina yang bertekad mengangkat pamor ulos dengan desain barunya.

Ia tidak pernah putus asa meskipun awalnya apresiasi masyarakat atas kreasinya kurang. Ia juga tidak peduli terhadap reaksi pro dan kontra untuk hasil kreasinya yang kini ternyata semakin diterima luas oleh berbagai suku.

Sumber : Kompas Cyber Media


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.






Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel sebelumnya :
   » » Joanni Tirtowidjaja Dilantik Sebagai Pahlawan Ozon

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel selanjutnya :
   » » Identitas Batak Toba Menguat