Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Kamis
3
Mei '07

Kajian Antropologi Batak Prof Bas


Bungaran Antonius Simanjuntak

Melihat kayanya studi antropologi Jawa, tebersit rasa cemburu dalam hati Bungaran Antonius Simanjuntak (66). Itulah yang membuatnya tak henti membuat kajian antropologi tanah kelahirannya, Tano Batak. Dia juga menyemangati orang-orang muda untuk meneliti dan menulis kekayaan budaya Batak.

Kecemburuan itu salah satunya ia tujukan kepada almarhum Koentjaraningrat yang, menurut dia, njlimet, sangat rinci menggambarkan Jawa dalam buku Kebudayaan Jawa. Ia juga cemburu pada banyaknya orang Jawa yang tertarik mengkaji budayanya sendiri.

“Perampok di Jawa saja bisa menjadi kajian yang menarik,” kata Ketua Program Studi Pascasarjana Antropologi Sosial Universitas Negeri Medan (Unimed) yang akrab disapa sebagai Prof Bas atau Pak Bas. Kajian yang dimaksud adalah tulisan Suhartono, Kecu, Sebuah Aspek Budaya Jawa Bawah Tanah. Nama Prof/Pak “Bas”—singkatan dari Bungaran Antonius Simanjuntak—adalah inisial yang ia gunakan saat menjadi redaktur harian Sinar Indonesia Baru, Medan, tahun 1972-1978.

“Banyak publikasi Batak yang telah terbit. Namun, jarang ada publikasi yang dibuat oleh orang Batak sendiri dalam kajian ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Jika di Jawa ada 500 tulisan, di Batak baru lima tulisan,” tuturnya.

Kajian-kajian tentang Batak masih dipublikasikan terbatas di kalangan akademisi. Jarang ada penerbit yang tertarik menerbitkannya sebagai buku. Maka, sangat sulit menemukan literatur populer tentang Batak di toko buku.

Tesis yang ia terbitkan tahun lalu, Struktur Sosial dan Sistem Politik Batak Toba hingga 1945, memperkaya studi tentang Batak. Terbitnya jurnal Antropologi Sumatera Unimed juga menambah perbendaharaan kekayaan literatur Batak.

Seperti bertengkar

Menurut Prof Bas, banyak sekali obyek kajian antropologi di Tanah Batak yang sebenarnya bisa ditulis. Salah satunya, di mata sebagian orang non-Batak, kalau orang Batak berbicara terkesan seperti orang yang tengah bertengkar.

Mengutip ungkapan sosiolog Islam Ibnu Khaldun dalam teori sosialnya, Prof Bas menjelaskan, letak geografis, jenis makanan, dan pola kerja sehari-hari ikut memengaruhi perilaku masyarakat. Secara geografis, Tanah Batak di Tapanuli, Sumatera Utara, terletak di kawasan pegunungan, iklimnya sejuk, dan jarak antarrumah penduduk berjauhan. Jika tak berteriak, orang tak akan mendengar.

Selain itu, sebagian orang Batak terbiasa minum tuak, sejenis minuman keras yang memanaskan tubuh. Maka, pembawaan mereka pun terkesan keras. Di dalam pekerjaan, mereka terbiasa bekerja tuntas dan bila perlu sampai lembur.

“Ini berbeda dengan orang Jawa yang makanannya tahu dan tempe. Kedelainya saja dirawat berbulan-bulan. Maka, pembawaan mereka halus. Kerjanya juga alon-alon waton kelakon, tetapi tekun dan punya target,” papar Pak Bas seraya menambahkan, ketekunan Jawa jelas berbeda dengan kerja keras Batak.

Mengapa Pak Bas membandingkan budaya Batak dengan Jawa?

Ia memang bercita-cita membuat kajian atas dua budaya yang berbeda itu karena sejak usia 16 tahun hingga lulus sarjana (S-1) ia tinggal di Yogyakarta, kuliah di Universitas Gadjah Mada.

Ia bahkan pernah ikut menjalani tirakat saat Jumat Kliwon, menelusuri tempat-tempat petilasan di lereng Gunung Merapi hingga goa-goa di Gunung Kidul. Ia juga banyak tahu soal sekar Macapat dan gending jawa. Kekaguman pada budaya suku lain itu membuatnya justru makin mencintai budaya Batak.

Saat bercakap pun ia menggunakan banyak idiom Jawa. Ketika salah seorang staf minta izin, dengan ringan dia berkata “mangga”. Dia sering disebut “baja” alias Batak Jawa.

“Spiritual recharge saya ada di Yogya, sementara cultural recharge saya di Batak,” ungkapnya.

Dia juga dikenal keras kepada mahasiswa. Nilai tertinggi yang dia berikan kepada mahasiswa biasanya B. Jika ada A, berarti mahasiswa itu istimewa di matanya. Para pegawai universitas sudah biasa menemukan dirinya berjam-jam duduk di kursi kerjanya, tekun membaca dan menulis hingga kantor sepi.

