Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Minggu
27
Mei '07

Penobatan Seseorang Jadi Raja di Luar “Ulaon Bius” Dalam Komunitas Batak Bisa Menuai Badai


Penobatan seseorang menjadi Raja dalam komunitas Batak bisa menuai badai kalau substansi persyaratan dan mekanisme pelaksanaannya di luar “ulaon bius” (ditangani petinggi tokoh-tokoh marga). Penobatan Raja dalam konteks kultur Batak mesti transparan, ada kriteria, parameter apa dan sudah sejauhmana kejuangannya memajukan orang Batak. Sebab, predikat Raja dalam pengeritan harfiah kehidupan Batak sehari-hari bukan memiliki singgasana kerajaan, akan tetapi suatu bentuk apresiasi dihormati.

Tokoh adat Raja Partahi Sumurung Janter Aruan SH ketika dimintai komentarnya, Jumat (25/5) di kantornya mengatakan, ketokohan Syamsul Arifin SE sudah punya track record cukup baik di tengah masyarakat, pantas dipuji. Sosok orangnya supel dan komunikatif, mampu menjaring simpati masyarakat. Namun sebaik diketahui dari massmedia dinobatkan jadi Raja Batak, sangat mengejutkan dirinya. Sebab bukan pekerjaan gampang menobatkan seseorang menjadi Raja dalam komunitas Batak.

Tanpa bermaksud mempengaruhi, menobatkan seseorang menjadi Raja dalam kehidupan kultur Batak, ada mekanisme. Substansi persyaratan fisik, perilaku dan kharisma dilengkapi bobot ketokohannya, mesti ada parameternya. Lagi pula menobatkan seseorang menjadi Raja adalah perhelatan besar, jika pelaksanaannya di luar “ulaon bius” bisa menuai badai, kata Janter Aruan.

Menceritakan ulang ketika dia dinobatkan tahun 2000 di Aruan Dolok Natolu Tali Kecamatan Silaen. Tobasa, perhelatannya transparan dan pelaksanaannya ditangani “ulaon bius”. Janter Aruan SH selaku generasi kelima dari moyangnya diputuskan “ulaon bius” berhak menyandang gelar kakeknya, Raja Partahi Sumurung. Padahal penobatan nama kakeknya masih level klan marga Aruan keturunan Raja Partahi Sumurung. Penobatannya selaku generasi ke-18 dari klan marga Aruan sudah melalui pertimbangan matang oleh petinggi marga-marga dan tokoh adat.

Karena itu dia mengimbau supaya Syamsul Arifin jangan sampai terjebak, karena tidak tertutup kemungkinan trik-trik seseorang atau kelompok tertentu. Apakah tujuannya untuk mencari keuntungan atau dari kajian kacamata politik melunturkan citra sosok Syamsul Arifin di mata masyarakat dalam pertarungan di pentas Pilkada Gubsu mendatang. Artinya menobatkan dirinya sebagai “Raja Batak” bisa menuai badai berkepanjangan.

Julukan “Raja Batak” adalah sangat akbar dalam kultur Batak atau dalam pengeritan mikro kulturatif memiliki “kesaktian” dan religius merupakan titisan raja-raja terdahulu. Untuk figur sekelas Syamsul Arifin sudah malang melintang di organisasi menurut Raja PS Janter Aruan SH sudah sangat mengerti kehidupan kultur Batak. Dalam kesempatan itu Aruan mengimbau kelompok masyarakat Batak jangan terlampau gampang atau mudah menobatkan seseorang menjadi Raja Batak. “Jangan melecehkan budaya kita, begitu indahnya nilai kultur budaya kita di mata masyarakat,” pintanya.

