Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Kamis
24
Mei '07

Penobatan Raja Batak kepada Syamsul Diprotes


Penobatan Syamsul Arifin menjadi raja Batak oleh pengetua adat Negeri Limbong di Perkampungan Guru Tateabulan (Pusuk Buhit), Kecamatan Sianjur Mula-mula, Samosir pada 15 Mei menuai protes. Putra Batak, Jumongkas Hutagaol, menilai, pemberian gelar sebagai raja Batak itu sangat tidak pantas.

“Penobatan Bapak Syamsul Arifin, yang kebetulan saat ini menjadi Bupati Langkat sebagai Raja Batak oleh oknum-oknum tertentu itu dapat dikatakan terlalu maju. Bagi kami, hal itu bisa melukai hati dan martabat orang Batak. Lagipula, kalau Syamsul mau menyadari, hal ini justru bisa membuat simpati warga Batak padanya akan jadi berkurang,” ujar Jumongkas Hutagaol kepada para wartawan di Medan, Selasa (22/5) malam.

Namun demikian, pengusaha angkutan kota ini tidak menyalahkan Syamsul Arifin yang menerima penobatannya sebagai raja Batak. Sebab, bisa saja Syamsul diberi informasi yang salah tentang penobatan itu, sehingga bersedia menerimanya.

“Tidak tertutup kemungkinan ini adalah kerjaan lawan politik Syamsul dengan tujuan menjebak. Dengan demikian, Bupati Langkat itu menjadi sasaran empuk untuk diserang,” tambahnya.
Dia yakin hampir seluruh masyarakat Batak yang awalnya akan memberi dukungan pada Syamsul untuk menjadi salah satu calon Gubsu malah kini berbalik menjadi antipati.

“Kalau hanya penabalan marga untuk tujuan politik, hal itu sudah sering dilakukan. Barangkali itu belum menjadi persoalan yang serius. Tapi jadi raja Batak? Wah…wah…,” ujarnya dengan nada heran.
Jumongkas mempertanyakan kredibilitas orang-orang di sekeliling Syamsul Arifin yang dinilai harus lebih bertanggung jawab atas peristiwa ini. Jumongkas ragu orang-orang di sekitar Syamsul Arifin sebelumnya telah memperhitungkan dampak negatif atas pemberian gelar itu.
“Hanya saja ada pertanyaan, apakah figur sekaliber Syamsul Arifin memang tidak mengetahui segala persyaratan terkait penobatannya itu?” tanyanya.

Ia secara pribadi menolak penobatan itu, walau di kemudian hari Syamsul bisa saja terpilih sebagai Gubsu.
“Siapapun orangnya, kalau mampu dan punya komitmen untuk menjadi pemimpin semua golongan, tentu kita dukung. Lagi pula, kalaupun harus berpikiran sempit dengan memilih figur berdasarkan sukuisme, mau tak mau, tentu harus dilihat dulu bagaimana komitmennya terhadap orang Batak. Misalnya soal wakilnya, apakah dari kalangan orang Batak?” tegasnya.

Seperti diberitakan MedanBisnis sebelumnya, para Pengetua Adat Negeri Limbong menggelar acara adat penobatan Syamsul Arifin sebagai raja Batak. Penobatan itu ditandai dengan upah-upah ala Batak, pemakaian ulos dan topi, serta senjata khas Batak yang dilakukan secara berurutan oleh 4 tokoh adat Negeri Limbong, serta dilanjutkan penyerahan tongkat Raja yang dilakukan sesepuh suku Batak, Ricard Hutabarat.

Syamsul Arifin yang juga telah dinobatkan menjadi marga Silaban itu dalam sambutannya mengaku terharu atas pengangkatan dirinya sebagai raja Batak.
“Cukup banyak penghargaan yang saya terima sebelum maupun setelah menjadi bupati. Namun, pengangkatan sebagai raja Batak inilah yang paling mengharukan dan membanggakan. Karena saya meyakini, pengangkatan ini akan membawa berkah tersendiri buat saya,” katanya.

Sumber : (hendrik hutabarat) Medan Bisnis Online, Medan


Ada 4 tanggapan untuk artikel “Penobatan Raja Batak kepada Syamsul Diprotes”

  1. Tanggapan Paulus RS.Lumbantobing:

    Saya sangat setuju dengan Bpk.Jumongkas Hutagaol atas tanggapanya, dan perlu sekali dipertanyakan kapasitas dari sdr Richar Hutabarat sebagai apa? Sehingga berhak beliau menyerahkan tongkat raja Guru Tetea Bulan. Kalau diurut dari garis keturunan sudah sangat jauh. Anak dari SiRaja Batak 1. Gr.Tetea Bulan 2.Raja Isobaon 3.Toga Laut.
    Anak dari Gr.Tetea Bulan adalah 1.R.Biak-iak.2.Sariburaja. 3.Limbong Mulana.4.Sagala Raja 5.Malau Raja.dari kelima marga inilah garis keturunan marga2 Limbong,Borbor dll.

    Sedangkan Richard Hutabarat adalah garis keturunan dari Raja Isumbaon yang masih terbagi lagi menjadi 3 (tiga) yaitu .R.Sumba,R.Sobu dan Nai Pospos. Marga Hutabarat adalah dari R.Sobu yaitu anak dari Gr.Mangaloksa Hasibuan (masuk rumpun Siopat Pusoran dari silindung).

    Jadi menurut saya pemberian tongkat raja oleh Richard Hutabarat sangat tidak tepat ( Unang sai di tortor i na so gondang na ),janganlah urusan politik dukung mendukung dicampur adukkan dengan Orang Batak ( Mungkin ada Udang dibalik Bakwan )

    Demikian tanggapan saya.kalau ada kesalahan mohon dapat diperbaiki oleh redaksi.Horas !

  2. Tanggapan D. Silalahi:

    Syamsul Arifin bukan suku Batak, dan saya bukan keturunan dari Syamsul Arifin. Maaf saja kalau saya memprotes keras karena ini menyangkut leluhur saya. Syalom.

  3. Tanggapan Tigor Simangunsong:

    Bilang R aja belum jelas beliau itu (yang aku tau dari TV)

  4. Tanggapan luhut rajagukguk:

    Demi efek jera: Kepada Richard Hutabarat, atau kepada siapapun yang membawa-bawa nama leluhur Batak dalam segala hal yang tidak pada tempatnya (termasuk dalam pemberian gelar Raja atau Tongkat kepada orang lain yang tak punya kaitan apapun dengan garis keturunan Batak)pantas diberikan ’sanksi sosial’ berdasarkan keputusan raja-raja adat Batak, atau mengenakan sanksi hukum sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku di negara ini dengan dakwaan perbuatan tidak menyenangkan, dan/atau perbuatan lainnya! Inilah kesempatan yang tepat bagi raja-raja Batak (mewakili seluruh marga) untuk mengeluarkan piagam larangan-larangan bagi anggotanya. Pesan khusus buat Richard Hutabarat Cs : perbuatan saudara sungguh sangat menghina. Memalukan!!!

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.