Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Senin
23
Apr '07

Rumitnya Melahirkan Bahasa Batak


Bernaridho I HutabaratBernaridho I Hutabarat

“Batak” akan menjadi satu bahasa pemrograman asli Indonesia di tengah ribuan bahasa pemrograman yang ada di dunia. Akan tetapi pengembangannya menemui banyak kendala.

Bahasa pemrograman adalah bahasa buatan manusia yang ditujukan untuk memberi instruksi kepada komputer. Bahasa pemrograman memungkinkan manusia membuat baris-baris program yang bisa dimengerti komputer, sehingga mengeluarkan output seperti yang diinginkan.

Bahasa Batak adalah buah kreativitas Bernaridho I Hutabarat (Ridho). Pria kelahiran Medan, 39 tahun lalu ini menceritakan pengalamannya mengembangkan bahasa yang harapannya bisa mempermudah proses belajar pemrograman.

“Batak lebih mudah dipelajari daripada C++, C#, dan Java. Batak memudahkan pemahaman modul dan pemrograman moduler, hal yang sangat sulit dipahami dari C++, C#, Java, JavaScript, XML, HTML, dan banyak bahasa pemrograman lain,” tutur Ridho.

Dalam proses pengerjaannya, Ridho mengaku banyak menemui kesulitan teknis yang disebabkan minimnya ilmu yang diajarkan dalam membuat bahasa pemrograman. “Tidak pernah ada pelajaran membuat bahasa pemrograman. Ilmunya sulit untuk dipelajari secara otodidak, saya beli buku yang katanya paling bagus sekalipun tetap tidak membantu. Penjelasannya terlalu general,” keluhnya.

Belum 100% Rampung

Bahasa Batak pun digarap dengan segala keterbatasan yang ada, baik dari segi tenaga, pikiran dan dana. Ridho mengaku mengembangkan bahasa tersebut sendirian, tanpa bantuan tim. “Dulu pernah ada yang mau bantu mengembangkan, tapi orangnya mundur karena bilang tidak bisa,” ceritanya. Alhasil, bahasa Batak kini tidak bisa dikatakan rampung 100 persen.

“Saya sudah melewati proses deskripsi sintaks (perintah-red), dan sekarang ini baru sebatas parser, translatornya belum seluruhnya rampung,” ujar Ridho.

Batak sebagai bahasa pemrograman yang utuh sudah rampung sejak tahun 2001. Tapi dalam tahapan ini, Batak baru bisa disebut sebagai parser yang fungsinya hanya sebatas menentukan apakah sintaks yang diinputkan benar atau salah. Namun Batak belum memiliki translator utuh, sehingga belum bisa menterjemahkan sintaks menjadi output yang diinginkan.

Ridho sendiri baru mengerjakan translatornya pada tahun 2005, tapi banyak ditinggalkan karena banyak menemui kesulitan. “Membuat translator ternyata jauh lebih sulit dari membuat bahasa pemrograman. Membuat translator itu seperti membuat mesin yang pada gilirannya untuk membuat mesin lagi,” ujarnya.

Baru pada 1 April 2007, Batak memiliki translator meski masih dalam skala kecil. “Bisa dibilang ini (translator-red) baru lima persen,” tutur Ridho.

Ridho bercerita pernah mencoba menyerahkan pembuatan translator ke pihak peneliti di AS. “Tapi biayanya mahal sekali berkisar US$10.000 - US$ 30.000 tergantung tipe translator yang diinginkan, apakah mau yang sederhana atau sampai yang mendukung GUI (Graphical User Interface-red). Saya tidak punya uang sebanyak itu,” paparnya.

Ke depannya, Ridho ingin mewujudkan rencana sosialisasi bahasa buatannya, dan mewujudkan beberapa fasilitas pemrograman tambahan ke bahasa Batak, seperti penanganan aritmatika yang kompleks, operasi floating point, dan pemrograman moduler.

Saat ini, bahasa Batak bisa dijalankan di bawah sistem operasi DOS. Ridho juga ingin membuat translator Batak di Linux.

Sumber : (Ni Ketut Susrini - nks/nks, Foto by wsh/inet) Detikinet


Ada 5 tanggapan untuk artikel “Rumitnya Melahirkan Bahasa Batak”

  1. Tanggapan hadi purnomo:

    saya tertarik dengan artikel anda untuk membuat bahasa pemrograman batak?
    kalau bisa kasih tahu dong bagaimana membuatnya serta source codenya?
    kalau tidak tutorialnya juga gak apa-apa
    terima kasih

  2. Tanggapan Erwin Rudianto Silaban:

    saya sangat senang dan sangat bangga selaku orang Batak.
    sayangnya saya gaptek ( gagap teknologi )
    boleh dong di ajarin…tutorial code - code nya
    sama dengan pak Hadi purnomo

    batak …… maju terus……

  3. Tanggapan Charly Silaban:

    Silahkan menggali lebih dalam di Website Bernarido Hutabarat.
    Untuk belajar Batak, mulailah petualangan Anda dari sini

  4. Tanggapan J.H.Sitorus:

    Sebagai orang Batak tentu saja saya bangga atas usaha lae
    B.Hutabarat untuk membuat bahasa pemogram Batak.
    Terimakasih atas segala daya upaya yg sudah dibuat untuk
    menunjukkan kemampuan salah seorang Batak.
    Tetapi marilah kita secara jujur dan objectif berpikir
    untuk apa sebenarnya perlu dibuat satu bahasa pemogram dalam bahasa batak?
    Apakah tidak lebih baik kalau usaha pemakaian bahasa batak itu pada saat ini lebih digiatkan?
    Sayang sekali nanti kalau ada bahasa batak di bidang komputer tetapi tidak digunakan.
    Saya minta maaf kalau pendapat saya ini tidak menggembirakan. Horas.

  5. Tanggapan Menara Simanjuntak:

    Hula-hula B.Hutabarat !,(karena Isteri saya br.Hutabarat Parbaju,no.19) 28 tahun saya mengajar di Universitas Bina Nusantara,Jakarta, yang core bisnisnya TI juga lulusan S2 Manajemen Sistem Informasi di Binus pada saat kerjasama dgn Curtin University(1998) sehingga sangat paham jika kreativitas membuat program bahasa Batak merupakan ide “gila”, Bukan masalah siapa nanti yang memakai kalau sudah jadi, melainkan itulah puncak implementasi ilmu tertinggi dibidang TI sekaligus aktualisasi diri Amang. Banyak orang nantinya mengaku expert dibidang TI namun tidak punya karya. Salam hormat dari Hela Menara Simanjuntak/Binusian.

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Masih Dibahas soal Perhitungan Pesangon
Artikel selanjutnya :
   » » Rekson Silaban terpilih kembali Ketua KSBSI