Sumber : (S2/i)  Harian SIB, Pematangsiantar


Ada 8 tanggapan untuk artikel “Penobatan Seseorang Jadi Raja di Luar “Ulaon Bius” Dalam Komunitas Batak Bisa Menuai Badai”

  1. Tanggapan Togar Silaba:

    Kalau pinjam istilah Gus Dur: “Gitu aja kok repot..”. Kenapa banyak orang jadi “kebakaran jenggot” ketika Syamsul Arifin diangkat jadi Raja Batak. Bukankah sesungguhnya pengertian raja dalam terminologi Batak adalah sesuatu yang biasa. Dalam setiap pesta adat, selalu disebut “Raja ni hula-hula”, “Raja ni pamoruon nami”, “Nauli Raja nami” dll.
    Kalau ditilik dari terminologi itu ya sah-sah saja ketika Syamsul datang ke Pusuk Buhit, lalu disebut Raja. Kenapa rupanya ??.
    Cuma karena dikait-kaitkan dengan Pilgub yang akan datang, jadilah isu yang ramai.
    Saya tidak kenal Syamsul, saya juga tidak baca semua beritanya di media lokal,
    GITU AJA KOK REPOT ……

  2. Tanggapan Mangasi Sibuea:

    Lae J. Aruan SH benar…saya sebagai orang batak tidak setuju kalau penobatan Raja Batak tanpa melalui “Ulaon Bius” itu sama dengan mengkudeta kehormatan masyarakat Batak, karena Raja Batak itu bukan sebuah tahta tetapi adalah Guru dalam tatanan hidup sehari - hari terutama dalam Etika kehidupan. Dan itulah yang diwariskan Siraja Batak kepada Orang batak yang sampai saat ini berhak masing - masing menyandang gelar Raja bagi yang menjalankan etika kehidupan tersebut. “Sebutan raja bagi orang batak” bukan sebagai termiologi yang dapat dianggap biasa, seperti kedatangan Bpk. Syamsul ke Pusuk Buhit Sebagai raja Apa….? atau seperti hatani sijolo - jolo tubu Martampuk do bulung Marnampuna Ugasan “Marnata do uhum Marnampuna Ugasan” Apakah sebagai raja ni hula - hula..? sebagai raja ni boru…?, sebagai Rajani dongan tubu…?, Raja ni Dongan sahuta….? Lalu mengapa berubah Siraja Batak atau artinya Raja dari segala raja Batak. Kalau bisa begitu Hayoo…. buruan kepusuk Buhit siapa tahu bisa Jadi Raja Batak.

  3. Tanggapan ismail:

    untuk kawan-kawan.

    Walaupun saya bukan suku Batak dalam hal perbedaan pandangan ini, namun sepertinya perlu adanya penjelasan yang jelas untuk kita semua. Batak maupun masyarakat tentunya tidak berharap adanya penyimpangan-penyimpangan yang akan berdampak buruk.

    Menanggapi Lai Togar…, sepertinya kita lebih baik menggunakan ke-objektifan kita sebagai manusia dan masyarakat. Adat merupakan hal yang sangat sakral dan menjadikan identitas kita, jika memang tidak/ ada kaitannya dengan Pilkada, lantas apa manfaatnya dan kepentingannya pengangkatan itu.

    Pilkada sudah dekat. Jika memang tidak ada kaitannya dengan Pilkada alangkah baiknya bapak bupati Langkat lebih memperhatikan wilayahnya. Apakah Wilayah Langkat sudah memang benar-benar sejahtera…?

    kita butuh pemimpin yang merakyat,

    satu kata kita usung, dukung Ayo kita dukung calon Independent, Kontrak Politik, sosial dan moral sebagai langkah baru untuk menjadikan masyarakat lebih baik.

    Ismail

    Advokasi Pilkada DKI Jakarta 8 Agustus 2007

  4. Tanggapan ismail:

    Mengharukan
    Syamsul Arifin Silaban dalam sambutanya mengungkapkan keharuannya atas pengangkatan dirinya sebagai Raja Batak melalui prosesi adat yang mencerminkan ketulusan.
    “Cukup banyak penghargaan yang saya terima sebelum maupun setelah menjadi Bupati. Namun pengangkatan sebagai Raja Batak inilah yang paling mengharukan dan membanggakan. Karena saya meyakini, pengangkatan ini akan membawa berkah tersendiri buat saya” kata Syamsul. http://www.silaban.net/2007/05/21/pengetua-adat-negeri-limbong-restui-raja-batak-h-syamsul-arifin-se-jadi-gubsu/
    Bandingkan dengan pernyataan berikut……