Kepada para mahasiswa, ia menyarankan membaca banyak buku tentang Jawa sebelum membuat kajian tentang Batak. Dengan begitu bisa dipelajari metode yang dilakukan para antropolog Jawa dalam menganalisis budayanya. Namun, ia juga mengkritik penyederhanaan tentang Jawa sebagai sesuatu yang “satu”, padahal sebenarnya berbeda-beda.

Bidang hukum

Sebagai bahan kajian, dia menyebutkan contoh, apakah orang Batak bisa menjadi diplomat? Mengapa orang Batak lebih senang bekerja di bidang hukum, seperti pengacara, hakim, atau jaksa? Itu demi membela kebenaran atau karena bisa mendukung eksistensinya sebagai orang Batak?

Dalam tradisi Batak, ada tiga kata yang secara eksistensial saling mendukung: hamoraon (kekayaan) hagabeon (keturunan), dan hasangapon (kehormatan). Metode pencapaiannya diatur dalam struktur sosial dalihan na tolu atau tungku dengan tiga batu, lambang struktur sosial masyarakat Batak: hula-hula (kelompok pemberi istri), boru (kelompok penerima istri), dan dongan sabutuha (kelompok satu marga).

Relasi unsur-unsur itu banyak menentukan kehidupan sosial orang Batak. Sayangnya, kata Prof Bas, saat ini muncul kecenderungan konflik internal di kalangan masyarakat Batak untuk mempertahankan kehormatan. Kehormatan masih dipandang secara individual sehingga melahirkan budaya destruktif. Kehormatan bersama belum sepenuhnya disadari banyak orang Batak.

“Saat pengeboman gereja di Medan tahun 2000, perang antar-agama hampir pecah. Perang itu tak terjadi karena struktur sosial dalihan na tolu,” kata Prof Bas. Akan tetapi, sekarang ini banyak orang Batak berkonflik demi memperebutkan kekayaan dan kehormatan.

Semua kajian itu ada dalam disertasi doktoral Prof Bas, salah satu pendiri Fakultas Ilmu Sosial dan Politik di Universitas Sumatera Utara (USU) dan Jurusan Antropologi di Fakultas Sastra USU. Disertasi berjudul Konflik Status dan Kekuasaan Orang Batak Toba itu akan terbit tahun ini, dilengkapi kajian-kajian konflik Batak terbaru.

Seperti yang dilakukan gurunya, Prof Dr HJM Claesen, dari Instituut voor Culturele Anthropologie Rijks Universiteit, Leiden, dan Prof Soedjito Sosrodiharjo SH MA di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Pak Bas juga mengajak para murid mencintai budaya sendiri, di antaranya juga mempelajari budaya lain yang ada di Indonesia.

Sumber : (Aufrida Wismi Warastri) Harian Kompas


Ada 9 tanggapan untuk artikel “Kajian Antropologi Batak Prof Bas”

  1. Tanggapan Setyanto:

    andai saja pak bas boleh, kenapa tidak beliau membuat suatu forum yang mengkaji batak dari berbagai sudut.
    saya sedang mempelajari budaya batak dan aceh sangat senang seandainya bisa berdiskusi dengan pak Bas. mohon alamat imel beliau seandainya kawan2 semua mengetahui. thanks

  2. Tanggapan Ama Gloria Sitohang:

    Saya juga sangat berminat seandainya ada seminar mengenai budaya dan sejarah Batak periode sebelum Belanda menguasai tanah Batak. Sebainya seminar tersebut diadakan di parapat atau Tmok Samosir.

  3. Tanggapan Pintauli Silaban:

    Tung marusaha ma hita halak batak manurat alana gabe sileban namambaen tu online on angka namar hubungan tu hita batak . alai onma tahe haotoonni hita batak jala mailama hamu ale dongan, unang sampe budaya Batak diboto halak sileban hape angka turunan ni Batak dang di antusi be adat dohot budaya ni Batak.

  4. Tanggapan priska:

    horas pak BAS,
    Kami dr mahasiswa jurusan Sastra Indonesia USU sangat berminat seandainya di kampus kami diadakan seminar mengenai budaya Batak, karena baru-baru ini ada mata kuliah antropolinguistik. Ada baiknya kalo kami juga benar mengetahui budaya kami sendiri yaitu budaya batak. Meskipun kami suku Batak , sangat sedikit informasi yang bisa kami ketahui. Mungkin dengan adanya seminar, wawasan kami akan lebih terbuka dan memotivasi kami untuk bisa mengkaji budaya batak sebagai tugas akhir kami. Sekian dan terima kasih. GBU.

  5. Tanggapan sitastasnambur:

    Mansai godang do halak hita Batak naung hasea di bona pasogit manang nadi pangarantoan. Alai longang situtu do roha dang adong manang sada namangarikkothon laho pasisihon saotik basa-basa naro tuibana i nalaho gabe dana tuangka namaringkot niroha manggali budaya batak i.

