Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Rabu
16
Mei '07

“Jabu” Terakhir di Hamparan Sawah


Tapanuli menyimpan banyak cerita. Selain keindahan alamnya, juga budaya. Salah satunya keberadaan jabu ruma atau rumah adat.

Sekitar satu jam perjalanan dari Danau Toba, di sebelah kanan dari arah Medan akan terlihat sebuah kampung dengan rumah adat Batak Toba. Tepatnya di Kampung Lumban Binanga, Desa Jangga Dolok, Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba Samosir.

Menuju kampung itu hanya bisa melewati jalan tanah berbatu selebar empat meter. Kampung tepat di tengah hamparan sawah dan dipagari bukit cadas berbatu. Tidak banyak literatur bercerita tentang kampung itu. Padahal, usianya ratusan tahun.

Di ujung jalan masuk kampung, seorang lelaki menyiram bunga di pos penjagaan. Lelaki bernama Rapidin Manurung (46) akan melayani keingintahuan para pengunjung soal kampung di tengah sawah itu. Ceritanya akan membuat pengunjung tertarik mendatangi rumah adat Batak Toba.

Bak pemandu wisata, Rapidin yang juga kepala desa itu biasa melayani siapa saja yang mengunjungi kampung tua itu, tapi ia tak mau disebut pemandu.

Dari lima kampung di Desa Jangga Dolok, kampung tertua adalah Kampung Lumban Binanga. Usianya, kata Rapidin, ratusan tahun. Kakek-neneknya sudah melihat rumah adat di kampung itu sejak kecil. Dan kini, di kampung itu masih tersisa lima rumah adat Batak Toba bertengger megah.

Puluhan tahun silam, di Kampung Lumban Binanga dan kampung lain terdapat belasan rumah adat nan megah. Warga biasa menyebutnya jabu ruma. Bahan utama bangunan itu terbuat dari kayu terbaik hutan setempat. Pada mulanya tanpa paku dan direkatkan dengan pangeret-eret-hiasan seperti gambar kadal dari tali yang berfungsi merekatkan kayu bangunan.

Dalam kultur Batak Toba, rumah adat induk biasa disebut dengan jabu gorga yang artinya rumah berukir. Jabu gorga merupakan kediaman para raja desa setempat. Jika tidak dihuni para raja, jabu gorga biasa ditinggali para tetua adat. Di kampung itu terdapat empat jabu gorga dan satu jabu sopo (bangunan adat yang biasanya terdapat di depan jabu gorga).

Keberadaan jabu sopo sebagai tempat untuk bermusyawarah dan lumbung penyimpanan padi warga desa. Namun, sekarang, lumbung padi itu sudah hilang. Hanya tinggal satu. Itu pun tidak lagi dipakai sebagai tempat menyimpan padi, melainkan untuk tempat tinggal warga.

Mahal biayanya

Merawat bangunan adat tidaklah murah. Renovasi ringan saja paling tidak dibutuhkan Rp 4 juta. Untuk renovasi berat, bisa mencapai Rp 25 juta.

Warga desa yang umumnya bertani tak mampu mengeluarkan biaya sebesar itu untuk renovasi. Maka, lambat laun keberadaan jabu gorga dan jabu sopo berkurang. Sejumlah patung berukir yang biasa terdapat di pojok bangunan kerap dicuri orang.

Selain di Lumban Binanga, masih ada empat kampung yang punya jabu ruma, tetapi bangunannya sudah dimodifikasi sampai tidak menyisakan unsur adat dan identitas budaya. Ada yang memakai atap seng, berfondasi tembok semen, meskipun dindingnya masih memakai kayu sebagai bahan utama.

Warga desa tidak memiliki kemampuan merawat sebuah jabu adat. Beruntung, Rapidin mendapat bantuan renovasi pada tahun 1999. Maka, jabu ruma Rapidin barangkali adalah jabu ruma terakhir di Batak Toba.

Sumber : (Andy Riza Hidayat) HarianKompas


Ada 3 tanggapan untuk artikel ““Jabu” Terakhir di Hamparan Sawah”

  1. Tanggapan ramlan sihombing:

    saya hanya pengen kalau bisa supaya data tentang rumah batak lebih lengkap kalau bisa tolong berikan saya informasi tentang buku yang ada membahas tentang rumah batak karena kebetulan saya mau menulis skripsi tentang makna religius rumah adat batak toba, atas perhatian dan bantuannya saya haturkan banyak trimakasih

  2. Tanggapan adolf:

    emang banyak cagar budaya batak yang kurang perhatian (perawatan) dari generasi penerus,,,, kalo sboleh saya berpendapat begini : generasi batak yg merantau dapat dimanfaatkan untuk pengumpulan dana melalui : punguan marga, gereja, arisan keluarga, pesta bona taon dll, cuma kita suku batak kurang peduli dengan peninggalan nenek moyang kita, jd menurutku kebersamaan dan kerja keras kita dulu yg dibutuhkan sebelum sampai ke pengumpulan dana,,,,,, good luck…. horas…. “IA AEK SATETEK NAOTIK DOI, MOLO SAI MANETEK LAM GODANG DOI”

  3. Tanggapan charly hutahaean:

    gambar jabu nya itu knp gak di muat di halaman ini???

    biar orang yang baca dapat mendeskripsikan seperti apa bentuk jabu di hampparan sawah itu,,
    horas..

    GBU

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.