    Ketua Umum PB MABMI Drs H Syamsul Arifin menegaskan dirinya tidak ada menerima penabalan ataupunpenganugerahan gelar Raja Batak dari pihak mana pun. Dirinya memang ada mengunjungi daerah Pusuk Buhit Sianjur Mulamula untuk berziarah dan disambut sangat akrab oleh masyarakat setempat.
    “Oleh tokoh adat Ompung Limbong saya diulosi dan didoakan, bukannya diberi penganugerahan Raja Batak. Itu tidak mungkin terjadi karena tokoh adat di sana tidak mungkin memberikan gelar seperti itu dan saya pun tidak mungkin mau menerima gelar Raja Batak,” kata Drs H Syamsul Arifin kepada SIB, Jumat (25/5) di Medan.

  5. Tanggapan R.Siahaan:

    Ya jugalah ya.Takmunkinlah pula raja batak menjadi dua,dalam arti sebenarnya. Begitu banyak orang batak yang mau berbuat lebih tapi susah sekali disebut/dianggap jadi raja batak dan dia tidak akan pernah mau menerima itu, toh orang2 seperti itu pada kenyataannya sudahlah menjadi raja. Nah sekarang apa motiv “penobatan” itu ?. Keputusan musyawarah diluar BIUS, tidak akan pernah ada pengakuan. Itu hukum dan dunia mengetahuinya.

  6. Tanggapan JONNY SIHITE:

    secara devakto sah-sah saja syamsul arifin disebut raja (dalam komunitas marga atau wilayah tertentu)karena dalam penobatan dia sebagai raja ada muatan politis atau kepentingan tertentu. Akan tetapi secara yuridis formal tidaklah demikian, karena harus ada pengakuan hukum melalui ulaon bius oleh penatua dan raja raja adat batak.alai nangpe songoni unang gabe marniang sibuk hita alani adat taulahon ma nalobi ringkot dingoluon. HORASMA SIAN AHU JONNY SIHITE SIPULUT NABONTAR PAR DO-SA

  7. Tanggapan paccang:

    saya kurang mengerti apa itu raja batak..ada berapa raja batak sekarang ini..? dan apakah setiap marga itu punya seorang raja…? dan siapa aja yang sudah diangkat menjadi raja batak..? setahu saya raja batak itu adalah sisinga mangaraja.. dan apakah pengangkatan seseorang menjadi raja batak itu bukanya harus persetujuan dari setiap utusan marga… songoni majo sukkun2 hu..

  8. Tanggapan Rony:

    HORAS SALUHUTNA

    Eta hita Dukung 7 Keajaiban Dunia untuk Tanah Air Indonesia…LAKE TOBA Pilih untuk Indonesia di http://www.new7wond ers.com/nature/ en/liveranking/

    O’Tano Batak

    O tano batak haholonganku,
    Sai na masihol do au tu ho,
    Dang olo modom dang nok matakku,
    Sai namalungun do au,
    Sai naeng tu ho,

    Molo dung bissar mataniari,
    Laho manondangi hauma i,
    Godang do ngolu siganup ari,
    Mambahen masihol do au,
    Sai naeng tu ho,
    Reff:
    O tano batak andigan sahat,
    Dapothononku tano hagodangan ki,
    O tano batak sai naeng hutatap,
    Au on naeng mian di ho ,
    Sambulonki,
    ============

    TANAH AIR KU

    Tanah Air ku Tidak Kulupakan
    kan Terkenang selama hidupku
    Biarpun saya pergi jauh
    Tidak kan hilang dari kalbu
    Tanah Ku yang kucintai
    Engkau ku hargai….

    Walaupun banyak negeri jalani
    Yang Masyur permai dikata orang
    Tetapi kampung dan rumahku
    Disanalah ku merasa senang
    Tanah ku tak ku lupakan
    Engkau Ku Banggakan…..

    Ayo Dukung……dan lestarikan Tanah air Kita….
    Pilih untuk Indonesia di http://www.new7wond ers.com/nature/ en/liveranking/

    Rony Siregar

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.