Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Kamis
17
Mei '07

Kasus Kematian Raroga Lase di Kecamatan Pagaran Masih Misterius



Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Kasus kematian Raroga Lase (49 tahun) pertengahan Maret 2007 lalu di Desa Lumban Inaina, Kecamatan Pagaran, Tapanuli Utara hingga kini masih misterius. Pihak Polres Taput masih terus melakukan upaya mengungkap dugaan kasus pembunuhan tersebut, namun sejauh itu belum berhasil.

Seperti diberitakan sebelumnya, Raroga Lase yang sehari-harinya bekerja sebagai penambang batu di Kecamatan Pagaran, pada hari naas itu ditemukan warga tergeletak di pinggir sungai kecil di desa itu dalam keadaan tidak bernyawa. Warga yang terkejut segera melaporkan ke pos polisi terdekat dan selanjutnya divisum di RSU Tarutung. Korban yang beristrikan Boru Silaban itu malam sebelumnya masih segar-bugar minum di salah satu kedai di desa tersebut.

Berbagai kalangan menganggap kematian korban tidak wajar, karena di bagian kepala korban ditemukan luka seperti bekas pukulan benda keras atau benda tajam. Banyak pendapat cenderung mencurigai kematian korban karena akibat pembunuhan berencana.
Setelah dua bulan berlalu pihak keluarga masih terus berupaya mengungkap apakah betul kematian Raroga Lase karena kecelakaan atau korban pembunuhan.

Bangkit Silaban salah seorang keluarga dekat korban, Rabu (16/5) kepada wartawan di Tarutung, mengharapkan agar Polres Taput berhasil mengungkap misteri kematian Roroga Lase, karena kuat dugaan kematiannya tidak wajar. “Menurut informasi yang dikumpulkan keluarga korban dihubungkan dengan hasil otopsi dokter di RS Pirngadi Medan, sangat kuat dugaan bahwa korban telah dianiaya sebelum meninggal dunia,” ujar Bangkit Silaban SE yang juga anggota DPRD Taput dari Fraksi PDI-Perjuangan. Menurut dia pihaknya akan terus membantu polisi agar teka-teki kematian Raroga Lase secepatnya tersingkap.

Menurut keterangan Bukka Silaban salah seorang yang membawa mayat untuk diotopsi di Medan, hasil otopsi mengindikasikan adanya pendarahan pada bagian otak korban diduga akibat pukulan benda tumpul. “Saya mendapat informasi itu melalui pesan singkat (SMS) yang dikirimkan bapak tua saya Bukka Silban,” ujar Bangkit sambil menunjukkan layar telepon selularnya.

Sumber : (T5/r) Harian SIB, Tarutung


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.






Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel sebelumnya :
   » » Kurang RTH [Ruang Terbuka Hijau] Picu Polutan

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel selanjutnya :
   » » Erry: Wajar Jatim Merajai