    Molo naeng marsitutu laho manggali angka budaya bataki, nunga ingkon godang biaya, alana angka bukti2 sejarah tarsongon artefak, pustaha (lak-lak), dohot naasing nunga be diboan angka panjajah Eropa tu hutana.
    Jadi saonari ingkon marsingkor nama hita tu hutani halak Eropa nalaho mangukkori budaya ni hita halak batak.

    Aut dihilala angka halak hita naung hasea i ma nian, angka pasu-pasu sian oppungta do sude umbahen boi nasida gabe targoar jala parpangkat.
    Natumagon do nasida marhurla-hurla di cafe marsabur-sabur hepeng dijolo ni angka natorop patudu hajagoonna.

    Sai anggiatma lam adong pangarimangion dihita halak batak marsada-sada na adong disaluhut lingkit ni portibi on. Asa taparrohahon budaya manang identitasta na asli i.

    Mauliate..

  6. Tanggapan bony Silitonga:

    Selama enam tahun saya kuliah dan empat tahun saya berusaha untuk memahami suku bangsa Batak, saya hanya menemukan sedikit buku-buku mengenai Batak yang dibuat sendiri oleh orang Batak dan disusun secara ilmiah. Bukan bermaksud untuk merendahkan buku-buku yang hanya merupakan catatan kehidupan perseorangan. Kedua jenis buku tersebut memberikan berbagai informasi bagi orang-orang yang ingin belajar tentang Batak.

    Saya mengenal empat karya tulang Simanjuntak yang telah diterbitkan. selain itu saya juga mengetahui karya-karya yang lainnya, seperti hotman Siahaan, Sitor Situmorang, Sidjabat, raja patik uhum Tampubolon. Ataupun karya orang-orang non batak seperti Vergouwen, Sulistyowati. akan tetapi, bagaimana saya mendapatkannya merupakan suatu pembuktian perkataan tulang Simanjuntak bahwa akses terhadap buku-buku tentang Batak memang tidak terbuka selebar akses terhadap buku-buku tentang Jawa.

    Saya memang mempunyai kepentingan dari mempelajari buku-buku tentang Batak. Yaitu untuk menyelesaikan skripsi saya. kehidupan di luar Tanah dan dominasi budaya Batak merupakan hal yang membuat saya agak begitu lama untuk memulai penulisan. Di akhir tanggapan ini, saya hendak menyampaikan bahwa saya (mungkin jugateman-teman )yang lahir serta besar di luar lingkungan budaya Batak sedikit atau bahkan tidak mengenal budaya Batak. Dan hal tersebut akan tetap lestari jika tak ada gerakan dari orang-orang kita sendiri untuk membuka akses, yaitu berkarya tentang Budaya Batak agar kami yang di luar tanah Batak mendapat kemudahan untuk mengenal budaya kami sendiri.

  7. Tanggapan Ella:

    Horas pak BAS……..

    Kami berminat dengan buku yang berjudul Konflik Status dan Kekuasaan Orang Batak Toba, kami sudah mencari diseluruh toko Buku Gramedia dan Gunung Agung yang ada di Jakarta, namun tidak kami dapatkan, termasuk ke perpustakaan LIPI pusat pun kami datangi karena buku bapak tersebut menjadi referensi oleh peneliti disana, namun ternyata buku tersebut sudah tidak ada.

    Sehubungan dengan hal tersebut kami mohon informasi bagaimana mendapatkan buku bapak tersebut, karena buku itu sangat kami butuhkan untuk penyusunan disertasi.

    Sekian terima kasih. Salam

  8. Tanggapan bony silitonga:

    kepada saudari/saudara ella,,salam
    coba cari di toko2 buku yang lebih kecil dari gramed,,kalau di bandung seperti ultimus atau togamas (di jogja juga ada)..
    kalau saudara butuh bantuan mencari,saya bisa mencarikannya..cari saya di bony_tea@yahoo.com.sg,,sekarang saya lagi di jakarta,,kebenaran saya juga lagi menyusun skripsi tentang batak toba di perantauan.

    salam

  9. Tanggapan BSimarmata:

    Saya sudah lama,mungkin satu atau dua tahun mendapatkan buku karangan Prof BAS,Bungaran Antonius Simanjuntak,dan saya sangat bersuka cita dapatmemiliki buku tersebut,dan telah membaca buku tersebut keseluruhannya.Baru-baru ini saya juga mendapat khabar bahwa Prof BAS,harus menjalani operasi Jantung,by pas,karena mengalami penyempitan pembuluh darah jantung,dengan kondisi 100 %,di RS Penang.Semoga cepat sembuh,dan Prof BAS dapat melanjutkan menulis buku tentang Konflik yang terjadi dalam keluarga Batak Toba,disebabkan memperebutkan Harta dan Kehormatan.Buku terdahulu adalah buku tentang Konflik karena status dan kekuasaan.Kita berharap tulisan Prof BAS akan menjadi kenyataan untuk memperkaya wawasan kita.Semoga.

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.






Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel sebelumnya :
   » » BPLH Anggap AMDAL GCS Sesuai Prosedur

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel selanjutnya :
   » » Pembahasan Protap Sudah Final - 5 DPRD di Sumut Tolak Undangan Pansus