Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Jumat
25
Mei '07

Penobatan Syamsul Arifin Sebagai Raja Batak Diprotes Keras


Penobatan Syamsul Arifin sebagai Raja Batak ‘menuai’ protes keras, di antaranya dari tokoh masyarakat Jumongkas Hutagaol. Menurutnya, penobatan sebagai Raja Batak oleh oknum-oknum tertentu itu dapat dikatakan terlalu maju, bahkan lancang. Sehingga, selain melukai hati dan martabat Orang Batak, hal itu dinilai justru berdampak buruk pada Syamsul Arifin sendiri dengan berkurangnya simpati dari masyarakat Batak.

Namun Jumongkas Hutagaol tidak buru-buru menyalahkan Syamsul Arifin dalam penobatan dimaksud. Sebab bisa saja yang bersangkutan diberi informasi salah soal penobatan itu, sehingga bersedia melaksanakannya. Bahkan menurut Jumongkas, tidak tertutup kemungkinan, ini merupakan kerjaan lawan politik Syamsul dengan tujuan menjebak. Dengan demikian, Bupati Langkat itu menjadi sasaran empuk untuk diserang.

“Seperti sekarang ini. Saya yakin, hampir seluruh masyarakat Batak akan menjadi antipati kepada Syamsul Arifin. Padahal mungkin saja sebelumnya justru mendukung yang bersangkutan untuk maju sebagai calon Gubsu. Penobatannya saja sudah pasti diprotes. Lalu ditambahi pula dengan embel-embel supaya didukung Orang Batak sebagai calon gubernur karena dia adalah raja, tanpa disadari sudah merupakan pelecehan kepada Orang Batak. Seolah-olah masyarakat Batak dalam memilih pemimpinnya hanya berdasarkan sukuisme, tanpa pertimbangan, apakah seseorang itu memang pantas dan mampu,” papar Jumongkas Hutagaol, Selasa malam (22/5), kepada para wartawan yang mewawancarainya soal penobatan tersebut.
“Kalau hanya penabalan marga untuk tujuan politik sebagaimana sudah sering dilakukan selama ini, barangkali belum jadi soal. Tapi menjadi Raja Batak?” tanyanya lagi.

Sehubungan dengan ini, Jumongkas lantas mempertanyakan, apakah orang-orang di sekeliling Syamsul Arifin sudah memperhitungkan dampak dari penobatan itu? Lantas bagaimana dengan segala konsekuensinya, seperti misalnya, apakah Syamsul Arifin bersedia melepaskan asal-usulnya agar tidak menjadi seorang raja ‘bermuka dua’?”

“Hanya saja ada pertanyaan, apa figur sekaliber Syamsul Arifin memang tidak mengetahui segala persyaratan terkait penobatannya itu?” imbuh salah seorang tokoh marga Hutagaol ini.
Maka secara pribadi Jumongkas pun menegaskan, tidak menerima Syamsul Arifin menjadi Raja Batak. Soal apakah dirinya mendukung Syamsul Arifin menjadi cagub, menurut politisi ini, adalah soal lain yang sama sekali tidak ada hubungan dengan kesukuan.

“Siapa pun orangnya, kalau mampu dan punya komitmen untuk menjadi pemimpin semua kalangan dan golongan, tentu kita dukung. Lagi pula, kalaupun harus berpikiran sempit dengan memilik figur berdasarkan sukuisme, mau tak mau, tentu harus dilihat dulu bagaimana komitmennya terhadap Orang Batak. Misalnya soal wakilnya, apakah dari kalangan Orang Batak?”cecar Jumongkas.

Untuk itu dia berharap, agar dalam mencitrakan seseorang yang ingin dimajukan sebagai calon pemimpin dan sebagainya, hendaknya penuh kehati-hatian. Sehingga apa yang dilakukan tetap dalam koridor serta tidak menyinggung pihak-pihak lain dan akhirnya hanya akan menurunkan popularitas sosok yang ingin dipopulerkan.

Selanjutnya Jumongkas Hutagaol mengingatkan agar pihak-pihak yang melakukan penobatan bersiap-siap untuk bertanggung jawab, kalau ada gugatan soal ini. Katanya, kalau ingin memberi dukungan, lakukan saja, tetapi dengan tidak menjual seluruh Orang Batak.
“Ini sangat disesalkan. Ambisi dan kepentingan sesaat menjadikan orang-orang tidak lagi menghargai tatanan adat istiadat, bahkan lebih terkesan melacurkan diri,” tandasnya.

“Selain itu, apakah satu marga sudah represetasi dari seluruh Orang Batak? Bagaimana pula dengan lembaga-lembaga yang sudah menjaga kelestarian adat dan budaya seperti LADN (Lembaga Adat Dalihan Natolu), Lembaga Sisingamangaraja XII, dan sebagainya, apakah juga dilibatkan? Seingat saya, lembaga sebesar Lembaga Sisingamangaraja XII saja belum pernah terlibat dengan masalah-masalah politik seperti ini. Kok bisa-bisanya ada segelintir oknum menabalkan seseorang jadi Raja Batak dan menyuruh seluruh Orang Batak memilihnya. Saya kira seluruh masyarakat Batak harus dikumpulkan untuk membahas soal ini,” papar Jumongkas lagi mengakhiri pembicaraan.

Sumber : (Rel/R8/y) Harian SIB, Medan


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.